Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Enam Puluh


__ADS_3

Menjaga hasratnya sebagai seorang laki-laki saat berdekatan dengan perempuan bukanlah hal yang mudah bagi Hero yang notabene adalah pria dewasa berumur cukup matang. Namun pria itu berusaha memenuhi janjinya pada Marco demi hubungan baik mereka yang sudah terjalin sangat lama. Hero juga tidak mau mengecewakan orang tua asuh Anna yang selama ini selalu baik kepadanya.


Akan tetapi, kali ini ia sudah benar-benar menyerah. Sebaik apa pun Hero menjalin hubungan sehat dengan Anna, tetap saja dianggap negatif oleh Marco yang terlanjur berotak posesif saat melihat adiknya dekat dengan dirinya.


Lekas menutup pintu dan tak peduli pada Marco yang masih berdiri di luar apartemennya, Hero memandang Anna yang berdiri terpaku menunggunya. "Apa kalian bertengkar lagi?" tanya gadis itu dengan polosnya.


Hero tak menjawab, ia segera menarik lengan Anna agar masuk ke dalam kamarnya. Lantas membanting tubuh itu dengan gerakan sedikit kasar. Anna tersentak, ia melihat tatapan Hero yang begitu lapar seolah ingin melahapnya tubuhnya bulat-bulat.


"Bukankah kamu tadi menanyakan aku pria normal atau bukan? Aku normal ... sangat sangat normal! Jika bukan karena menghormati kakakmu, aku sudah melakukan apa pun yang kuinginkan darimu."


"Apa maksudmu?" Tubuh Anna sedikit gemetar takut mendengarnya. Secepat kilat Hero menyambar bibirnya dengan rakus dan penuh paksaan. Anna yang mendapat perlakukan sekasar itu segera memberontak tidak terima.


Plak!


Anna menampar pria itu, lantas menendang perut Hero hingga ia terjungkal ke belakang. Ia mengelap sudut-sudut bibirnya yang masih sedikit basah akibat ciuman Hero barusan.


"Bukan ini yang aku mau! Kamu kasar, kamu gila!" teriak gadis itu menghardik. Matanya sudah memanas dan hampir menumpahkan isi cairan di pelupuknya.


Hero berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Menatap Anna yang masih duduk memeluk lutut di ranjang tempat tidurnya. "Bukankah tadi kamu bertanya kenapa aku tidak pernah menciummu, bukan? Aku sudah menciummu, apalagi yang kamu inginkan?"


Dua alis Anna tertaut penuh mendengar bahasa sarkasme yang diucapkan pria itu. Entah apa yang Marco katakan kepada pria itu barusan, sampai Hero yang selalu lembut tega menjadikan Anna sebagai bahan pelampiasan atas kemarahannya.


Tadi memang Anna sempat bertanya kenapa selama tujuh tahun pacaran Hero tak pernah ingin menciumnya, bahkan Hero menolak saat Anna berusaha menciumnya, tapi bukan ciuman seperti ini yang Anna harapkan dari pria itu.


Anna hanya ingin menjalin hubungan yang normal seperti orang pacaran pada umumnya tanpa harus memandang Marco sebagai atasan yang harus disegani. Namun, bukan berarti Hero harus mengambil ciuman pertamanya dengan cara sekasar itu.


Detik berikutnya, Anna sudah dapat membaca situasi yang terjadi. Ia lekas turun dan melangkah maju untuk menghampiri Hero yang masih berdiri kaku menatapnya.


"Jangan diulangi lagi, aku sangat takut." Di usapnya pipi merah bekas tamparannya tadi. "Maafkan yang tadi, gara-gara aku kamu sampai bertengkar dengan kakakku. Tadi aku sangat kesal dengan kakakku, aku tidak terima melihat kakakku menduakan kak Nadia. Sebagai wanita hatiku sangat sakit mendengarnya."

__ADS_1


Anna menempelkan kepalanya pelan-pelan di dada pria itu. Hero masih terdiam dengan degub jantung yang kian mendebar. Ia merasa sedikit bersalah lantaran Anna tak marah mendapati perlakukan seperti itu darinya.


"Kenapa kamu tidak marah?" tanya Hero bingung. Padahal yang Hero lakukan tadi termasuk pelecehan terhadap kekasihnya.


"Karena aku sayang kamu. Aku tahu kamu. Kita sudah saling mengenal satu sama lain sangat lama. Apa kamu berharap aku mengucapkan kata putus dan meninggalkanmu? Sebaiknya simpan saja harapan tidak penting itu. Aku tidak akan pernah melakukannya."


Jawaban itu cukup membungkam mulut Hero. Pelan-pelan ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Maaf, tadi aku sangat kesal pada kakakmu. Dia selalu menuduhku yang tidak-tidak. Sampai aku geram dan berpikir ingin mengakhiri segalanya."


"Aku tahu, memang begitulah sifat dasar kakakku. Tunggu aku sampai lulus, maka aku berani meyakinkan orang tuaku agar segera merestui hubungan kita." Anna melepas pelukan dan segera mendongak untuk melihat ekspresi kekasihnya. Wajah Hero tampak merona mendengar kata itu.


