Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Lima Belas


__ADS_3

Menikah dengan orang kaya yang memiliki perusahaan bukanlah tujuan hidup Vanya. Tapi apa daya bahwasanya Takdir selalu mengikat hidupnya pada hal-hal yang justru tidak pernah diinginkannya.


Setelah dengan Adit, kini Vanya kembali terjerat perasaan dengan suami yang jauh lebih kaya dari pria itu. Hal itu membuat Vanya semakin minder.


Selama hidup dengan Adit atau pun Marco, ia tidak pernah berani menuntut apa-apa dari mereka karena terlalu sadar siapa dirinya.


Marco sangat paham kenapa Vanya tidak pernah meminta dibelikan tas, berlian, barang mewah, ataupun sesuatu yang sering menjadi incaran para wanita.


Perlahan Marco pun mulai sadar di mana letak kesalahan Vanya sebagai istri orang kaya. Wanita itu terlalu takut dicap buruk hingga selalu menahan keinginannya. Seharusnya Vanya tidak boleh seperti itu.


Nikmatilah kekayaan suamimu dengan paripurna. Karena jika kamu terlalu berhemat, akan ada wanita lain yang bersedia menghabiskan harta suamimu dengan sukarela.


Faktanya, perkara seperti ini terjadi nyata dan hampir di setiap 1 km permukaan bumi.


Marco membawa tubuh Vanya ke dalam dekapannya. Wanita memilih diam karena masih syok dengan kelakuan suaminya yang dinilai sangat aneh.


Pria itu mengelus rambut panjang Vanya dengan lembut sambil membenahi bebera sulur yang terburai menutupi sebagian wajah. "Mulai sekarang jangan mengkhawatirkan apa pun lagi, Van! Habiskan semua uangku tanpa rasa sungkan! Aku akan senang jika kamu melakukan tugasmu yang satu itu."


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Bukannya lelaki tidak suka dengan wanita mata duitan? Dasar aneh sendiri," cibir Vanya dalam pelukan Marco.


"Siapa yang bilang seperti itu?"


"Menurutku," jawab Vanya asal.


Marco sedikit mengulas senyum. Dikecupnya puncak kepala Vanya dengan lembut. Ia merasa Vanya sedikit tenang dan mulai menurut sejak ia menjelaskan keadaan dirinya yang sudah jatuh miskin versi keluarga bangsawan.

__ADS_1


"Biar kuberi satu sedikit rahasia tentang lelaki padamu, Van! Mungkin tidak semuanya seperti ini, tapi rata-rata pria memiliki pikiran yang sama. Mereka bergelut dengan dunia kerja, mati-matian mencari nafkah, dan kamu tahu untuk siapa harta yang mereka cari—" Marco menunduk menatap Vanya penuh binar.


"Untuk orang yang dicintainya," jawab Vanya antusias.


"Betul sekali! Hampir semua laki-laki di dunia ini merasa tidak membutuhkan harta. Mereka dominan mencari semua itu hanya untuk membahagiaan wanita yang dicintainya. Terutama sang istri, merekalah orang pertama yang bertugas menghabiskan uang suaminya. Jika sang istri tidak melakukan itu, maka bisa saja sesuatu yang buruk terjadi pada rumah tangga mereka. Awalnya si laki-laki akan menganggap uang yang ia miliki tidak ada gunanya, sehingga timbulah niat dan tekad untuk membahagiakan wanita lain dengan harta yang ia miliki. Begitulah sebagian laki-laki, saat ia merasa mampu pandangannya semakin luas terhadap wanita. Jadi tak heran jika seorang pejabat atau pengusaha memiliki dua atau tiga istri."


Vanya tertegun. Pikirannya langsung menjurus pada sang mantan yang pernah main mata dengan sekretarisnya sendiri.


"Apakah Adit termasuk orang yang seperti itu? Dulu aku sangat berhemat, nyaris tidak pernah menggunakan uang Adit untuk membeli barang-barang mewah. Tapi bukannya senang memiliki istri yang berhemat, Adit justru rela bangkrut demi wanita lain!"


"Aku tidak menuduh! Tapi kurang lebih seperti itulah watak kebanyakan lelaki!" Marco sedikit meneliti wajah Vanya, mencari tahu apakah ada getar kesedihan di bagian sana. Namun, sepertinya Vanya lebih antusias membahas tentang harta yang baru saja Marco limpahkan kepadanya.


