Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Tujuh Puluh Tujuh


__ADS_3

"Aku bilang juga apa. Tidak usah sok datang ke rumah orang tuaku segala. Kenapa si Kakak ngga bisa nurut sedikit sama aku? Sekarang jadi gini, 'kan?" Anna setengah mengomel, mengusap pipi Hero yang masih memerah akibat bekas tamparan ibunya.


"Aku sedang berusaha!" tukas Hero.


Ternyata membuka logika dan menerapkan sedikit nasihat tidak serta merta membuat ibu Anna sadar akan kelakuannya. Ibu paruh baya beranak tujuh itu menampar Hero dan mengusirnya saat itu juga. Sempat terjadi perkelahian antara Anna dengan sang ibu demi membela Hero.


Pria yang ia cintai.


"Usahamu tidak berguna, ibuku sangat keras kepala!"


"Aku masih ingin berbicara baik-baik pada kedua orang tuamu, Ann. Bagaimanapun juga kita harus mendapat restunya saat menikah nanti. Tapi kalau begini caranya, mungkin aku akan menikahimu tanpa restu. Tidak semua anak durhaka pada orang tua, ada juga orang tua yang durhaka pada anaknya. Contohnya ibumu, memanfaatkan anak untuk dijadikan lahan uang. Aku benar-benar tidak suka!" tukas Hero.


Anna tidak sakit hati karena apa yang pria itu lontarkan merupakan kebenaran. Gadis itu terus mengusap-usap wajah kekasihnya dengan perasaan tidak enak.


Hatinya sakit. Seluruh jiwanya memaksa Anna agar membenci kelakuan orang tuanya. Ia tidak menyesal terlahir dari rah*m ibunya. Namun ia menyesal karena tidak bisa membuat ibunya sadar akan kelakuannya yang menyimpang.

__ADS_1


Ia tertunduk dalam-dalam menatapi jari-jari lentiknya sendiri yang berpangku di atas paha.


"Kadang aku juga merasa tidak enak padamu Kak. Ibumu selalu baik padaku saat berkunjung, tapi sebaliknya, orang tuaku malah memperlakukanmu seperti ini. Semua wanita yang berada di posisiku pasti malu berat punya orang tua seperti itu."


Merasa kasihan, satu tepukan Hero mendarat di kepala Anna, lembut. "Jangan berkecil hati. Saat memutuskan untuk mencintaimu, saat itu juga aku wajib menerima semua keadaanmu. Hanya saja—" Hero menghentikan bicara. Pandangan pria itu berubah teduh saat menatap wajah Anna yang tampak polos di matanya.


"Hanya saja apa?" Anna mendongak. Mempertemukan matanya dengan mata hazel Hero yang berkilau.


Lalu pria itu menunduk dengan perasaan teduh. "Hanya saja aku tidak rela melihatmu diperlakukan seperti itu. Aku tidak terima melihat anak dijual oleh ibunya sendiri. Meskipun tidak ada kata seperti itu, tapi yang mereka lakukan cukup menyiratkan semua gambaran di kepalaku. Aku tidak rela ... demi apa pun aku tidak suka melihatmu dimaanfaatkan."


"Benar apa katamu, Kak. Ayah ibuku memang selalu meminta balas budi seperti tidak rela melahirkanku. Bukan hanya memanfaatkan, tapi aku dituntut membuat semua keluargaku sukses dan bahagia. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi  hanya aku seorang yang diperlakukan seperti sejak kecil oleh kedua orang tua."


Hero memilih diam. Pikirannya mulai berkelana memikirkan sesuatu yang mengganjal di otaknya. Untung saja Anna sudah diadopsi oleh keluarga Marco, kalau tidak Hero bisa gila memikirkan nasib mengenaskan yang terjadi pada kekasihnya.


Hari mulai menjelang sore saat Hero melajukan mobilnya dari kediaman orang tua Anna pada saat itu. Sebuah pesan yang Anna terima dari Nadia membuat wanita itu membelalak. Ia memang sudah mewanti-wanti Nadia agar mengabarinya kalau Mami sudah pulang. Dan Nadia melakukan permintaan Anna dengan sempurna.

__ADS_1


Tak cukup hanya menerima pesan, ponsel Anna mulai berdering memunculkan nama Nadia di layarnya. Hero sedikit melirik wanita itu saat sedang menerima telepon.


"Hallo Kak, aku sedang dalam perjalanan ke sana. Sebentar lagi sampai, Kok!"


"Iya ... ya ampun!" Ia sedikit berseru panik.


"Bantu tenangkan Mami dulu, Kak. Tolong jangan bahas apa pun tentang hubungan Kak Marco dan istri keduanya sebelum aku datang. Pura-pura tidak tahu saja. Sebentar lagi aku dan kak Hero sampai ke rumah, biar Anna saja yang menjelaskan semuanya."


Panggilan tertutup. Hero melirik Anna yang tampak panik sekali. "Ada apa? Apa masalahnya gawat sekali." tanya pria itu sambil sesekali melirik dan fokus mengemudi kembali.


"Lebih dari gawat! Penyakit jantung mami kumat! Percepat mobilnya, Kak!" seru Anna frustrasi.


***


Up dua bab, jangan lupa tinggalkan jejak dan komen dan like. biar stabil datanya. hehe.

__ADS_1


Gengs kalo ada typo nanti aku ulang lagi ya. buru buru ngetik biar cepet up.


__ADS_2