Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Boncap 6


__ADS_3

Hallo Hallo? Ada yang kangen aku? Mohon maaf belum bisa pindahin novel ini ke buku baru karena masih ada banyk keperluan di dunia nyata. Yg nunggu part Vanya Marco bersabarlah sedikit. Flashback ini menceritakan bagaimana sikap Marco sebenarnya. Jadi kalian akan paham kenapa cerita Dijual Suamiku Dan Dibeli mantan bisa terjadi.


Cekidot...


***


“A-apa yang Anda katakan Tuan Muda?” Kini giliran Hero yang memandang Tuan Muda kecil itu dengan raut wajah ketakutan. Ia makin mengangsur tubuhnya menjauh dari jangkauan Marco yang masih dalam posisi berjongkok sambil memasang seringai licik dari bibirnya.


“Aku hanya menambahi apa yang kamu ucapkan barusan, memangnya kenapa?” tanya Tuan Muda kecil itu tertawa penuh arti seraya berdiri membalas tatapan Hero. Meskipun tubuh anak itu lebih kecil dari Hero, tetapi ia terlihat mengerikan bagai monster pemakan manusia.


“Be-begini Tuan Muda, Anda itu masih kecil, Anda masih belum paham bahwa manusia diciptakan dengan pikiran rumit dan mudah berubah dari waktu ke waktu. Singkatnya sekarang saya bisa merencanakan dengan siapa saya menikah, tetapi belum tentu rencana saya yang ingin menikahi Anna akan terjadi di kemudian hari."


"Benarkah begitu?" Marco menaikkan satu alisnya tinggi-tinggi. Sementara Anna yang tadi dibuat senang tampak kecewa mendengar penuturan Hero. Meski tidak tahu persis apa artinya menikah dan gunanya seorang istri, tapi ia pernah melihat, bahwa istri adalah wanita istimewa yang sangat disayangi oleh suaminya, dan tentunya Anna yang selalu mendapat siksaan dari kedua orang tuanya ingin merasakan sebuah sayang sesungguhnya ketika menikah nanti.


Dengan penuh percaya diri, Hero menjawab dengan lantang, "Ya benar Tuan! Sekarang memang saya bilang ingin menikahi gadis kecil ini, tetapi ketika dewasa nanti bisa jadi salah satu dari kami tidak menginginkan pernikahan itu terjadi. Ketika Anda sudah besar dan bertemu dengan ribuan wanita di luar sana pasti Anda akan paham dengan apa yang saya ucapkan."


Mendengar itu Marco malah tertawa renyah. "Sekarang juga aku sudah paham. Marco tidak perlu menunggu nanti," jawab Tuan muda kecil itu meyakini ucapannya dengan sombong.


"Sekarang aku hanya memiliki satu orang teman yaitu kau! Dan ketika besar nanti, aku juga hanya akan memilih satu wanita yang nantinya akan menjadi istriku. Tidak ada pilihan satu apalagi dua, aku hanya akan mencintai satu wanita. Aku berjanji akan hal itu!" tegas Marco lantang. Kini jari telunjuknya sudah tertuju pada wajah datar Hero. "Maka ... kau juga harus menikahi gadis kecil jelek ini karena dia adalah calon istri yang sudah kau pilih sendiri. Benar begitu anak kecil?"

__ADS_1


Setelah tersenyum karena sudah berhasil membuat Hero panik tanpa rasa salah apalagi dosa, Marco beralih menatap Anna lagi. Sekarang keadaan berbalik di mana manusia licik itu lebih berpihak pada Anna dibandingkan Hero yang sudah cacat di matanya. Pria muda itu mengambil sapu tangan dari dalam saku celana. Lantas menarik paksa tangan Anna dari belakang tubuh Hero.


“Anda mau apa lagi, Tuan Muda Kecil?” gertak Hero meninggikan nada suaranya tanpa sengaja. Marco kemudian mendongak sebelum akhirnya kembali berjongkok menatap wajah Anna yang sudah menangis ketakutan di depannya.


“Tentu saja aku ingin melihat wajah calon istrimu! Bagaimana bisa kau membuat calon istrimu berwajah dekil seperti ini?”


Hero terlihat mendesahkan napasnya kasar karena tak tahan dengan kelakuan anak kecil satu itu. “Anda tidak perlu repot-repot mengurusinya, itu sudah menjadi tugas saya.”


