Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Boncap 9


__ADS_3

Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba.


Sudah dua minggu lebih Anna berdiam diri di rumah tidak lagi mengemis seperti biasa. Dan sekarang, waktunya bagi anak itu untuk diserahkan kepada keluarga tuan Fernando karena surat adopsi resmi mereka telah di keluarkan.


Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi di mana keluarga Fernando akan datang sebentar lagi. Namun sesuatu yang buruk terjadi karena Anna tak hentinya menangis sedari tadi. Gadis kecil itu terus memberontak dan enggan tinggal bersama orang yang menurutnya tak di kenal.


Sambil menarik-narik baju ibunya anak itu terus merengek. "Anna tidak mau tinggal bersama mereka, Bu! Anna mau tinggal bersama ibu saja. Tolong Bu ... Anna janji akan mengemis setiap hari, Anna tidak akan nakal lagi dan selalu bangun pagi-pagi!"


"Diam Anna! Tinggal di sana jauh lebih enak


dari pada tinggal bersama kami yang miskin!"


"Tidak apa, Bu! Anna lebih suka tinggal dengan ibu dan ayah! Anna tidak mau jadi orang kaya," ucap Anna sembari tersendu-sendu.


Ibu yang biasanya berhati batu tiba-tiba luluh mendengar tangisan anak itu. Ada getar tak rela, tetapi keluarganya sudah terlanjur mendapatkan banyak imbalan dari keluarga Fernando. Mereka tidak mungkin bisa hidup mewah dan tinggal di rumah yang megah kalau tidak merelakan Anna diadopsi oleh keluarga Fernando.


Dari arah belakang ayah datang sambil membawa segelas air putih. Wajahnya sangat marah melihat baju Anna sudah lusuh dan basah tiga kali akibat terkena tetesan air mata.


"Apa kau tidak becus meredam tangisan anak kecil, Bu? Kalau seperti ini tuan Fernando bisa murka begitu melihat wajah Anna yang sembab. Kau sendiri yang akan terkena imbasnya nanti!" cetus ayah kesal. Anna langsung mencicit takut di pelukan ibunya begitu ayah datang membawa aura kemarahan.


Ibu mendongak seraya melotot. "Dia tidak mengenal keluarga barunya. Wajar jika anak kecil bersikap seperti itu, Yah! Bersikap baiklah kepada Anna sesekali. Sebentar lagi dia tidak akan tinggal bersama kita lagi."

__ADS_1


"Cih! Bela terus anak sialan itu!"


“Siapa yang membela, aku hanya mengatakan fakta yang dirasakan anak kecil! Lagi pula siapa suruh kau memberikan Anna pada orang kaya itu!”


"Heh!"


Mendengar istrinya bicara seperti itu ayah malah tambah meradang. “Jangan munafik! Baju dan perhiasan mewah yang sedang kau pakai sekarang dari mana kalau bukan dari mereka? Nikmati saja lah, Bu! Jangan banyak omong seperti tong kosong berbunyi nyaring!”


Kemudian ayah menyodorkan segelas air putih ke arah ibu. “Berikan minuman ini pada Anna! Pastikan anak itu meminumnya hingga tandas.”


Sontak Ibu menerima gelas itu sambil mengerutkan dahinya curiga. “Air apa ini? Apa kau menaruh obat tidur lagi di minuman Anna? Kau lupa waktu itu Anna hampir mati karena kelebihan dosis obat tidur?”


Ayah mendesahkan napasnya agak kasar. “Heuh! Bawel sekali mulutmu, Bu. Mana mungkin aku berani melakukan hal seperti itu lagi pada anak yang statusnya sudah menjadi hak asuh tuan Fernando! Kau pikir aku ingin cepat mati? Itu hanya obat tidur dosis rendah agar Anna tidak rewel saat dibawa ke rumah mereka nanti. Berikan saja ... dia tidak akan mati! ”


Anna adalah gadis penurut yang selalu hidup di bawah tekanan kedua orang tua. Apa pun yang diminta oleh ayah dan ibunya akan selalu dia turuti. Bahkan dia sudah terbiasa mengonsumsi obat tidur saat sedang mengemis. Mereka melakukan itu agar Anna terlihat kasihan dan akhirnya mendapat banyak penghasilan dari mengemis.


*


*


*

__ADS_1


Sementara di kediaman keluarga Fernando, Marco sibuk mondar-mandir gelisah di depan halaman rumah sedari tadi. Ia terus menatap gerbang hitam dengan tinggi menjulang di jauh sana. Di sampingnya sudah ada Hero yang setia menemaninya hampir setiap waktu.


“Kapan Mami dan Papiku datang? Kenapa lama sekali, Her? Apa jangan-jangan anak itu tidak mau dibawa ke rumahku?” Rentetan pertanyaan dengan tema yang sama lagi-lagi Marco lontarkan kepada Hero. Telinga pria muda itu serasa terkena kram karena harus mendengar ini berulang kali tanpa jeda sama sekali.


"Hmmm." Hero menjawab dengan bahasa santai seperti biasa. “Sebentar lagi Tuan Muda. Lebih baik kita masuk ke dalam rumah dulu, udara di luar sangat panas, muka Anda juga sudah merah sekali.”


“No! Aku ingin menyambut adik baruku!” ketus Marco menolak dengan tegas.


Hero mencibir sinis sambil melipat tangannya di depan dada. "Kalau begitu Anda di sini sendiri. Saya tidak mau berpanas-panasan dan menunggu calon adik Anda!"


Pria itu langsung berbalik dan berjalan menuju pintu utama. Membuat Marco meradang sambil memaki anak itu.


"Hei, dia juga calon istrimu tahu!"


"Baru calon!" jawab Hero sambil berlalu tidak peduli.


Tak lama kemudian mobil yang membawa Anna datang melewati gerbang pembatas dunia luar dengan rumah yang megah dan mewah bak istana.


Kehidupan baru Anna pun dimulai dari sekarang. Di tempat baru ini ia tidak lagi diperlakukan layaknya sampah tidak berguna.


Anna diajari tatakrama tinggi dan masuk ke sekolah mewah. Ia hidup bergelimang harta serta dimanja layaknya anak kandung sendiri oleh nyonya Maria dan juga tuan Fernando.

__ADS_1


***


Back ke masa depan lagi ya. Yang kangen Marco Vanya mana suaranya? Hehe.


__ADS_2