Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Delapan Puluh Tujuh


__ADS_3

Apa yang Vanya katakan tentang ucapannya barusan memang bukan main-main. Titik tertinggi mencintai versi wanita itu ialah saat di mana dia selalu disakiti, dibohongi, dikecewakan, diberi harapan lalu dijatuhkan, tapi ia masih berani menguatkan diri sambil berkata,


'Ayo bertahan sekali lagi!'


'Kamu pasti bisa!'


'Wanita harus menjadi sosok yang kuat lebih dari apa pun di dunia.


Ck! Kesannya terdengar bodoh, bukan? Namun itulah perasaan yang sebenarnya Vanya simpan untuk Adit sebelum ia tahu bahwa pria itu pernah berselingkuh di belakangnya. Sayangnya perasaan itu sudah diambil alih oleh tangan Marco. Pria itu unggul satu kosong karena lebih dulu menjerat Vanya dengan sosok mahluk kecil yang kini tengah bergerak-gerak di dalam perutnya.


Sejak saat itu, pandangan Vanya terhadap Adit perlahan berubah seperti apa yang Marco ucapkan kepadanya.


Yaitu melepaskan untuk mengikhlaskan.


Merelakan untuk menemukan.


Juga sedikit berkorban rasa untuk mengharap secercah harapan pada Tuhan.

__ADS_1


Entah sejak kapan cinta itu perlahan tumbuh. Tanpa sadar hati Vanya mulai berpindah haluan pada Marco yang notabene berotak biadab beberapa bulan lalu.


Pria itu bagaikan karma sekaligus anugrah yang menguak fakta buruk di balik rumah tangga Vanya dan Adit selama ini. Berkat dendam buta pria itu, matanya mulai terbuka, ia jadi tahu seperti apa watak sang suami yang selama ini baik di luar tapi busuk di dalam.


Dan perasaan yang tak bisa dikendalikan itu pun semakin menjalar hebat seiring dengan pertumbuhan si buah hati di dalam sana. Vanya merasa dirinya semakin sensitif, mudah cemburuan, bahkan merasa tidak rela saat melihat Marco masuk ke kamar yang sama dengan Nadia setiap malam.


Meskipun berusaha kuat di hadapan semua orang, tak dipungkiri hatinya panas dan terbakar sampai ingin pergi dari rumah itu sejauh mungkin.


Selain itu, setiap malam jiwanya selalu dilingkupi perasaan resah. Terbalut rasa rindu setiap kali tidak melihat wajah Marco.


Vanya bisa dibilang perempuan hebat karena bertahan dengan perasaan aneh itu tanpa menuntut apa pun pada Marco. Ia mengetahui batasan, bahwa dirinya hanya sebatas tawanan untuk ajang permainan.


Namun, semua rasa rendah yang ia bangun dengan susah payah seketika lenyap saat Marco mengutarakan perasaannya beberapa hari lalu.


Pertahanan wanita itu runtuh.


Perasaannya goyah hingga pada akhirnya kata cinta yang seharusnya jangan pernah diucapkan keluar dengan sendirinya.

__ADS_1


Vanya menyadari ini adalah sebuah kesalahan karena Marco bukanlah orang yang tepat untuk orang sepertinya. Bermimpi memiliki Marco bagaikan menggenggam gelas kaca yang bisa pecah kapan saja. Dan tentunya melukai diri sendiri.


Namun cinta sudah terlanjur berkibar.


Tepat saat ia mengetahui gosip buruk yang beredar tentang pernikahannya dengan Marco, yang Vanya pikirkan pertama kali bukanlah nasibnya.


Meski tak di pungkiri hujatan itu membawa rasa sesak yang menghimpit rongga dada, hatinya jauh lebih mengkhawatirkan keadaan Marco yang pastinya lebih banyak mendapat tekanan dari berbagai pihak.


Ia tidak perduli dengan hujatan orang lain di luar sana tentang dirinya. Yang ia pikirkan hanya Marco dan bagaimana keadaan pria itu sekarang. Vanya juga yakin bahwa Marco akan mendapat serangan mematikan dari kedua orang tua juga mertuanya.


Bisa ia bayangkan betapa rumitnya masalah yang harus Marco hadapi saat ini.


Sementara Marco yang terpengaruh oleh kata-kata Hero berusaha melepas wanita yang paling dicintainya. Dalam rasa tak rela sekaligus lesu, ia mengatakan bahwa mulai detik ini akan melepaskan Vanya dari belenggu yang menjerat wanita itu.


Sontak jiwa raga Vanya bagai dijatuhkan dari atas langit ke dasar bumi. Di saat ia yakin akan menjadi obat penenang untuk pria itu, Marco malah berkata ingin melepasnya. Sehingga perasaan buruk bermunculan di kepala tanpa jeda.


Apakah Marco ingin membuangku?

__ADS_1


__ADS_2