
Drttr ... drtt ...
Alarm sialan di ponsel Vanya berdering tak mau berhenti tepat pukul tujuh pagi. Di saat mata masih rapat dan tubuh terasa berat.
Sialnya, hanya Marco seorang yang mendengar nada dering mengganggu itu. Ia langsung bergerak meraih ponsel Vanya di atas nakas. Lalu mematikannya karena merasa terusik.
"Untuk apa kamu membuat alarm jam tujuh pagi," gumam marco seraya menguap. Ia melirik ke samping, menatap selimut yang tersingkap dan menampakkan keindahan tubuh Vanya bagian atas.
Merasa mendapat sekantung emas menggiurkan, ia pun tersenyum licik. Marco langsung meraup benda favoritnya itu dengan gemas. Menggigitnya kecil-kecil hingga Vanya mulai menyadari sesuatu yang tak wajar sedang menggerayangi tubuhnya.
"Eugh!"
Sambil setengah mengerang ia menarik kepala Marco yang melekat seperti lintah dalam tubuhnya. "Apa yang kamu lakukan pagi-pagi begini?" lirih wanita setengah terkejut.
Marco memasang wajah muram dengan bibir cemberut yang sengaja ia buat memelas. "Aku mau lagi. Jatah dua kali yang kamu berikan semalam tak membuatku puas sama sekali. Selalu kurang dan ingin melakukannya lagi dan lagi. Bolehkan, Van?"
Tangannya meraba sesuatu yang polos milik Vanya di bawah sana.
Vanya menggeleng. "Tidak boleh. Aku tidak mau pendarahan sampai masuk rumah sakit karena perutku tiba-tiba kontraksi," sembur Vanya mengingatkan jika Marco lupa.
Jujur saja, jika hanya Marco yang puas Vanya tidak mempermasalahkannya. Tapi mustahil ia tidak mencapai puncak jika Marco sudah beraksi. Sentuhan-sentuhan pria itu di setiap sudut sensitifnya selalu berhasil membuat Vanya mengerang dalam balutan kenikmatan. Dan hal itu tidak dianjurkan terlalu berlebihan untuk wanita yang sedang hamil.
__ADS_1
Melihat wajah Marco yang terdiam muram, Vanya segera meraih sesuatu yang sudah menegang di bawah sana. "Tapi aku bisa melakukannya dengan cara lain jika kamu benar-benar ingin," ujar wanita itu memijat lembut kepemilikan Marco yang sudah menegang.
Pria itu terlonjak, detik kemudian memejam, merasakan sentuhan Vanya yang lembut dan membuat tubuhnya mulai berkeringat. "Terus Van, aku suka!"
Vanya tersenyum senang dan mempercepat gerakannya. Marco memeluk Vanya dengan erat. Tak beberapa lama kemudian tubuh Marco mengejang disertai sesuatu yang mengalir hangat di bawah sana.
"Pagi ini instan ya," ucap pria itu meringis malu. "Soalnya tangan kamu ajaib. Hebat!" puji Marco dengan nafas terengah-engah.
Vanya sedikit menelan ludah. Ia lekas mengambil tisu di atas nakas untuk mengelap tangan dan juga bagian tubuh Marco di bawah sana.
"Hari ini kita jadi, kan?" tanya wanita itu mengingatkan rencananya untuk melihat Marco surfing di atas papan selancar. Pasti seru, pikirnya.
"Jadi Van! Seminggu ini aku akan berpuas-puas diri menghabiskan waktu bersamamu. Jarang-jarang aku memiliki waktu libur kalau tidak memaksakan diri seperti ini," ujar pria itu.
"Hallo An?"
"Yang benar saja kamu?"
"Serius? Bagaimana bisa sampai seperti itu. Oke-oke, aku akan segera pulang saat ini juga!" Marco menutup panggilan teleponnya dengan wajah panik. Membuat Vanya terduduk dengan pandangan khawatir sekali.
"Ada apa, Co? Apa ada masalah di rumah?" tanya wanita itu ikutan panik.
__ADS_1
Marco segera merubah ekspresi wajahnya menjadi lembut kembali. Tangannya terulur dan merengkuh tubuh wanita itu begitu erat.
"Ada sedikit masalah di perusahaan. Maafkan aku, sepertinya kita harus membatalkan rencana yang tadi."
"Ya sudah tidak masalah, aku akan membereskan barang-barang! Kita pulang sekarang."
"Tidak ... tidak!" Marco menggeleng cepat. Dua tangannya merangkum wajah khawatir Vanya untuk sedikit meredam kegundaan wanita itu. "Kamu tidak usah ikut pulang, Van. Ini bukan masalah yang besar. Nikmati suasana liburan di sini bersama pelayan yang lain. Besok aku akan kembali ke sini jika urusanku sudah selesai," bohong Marco.
Padahal ia tak tahu apakah ia bisa menyelesaikan kekacauan yang terjadi di rumahnya saat ini.
Vanya mengangguk setuju walau hatinya merasa aneh. Dilihat dari ekspresi Marco, sepertinya masalah yang akan ia hadapi tidak main-main.
Pria itu mengecup bibir Vanya lembut. "Tunggu aku kembali Van." Lantas berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Vanya hanya dapat menatap punggung besar yang menghilang di balik kamar mandi. Punggung yang semalam ia cakar dan gigitnya sesuka hati.
Untuk pertama kalinya, Vanya merasa kecewa. Hatinya begitu sedih. Entah karena bawaan bayi, atau karena ia tidak mau berpisah dengan ayah dari bayi yang dikandungnya.
Cepat kembali, Marco.
Aku rindu ....
__ADS_1
***
Up dua bab. Jangan lupa like dan komen di setiap partnya ya. Biar stabil.