“Benarkah menjadi tugasmu? Tapi kenapa kau biarkan calon istrimu memakai baju dekil dan mengemis seperti ini?” terka Marco sedikit sarkasme. Hero memilih diam tak menjawab. Membuat Marco kecil memiliki peluang besar untuk menyerang Hero sekali lagi. Anak itu memang memiliki skill bicara di atas rata-rata. Sejak kecil ia sudah dilatih berbicara lepas dengan gaya pria dewasa arogan mengikuti sang ayah. Itu sebabnya gaya bicara Marco terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan Hero yang lebih tua empat tahun darinya.


“Aku mengikutimu sedari tadi, jadi aku juga melihat anak kecil ini mengemis di jalanan.” Monster kecil itu mulai mengarahkan sapu tangannya ke wajah Anna. “Dan kamu, jangan menangis lagi! Mulai sekarang kamu adalah calon istri Hero, dan kamu juga termasuk dari bagian temanku.”


Mendengar itu Anna sedikit mendongak untuk mengetahui bagaimana ekspresi Hero saat ini. Dan dari sela-sela jari Marco yang masih mengusap wajahnya, Anna dapat melihat Hero sangat kesal sekali saat ini. Menandakan jelas bahwa perkataan Hero yang ingin menikahinya adalah karangan sementara. Anna paham akan hal itu dan lebih mawas diri atas keadaannya yang hanya seorang pengemis.


“Untuk menjadi pengemis seperti ini?” ucap Marco mendongak seraya menatap dagu Hero di atas sana. Pria kecil itu kembali menunduk setelah Hero mengedikkan bahu pertanda tak tahu harus menjawab apa.


“I-ini?” Marco tiba-tiba kehilangan kata-katanya setelah melihat wajah Anna yang sudah bersih dari debu dan sedikit oli yang sengaja dioleskan ke wajah Anna oleh ibunya. Tangan anak itu gemetar hebat, membuat Hero ikut berjongkok seraya menepuk pundak Marco pelan.


“Anda tidak apa-apa, Tuan Muda?”

__ADS_1


“Vero ... kamu Veronika!” Marco berteriak dan langsung menarik tubuh kecil Anna dalam dekapannya. Gadis yang baru berhenti menangis itu kembali dibuat menangis karena perlakuan Marco membuatnya kembali dirundungi perasaan takut.


“Apa maksud Anda, Tuan? Namanya adalah Anna, dia bukan Veronika!” Hero berusaha menjelaskan, namun keadaan Marco semakin terlihat membingungkan karena ia sudah menangis tak karuan sambil memeluk Anna lebih dalam.


“Bukan! Aku yakin dia adalah Veronika adikku! Wajahnya sama dan tak ada bedanya. Dia pasti Veronika-ku!” tegas Marco lantang.


Kepala Hero mendadak berdenyut ngilu. “Apa Veronika yang Anda maksud adalah adik Anda yang sudah meninggal setahun lalu itu?” tanya Hero karena tidak tahu soal Veronika. Yang ia tahu hanya tentang kabar bahwa adik Marco meninggal terkena serangan penyakit ganas. Hero tidak berani bertanya lebih lanjut tentang Veronika karena pembahasan itu cukup tabu di keluarga Fernando. Tuan Fernando melarang siapa pun membicarakan kematian Veronika karena kematian putrinya cukup membekas di hati semuanya.


Marco mengangguk. “Dia pasti hidup lagi karena merasa bersalah telah meninggalkanku pergi. Iya ‘kan Her? Dia akhirnya menyesal?” Terdengar tawa bahagia diiingi suara arogan Marco yang khas di telinga.


Apa dia gila, mana mungkin orang mati hidup lagi.


Makin pusinglah kepala Hero saat ini. Pria itu melirik Anna, melihat betapa takut dan tertekannya anak itu dengan perlakuan Marco yang mungkin terkesan membingungkan gadis kecil itu.


“Mungkin hanya sekadar mirip Tuan, di dunia ini ‘ kan banyak sekali orang memiliki wajah sama.” Ucapan Hero membuat hati Marco memanas dan mendorong kasar Hero hingga terjungkal ke jalanan aspal.


“Berani sekali kau mengatan itu? Sekalinya adikku ya tetap adikku!” sentak Marco murka luar biasa.


Jangan lupa Her, meski sudah dilatih dewasa sebelum cukup umur, sejatinya Marco masih tetaplah anak kecil. Wataknya yang ngeyel membuat Hero mendesahkan napasnya seraya bergumam, “Sialan! Kenapa aku harus berada dalam posisi rumit seperti ini?”

__ADS_1


***


Mulai aktif ya. 100 komen aku up lagi hari ini. Hehe


__ADS_2