Merasa kekasihnya diam saja, Anna segera mengalihkan topik pembicaraan mereka berdua. "Jadi kapan kamu akan menceritakan tentang pernikahan rahasia kakakku dengan mantan pacar SMA-nya? Apa kakakku benar-benar mencintai wanita itu?"


Anna mengajak Hero duduk. Ia sudah tak sabar lagi mendengar cerita tentang kakaknya yang sempat terpotong tadi.


"Bukan hanya cinta, bahkan wanita itu sedang mengandung anak kakakmu sekarang."


"Bagaimana mungkin?" Anna terlonjak, setengah tidak terima mendengar kabar gila itu. "Lalu bagaimana dengan kak Nadia?"


Anna mengangguk, pura-pura paham dan menerima. Dalam hati ia sangat penasaran dengan sosok wanita misterius yang sangat dicintai kakaknya. Sehebat apa wanita bernama Vanya itu.


"Awwk!" Anna memekik saat Hero dengan tiba-tiba menarik hidungnya.


"Apa yang kamu lamunkan? Aku sudah menepati janjiku untuk tidak bekerja hari ini. Kamu juga harus menepati janjimu, jangan sampai membocorkan hal ini kepada paman dan bibi di Amerika dulu. Biarkan kakakmu yang menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia sudah besar."


Anna mengangguk. Ia berjinjit guna mendekatkan wajahnya ke arah pria itu. "Yang tadi ciuman pertamaku," lirih wanita itu malu-malu. Memacu degub jantung Hero lebih gila dari sebelumnya.


Dan hal yang tak seharusnya terjadi pun terlaksana. Pelan-pelan Hero membungkuk, mendekatkan bibirnya dengan lembut dan mulai memagut benda merah basah yang selama ini tak pernah ia sentuh.


Anna melambung bahagia mendapati hal yang sudah sangat ia nanti selama ini. Ciuman yang kedua ini jauh berbeda dengan yang tadi. Kali ini Hero melakukannya dengan profesional hingga tubuhnya setengah melayang-layang.

__ADS_1


Anna sudah mengalungkan kedua tangannya tanpa sadar. Ia begitu menikmati setiap belaian lidah Hero yang terus menjelajahi rongga mulutnya. Setengah jiwa gadis yang tengah dimabuk asmara itu terbang ke ujung nirwana.


Masih dalam posisi saling berciuman, Hero menuntun Anna dan membaringkannya di atas ranjang. Posisinya sudah menindih gadis yang tengah pasrah di bawah kungkuhannya.


Mendapati kesempatan berduaan saja seperti ini membawa naluri kelakiannya untuk berbuat lebih berani lagi. Ia sudah tidak ingat akan janjinya kepada Marco beberapa tahun silam.


Tangannya bergerak membelai kulit perut Anna diikuti suara decak bibir yang membawa keduanya meregang kenikmatan dalam bertukar saliva.


Tak ada barisan kata yang terucap untuk sekedar meminta izin dari bibir yang kini tengah Hero nikmati. Jari jemari pria itu sudah berada di tempat semestinya, meremas gundukan yang masih terbalut kain tipis itu dengan pelan dan penuh penghayatan.


Anna sedikit melenguh saat tangan nakal Hero menyelusup dan menembus kain renda tipis miliknya. Dalam sekejap pengait itu sudah terbuka, membuat isinya menyembul keluar seakan menantang Hero untuk berbuat lebih jauh lagi dalam merengkuh kenikmatan.


Saat pria itu hendak menyingkap kaos yang dikenakan Anna, suara Marco yang tegas menembus ingatan pria itu dengan begitu cepat.


'Jika kamu mencintai Anna. Jangan pernah lukai anak itu. Jaga baik-baik kehormatannya.'


'Dia adalah anak yang tidak pernah merasakan bahagia. Sejak kecil ia selalu disiksa oleh orang tua kandungnya tanpa alasan yang jelas.'


'Kedua orang tuaku mengasuh anak itu karena wajahnya sangat mirip dengan adik kandungku yang meninggal di usia delapan tahun. Bahkan kami membangun pribadi Anna agar tumbuh menjadi gadis kecil manja seperti adikku yang sebelumnya.'


'Kau harus menjaga dia. Bukan untukku, tapi untuk dirinya."


Hero menghentikan segala aksinya. Ia menggeleng kuat guna mentralkan otak terkutuknya yang sempat membucah tak sadarkan diri.


Ia menggulingkan tubuhnya ke samping dengan napas terengah-engah menahan gejolak yang menggila hebat. Tangan pria itu masih dalam keadaan gemetar hebat menahan hawa nafsu di bawah sana. Dipeluknya tubuh Anna begitu erat dan penuh penyesalan.


"Cepat selesaikan kuliahmu, aku sudah tidak sabar ingin berganti status, aku ingin menikahimu."


***

__ADS_1


Yang baca jangan lupa kasih hadiahnya ya. Jangan pelit pelit sama Vanya dan Marco, biar upnya makin lancar kaya biasanya. wkkwkw


__ADS_2