Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Delapan Belas


__ADS_3

"Maafkan aku, Van! Kamu sampai melakukan pekerjaan apa saja demi anakku Ella. Tapi kupastikan ini yang terakhir kali, mulai besok kamu tidak usah bekerja lagi saja."


Vanya tersenyum. "Aku menyukai apa pun pekerjaanku. Kamu tenang saja, tidak usah merasa tidak enak," jawab Vanya.


"Tapi aku tidak suka melihat kamu bekerja sampai selarut ini. Apalagi—" Marco menggantung bicaranya. Mengangkat dalaman pria dengan mimik wajah jijik. "Kamu sampai mencuci pembungkus milik pria! Punyaku saja tidak akan kuizinkan, apalagi milik orang lain!" ketusnya.


Lantas ia hempaskan benda menjijikan itu ke sembarangan tempat. Bibirnya mengerucut tajam saat memandangi baju-baju yang mayoritas didominasi milik pria.


"Malam ini yang terakhir. Besok aku sudah tidak menjadi buruh cuci lagi." Vanya sengaja melakukan itu untuk Marco.


Keluarga yang biasa mencucikan baju-bajunya pada Vanya memang terdiri dari pria. Seorang ayah tunggal dengan tiga orang anak laki-laki. Maka dari itu Vanya ingin berhenti karena Marco jelas tak akan suka.


"Tapai kalau bekerja diperkebunan, aku masih memiliki kontrak setahun. Kamu tidak boleh melarangku untuk yang satu itu."


"Ya sudah, aku mengizinkanmu jika bekerja di perkebunan! Tapi jangan mencuci baju-baju pria ini, aku cemburu, aku tidak suka!"


Tuhkan benar, apa Vanya bilang?


"Baiklah, mulai besok pria yang kucucikan bajunya hanya kamu seorang!"


"Jangan mulai besok, tapi mulai sekarang! Tinggalkan baju-baju itu, besok kita suruh tukang laundri untuk mengambilnya."

__ADS_1


"Kalau di landry aku yang rugi. Upahku mencuci baju-baju ini tidak cukup untuk membayar laundry."


"Aku yang akan membayar semuanya. Biarkan saja baju itu tergelak di sini, pokoknya jangan menyentuh baju-baju mereka lagi," tegas Marco.


"Tapi Co—"


"No! Kali ini aku memaksa!" Pria posesif itu mulai bertingkah. Ia menarik lengan Vanya, lantas menutup pintu belakang dan menguncinya rapat-rapat. Didorongnya punggung Vanya hingga mentok pada bingkai pintu.


Marco melakukan aksinya kembali. Meneguk kenikmatan dari bibir Vanya penuh hasrat.


Meski diawali dengan keterkejutan, Vanya menyambut perlakukan Marco dengan hasrat mendamba.


Di pintu dapur yang langsung terhubung ke kamar mandi luar itu, mereka kembali melepaskan rindu. Sebuah perasaan menyenangkan jika ada objek untuk tempat menyalurkan.


Marco melepas ciumannya setelah dirasa cukup. "Menurutlah sedikit padaku Van, memikirkan bagaimana caranya kamu hidup tanpa aku saja sudah membuatku gila! Apalagi harus melihatmu melakukan pekerjaan sampai selarut ini. Ayo masuk ...."


Marco menuntun Vanya ke kamar. Satu hal yang membuat ia beruntung, Ella sudah dilatih tidur di kamarnya sendiri sejak usia dua tahun. Hal itu membuat Marco tidak kesulitan jika hendak menyalurkan hasrat batang Naraciaga miliknya.


"Oh ya, setelah pertemuan kita, apa rencanamu berikutnya?" Vanya menoleh pada Marco saat baru saja mengunci pintu kamar. Pria itu sudah duduk manis di atas ranjang seraya memasukan dua tangan ke saku piyama.


"Aku ingin menikmati hidup. Menjadi pengangguran dari istri yang kaya raya sampai aku puas!"

__ADS_1


"Lalu siapa yang akan mengurus perusahaanmu?" hardik Vanya.


"Ada Hero, dia sudah kembali padaku!"


"Hero lagi Hero lagi!" Vanya mendekat, ikut bergabung duduk di samping pria itu. "Kasihan pria itu, dia selalu apes saat berada di dekatmu!"


"Itu permintaannya ya, dia yang menyuruhku bersenang-senang denganmu dan juga Ella tanpa memikirkan perusahaan."


Vanya mencibir sinis. "Berapa lama kamu mau jadi pengangguran?" tanyanya lagi.


"Tidak tahu, semauku saja!"


"Kasihan Hero!"


"Kasihan?" Suaranya sedikit meninggi. "Kenapa kamu harus mengasihani orang lain? Harusnya kamu kasihan pada suamimu yang selama ini menderita karena kehilangan momen kebersamaannya dengan anak dan istri. Itu yang harus kamu pikirkan, bukam memikirkan pria lain!"


"Haha, dasar kamu! Iya ... iya, aku kasihan juga padamu!"


"Bagus, jangan mengasihani orang lain. Aku tidak suka!"


***

__ADS_1


Next Scroll


__ADS_2