
Vanya kembali ke lantai dua belas dengan mata setengah berkaca-kaca. Ia mencoba menahan tangisnya sebisa mungkin agar kesedihannya tidak terbaca oleh siapa pun.
Kesedihan Vanya adalah kebahagiaan Marco. Jadi wanita itu harus tetap terlihat tegar agar jangan semakin diinjak-injak oleh psikopat gila Marco. Memang sulit untuk dilakukan, namun sekali lagi Vanya harus berusaha kuat demi harga dirinya.
Vanya melangkah melewati ruang kerja Hero, di mana pria itu langsung memanggil sebelum sempat Vanya mendorong dua katup pintu besar di depannya.
"Nona," sergahnya.
Vanya menoleh ke belakang, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Bisa minta waktunya sebentar," lirih Hero tanpa mengurangi aura tegas di wajahnya. Vanya mengangguk, lantas mengikuti langkah Hero menuju mini bar terbuka yang pintunya bersebelahan dengan ruang kerja Hero.
Pemandangan ibu kota yang indah terpampang jelas dari atas gedung saat Vanya melangkahkan kaki ke tempat itu.
Sejenak ia kagum, sebelum akhirnya memfokuskan niat awalnya berdiri di tempat ini. "Ada perlu apa?" ucap Vanya dengan nada bertanya ketus ciri khasnya.
Semilir angin bercampur surya membelai surai hitamnya perlahan. Vanya pun segera menyelipkan beberapa anak rambut yang terburai pada balik telinga.
"Saya Hanya—" Hero menjeda ucapan ragu-ragu
"Hanya apa?" sergah Vanya tak sabaran.
Kini mereka sedang berdiri di dekat pembatas dari kaca setinggi dada. Di mana Vanya dapat melihat gedung-gedung tinggi di depannya dengan jelas dari jarak sedekat ini.
__ADS_1
"Sa-saya hanya mau mewakili ... tolong maafkan kesalahan Tuan Marco hari ini," ujar Hero sambil menatap Vanya sungguh-sungguh.
Namun, dua manik mata wanita itu sibuk menjelajah pemandangan indah dengan pikiran buyar. Masih tidak menyangka dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Ketika Hero berkata seperti itu, Vanya jadi teringat lagi.
"Nona!" panggil Hero keras. Ia merasa kesal lantar wanita itu bersikap cuek kepadanya.
Padahal Vanya sedang menetralkan pikirannya agar jangan sampai terlihat lemah.
Vanya menoleh sinis. "Tidak usah meminta maaf. Bukannya kau sudah tahu kalau Marco akan melakukan rencana ini?"
Hero sedikit terperanjat. Ada gelengan pelan dan wajah sok polosnya yang terpancar menyebalkan. "Mana mungkin saya tahu. Saya hanya tahu kalau mantan suami Anda akan datang untuk presentasi, tapi saya tidak pernah berpikir bahwa tuan Marco akan senekat ini membongkar kebusukan suami Anda di depan umum," tuturnya.
"Halah, simpan saja permintaan maafmu! Kecuali kau bisa mengeluarkanku dari lingkaran setan ini, baru kumaafkan! Dasar sekretaris munafik ... sok baik!" Vanya masih tetap tidak tergoyahkan hatinya. Ia hendak melangkah pergi, namun lagi-lagi Hero mencegahnya. Kali ini pria itu menarik lengah Vanya tanpa sadar.
"Lepas!" tepis Vanya.
"Dari tadi aku sudah tenang. Kau saja yang mengajakku main drama ikan terbang. Kau pikir maaf saja dijaman sekarang cukup?"
Hero mengepalkan kedua tangannya kesal. Wanita ini ... jelas aku bisa melihat aura sedih di wajahnya. Tapi kenapa ia berusa menutupi semuanya dengan sikap galak dan angkuh? Bukannya wanita selalu manja dan cengeng?
Hero masih meneliti wajah Vanya dengan sorot mata tak biasa. Membuat wanita itu risih seketika.
"Tidak usah mengasihaniku!" tukas Vanya seolah ia tahu apa yang sedang Hero pikirkan. "Aku mau ke ruangan Marco ... aku mau minta pulang! Kepalaku pusing," ujarnya, kemudian melangkah ke arah pintu.
__ADS_1
"Sekali lagi maafkan tuan Marco, semoga penderitaan Nona cepat berakhir!" serunya menyemangati.
Vanya yang merasa geram berbalik kembali ke arah pria itu. "Kau sedang menyemangatiku?" tanyanya kasar.
"Tentu saja!" jawab Hero pasti. Meskipun tadi pagi Hero sedikit kesal pada Vanya, tapi hati nuraninya sekarang sudah berkembang. Agak sedikit iba dengan nasib si tawanan cantik tersebut.
"Kalau kau menyemangatiku, artinya kau ada di pihakku, kalau kalu di pihakku, artinya kau siap membantuku. Bukankah begitu, 'kan?" tanya Vanya sedikit berbelit-belit dalam menggunakan kosa katanya.
Hero mengulas senyum seraya menunduk. "Asal bukan membantu Nona kabur, saya akan berusaha membantu. Misalnya ketika nona di kasari, saya bisa membantu melerai," ujarnya.
"Dikasari oleh Marco sudah biasa bagiku. Kalau kau memang ingin membantu ... mari kita pecahkan kepala Marco bersama-sama. agar semuanya menjadi mudah!"
"Astaga Nona! Permintaanmu terlalu mustahil"
Vanya tertawa kecil. Sedihnya sedikit terobati dengan melihat ekspresi Hero yang lucu. "Sudahlah ... kau anak kecil. Lebih baik tidak usah ikut campur dengan urusan orang dewasa."
"Anda menuduh saya anak kecil?" Hero menunjuk diri sendiri. Matanya melotot tidak terima. "Umur saya sudah 31 tahun loh. Lebih tua 4 tahun dari Anda dan tuan Marco," lanjutnya dengan nada membantah.
"Maksudku itumu yang kecil!" Menunjuk milik Hero sambil mengedipkan mata.
"A-apa?" Hero membeliak tak percaya. Wajah merona merah. Ia hendak melayangkan kalimat protes pada Vanya. Namun wanita itu sudah berangsur menjauh dan meninggalkan Hero di mini bar seorang diri.
Apa menghinaku adalah bentuk kebahagiaannya? Lucu sekali Anda nona!
__ADS_1
***
Kasih bacaan santai dulu ya. Tegang mulu bikin pale aku pucing. Kalau udah jernih baru nyari yang tegang-tegang. Wkkww.