Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Ending Season


__ADS_3

***


Suasana pantai yang indah menjadi saksi bisu atas cinta Marco dan Vanya yang kini bermekaran di mana-mana.


Banyak lika-liku yang mereka lalui, tapi pada akhirnya mereka berdua bisa kembali bersama. Terlebih mereka berdua langsung dikaruniai calon buah hati kedua.


Sungguh, baik Vanya mau pun Marco merasa bahagia atas kebaikan Tuhan saat ini.


"Co! Sebenarnya ada satu hal yang aku takutkan saat ini." Vanya berusaha menggenggam tangan Marco. Dia tersenyum penuh arti.


"Apa yang kau takutkan?" tanya Marco terheran-heran.


"Aku takut kau pergi dariku, Co. Aku juga takut suatu hari kita mengalami masalah. Sehingga kebahagiaan yang kita dapatkan saat ini menjadi sia-sia," ujar Vanya.


"Kenapa bilang begitu? Jika kita bisa sama-sama menjaga perasaan satu sama lain, dan berjanji menghadapi masalah sama-sama, kita pasti akan bahagia selamanya. Jadi apa yang kamu takutkan?"


"Bagaimana jika suatu hari kamu yang tidak menjaga itu? Kamu berubah dan pada akhirnya berpaling dariku!"


"Itu tidak mungkin Vanya!" Marco mencium lembut kedua tangan Vanya yang baru saja ia raih.


"Apa pun yang terjadi aku akan selalu bersamamu. Kau dan keluarga kecil kita adalah permata hatiku."

__ADS_1


"Tapi kedua orang tuamu--" Vanya menghentikan bicaranya. Dia merasa sedih karena sampai detik ini ia belum mendapatkan restu dari kedua orang tua Marco.


"Masalah orang tuaku tenang saja. Nanti aku akan bicara pada mereka. Kita sudah ada Ella, sebentar lagi juga lahir anak kedua kita. Jadi kedua orang tuaku pasti bisa menerimamu. Jangan khawatir," ucap Marco berusaha menenangkan.


"Bagaimana jika tidak bisa? Apa yang akan kau lakukan?"


Marco menggeleng. "Belum tahu! Tapi yang jelas aku akan berusaha menyayangimu sepenuh hati. Aku akan menjadi orang pertama yang selalu ada di sampingmu. Terutama saat kamu butuh!"


"Benarkah?" Mata Vanya berkaca-kaca. Dia berusaha percaya dengan ucapan Marco. Walau pepatah pernah mengatakan, jangan terlalu percaya dengan ucapan Vanya.


Namun, sejatinya tugas manusia adalah percaya. Jadi sekarang Vanya berusaha percaya pada Marco.


"Aku janji aku akan berusaha untuk itu," ucap Marco.


Dia lalu mengajak Vanya jalan-jalan menyusuri pantai. Hari mulai sore, mata hari mulai terbenam dan warnanya cantik sekali.


"Aku kangen Ella, Co! Kira-kira dia sedang apa ya?"


"Mungkin sedang menikmati es krim bersama Anna. Atau mungkin sedang nonton bioskop."


Vanya tersenyum. "Aku tidak menyangka lho, Ella bisa sedekat itu dengan Anna. Padahal hanya dalam waktu singkat mereka bertemu. Tapi Ella langsung bisa akrab dengan Anna."

__ADS_1


"Anna jangan ditanya. Anak itu punya jurus khusus menaklukan hati orang lain. Dulu saja saat dia merengek, aku selalu iba dan akhirnya mengalah."


"Oh ya?"


"Hmm..."


"Dulu Anna pernah merengek agar bisa jalan-jalan dengan Hero. Sedangkan aku butuh dia untuk membantu pekerjaan. Ya, gara-gara itu kami sering cekcok."


"Lalu siapa yang Hero bela? Kamu atau Anna?"


"Tentu saja aku? Sejak dulu aku selalu diutamakan."


"Kok begitu? Bukannya seharusnya Hero mengutamakan pacaranya?" Vanya agak mengernyit heran.


"Karena dulu Hero pernah berjanji akan selalu patuh kepadaku. Jadi selagi yang kuminta logis, dia akan lebih mengutamanku!"


"Dasar kamu ini! Seharusnya kamu tidak boleh sekejam itu pada adikmu sendiri." Vanya mencibir geli. Dia mencubit gemas pipi Marco lalu menciumnya.


"Maka dari itu, nanti jika anak kedua kita lahir. Kau harus pintar-pintar berbagi kasih sayang. Karena aku tidak mau kasih sayang darimu sampai berkurang, paham?"


"Hmmmmm..... "

__ADS_1


__ADS_2