
"Papanya masih jelek, Ella tidak suka dengan papa yang ini!"
Eh?
Sontak Vanya mendekat. Merasa sedikit tidak enak pada Marco yang sudah berusaha keras merubah penampilannya se-innocent mungkin agar Ella tidak takut saat melihatnya.
"Jelek bagaimana, Ella sayang? Memang iya Van?" Raut wajah menyedihkan itu memandang Vanya penuh tanda tanya. Tampak Marco mulai frutrasi dan putus asa dihina-dihina oleh darah dagingnya sendiri.
"Tidak jelek Ella. Papamu ganteng!" hardir Vanya.
"Gak!" ketus anak itu. Ella bahkan tak mau memandang wajah pria itu lagi setelah mengatakan jelek. "Ella maunya papa Jimin, Ma! Bukan papa yang ini!"
"Jimin?" Vanya tampak sedikit gugup saat Ella menyebut nama itu. "Siapa itu Jimin? Apa selama ini kamu ada dekat dengan laki-laki lain, Van?"
Nenek yang masih ada di sana merasakan hawa kecanggungan sangat pekat di ruangan itu.
"Kalau begitu lanjutkan saja ngobrolnya. Nenek mau ke halaman belakang dulu." Wanita paruh baya itu menyela untuk berpamitan. Sengaja ia lakukan untuk menghindar dari perdebatan mereka berdua.
__ADS_1
"Anu—" Vanya meraih Ella dari gendongan Marco lantaran anak itu sudah mengepang-ngepangkan kedua tangannya sedarit tadi.
"Siapa itu Jimin Van?" Marco semakin murka terbakar api cemburu. "Mengaku apa kupastikan Jimin Jimin itu mati di tanganku!" sembur Marco tak suka basa-basi. Ella sampai ketakutan mendengar Marco hendak membunuh Jimin pujaannya.
"Aduh, Co!" Vanya dibuat menepuk jidat saat itu juga. "Jimin itu artis Asia! Ella memang lebih menyukai pria berwajah Asia ketimbang Eropa."
"Kok?"
Vanya menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal. "Iya, dia sering melihatnya di teve. Mungkin dia terinspirasi dan membayangkan ayahnya akan setampan Jimin."
Helaan napas kasar Marco hempaskan ke sembarangan arah. "Heuh! Apa aku harus operasi plastik agar wajahku mirip dengan Jimin Jimin itu supa Ella senang?"
"Ella tidak boleh seperti itu ya, kasian papa Marco kalau Ella-nya begitu! Ella tidak mau 'kan, dibilang jelek sama teman-teman Ella di sekolah!"
Masih dengan mata berbinar hendak menangis, anak itu menggeleng. "Tidak Ma, tapi papa itu memang jelek, Ella tidak suka!"
"Van, sepertinya aku benar-benar harus operasi plastik!" decak Marco geram.
__ADS_1
"Jangan dulu!" Justru Vanya yang tidak suka jika Marco sampai merubah susunan wajahnya. Ia suka dengan ketampanan alami pria itu.
"Lalu aku harus bagaimana? Sudah dibenci ibunya, anaknya pun tidak suka memiliki papa jelek! Kurang banyak apa penderitaanku sekarang?"
Marco sungguh berada di titik kelumpuhan. Ia yang merasa kesal berjalan menuju teras luar meninggalkan Ella dan Vanya di ruang tengah berdua saja.
Ya ampun! Dia benar-benar menanggapi ocehan anak kecil. Masa diejek Ella sampai ngambek begitu. Bagaimana dia mau mengambil hatinya Ella kalau begini caranya?
"Papa itu marah ya, Ma?" Ella berceletuk. Gadis kecil itu memasang wajah sedih saat Marco sudah menghilang di balik pintu. Dari arah jendela tampak punggung lebarnya tengah duduk di pelataran rumah menghadap taman.
"Iya marah! Seharusnya Ella tidak boleh berkata seperti itu pada papa! Sekarang papa jadi sedih gara-gara Ella bilang papa jelek. Ella minta maaf dulu ya, sama papa."
"Tidak mau Ma! Ella mau ke nenek aja! Ella tidak suka dekat-dekat dengan papa yang jelek itu!" Gadis kecil itu melorot dari gendongan ibunya. Lantas berlari kecil menuju halaman belakang menyusul sang nenek.
***
Dua bab meluncur lagi.
__ADS_1
Jangan lewatkan komen dan Like kalian.