
Zenith terus merawat Vanya dengan telaten. Menemani setiap kegiatan wanita itu di rumah sakit hampir satu minggu lamanya. Dengan perawatan khusus terus-menerus, akhirnya keadaan Vanya kembali pulih seperti sediakala. Ia juga sudah kembali ceria berkat Zenit yang selalu menyempatkan diri datang ke ruang rawat Vanya untuk menghiburnya.
Sama seperti Hero, Zenith juga memiliki pemikiran yang sama dengan apa yang diucapkan pria itu beberapa hari lalu. Ia mau Vanya berusaha satu kali lagi untuk meluluhkan hati Marco sampai pria itu bertekuk lutut di hadapannya. Setidaknya hal itu akan membuat Vanya lebih aman dan tak perlu khawatir dengan masa depan anaknya. Sudah dipastikan cerah dan hidup bergelimang harta.
Jika dulu Vanya yang memulai semua ini dengan sebuah penghianatan cinta, maka Vanya juga harus mengakhiri kegilaan ini dengan kekuatan cinta yang ia punya. Satu-satunya jalan terbaik, ialah bersatu dengan Marco.
"Ingat pesanku, Van! Berusahalah mencintai Marco, dia hanya sedang gelap mata. Aku yakin suatu hari nanti Marco akan luluh jika kamu mau mencoba memberikan perhatian lebih pada pria itu," ujar Zenith mantap. Tangan wanita itu bergerak cekatan membereskan barang-barang Vanya ke dalam tas karena hari ini Vanya sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
"Tapi aku tidak mencintai Marco, Zen! Bagaimana bisa aku membuat dia mencintaiku sementara aku saja sangat membencinya!" tandas Vanya yang sedang duduk di atas ranjang seraya memperhatikan kesibukan Zenith.
"Berusaha Van ... berusaha! Buka hatimu untuk dia!"
"Aku tidak bisa. Hatiku sudah jadi milik orang lain!"
Zenith menghentikan kegiatannya seketika. Kepalanya menoleh kesal ke arah Vanya sambil mengangkat tas besar yang baru saja ia isi dengan barang-barang Vanya. "Jangan bilang kalau orang itu Adit ya, Van! Aku tidak akan mau jadi temanmu lagi kalau kamu masih mengharapkan pria sialan itu!"
"Nyatanya hatiku memang belum bisa berpaling darinya Zen," lirih Vanya hampir tak terdengar.
Sontak Zenith melepaskan tas yang ia pegang hingga jatuh ke lantai. "Ya ampun Vanya. Pria gila seperti Adit sama sekali tidak pantas untuk dipertahankan. Meskipun Marco terkesan jahat, ia jauh lebih pantas untukmu, dan aku lebih setuju kau bersamanya!" tukas Zenith.
"Entahlah, aku tidak mau memilih keduanya!" Vanya mendesah pasrah. Pandangannya terasa kosong saat menatap dinding rumah sakit. Persis seperti masa depan Vanya yang tak pernah bisa ditebak oleh wanita itu.
Zenith mengambil tas besar Vanya yang baru saja ia jatuhkan. Wanita itu membawa dan menaruhnya di samping ranjang Vanya.
"Sudah waktunya kamu lupakan Adit! Nasibmu memang sudah ditakdirkan untuk Marco. Lewati drama-drama gila ini dengan sabar, aku yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaan."
Satu usapan lembut Zenith mendarat di bahu kiri Vanya. Ia memijit sedikit permukaan kurus itu sebelum akhirnya ikut duduk di samping Vanya. Zenith tahu bahwa Vanya stress dan tertekan. Namun, menyalahkan salah satu di antara mereka juga tidak ada gunanya.
__ADS_1
Wanita itu memeluk sahabat penuh kasih sayang. "Sabar ya Van ... jangan terlalu dipikirkan. Anggap saja Marco sedang bersandiwara di depanmu."
"Terima kasih Zen, tanpa dukunganmu aku tidak akan bisa pulih seperti ini." Vanya memeluk Zenith lebih erat. Jika beberapa pasien tidak betah tinggal di rumah sakit, lain halnya dengan Vanya, ia justru ingin tinggal di sana agak lama agar bisa berdekatan terus dengan satu-satunya sahabat yang ia punya.
*
*
*
Sebuah hal yang tak diduga baru saja tejadi. Vanya sangat terkejut begitu melihat Marco datang menjemputnya secara langsung. Bahkan lelaki itu membawakan makan siang untuk Vanya sebelum mengajaknya pulang.
Zenith yang melihatnya cukup bahagia. Ia sungguh berharap mereka berdua dapat bersatu dan mengakhiri drama gilanya.
Setelah Vanya selesai makan. Marco mengajak wanita itu pulang sambil menenteng tas besar berisi perlengkapan Vanya selama di rumah sakit. Pria itu terlihat lebih kalem dan lembut hari ini. Ia mengendarai mobil dengan hati-hati menuju rumah.
"Ini di mana?" Vanya merasa bingung melihat rumah baru lagi.
"Ini rumahku. Mulai sekarang kau akan tinggal di sini."
"Bersamamu?"
"Hmmm," jawab Marco tanpa kata.
Mobil itu mulai memasuki halaman luas yang lebih mewah dari rumah yang Vanya tempati waktu itu. Ah, ini tidak cocok disebut rumah. Halaman luas dan bangunan megah ini lebih cocok dikatan istana atau kastil pribadi keluarga bangsawan.
Marco mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengaman yang menjerat tubuhnya. Lantas menunduk ke samping seraya melepas seatbelt milik Vanya. Vanya pun menunduk malu. Tak biasanya Marco bersikap semanis ini meski wajah datarnya masih tetap bertahan lekat-lekat.
__ADS_1
Saat pria itu hendak membuka pintu, Vanya meraih tangan Marco penuh kehati-hatian.
"Tunggu dulu," ucapnya pelan.
"Apa lagi?"
"Apa di dalam sana ada orang tuamu?" tanya Vanya sedikit gugup. Ia meremas jari-jari seraya melirik penampilannya lewat kaca penumpang yang ada di depannya.
"Tidak ada. Kedua orang tua dan adikku tinggal di luar negri," jawab Marco datar. Sekilas ia melirik wajah cemas Vanya yang sangat kentara.
Mereka kemudian turun dari mobil. Beberapa pelayan datang menyambut dan menurunkan barang-barang Vanya dari dalam mobil.
"Ayo masuk!" Marco terpaksa menggandeng wanita itu karena ia tampak enggan dan segan masuk ke dalam rumahnya.
"Apa dia orangnya?" Suara halus seorang wanita memaksa kepala Vanya untuk mendongak. Kemudian menatap sosok wanita cantik yang berdiri menyambut kedatangan Marco di depan pintu. "Vanya?" ucap wanita itu dengan elegan.
"Kamu siapa?" tanya Vanya seraya melirik Marco yang berdiri kaku tanpa menjelaskan apa pun.
Wanita itu tersenyum kepada Vanya. Ia memandangi seluruh penampilan Vanya dengan teliti seakan sedang menilai setiap jengkal tubuh Vanya.
"Aku Nadia, istri pertama Marco."
Istri?
Tubuh Vanya nyaris limbung mendengar kata 'istri' yang baru saja keluar dari bibir wanita itu. Rasanya seperti mendapat mimpi buruk di siang hari. Benarkah ia sudah punya istri? Lantas kenapa pria iblis itu menikahinya?
Apakah yang sebenarnya terjadi? Apa jangan-jangan ini sandiwara yang sengaja Marco siapkan untuknya?
__ADS_1
***