
Pagi menjelang, matahari sudah bertengger cantik di ufuk timur dengan sinar merah kebanggaannya. Vanya terbangun lantaran pendengarannya sedikit terganggu oleh aktivitas pelayan yang keluar masuk kamar sedari tadi. Suara-suara dari langkah kaki itu sangat berisik hingga membuat Vanya tak tahan dan bangun lebih awal dari jadwal biasanya.
"Ada apa? Kenapa kalian mengemasi barang-barangku? Mau diapakan baju-bajuku itu?" tanya wanita itu setengah membentak saat melihat para pelayan membawa beberapa koper besar dan mengemasi baju-bajunya.
Para pelayan itu menunduk takut melihat tatapan garang Vanya. Lalu salah satu dari mereka menjawab, "Maaf, kami tidak tahu. Ini adalah perintah langsung dari tuan Marco, Nona! Kami hanya menjalankan perintahnya saja."
"Di mana Marco sekarang?"
"Di bawah, Nona! Ada di kamarnya," jawab salah satu pelayan ikut menghentikan pekerjaannya sejenak. Lalu beraktivitas lagi setelah menjawab pertanyaan Vanya barusan.
Vanya membusungkan setengah dadanya. Ia termenung menatapi para pelayan yang sedang sibuk berkemas itu. Mau diusir ke mana lagi aku? Apa jangan-jangan kebaikan Marco yang kemarin hanya sekedar sandiwara? Awas saja jika dugaanku benar!
Jiwa penasaran itu membawa kaki mungilnya melangkah ke bawah. Menuruni sejengkal demi sejengkal anak tangga hingga tanpa sadar tubuhnya sudah berdiri di depan kamar Marco yang pintunya sedikit terbuka.
"Langsung ketemu di bandara saja, Ann!" Terdengar Marco tengah melakukan panggilan telepon di depan kaca. Ia sudah melihat kehadiran Vanya di balik pintu melalui pantulan kaca. Pria itu sudah mengenakan setelan rapi, namun bukan pakaian kerja, lebih ke arah baju santai seperti orang hendak berlibur.
"Pagi," sapa Marco melirik ke arah pintu.
Vanya yang sudah terlanjur ketahuan langsung masuk. Ia tidak menjawab sapaan Marco dan langsung menyergah pria itu dengan pertanyaan. Lengkap dengan ekor mata yang melirik sinis kepada Marco juga. "Kenapa para pelayan-pelayan itu mengemasi barang-barangku lagi? Apa aku akan diasingkan lagi ke suatu tempat?"
Nada suara Vanya yang sedikit ketus membuat Marco mengulas senyum gemas. "Kok kamu tahu? Aku memang berniat mengasingkanmu di sebuah pulau yang agak jauh dari hiruk pikuk kota."
__ADS_1
Wajah Vanya memucat mendengar penuturan Marco yang sepertinya tampak serius. Marco sampai tergelak saking tak tahannya melihat ekspresi Vanya yang semakin menggemaskan saat dipandang.
"Jangan bercanda ya Marco! Apa sekarang kamu mau bilang kalau pengakuanmu yang kemarin adalah sandiwara? Agar aku terlihat semakin menyedihkan di hadapanmu?"
"Ya ampun!" Pria itu mendekat. Lantas menarik tubuh Vanya ke dalam dekapan dada bidangnya. "Mana mungkin aku bersandiwara. Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan."
"Jalan-jalan?" Ia mendongak. Matanya membingkai wajah Marco yang menunduk penuh demi bisa menatap wajah ayunya. "Jalan-jalan ke mana?"
"Ke sebuah pulau yang sangat indah. Aku ingin kita berbulan madu seperti pasangan pengantin baru lainnya."
"Bulan madu?" Vanya tampak terkejut. Keningnya terlipat dalam hingga bola matanya nyaris terlepas dari singgasananya.
Pantaskah kata itu disuguhkan untuk wanita yang tengah mengandung lima bulan? Ya, meskipun Marco benar bahwa mereka baru saja menikah.
