
Bersandiwara menjadi wanita kuat membuat tubuh Vanya menjadi lelah. Begitu sampai di kediaman baru yang telah disiapkan oleh Marco, Vanya langsung menanyakan di mana letak keberadaan kamarnya tanpa basa-basi lagi.
Bersama pelayan, ia menaiki satu-persatu anak tangga menuju lantai dua. Pelayan tersenyum manis seraya membukakan pintu kamar untuk Vanya.
Begitu pintu terbuka, Vanya langsung di hadapkan dengan kamar mewah yang segala fasilitaanya telah terpenuhi. Namun hal itu tidak serta merta membuat hati Vanya bahagia. Semua yang Vanya lihat tak ubah hanya sekedar penjara yang dibalut oleh kemewahan.
"Ini adalah kamar Nona. Semua baju-baju, make up, dan segala keperluan Nona sudah disiapkan dengan rapih di lemari. Jika Nona membutuhkan sesuatu yang lain, Nona tinggal tekan bell yang ada di dalam kamar, atau melakukan panggilan telepon ke bawah, kami pasti akan segera datang ke kamar untuk menghadap." Begitu anggunnya pelayan itu berbicara. Sepertinya dia dibayar sangat mahal oleh Marco. Meskipun statusnya hanya seorang pembantu, tapi nampak sekali bahwa wanita itu sangat berkelas di mata Vanya.
"Terima kasih." Vanya tersenyum dengan gestur basa-basi sekedarnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu Nona! Mau melanjutkan pekerjaan." Pelayan itu menunduk sopan, lantas segera undur diri dari depan pintu kamar Vanya.
Vanya menutup pintu kamarnya begitu si pelayan turun ke bawah. Kemudian membanting tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang. Ia langsung meraih ponsel di dalam tas untuk menghubungi nomor Adit. Vanya hendak menanyakan sesuatu yang penting. Sesuatu yang terus mengganjal di pikirannya selama dalam perjalanan pulang tadi.
Telepon tersambung. Adit langsung cekatan mengangkat panggilan Vanya dari balik sana.
Hallo Van, ini beneran kamu? Ya Tuhan, aku tidak mimpi 'kan?
Adit sudah heboh di balik sana. Membuat Vanya geram dengan sikap berlebihannya.
Kam sudah memaafkanku Van? Aku tahu kamu pasti merindukanku 'kan? Apa sekarang kita bisa baikkan lagi? Aku sangat mencintaimu, Van.
Mulut Adit berbicara tanpa jeda. Di mana Vanya merasa menyesal karena telah menghubungi pria itu. Kalau tidak penting-penting amat, sebenarnya Vanya juga ogah menghubungi pria tidak tahu diri seperti Adit.
"Aku meneleponmu karena ada hal penting yang ingin ditanyakan, Mas! Mengenai berdamai denganmu, sungguh tidak terbesit sama sekali di otakku!" tegas Wanita itu.
Adit terdengar menghela pasrah dari balik sana. Apa yang ingin kamu tanyakan?
"Aku hanya mau tanya. Dua bulan terakhir ini, apa kamu pernah menyentuhku? Maksudnya sebelum aku bersama Marco."
__ADS_1
Menyentuh yang bagaimana?
Adit merasa bingung.
"Bercinta Mas, misal kamu pernah diam-diam melakukan itu tanpa sepengetahuanku!" ujar Vanya penuh penekanan.
Adit menjawab penuh percaya diri. Tidak pernah Van, tapi kalau kamu ingin, aku bisa melakukannya kapan pun. Kita bisa bertemu sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan tuan Marco.
"Jangan gila Mas! Aku sudah tidak sudi lagi disentuh oleh manusia tukang selingkuh sepertimu!"
Lalu kenapa kau bertanya seperti itu?
"Hanya ingin tanya dan memastikan."
Kamu pasti ingin, 'kan?
"Tidak sama sekali, sudah dulu ya Mas! Aku capek!"
