Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Delapan Puluh Lima


__ADS_3

"Van!"


Marco langsung memeluk Vanya yang tengah duduk bersandar pada headboard ranjang dengan memasang wajah datar.


Wanita itu baru selesai makan saat Marco datang bersama wajah lelah dan sisa tenaga yang dipaksakan agar tetap bertahan selama menempuh perjalanan menggunakan helikopter.


"Maafkan aku, Van! Lagi-lagi aku datang kepadamu hanya membawa luka."


Beberapa pelayan yang sedang mengelilingi nona mudanya mulai menyingkir saat Marco mengibaskan tangan sebagai kode.


Wanita itu masih membeku. Matanya tertuju lurus pada dinding yang terdapat televisi besar dan rak-rak berhiasankan pernak-pernik yang terbuat dari kaca.


"Maaf Van ...," lirih pria itu sekali lagi.


Bahu Vanya mulai bergetar. Sisa air mata yang sengaja ditahan-tahan sejak kemarin mulai tumpah membasahi pipi saat Marco membalut tubuhnya dengan sebuah pelukan.


"Aku janji ini yang terakhir kali," ucapnya semakin lirih. Lantas melepas pelukan untuk membingkai wajah basah wanita itu dengan dua tangan besarnya.


Sejenak Marco mengunci pandangan Vanya agar mau membalasa tatapannya. "Aku tahu kamu tidak akan memaafkanku, tapi aku akan tetap meminta maaf sebanyak apa pun aku melakukan kesalahan."


Dipeluknya tubuh bergetar itu semakin erat untuk terakhir kalinya. Mulai hari ini, Marco berjanji akan melepaskan Vanya dari segala bentuk belenggu yang melukai wanita itu demi kebahagiaannya.


Apa yang Hero ucapkan lebih dari cukup menggetarkan hati Marco agar berhenti menjadi manusia egois. Dan hari ini pun terjadi, hari di mana semuanya akan segera berakhir.


"Katakan sesuatu Van! Jangan membuatku takut," lirih pria itu mulai bimbang.


Sejak tadi Vanya hanya menangis tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Membuat Marco bingung harus bersikap seperti apa.


"Tampar aku Van! Tampar aku jika itu dapat meredakan kemarahan dan rasa sakit hatimu!" Marco menarik tangan Vanya dan menamparkannya ke pipi sendiri.

__ADS_1


"Tolong jangan seperti ini, Van!" Pria itu mulai meraung dihadapan Vanya seperti orang gila. Dicengkramnya bahu wanita itu seraya melempar tatapan frustrasi.


Seperti terbangun dari lamunan, wanita itu menggerakan bola matanya ke arah Marco. Dia tersenyum. Tangannya membelai bulu-bulu halus yang menghiasi rahang tegas Marco.


"Aku kangen kamu," jawab wanita itu pada akhirnya.


Bukannya memaki, wanita itu malah memasang wajah manja. Membuat Marco dibuat bingung dengan sikap Vanya yang dinilainya terlalu aneh dan tidak masuk akal.


Tak cukup disitu saja, kini Vanya menarik tangan Marco, lantas menaruhnya di atas perut.


"Mungkin ini bawaan bayi. Karena sejak kemarin dia selalu bergerak gelisah seperti merindukan sosok ayah."


"Van!"


"Aku pikir dia sangat menyayangi ayahnya." Wanita itu terus bicara tanpa henti.


"Van!" seru Marco lebih frustrasi. "Tolong jangan bersandiwara. Aku tahu kamu marah dan sakit hati karena berita yang menimpa kita di luar sana."


Marco benar-benar sudah tidak tahu lagi harus berkata apa selain hanya bisa menggelengkan kepala.


"Menurut tebakannku dia mirip ayahnya."


"Cukup Van, cukup!"


Marco menutup dua telinganya. "Jangan mengalihkan pembicaraan untuk menutupi perasaanmu yang sesungguhnya."


Rasanya ingin memaki diri sendiri atas semua yang di perbuatnya. Dan andai waktu bisa diputar kembali, tragedi jual beli istri itu tidak akan pernah Marco lakukan. Ia menyesali segala bentuk tamak dan dendam yang mengalir dalam darahnya. Sekarang ia baru sadar bahwa hal itu tidak berguna.


Pria itu menunduk dalam. Menatapi jari-jari lentik milik Vanya. "Bisakah kamu serius sedikit? Jika marah katakan marah, jika sakit katakan sakit!"

__ADS_1


Membuat Vanya menghela penuh kepasrahan. "Sebelum melihatmu aku sangat marah! Sebelum melihatmu aku begitu sakit hati."


Marco yang tengah menunduk dibuat mendongak saat Vanya mulai mencurahkan isi hatinya.


"Tapi setelah melihatmu datang semua kemarahan itu hilang, sakit hatiku lenyap. Aku hanya bisa menangis tanpa sebab yang pasti. Aku juga tidak tahu kenapa perasaanku bisa sampai seburuk ini."


"Maafkan aku, Van." Digegamnya dua tangan Vanya dengan erat hingga sebuah kecupan singkat mendarat di punggung tangan wanita itu.


"Dari semua perasaan yang aku rasakan, rindu adalah rasa yang paling menyiksa. Aku tidak bisa menafsirkan ini murni dari perasaanku atau bawaan bayi di dalam kandunganku. Yang jelas selama kamu pergi, aku sangat merindukanmu. Rasanya sakit, sesak, dan menggebu-gebu."


Vanya tersenyum kecut. "Namun, dibalik semua itu aku sangat membencimu. Aku benci harus terikat denganmu dalam keadaan seperti ini. Aku ben—" Vanya diam menjeda ucapannya.


"Katakan semua yang kamu rasakan agar aku paham, Van. Katakan juga apa yang kamu inginkan supaya aku yang bodoh ini mengerti!" Marco kembali mengiba. Pandangannya semakin terasa teduh dan berat melihat Vanya yang begitu rapuh.


"Untuk saat ini aku ingin pulang," lirih wanita itu sendu. "Aku mau pulang ke kampungku untuk memastikan keadaan nenekku masih baik-baik saja. Aku sangat merindukannya," lanjut Vanya.


"Iya, aku akan mengabulkannya!" jawab Marco seraya membelai wajah ayu wanita itu untuk terakhir kalinya.


"Besok aku sendiri yang akan mengantarkanmu pulang ke kampung. Aku akan menghapus semua perjanjian tertulis dengan mantanmu tanpa menuntut kalian berdua seperti apa yang dituliskan dalam hitam di atas putih. Mulai hari ini aku akan melepaskamu, Van! Kamu akan mendapatkan kebebasan yang selama ini kamu impikan."


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Marco. Pria itu terperangah. Pandangannya menyorot penuh pada ekspresi wajah Vanya yang berubah murka penuh kebencian.


"Kau ingin membuangku?"


"Tidak seperti itu, Van!"


***

__ADS_1


Mohon bersabar. Karena setiap tulisan harus melalui reviuw pihak mangatoon.


__ADS_2