"Kamu berani sekali memindahkan hartamu untukku! Memangnya kamu tidak takut jika aku menghabiskan hartamu sampai bangkrut?"


Pria itu menggeleng yakin. "Inilah bedanya wanita simpanan dengan istri sah, Van. Mereka para istri yang benar-benar mencintai kita tidak akan setega itu pada suaminya. Beda jauh dengan selingkuhan yang targetnya memang sudah dari awal menguras harta pria sampai habis. Itu sebabnya aku merasa santai saat memindahkan semua hartaku ke tanganmu. Karena aku yakin kamu tidak akan membuangku begitu saja seperti si wanita simpanan jahat di luar sana."


"Selain itu, aku juga tidak ingin menjadi gelap mata karena merasa memiliki banyak harta. Kita tidak pernah tahu seperti apa perubahan yang akan terjadi dengan diri kita pada esok hari. Maka dari itu mengantisipasi sangatlah penting. Aku hanya ingin menjalani kehidupan sederhana bersama kalian, Van. Tidak pernah terlintas wanita lain di hidupku hingga detik ini!"


Satu pelajaran penting berhasil Vanya dapatkan di gudang yang gelap ini. Mulai sekarang ia tidak akan sungkan menghabiskan kekayaan pria itu.


"Jika pria tidak butuh harta, bolehkah aku tahu apa yang paling dibutuhkan pria dari wanita?"


Membuat Maro menarik dagu wanita itu sampai mendongak. "Kamu yakin bertanya seperti ini pada macan yang tengah kelaparan?"


Sorot matanya menyambar-nyambar seperti kilat.

__ADS_1


"Hmmm." Ia mengangguk sedikit nakal. Di mana Marco langsung bergerak agresif melancarkan sebuah aksi yang tadinya sempat tertunda.


"Kali ini aku tidak akan melepaskanmu! Kamu yang menggodaku, kamu harus jadi milikku!"


Terjangan bibir Marco selanjutnya terasa sangat kuat. Vanya sampai kesulitan bernapas akibat melayani kebuasan lelaki yang hasratnya sedang tinggi-tingginya itu.


Dalam sekejap Vanya merasa kedatangan kabut putih yang membuat pandangannya mengabur. Otaknya linglung dan tubuhnya serasa melayang-layang.


Dua tangan Marco bergerak melepaskan satu persatu kancing daster Vanya hingga keadaan wanita itu kembali polos.


Meskipun sempat terjadi drama dan berbagai macam perdebatan ala-ala, baju yang wanita itu kenakan berhasil Marco lucuti. Vanya telah kembali polos, bahkan tanpa busana sehelai pun.


Marco kecup satu persatu bagian sensitif Vanya seakan tengah menerbangkan berjuta-juta perasaan rindu. Vanya yang sudah lebih dari empat tahun tidak dijamah hanya bisa mengerang pasrah di bawah kungkuhan suaminya. Membiarkan pria itu bergerak lincah dan memainkan tubuhnya dengan sesuka hati.


Lupakan saja harga diri. Yang satu itu sudah tercecer entah ke mana sejak Vanya menggoda Marco tanpa tahu malu.


Ruang yang tidak layak itu pun berhasil mereka sulap menjadi tempat terindah. Tempat yang membuat keringat keduanya bercucuran dibarengi potongan-potongan adegan berpacuan.


Tak membutuhkan waktu lama, tubuh Marco ambruk bersamaan dengan erangan kuat yang keluar dari bibir Vanya. Mereka sama-sama merasakan tulang-tulang yang terlepas dari badan diakhiri pelukan erat.


Meskipun ditempuh dengan jalur naik turun gunung dan dan memasuki lembar berduri, pada akhirnya batangan Naraciaga milik Marco tetap berhasil melepaskan peluru termahal yang selama ini selalu dijaga erat.


Marco berharap Naraciaga dapat menghasilan setitik nyawa untuk menemani keseharian Ella nantinya.


***

__ADS_1


Apa ada yang protes gak panas? Novel bukan sarana bok*p .... ya, segini lebih dari cukup pake banget banget buat aku. Jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2