"Bukan itu maksudku." Tubuh Vanya sedikit meremang hingga tanpa sengaja melepas pelukan Marco begitu saja. Bukan itu yang ada di pikirannya sekarang.
"Memangnya orang hamil masih membutuhkan bulan madu? Bukannya bulan madu hanya dikhususkan untuk mereka yang hendak menciptakan calon buah hati? Dan juga, kemarin dokter sudah bilang kalau aku tidak boleh terlalu sering mel—"
"Stttt!" Marco menempelkan jari telunjuknya di bibir Vanya. "Kalau begitu aku ralat kata-kataku barusan. Kita hanya akan berlibur di pulau itu untuk bersenang-senang. Aku akan menjaga diri, tidak akan menyentuhmu secara berlebihan apalagi sampai mengakibatkan kontraksi pendarahan seperti kemarin."
"Tapi kenapa harus dadakkan seperti ini?" Lagi-lagi Vanya menyergah Marco dengan pertanyaan penuh kecurigaan. Belum ada raut kepercayaan di wajah yang selalu dipenuhi kewaspadaan itu.
__ADS_1
"Iya, mendadak aku merasa penat dan ingin sekali berlibur. Kamu mau 'kan menemaniku?" tanya Marco sengaja berkilah.
Tentu saja yang ia ucapkan adalah kebohongan. Sudah jelas bahwa semua ini hanyalah akal-akalan Marco untuk melindungi diri sejenak. Ia masih belum siap bertemu dengan ibu kandungnya yang masih dalam perjalanan.
Marco ingin hidup tenang bersama Vanya. setidaknya tidak langsung bertemu masalah di saat ia baru saja menyelesaikan permasalahannya dengan Vanya kemarin.
"Hmmm." Vanya tidak lekas mengangguk. hidupnya yang selalu waspadah membuat wanita itu tidak mudah percaya dan menyetujui keinginan Marco segampang itu. "Apa ini karena adikmu itu? Kamu tidak ingin aku bertemu dengannya? Maka dari itu kamu ingin mengajakku berlibur. Iya, 'kan?"
"Ya ampun Van. Tidak seperti itu! Justru Anna dan Hero sedang dalam perjalanan ke bandara. Dia bilang ingin bertemu denganmu sebentar sebelum kita berlibur," jawab Marco sungguh-sungguh. Ia sudah mempertimbangkan hal ini sebelum Vanya bertanya lebih lanjut. Maka dari itu Marco menyuruh adiknya datang ke bandara untuk menemui Vanya sebentar sekalian Marco menyerahkan data-data penting perusahaan pada Hero. Beruntung gadis itu mau diajak bekerja sama.
"Benarkah seperti itu?"
"Ia Sayangku, benar!" Marco membungkam puncak bibir mengerucut Vanya. Membuat aliran di tubuh wanita itu seketika memanas dengan tingkah usil pria di hadapannya. Vanya refleks mengerjap gugup mendapat serangan dadakan seperti itu.
"Kalau begitu aku mandi dulu." Wanita itu segera berbalik kabur sebelum wajah malunya terbaca oleh Marco.
Dasar pria menyebalkan, lama-lama aku bisa spot jantung kalau diperlakukan seperti ini!
Marco melipat bibirnya penuh rasa bahagia melihat Vanya begitu gugup saat diterjang bibirnya barusan. Ia masih menatap sisa-sisa bayangan Vanya yang sudah menghilang di balik pintu. Ada setitik harapan agar Anna dapat membawa pulang nyonya Fernando yang galak itu ke Amerika secepat mungkin. Jadi ia tidak perlu melihat pertemuan sengit antara Vanya dengan ibu kandungnya sendiri.
Setidaknya biarlah Marco saja yang menjelaskan masalah ini nanti ... tentunya setelah perceraiannya dengan Nadia selesai.
__ADS_1
***
Yang masih tanya-tanya visual Vanya dan info info lainnya cek ig @anarita_be aja ya. soalnya di sini g boleh terlalu menonjolkan visual. Entar jadi pelanggaran hak cipta.