
Acara malam pertama untuk pasangan pengantin baru telah usai. Pagi menjelang begitu cepat. Berganti siang yang menandakkan Marco akan memulai rutinitasnya kembali di kantor kebanggaannya.
Pria itu sudah mengenakan setengah dari stelan kerjanya, sementara Vanya memakai dress berwarna beludru dengan pita yang diikat simpul di bagian depan perutnya. "Tadi Zenith menelponku!"
Vanya melingkarkan tali dasi di leher pria itu. Mulai mengikat dengan cepat dan penuh kehati-hatian agar hasilnya rapi.
"Dia bilang hasil tesnya sudah keluar!"
Marco masih diam memasang wajah datar sampai Vanya selesai mengikatkan tali dasi di leher pria itu. Marco tidak berniat menjawab atau berkomentar apa pun atas apa yang Vanya ucapkan.
Sekitar setengah bulan yang lalu, mereka berdua pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA sesuai keinginan awal yang Hero sarankan. Zenith sudah berusaha menjelaskan kalau hal seperti itu sangat beresiko bagi kandungan Vanya. Namun, Marco tidak mau percaya dan tetap melanjutkan aksi nekatnya itu.
Maka yang direncanakan sudah terjadi. Beruntung bayi di dalam kandungan Vanya cukup kuat. Sehingga tidak ada efek samping berbahaya saat dokter mengambil sampel melaui ketubannya.
Vanya pun memberanikan diri untuk bertanya, "Jika itu anakmu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Vanya sedikit takut. Takut jika Marco akan mengambil bayi itu dari tangannya.
"Hal itu pikirkan saja nanti, sebaiknya kita segera ke rumah sakit, waktuku tidak cukup banyak hari ini," ujar Marco sedikit ketus, kemudian merampas jass yang tersemampai di lengan Vanya dengan kasar. Marco memakai jasnya tanpa melihat wajah Vanya yang sedang menahan tangis sekaligus cemas.
*
*
*
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit. Marco langsung datang menemui Zenith di ruang laboratorium. Sementara Vanya sedang melakukan pengecekkan kandungan di ruang OBGYN.
"Bagaimana hasilnya?" tanya pria itu dengan ketus. Ia menatap Zenith dengan malas, lantas melipat dua tangannya di depan dada seraya bersandar di punggung kursi.
Zenith yang tadinya tidak percaya dengan cerita Vanya, lama-kelamaan kian percaya begitu melihat watak Marco yang sekarang. Teman sekelasnya itu memang sudah berubah total. Marco yang dulu terkenal kalem dan baik hati sudah mati dimakan angin. Menyisakan pria aneh yang nyaris tidak dapat Zenith kenali saat ini.
"Tentu saja hasilnya sesuai dugaanku sejak awal! Kau ini membuang waktu tenaga medis dengan melakukan hal tidak penting seperti ini!" Zenith balas menjawab ketus sambil melempar amplop putih yang tertutup rapat ke atas meja. Dari dulu sampai sekarang wanita itu memang selalu berani terhadap Marco. Mau dia berubah atau tidak, sikap Zenith terhadap pria itu selalu galak, lebih-lebih dari Vanya.
Marco membuka amplop tersebut, tampak angka 98 persen yang menunjukkan hasil kecocokan genetik pada dirinya dan bayi yang ada di dalam kandungan Vanya. Lalu tulisan-tulisan yang Marco tidak baca sama sekali. Ia hanya fokus melihat angka dan persen berwarna merah di kertas tersebut.
"Kau tidak sedang membohongiku, 'kan?"
Ucapan yang keluar dari bibir Marco sukses membuat Zenith membeliak sambil menggebrak meja di depannya dengan penuh emosi. Wanita itu memanas murka mendengar tuduhan tidak berguna yang keluar dari bibir santai Marco.
Marco mengedikkan setengah bahunya tanpa dosa. "Siapa tahu kau sedang membohongiku? Kau 'kan berteman baik dengan Vanya," ujar pria itu membela diri.
"Dalam hal medis tidak ada kata teman apalagi saudara. Semua diperlakukan sama sesuai standar prosedur yang sudah ditetapkan. Untuk bekerja di sini, kami juga sudah disumpah terlebih dahulu. Apa aku perlu menjelaskan satu persatu isi sumpahnya agar otakmu encer, Co?"
"Tidak perlu, aku tidak butuh! Aku hanya bingung kenapa anak ini bisa jadi milikku." Sambil menatap kertas itu tanpa rasa bersalah.
Ya Tuhan. Zenit menghela napas geram. Ingin sekali ia membungkus tubuh Marco dengan kantung sampah. Lantas membakarnya di ruang pembakaran mayat sekarang juga.
"Kau mau bilang kalau kau sudah melakukan tugasmu dengan benar, 'kan? Dasar pria sialan! Mentang-mentang keluar di luar. Enak sekali kau berdalil kalau anak itu pasti bukan milikmu. Meskipun hanya gesek-gesek sambil bilang hallo di depan pintu pun, wanita masih tetap bisa hamil jika Semesta sudah berkehendak! Pantas saja dulu Vanya sampai selingkuh! Wajah bokeep sepertimu hanya tau berbuat yang enak-enak! Mana ada wanita yang betah."
__ADS_1
Manusia ini!
Marco melotot garang ke arah Zenith.
"Apa! Berani kau padaku?" teriak wanita itu keras sekali.
Marco langsung berjinjit kaget seraya menutup kedua telinganya dengan tangan. "Iya ... iya ... galak sekali kau! Tidak pernah berubah dari dulu," ejek Marco.
"Bodo amat. Teman laknat sepertimu memang tidak perlu diperlakukan dengan baik. Kau itu orang berpendidikan, tapi otakmu seperti ibu-ibu berdaster yang kebanyakan nonton sinetron! Mana ada kasus hasil DNA ditukar. Seumur hidupku, aku belum pernah mendengar yang seperti itu di dunia medis," tukas Zenith dengan nada menghina. Masih kesal dengan fitnah sialan yang ditebarkan Marco barusan.
"Kurang ngajar sekali kau berkata seperti itu! Apa kau tidak tahu siapa aku? Aku bisa membuatmu di—"
"Apa!" Zenith berdiri menantang seraya berkacak pinggang. "Kau mau membuat aku dipecat dari rumah sakit ini? Silakan saja! Itu artinya kau sudah membuat sebagian warga negara kita menderita karena mengurangi tenaga medis berbakat sepertiku! Di luar sana, masih banyak rumah sakit yang kuwalahan karena kekurangan tenaga medis sampai menimbulkan korban jiwa. Apa kau ingin melakukan itu padaku? Silakan ... silakan ... Marco!"
Ah sialan, bibit singa dari hutan mana si dia?
Marco segera beranjak dari kursi. "Oke ... oke. Terima kasih atas waktunya Dokter Zenith! Saya permisi!"
Marco melangkah cepat meninggalkan tempat terkutuk tersebut. Di mana Zenith masih menatap sisa-sisa bayangan Marco dengan senyum puas penuh kebanggaan.
"Kau bisa pura-pura jahat di depan Vanya. Tapi tidak di depanku Marco! Kau masih sama seperti Marco yang dulu. Pria polos yang selalu kalah debat jika sudah berhadapan dengan Zenith si ketua kelas!"
***
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komen sebanyak-banyaknya.