
"Aku mau pulang!" Vanya sudah masuk ke ruangan Marco dan berdiri di ambang pintu seraya berkacak pinggang.
Marco yang sedang terdiam sedikit mendongak saat wanita itu masuk secara tiba-tiba. "Apa kau bilang? Pekerjaaanmu di sini belum selesai, Nona manis! Kau bahkan belum melakukan apa-apa untukku."
Mendengar itu Vanya semakin murka. Matanya menyalang tajam penuh amarah.
"Apa yang kau harapkan lagi dengan kehadiranku di sini, Marco? Bukankah kau sudah cukup puas setelah berhasil mencapai tujuan dan keinginanmu? Kau sudah berhasil membongkar perselingkuhan Adit agar hatiku semakin hancur. Puas, kan?"
Vanya mengatur laju napas bercampur amarah di dalam dada. Ia memang hanya membahas tentang hatinya, ia sengaja tidak menyinggung tentang sikap seenaknya Marco di ruang rapat tadi karena merasa itu bukan urusannya. Toh Adit yang akan menanggung malu, bukan dirinya.
"Tapi aku mau kau ada di sini!" tukas Marco seraya melebarkan matanya bulat-bulat. Pandangan terisi penuh oleh wajah ayu Vanya yang tampak menahan luka di balik amarahnya.
Vanya lantas memalingkan wajah. Sekali lagi ia berusaha mengalihkan nama sialan Adit dari hati dan pikirannya agar kesedihannya tidak dicurigai.
"Aku lelah, aku mau pulang!" pungkas Vanya.
Marco menjentikkan jemari kirinya sebagai isyarat. "Beri aku ciuman tulusmu. Baru kau kuizinkan pulang ke rumah."
Ishkk. Manusia satu ini ya!
Vanya menggerutu dalam hati. Namun ia tetap melangkah maju dan akhirnya duduk di samping Marco demi bisa segera jauh-jauh dari pria itu.
"Harus tulus," ujar Marco sambil memperhatikan wajah marah Vanya yang mulai memerah. Sorot matanya tak bisa berpaling sama sekali. Terus terpaku seolah tak rela kehilangan kesempatan memandang wajah ayu itu barang sedetik pun.
Setelah mengatur napas dan meyakinkan diri berkali-kali, Vanya mulai bergerak pelan memajukan wajahnya.
Ada jeda sungkan sejenak di mana wanita itu berhenti sambil memandangi wajah Marco ragu-ragu.
__ADS_1
"Lelet sekali kau!" Suara intonasi tegas Marco terdengar samar di telinga Vanya, akan tetap napas itu terasa begitu nyata menerpa wajahnya. Kini jarak iras keduanya tidak lebih dari dua senti. Sangat dekat sampai Vanya dapat melihat rahang tegas Marco yang ditumbuhi bulu-bulu tipis berwarna hitam kecokelatan.
Karena saking tak tahan dengan gerakan lambat Vanya, akhirnya Marco menarik paksa wanita itu agar bibir mereka saling menempel. Vanya sampai tersentak sebelum akhirnya menutup mata.
Hening sejenak.
Belum ada pergerakan apa pun selain bibir mereka yang sudah saling melekat. Marco memilih diam menunggu datangnya keagresifan Vanya, sedangkan wanita itu tampak kebingungan harus bersikap bagaimana.
Meskipun saat pacaran pernah melakukan ciuman beberapa kali, dan mereka juga sudah melakukan hubungan terlarang sebanyak dua kali, tapi Vanya tetap tidak bisa berinisiatif duluan terhadap orang yang sudah tidak dicintainya lagi.
Sebagian dari hati wanita itu terus menolak melakukan hal yang tidak ia suka. Kalau bisa Vanya ingin teriak dan memberontak saja.
