
Ceklek ....
Marco baru saja hendak memejamkan mata saat pintu kamar terbuka perlahan. Tampak Vanya berdiri di depan pintu seraya membawa sebuah nampan kecil yang entah isinya apa.
"Sudah tidur?"
Buru-buru pria itu mendudukkan diri. Menatap penuh tanya ke arah Vanya yang tengah berjalan mendekatinya dengan langkah terlihat canggung. "Belum. Ada apa?"
Vanya duduk di tepian ranjang dengan posisi menghadap Marco. "Nenek menyuruhku membawakan alat pencukur jenggot. Kamu harus membersihkan bulu-bulu itu dari wajahmu jika ingin mulai mendekati Ella."
"Ah, jadi Ella takut denganku karena ini?" Ia mengelus rahang tegas yang di tumbuhi bulu-bulu cukup lebat. "Hampir saja aku mengira kalau aku memang jelek. Ternyata masalahnya sangat sepele!"
Pria itu mematut-matut wajahnya di depan cermin kecil yang baru saja diambilnya dari nampan. "Aku sengaja tidak merawat diri karenamu Van! Kalau cambangku sudah di cukur bersih pasti ganteng seperti dulu. Ini juga masih ganteng, sayangnya putri kita tidak menyukai pria bercambang. Tapi kalau kamu suka, 'kan?"
Vanya mengalihkan pertanyaan Marco dengan pertanyaan. "Kamu yang malas mengurus diri. Kenapa harus alasan membawa-bawa namaku?"
"Ck. Tentu saja alasannya hanya kamu. Berhubung tidak ada kamu, untuk apa aku berpenampilan rapi-rapi?"
Vanya sontak memasang wajah mencibir tanpa bicara. Dasar manusia ini, batinnya.
Ia mulai mengolesi wajah Marco dengan krim pelicin sebelum memotong bulu-bulu lebat itu dengan pencukur jenggot. Tangannya tampak telaten dan penuh kehati-hatian, lembut sampai membuat sekujur tubuh Marco merinding, termasuk bagian tubuh yang tidak bisa di kondisikan di bawah sana. Pada bagian itu seperti mendapat sengatan listrik berskala besar.
"Pegang ini!" Dengan nada ketus, Vanya memberikan nampan kecil ke tangan Merco untuk menadahi rambut-rambut yang jatuh. Ia mengambil posisi berdiri dan mulai bergerak membersihkan setiap inci rambut di permukaan wajah Marco yang tengah duduk menghadapnya. Mulai dari bagian atas bibir, philtrum, rahang hingga ke leher bawah.
__ADS_1
"Susah ya?" tanya pria itu mendongak. "Sebenarnya aku bisa melakukannya sendiri, tapi aku tahu kalau kamu sedang menggunakan kesempatan emas ini untuk membelai-belai wajahku. Awwkk!" Marco memekik. Bicaranya terpotong karena kulitnya tergores pencukur jenggot.
"Pelan-pelan, Van!"
"Siapa suruh mulutmu tidak bisa diam?" Vanya mengelap permukaan wajah Marco dengan handuk tipis. Tampak noda darah sedikit di bagian janggut. "Jadi berdarah, 'kan?" omelnya persis seperti seorang ibu yang kesal pada anaknya.
"Perih Van," ucapnya manja. Mulutnya lanjut merepet seperti torempet. "Kamu ini jahat sekali pada suami, bagaimana kalau wajahku rusak dan ketampananku hilang? Kamu sendiri yang rugi, tahu! Memangnya kamu mau memiliki suami berwajah cacat?"
Vanya mengangsur mundur tubuhnya dengan bibir mengerucut. "Aku hanya menggores sedikit wajahmu dengan pisau cukur! Kenapa reaksimu seperti habis disiram seember merkuri?"
"Wajahku adalah aset berharga!" balas Marco tak mau kalah. "Kalau aku tidak tampan, kamu tidak akan mau denganku, usahaku mengejarmu juga akan sia-sia percuma!"
"Cih!" Bibirnya semakin mencibir, namun tangannya segera merogoh laci untuk mencari-cari keberadaan plaster pembalut luka. Tak dipungkiri sudut hatinya merasa sedikit bersalah. Omongan Marco yang benar membuat Vanya terlau gugup sampai tak sadar melukai permukaan wajah pria itu.
Vanya memberikan pencukur jenggot ke tangan Marco. Ia memilih duduk dengan tangan terlipat di depan dada.
"Yah, kok kamu ngambek? Ini sisa sedikit lagi, Van! Tanggung kalau tidak teruskan."
Ratapan manja itu tak digubris sama sekali oleh Vanya.
"Van, aku hanya bercanda!" Diletakannya nampan yang sedari tadi dipegang-pegang ke atas kasur.
"Lanjutkan saja bercandamu sendiri!" Wanita itu berdiri hendak pergi, di mana tangan Marco langsung cekatan mencegahnya dengan menarik daster wanita itu. "Mau ke mana lagi, Van?"
__ADS_1
"Kemana pun, itu bukan urusanmu! Aku tidak suka berurusan dengan suami ngelunjak!" cetusnya memutar bola mata sebal.
"Awas!"
Dia menghempaskan tangan Marco seperti sampah tidak berguna. Sementara Marco yang tak mau melepaskan wanita itu begitu saja beralih memegangi bagian daster Vanya.
"Jangan menghalangi! Aku malas berlama-lama di sini!"
Prepeeet ...!
Terdengar bunyi memalukan saat Vanya mengambil langkah lebar. Wanita itu termangu menatap ke bawah, melihat bagian daster yang sobek lantaran ditarik sekuat tenaga oleh suami menyebalkan itu.
"Kamu!" pekik Vanya berbalik tidak terima.
Glekk!
Suara saliva-nya terdengar sangat jelas saat Marco mendapati bagian dada istrinya yang terbuka. Menampilan permukaan gunung menyembul tengah melambai-lambai kepadanya.
Merasa tak tahan lagi, jiwa kenormalan pria itu mengajak tangannya untuk menarik Vanya ke dalam pangkuan. Gemetar-gemetar takut pria itu memberanikan diri untuk melepaskan bisikan hati.
"Van, aku penginnnn!"
***
__ADS_1
Up ke tiga, udah segini dulu crazy upnya. Tanganku sakit abis dipaksa lomba tarik tambang. huhuhu.ðŸ˜. Jangan lupa komen dan like yang banyak kalau mau banyak up lagi. gud nite.