Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Tiga Puluh Sembilan


__ADS_3

Vanya dan Marco sama-sama terbangun dalam keadaan polos tepat pukul sembilan malam. Titik-titik ingatan tentang pergulatan panas mereka tadi siang sukses membuat wajah keduanya kembali merona.


Masih dalam keadaan saling berpelukan, Vanya dan Marco saling menatap bingung tanpa melakukan apa pun.


Mata bulat Vanya terus memandangi Marco sambil sesekali menggigit bibirnya dengan tidak enak hati. "Yang barusan—"


"Hentikan!" potong pria itu sebelum Vanya salah paham lebih jauh. Marco sedikit mengeraskan rahangnya agar terlihat arogan. "Hari ini kau kumaafkan! Lupakan semua kejadian tadi siang. Itu semua tidak nyata!" tukasnya.


"Hmmm." Vanya berdeham pelan dan memilih bungkam. Ia segera membalikkan tubuh demi menutupi rasa malunya itu. Ya Tuhan, kenapa aku bisa seberani itu? Padahal dengan Adit saja aku tidak pernah sampai separah ini.


Ia menangkup dua sisi wajahnya yang memanas. Ingatannya melanglang buana pada tingkah binalnya yang begitu memalukkan. Layaknya sepasang orang yang baru pertama kali melakukan malam pertama dalam keadaan cinta luar biasa. Begitulah mereka bergulat penuh hasrat di atas ranjang berdecit.


Setali tiga uang dengannya, pikiran Marco juga sama-sama mengarah ke situ. Aroma lilin yang Hero beli memang tidak menimbulkan efek samping apa pun. Dan inilah yang membuat Marco kesal, lantaran ia masih dapat mengingat dengan jelas setiap adegan erotis yang mereka lakukan secara sukarela dan tentunya penuh kenikmatan.


Bukan hanya itu, Marco juga mengatakan cinta berkali-kali pada Vanya tanpa sadar. Marco memuji kecantikkan wanita itu setiap kali Vanya memanggil namanya. Dan parahnya lagi, Vanya merasa senang dan semakin liar meliuk-liuk di atas tubuh telanjang Marco.


Vanya tiba-tiba membalikkan tubuhnya kembali. Marco langsung mengerjap gugup lantaran ia ketahuan sedang menatapi punggung wanita itu. "Apa kau!" seru pria itu kesal.

__ADS_1


Vanya memutar bola matanya sedikit malas. "Maaf untuk yang tadi," ujarnya.


Aku benci ini, tapi tidak bohong aku juga menikmati.


"Sudahlah! Lain kali jangan sembarangan menerima barang apa pun dari orang lain. Di dalam lilin yang diberikan pelayan itu ada aroma racun yang mampu merangsang otak manusia."


"Memangnya ada lilin seperti itu?" Mata Vanya sedikit membola heran. Baru tahu bahwa lilin dapat meningkatkan efek gairah setinggi itu. "Apa kamu yakin itu adalah ulah lilin," pancingnya tak sengaja.


"Jadi kau tidak percaya padaku? Apa kau pikir aku melakukan semua itu karena cinta?" Yang dimaksud Marco adalah adegan penuh cinta, di mana ada setiap kelembutan yang nyaman di dalam aksinya.


"Bu-bukan begitu!"


"Hei kau! Perbuatan gila apa yang sedang kau lakukan!"


Marco langsung berteriak keras-keras begitu ponselnya tersambung dengan Hero di balik sana. Si biang keladi itu sampai harus menjauhkan telinganya akibat teriakkan Marco.


Maksudnya apa, Tuan?

__ADS_1


"Jangan pura-pura! Lilin apa yang kau taruh di kamarku?" Marco mengaktifkan mode pengeras suara agar Vanya dapat mendengar penjelasan Hero. Dari balik sana Hero menjawab dengan begitu santainya.


Ah, saya membeli lilin itu dari negara tetangga untuk hadiah pernikahan Anda. Itu adalah lilin yang sering dipakai keluarga bangsawan dari dinasti King. Jika Anda mau lagi, saya akan segera mencarikannya.


"Mau lagi kepalamu! Sini kau ... biar kupecahkan isi otak kotormu!"


Ya ampun! kenapa Anda marah-marah kepada saya? Apa jangan-jangan lilin itu tidak berkhasiat? Wah ... wah ... sepertinya aku ditipu.


"Mati saja kau Her!"


Marco menutup panggilannya dengan kesal. Bebicara dengan orang tidak tahu malu seperti Hero membuat otaknya semakin mendidih. Sementara di balik sana, Hero sedang tertawa cekikikkan membayangkan wajah Marco yang pastinya sudah merona malu.


Cukup mendengar gaya bicara Marco, Hero sudah paham bahwa dirinya sukses total dalam menyatukan dua insan egois tersebut.


"Aku jadi ingin beli. Tapi dengan siapa ...?" Hero mengacak-acak rambut hitamnya. Pikiran terkutuk ini. Kenapa selalu melekat pada jiwa laki-laki, sih?


Kira-kira apa yang mereka lakukan? Berapa banyak mereka mengahabiskan waktu? Ah ... Hero tidak tahu!

__ADS_1


***


Sabar ya, nanti aku up lagi kalau ada waktu luang.


__ADS_2