Tak dipungkiri nama Adit yang masih terukir sempurna di ruang hati Vanya juga menjadi dorongan sikapnya dalam menolak Marco. Meski pria itu telah melukai Vanya berkali-kali, akan tetap sulit bagi Vanya menghapus jejak-jejak cintanya pada Adit dalam waktu sesingkat ini.
"Kau mau mempermainkanku, hah?" Marco mendorong bahu Vanya keras-keras dengan bahasa menyentak hingga Vanya terperanjat gugup. Dua tangan Marco yang mencengkram bahunya juga sukses membuat tubuh Vanya seketika bergetar.
"Ma-maaf, tadi aku sedang tidak konsen. Biar kuulangi lagi," ujarnya tergugu-gugu. Tentu saja ia tidak bisa konsen apalagi fokus. Di saat hatinya sedang kacau begini, mana bisa Vanya memberikan pelayan meski hanya sekedar ciuman.
"Tidak perlu dilanjutkan, segera temui Hero di luar dan mintalah dia untuk mengantarmu pulang."
"Eumm ..." Vanya bergumam sambil memasang wajah tak enak hati. Padahal ia merasa senang sekali bisa lepas dari jerat maut itu.
"Keluar!" sentak Marco kemudian.
"Ba-baik!" Vanya segera mengambil tas yang ia letakan di atas sofa single yang jaraknya tak jauh dari tempatnya duduknya sekarang. Ia lekas pergi meninggalkan ruangan Marco sebelum pria itu berubah pikiran lagi.
Sesuai perintah Marco. Wanita itu kembali pulang diantar oleh Hero. Namun mobilnya yang dikendarai pria itu tak berhenti di hotel tempatnya menginap selama ini.
__ADS_1
Atas perintah Marco, Hero membawa Vanya ke salah satu hunian mewah tiga tingkat dengan taman luas yang mampu dipakai main sepak bola oleh anak-anak.
"Kita di mana?" tanya wanita itu keheranan saat Hero tengah melepaskan seatbelt milik pria itu sendiri.
Hero menoleh datar, kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Vanya sampai wanita itu harus memundurkan wajahnya agar tidak bersentuhan.
"Ini rumah baru Nona, mulai hari ini Anda akan tinggal di tempat ini," ucapnya sambil melepas seatbelt milik Vanya.
"Bersama Marco!" tanya wanita itu lagi. Ia sedikit kesal pada pikiran terkutuknya yang sempat berkelana memikirkan bahwa Hero akan menciumnya. Mana mungkin pria itu berani.
"Kurang tahu, yang jelas tuan Marco akhir-akhir ini sangat sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin dia akan datang jika ada hal mendesak yang ingin dituntaskan."
Hero menatap Vanya dengan seringai penuh arti. Membuat wanita itu setengah berdecak dan hendak menampar pipinya. "Dasar sekretaris mesum!"
Vanya membuka pintu mobil dan menutupnya kencang-kencang sampai Hero tersentak. Pria itu hanya menggeleng sabar dengan sikap nona mudanya.
"Mewah sekali rumah ini." Vanya bergumam pelan. Pandangannya terus menatap luas sambil memuji kemewahan rumah itu di dalam hati.
Saat netranya tak sengaja terkena sorot matahari, tiba-tiba Vanya merasa pusing setengah mati, matanya mulai memburam, pandangannnya kabur dan sekelilingnya menjadi kuning-kuning kejinggaan.
Vanya terus menetralkan kesadarannya sambil menyeimbangkan tubuhnya yang mendadak limbung. Ia mencengkram kaca spion mobil agar dapat mempertahankan posisi berdirinya.
Nahas, Vanya tak dapat lagi menahan berat tubuhnya sendiri. Ia seperti melayang. Kemudian mulai masuk ke ruang gelap gulita dengan minim kesadaran.
Brugh!
Tubuh wanita itu ambruk tepat di samping roda mobil. Ia sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi sekarang.
__ADS_1
***
Komen dan likenya dong. Jangan lupa. biar Semangat upnya.