Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Dua Puluh Delapan


__ADS_3

Hai? Ada yang kangen? maaf ya, aku agak sakit semingguan ini. Baru mulai agak mendingan. Aku usahain up doble ya hari ini. Bismillah. Jangan marah. Doain aja authornya bisa kasih yang terbaik. Besok sudah mulai up rutin dan rajin kayak biasanya.


*


*


*


Sekarang Marco dan Vanya sedang menuju klinik darurat yang disediakan khusus untuk para pekerja di perkebunan. Marco sangat khawatir karena Vanya tak kunjung bangun selama perjalanan di dalam mobil menuju klinik.


"Bangun Van ... jangan membuatku cemas seperti ini!" Marco masih terus berusaha menggoyang-goyangkan wajah wanita itu pelan.


Ini adalah usahanya untuk kesekian kali. Beberapa kali ia mengelap titik-titik keringat Vanya yang menggenang di sekitar dahi.

__ADS_1


Melihat sudut bibir membiru dan bekas luka lebam di sekitar tulang pipi Vanya, membuat hati Marco kembali memanas.


Ia tidak rela.


Demi apa pun Marco tak akan melepaskan semua orang-orang jahat yang telah menganiaya istrinya sampai sedemikian rupa.


"Co ...." Tiba-tiba Vanya melirih pelan. Kelopak matanya mengerjap-ngerjap hingga pada akhirnya terpisah perlahan. "Maafkan aku," lanjutnya semakin lirih.


"Ya Tuhan! Akhirnya kamu sadar juga, Van! Dari tadi aku benar-benar khawatir sampai pikiranku melayang membayangkan yang tidak-tidak." Marco langsung mengecup dahi wanita itu. Tampak getar kecemasan perlahan menghilang begitu melihat Vanya mulai siuman dari keadaan pingsannya.


"Maafkan aku ... maafkan aku," lirih wanita itu lagi. Suaranya terdengar parau dan penuh penyesalan saat mengatakan. Mata sayunya terus memandang Marco. Berusaha penuh merekam jejak wajah pria itu sejelas-jelasnya.


"Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi di perkebunan itu sampai kamu babak belur seperti ini," keluh Marco nyaris frustrasi. Pikirannya sudah melayang tak karuan entah ke mana. Rasanya ingin teriak, mengamuk dan memukuli siapa saja yang bisa ia jadikan pelampiasan.

__ADS_1


"Aku salah Co ... aku salah karena tidak menuruti kemauanmu dari awal. Ini adalah karma untuk istri yang durhaka. Tidak seharusnya aku bekerja di perkebunan itu lagi karena kamu sudah datang." Sekarang wanita itu berusaha mengangkat tubuh lemasnya dari posisi berbaring. Tangannya bergerak ke atas untuk menggapai pundak Marco.


Pria itu membantu mengangkat kepala Vanya dari pangkuan. Lantas merengkuh tubuh Vanya agar duduk sambil bersandar di dadanya.


"Jangan bicara seperti itu! Katakan saja apa yang terjadi padamu hingga mereka semua menganiayamu seperti ini. Aku tidak akan marah kepadamu sekali pun penjelasan itu menyakitiku." Marco mengelus pundak wanita itu. Vanya semakin terisak hingga air matanya kini terasa menembus permukaan kulit dada Marco.


"Hiks .... Tadi aku hampir diperkosa oleh salah seorang mandor di perkebunan itu, tapi aku masih bisa melawan dan kabur dari orang itu." Vanya menjeda ucapannya sembari menunggu reaksi Marco. Ia takut pria itu marah dan menyalahkannya atas kejadian ini.


"Lalu?" Marco berusaha tenang mendengarkan. Tangan Vanya kembali bergetar. Pelukan wanita itu bahkan terasa mengetat seolah-olah begitu takut dihakimi oleh suaminya.


"Lalu aku berteriak meminta tolong ke sana kemari sampai akhirnya teriakanku menimbulkan banyak perhatian orang sekitar. Mereka langsung datang mengerubuni. Termasuk tuan Syam—orang yang tadinya hendak memperkosaku."


"Lalu apa yang terjadi setelahnya?" Marco benar-benar marah dan emosi. Namun ia berusaha menyembunyikan semua itu agar Vanya tidak ketakutan dan menghentikan ceritanya begitu saja.

__ADS_1


"Begitu semua orang berkumpul, aku langsung menceritakan semua kronologinya pada mereka dengan harapan mendapat sedikit perlindungan. Akan tetapi tidak ada satu pun yang mempercayai. Satu-persatu dari mereka terus menghakimi dan mengatakan akulah yang berbohong hanya karena tuan Syam adalah orang baik. Sekeras apa pun aku membela diri, merekat terus menampar dan merendahkan dengan kata-kata kasar. Ditambah tuan Syam datang membela diri, mengatakan bahwa ia tidak mungkin tertarik pada karyawan rendahan sepertiku."


Keparatttttt!


__ADS_2