Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Dua Puluh Tiga


__ADS_3

Ruang rapat di lantai lima sudah siap. Semua perwakilan perusahaan duduk menunggu kedatangan Marco untuk memberikan presentasi mengenai keunggulan perusahannya termasuk Adit dan sekretarisnya yang sudah datang dari setengah jam lalu.


Sesekali mereka menarik napas panjang seraya melirik pintu masuk yang masih rapat tertutup. Marco yang ditunggu-tunggu sedari tadi belum datang.


Suasana tampak semakin mencekam karena semuanya memilih diam. AC yang sudah dalam mode full tak terasa dingin sama sekali lantaran semuanya gugup memikirkan siapa yang akan terpilih nanti. Dari empat perusahaan, hanya ada dua yang akan lolos dan berhasil bekerja sama dengan I-Mush Grup. Tentunya mereka ketar-ketir, tidak ada satu pun yang mau keluar dari ruang rapat dengan tangan kosong. Apalagi mereka sudah jauh-jauh hari mempersiapkan semua ini.


Sementara yang ditunggu baru akan turun dengan santainya. Marco dan Vanya masuk ke dalam lift menuju lantai 5.


"Apa yang harus kulakukan nanti?" Mata Vanya melirik pria tampan yang berdiri dengan gagah di sampingnya. Marco terlihat begitu santai, jauh sekali jika dibandingkan dengan Vanya yang gugup dan sudah keringat dingin membayangkan apa yang akan terjadi nanti.


Marco menarik pinggang Vanya yang terus mengangsur ke kiri. Kemudian mencengkramnya dengan erat seolah wanita itu hendak kabur darinya. "Cukup diam dan duduk manis di sampingku," ujarnya galak.


"Hanya itu?" tanya wanita itu lagi.


"Hmmm. Apa kamu mau melakukan adegan ekstrim di ruang rapat?" balas Marco dengan seringai licik seperti biasa.


"Tidak ... tidak. Kau pikir aku apaan!" Vanya menggeleng cepat. Wajahnya yang sedikit bimbang terlihat imut saat dipandang.


Kira-kira pertunjukkan apa yang akan Marco lakukan kali ini? Persetan, aku tidak peduli.


Vanya kembali mengatur napasnya pelan. Meremas jari-jemari untuk menetralkan pikirannya yang ruwet. Ia tertunduk menatapi sepatu heels berwarna coklat susu. Terlihat serasi saat melekat di kaki mulus wanita itu.

__ADS_1


Lift terbuka.


Langkah sepatu marco berdetak pelan di atas marmer seiring dengan milik Vanya. Mereka mulai memasuki ruang rapat di mana semuanya langsung berdiri menyambut kedatangan Marco.


"Selamat pagi Tuan Marco!" ucap semuanya kompak. Tidak ada yang berani menyambut atau menyapa Vanya. semuanya pura-pura tak melihat dia kecuali Adit yang terkejut dan langsung mencuri pandang pada wanita itu.


Kenapa Mas Adit juga ada di sini? Apa Marco ingin membuat Mas Adit cemburu dengan memamerkan kemesraan?


Lagi-lagi tanda tanya besar muncul di kepala tanpa dapat Vanya tebak. Wanita itu memilih diam tanpa berani menatap siapa pun.


Marco mulai menjawab sambutan. "Selamat pagi semua."


Pria itu tersenyum datar. Marco yang dikenal tegas dan sedikit sadis dalam urusan bisnis itu meraih tangan Vanya untuk mengajaknya duduk bersama. "Diam dan dengarkan saja," bisik pria itu tepat di telinga Vanya. Menimbulkan efek horor dan bulu-bulu yang reflek meremang.


Acara rapat pun dimulai. Semuanya maju satu-persatu sesuai gilirannya masing-masing. Marco terus mendengarkan penjelasan mereka secara seksama, sementara Vanya sudah terkantuk-kantuk mendengar rincian penjelasan panjang kali lebar yang ia tidak paham sama sekali.


Kini tibalah urutan terakhir yang jatuh pada perusahaan Adit. Entah kenapa Vanya mulai gugup begitu melihat sekretaris Adit berjalan ke depan. Wanita itu tampak cantik dan elegan, muda dan tentunya sangat berwibawa.


Mesin proyektor mulai memutar susunan presentasi dari perusahaan Adit. Sekretaris sexy itu mulai menjelaskan satu persatu keunggulan perusahaan yang dikelola oleh Adit.


Wanita itu menjelaskan segalanya dengan detail sampai membuat semua orang terbutakan oleh kepandaiannya dalam berbicara. Termasuk Vanya yang mulai menaruh curiga pada sekretaris tak dikenal itu. Dulu Vanya pernah dikenalkan dengan Sekretaris Adit, namun sepertinya bukan yang itu. Vanya yakin dan masih ingat wajah sekretaris lama Adit.

__ADS_1


Sekretarisku yang satu ini memang bisa diandalkan. Tidak salah aku mengganti yang lama dengan Monika, batin Adit bangga. Ia sudah yakin 100 persen bahwa perusaahnya akan terpilih dan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.


Kalau waktu itu Adit mendapat kucuran dana dengan membarter sang istri. Kali ini keadaannya sedikit berbeda, Adit datang langsung ke perusahaan Marco untuk mengajukan proposal kerja sama. Memulai semuanya dengan usaha sendiri tanpa embel-embel apa pun tentunya.


Monika sekretaris Adit masih terus berbicara di depan sambil menatap layar besar yang dapat dijangkau oleh semua mata hadirin. Saat presentasi mereka hampir selesai, tiba-tiba mereka dibuat terkejut dengan foto mesra Adit dan seorang wanita yang tak dikenal.


Semuanya membelalak tak percaya. Bagaimana bisa Adit menyelipkan foto perselingkuhannya dengan wanita lain dalam keadaan penting seperti ini?


"Monika!" teriak Adit saat itu juga.


"Maaf ... maaf!" Monika langsung mematikan proyektor sambil tertunduk dan pura-pura malu.


Sebenarnya semua itu sudah direncanakan oleh Monika sendiri. Monika adalah orang suruhan Marco yang sengaja dikirim untuk mencari tahu segala kebusukan Adit di belakang Vanya. Ia sudah lama mengikuti jejak perselingkuhan Adit, bahkan sampai berhasil naik jabatan menjadi sekretaris pribadinya.


Marco mengatur semua ini bukan semata-mata ingin memberi tahu bahwa Adit pria tidak benar. Ia hanya ingin menunjukkan kepada Vanya bahwa karma itu ada. Setelah menyakiti Marco kala itu, sekarang giliran Vanya yang disellingkuhi oleh suaminya sendiri.


Foto yang terpampang dilayar adalah foto perselingkuhan Adit dan sekretaris lamanya. Marco sudah lama tahu akan hal itu. Ia sengaja menyimpannya sementara sampai waktu yang ditentukan tiba.


Ya itu hari ini.


Vanya langsung bergegas meninggalkan tempat itu tak kuasa. Adit yang merasa bersalah reflek ikut berlari meninggalkan ruang rapat. Ia ingin menjelaskan kronologis perselingkuhannya dengan sang sekretaris yang sudah lama itu. Berharap Vanya akan mengerti bahwa hal itu sudah terjadi sangat lama.

__ADS_1


***


__ADS_2