Ayolah Van, semua itu hanya masa lalu, lebih baik kita pikirkan masa depan kita, bangun semuanya dari awal setelah kontrakmu dan tuan Marco selesai. Aku tahu kamu sangat merindukanku, aku tahu kamu butuh kepuasan. Jangan munafik Van! Kisa sama-sama butuh.
"Gila!" Vanya langsung menutup sambungan teleponnnya.
Ia merasa jijik mendengar semua yang Adit ucapkan. Layaknya seonggok daging busuk yang keluar dari mulut Adit, itulah yang Vanya rasakan saat ini.
Mungkin jika dulu, Vanya akan senang mendengar Adit berbicara seperti itu. Tapi sekarang sudah beda sekali, Vanya benar-benar geli mendengar semua ucapan Adit.
Vanya mulai menaruh bantal untuk menutupi kepala dan meraung sekencang-kencangnya. Ia menendang guling, mencengkram seprai, dan bahkan menggigit lengannya sekuat tenaga. Semua tangis dan luka yang sedari tadi tertahan-tahan tumpah seketika.
Kenapa nasibku selalu menyedihkah seperti ini?
__ADS_1
Ingatan Vanya melanglang buana ke segala memori. Ia membayangkan masa kecilnya yang bahagia karena menjadi anak tunggal yang hidup dalam balutan kasih sayang orang tua.
Vanya tidak pernah menyangka bahwa nasibnya akan berubah sampai separah ini. Menjelang kelulusan dua orang tua Vanya meninggal. Wanita itu terpaksa harus menjual rumah peninggalan satu-satunya lantaran ayah Vanya banyak memiliki hutang pada rekan kerjanya.
Setelah tamat SMA Vanya pindah ke kampung. Ia hidup bersama neneknya dan melakukan pekerjaan seadanya di sana. Namun karena jiwa Vanya sudah melekat dengan lingkungan kota yang apa-apanya serba modern, Vanya tidak betah dan memutuskan kembali ke Kota. Dia mencari kerja seadanya, dan sejak itu Vanya hidup dalam kesendirian hingga berhasil meraih kebagiaannya dengan Adit.
Nahas lagi-lagi ia harus menelan pil pahit, kebahagiaannya bersama Adit hanya bertahan 5 tahun. Kini ia tambah terpuruk dan makin menderita.
Itulah sepenggal kisah Vanya yang lebih banyak menderita dari pada bahagia.
Vanya sudah tidak kuat lagi, Bu, Yah. Kalau bisa Vanya ingin ikut ayah dan ibu saja di Surga.
Batin wanita itu terus menjerit, tak ada obat apalagi sosok penenang yang bisa dipeluknya saat ini. Tubuh rapuh itu terkulai di atas ranjang bagai mayit yang sudah tak bernyawa.
Vanya bingung dengan kandungannya. Vanya tak tahu harus apa. Meminta Marco menikahinya? Anaknya tidak di bunuh saja sudah untung bagi wanita itu.
Deg!
Tiba-tiba jantung Vanya seperti merasakan sesuatu. Ia merasakan kehadiran bayi yang kini tengah bersemayam di dalam perutnya. Lamunan Vanya yang sempat memikirkan mati mendadak hilang karena teringat keberadaan bayi itu.
"Apa kamu sedang mencoba menenangkan ibu, Nak?" Vanya mengusap lembut perut datarnya. Ia mengulas senyum simpul dan mulai berguman, "Baiklah ... baiklah. Ibu tidak akan mati, ibu akan terus bertahan demi kamu, Sayang. Kamu akan aman bersama ibu, ibu tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kamu."
Vanya mengelap sudut matanya yang masih terus mengeluarkan cairan bening. "Iya ... iya, ibu akan tidur!"
Vanya bergurau seoalah anaknya sedang mengomelinya. "Selamat tidur kesayangan ibu."
Vanya mencoba memejamkan matanya perlahan. Entah mendapat kekuatan magis dari mana, tiba-tiba Vanya merasa memiliki sesuatu yang membuat dirinya lebih tegar.
***
__ADS_1
Jangan lupa komen dan likenya. 100 komen lebih aku up lagi. Kalo Ada typo kasih Tau y. nanti kurevisi.