
"Vanya!"
Tubuh wanita itu ambruk tepat di pelukan Marco saat baru saja sampai di depan pria itu.
Vanya hampir saja jatuh andai Marco tidak sigap menangkapnya saat itu juga. Bahunya berguncang semakin hebat. Tangisnya menyayat dan hampir tanpa suara.
"Ada apa? Siapa yang berani melukaimu sampai seperti ini?" Wajah Marco seketika memerah saat melihat sudut bibir istrinya membiru dengan sedikit bercak darah yang sudah mengering.
"Katakan ada apa sebenarnya?" Bentakkan Marco semakin jadi. Kegeraman menyelimuti hati pria itu saat kekhawatirannya tak kunjung membuahkan jawaban yang ia butuhkan.
Demi apa pun ia kalut dan menunjukkan ekspresi termarah sepanjang sejarah hidupnya.
"Hei kalian! Apa yang kalian lakukan kepada teman sesama pekerja?" Manager operasional perkebunan apel itu ikut membentak untuk mencari aman. Ia takut jika Marco murka dan membuat dirinya ikut terkena imbasnya juga.
Beberapa orang yang sempat ikut membully Vanya langsung menciut. Pelan-pelan mereka ikut mendekat ke arah Marco dan Vanya karena takut melihat atasannya semakin murka.
Semuanya saling bertanya siapa sebenarnya Marco sampai-sampai pemegang kekuasan kedua di perkebunan ini ikut menunjukan wajah murka demi membela pria itu.
Para pekerja yang mayoritas terdiri dari kaum wanita itu menoleh ke belakang. Mencari sosok yang tadi sempat dibelanya mati-matian.
Di mana?
Ternyata Syam sudah menghilang entah ke mana. Membuat mereka semakin panik menghadapi situasi seperti ini.
__ADS_1
"Hikss ... hikks ...." Vanya masih terus menangis. Ia tumpahkan segala sakit dan hancurnya di pelukan Marco.
"Ada apa denganmu, Vanya? Apa yang tejadi? Jangan membuatku gila dan panik seperti ini?"
"Jangan membentakku, aku takut." Vanya melirih dari dalam pelukan pria itu. Saat ini Vanya hanya ingin tenang dan aman di pelukan Marco. Ia tak butuh hal lain selain di tenangkan jiwa dan hatinya.
"Maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu! Aku emosi pada teman-teman pekerjamu yang bodoh dan bisu itu!"
"Aku belum siap cerita! Jangan marah dan membentakku dulu."
"Iya, aku tidak akan melakukan itu!"
Marco menggemeretakkan gigi-giginya untuk meredam amarah. Ia bukan sedang membentak Vanya, tapi ia tengah melayangkan ancaman kepada semua orang yang ada di tempat itu dengan melepas teriakan sekuat-kuatnya.
Tatapan Marco beralih. Terarah pada satu-persatu manusia yang tengah menunduk ketakutan dengan jarak tidak begitu jauh darinya. "Apa para pekerja diperkebunan ini benar-benar bisu dan tuli?" kesalnya.
Namun, belum sempat ada yang berani menjawab, tiba-tiba Vanya terjatuh tak sadar diri di pelukan Marco. Membuat semunya terlonjak dan semakin diliputi perasaan kalut.
"Vanya!" Marco berteriak . Ia angkat tubuh lemah itu di depan dada secepat mungkin.
"Sepertinya istri Anda kelelahan Tuan!" sergah managar perkebunan seraya memberi kode pada dua ajudannya. "Mobil ... mobil ...."
Marco tak menggubris saking murkanya. "Camkan pernyataanku dengan baik! Jika istriku sampai kenapa-napa, kupastikan kalian tidak akan bisa hidup tenang di bumi ini!"
__ADS_1
"Tu-tuan, sebaiknya kita bawa isrti Anda ke tempat yang lebih layak terlebih dahulu. Nanti biar mereka kita kumpulkan untuk memberi informasi rinci mengenai kejadian ini."
"Cepat bodoh! Mana mobilnya?"
"Se-sedang diambil ... sebentar lagi Tuan!"
"Lelet!" bentaknya.
Beberapa saat kemudian sebuah mobil mewah berwarna hitam datang di hadapan Marco. Pria itu langsung masuk ke dalam membawa Vanya. Pergi bersama dua ajudan dari perkebunan tadi.
Setelah mobil pergi, manager perkebunan itu mendesahkan napasnya kasar seraya menatapi para manusia yang kini sedang menciut ketakutan di hadapannya.
Tak ada satupun yang berani menjelaskan. Semuanya seperti kehilangan nyawa saat Syam yang dibela-bela malah kabur sejak melihat sosok Marco.
"Apa kalian tahu siapa tuan yang barusan membawa istrinya pergi?" Manager operasional perkebunan itu bertanya sambil menatapi satu-persatu wajah ketakutan mereka.
Semua menggeleng gemetaran.
"Dia adalah pemilik baru perkebunan ini!" Sorot matanya tampak berapi-api. "Dan wanita yang baru saja dibawanya pergi adalah istri sahnya!"
Sontak semuanya terkejut bukan main. Ternyata apa yang Vanya ucapkan merupakan kebenaran. Ia tidak main-main saat berkata bahwa suaminya adalah orang kaya. Bahkan pria asing itu sudah membeli perkebunan ini. Sungguh mereka semua tak ada yang berpikir bahwa suami Vanya sehebat itu.
"Boss memang tidak pernah memecat dan mengurusi kehidupan karyawannya! Namun jika kalian terbukti bersalah, tuan Marco bukan hanya akan memecat, tapi memberikan balasan berkali-kali lipat dari perbuatan kalian!"
__ADS_1
Ya Tuhan!
Seberkas rasa penyesalan melanda. Ingin rasanya mereka tenggelam ke dasar bumi.