
"Jangan menawar! Berani sekali kalian berkata seperti itu terhadap Tuan Marco. Masih diberi nyawa saja sudah untung kalian. Apa kalian tidak tahu siapa dia? Dia adalah pemilik baru perkebunan ini!"
Tuan Albert si pemilik perkebunan lama langsung dibuat geram dengan ucapan pria itu. Nada bicaranya menekan penuh penjelasan supaya mereka semakin paham bahwa Marco sudah mengambil alih seluruh perkebunannya.
Dan herannya pekerja pria itu masih berani melawan seolah hidupnya suci tanpa noda dan
dosa.
"Maaf Tuan Alberd! Bukannya kami lancang, tetapi dipenjara terlalu berat untuk kami yang hanya melakukan kesalahan ringan saja. Menurut kami itu terlalu berlebihan, bahkan nona Vanya belum sampai diperkosa oleh tuan Syam."
"Beraninya kal—" Tuan Albert nyaris melayangkan satu kursi kayu ke wajah pria itu. Namun, Marco mengangkat tangannya sebagai tanda isyarat agar dia saja yang menyelesaikannya.
"Biar aku saja! Orang seperti mereka memang harus diberikan edukasi khusus agar paham lingkungan hidup sosial," sindirnya penuh telak. "Kali ini aku akan membuat kalian tahu kesalahan apa yang kalian perbuat pada istriku sampai aku bisa semarah ini." Tatapan pria itu beralih.
"Sini kau!" Marco berdiri menyeringai. Lantas menarik kasar salah seorang wanita paling muda hingga berdiri menghadap ke arah para pekerja yang sekarang tengah berlutut dengan dua tangan terikat di belakang punggungnya.
"Aku tahu bahwa dia adalah wanitamu! Bagaimana jika aku menelanjanginya di depan umum agar kau bisa paham konsep sosial apa yang harus kau pelajari saat ini?" telak Marco pada pria yang sempat membantah tadi. Dia langsung diam tak berkutik. Bahkan untuk menjawab bantahan Marco tadi saja tidak berani.
__ADS_1
Bagaimana mungkin tuan Marco tahu hubungan spesialnya dengan wanita itu, pikir pria itu heran.
Padahal Marco bisa tahu dengan mudah karena hanya dengan melirik gelagat mereka berdua yang sedari tadi saling pandang satu-sama lain.
"A--ampun, Tuan! Tolong maafkan saya." Perempuan itu terisak ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat sambil menangkupkan dua tangannya pada bagian dada. "Saya tidak ikut mem-bully istri Anda. Saya hanya ikut berkerumun saja," lanjutnya membela diri.
Marco tak menghiraukan wanita itu. Perhatiannya lebih terfokuskan pada perasaan was-was pria yang tengah menunduk takut di barisan paling belakang sana.
"Bagi seorang pria, seharusnya wanita adalah nyawanya. Apa kau rela jika wanita ini kutelanjangi dan kulecehkan di depan umum?" seru Marco menunjukkan aura lebih murka dari sebelumnya.
Dia masih terdiam memikirkan jawaban apa yang harus diucapkan agar jangan sampai salah kata dan membahayakan nyawa.
Pria itu mendongak dengan setengah nyawa yang ia rasa sudah menghilang entah ke mana.
"T—tidak Tuan! Saya mohon ampunilah kekasih saya. Saya minta maaf dan mengakui kejahatan ini ... saya tidak akan membela diri lagi."
"Kejahatan apa? Kau bahkan tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali!" Jarak Marco dan gadis itu sudah sangat dekat sekarang.
__ADS_1
"Maafkan saya, Tuan!"
Pria itu benar-benar takut. Di matanya Marco adalah manusia dingin yang tega melakukan apa saja pada orang lain. Bahkan ia menyuruh orang untuk memotong keperjakaan Syam di depan umum tanpa belas iba sama sekali.
Suasana di tempat itu semakin mencekam layaknya eksekusi mati. Semua perhatian mereka tersita pada Marco yang tengah meneliti setiap inci tubuh wanita itu dengan sorot mata tajam.
Kepala mereka kini dipenuhi tanda tanya ambigu. Apakah Marco benar-benar akan menelanjangi wanita itu di depan umum, atau hanya sekedar melakukan gertakan saja untuk menakut-nakuti.
"Apa alasan yang mengharuskanku untuk tidak melecehkannya? Bukannya pelecehan wanita di matamu adalah perbuatan biasa dan ringan?"
Marco sudah menarik ujung baju wanita itu. Dia hanya bisa menangis tak berdaya sambil menunggu nasib di detik-detik berikutnya.
"Tuan, saya mohon—"
Pria itu berdiri dengan wajah memelas. Tindakannya tak membuat Marco merasa iba, malah justru semakin terusik untuk membuka mata hati si pria sialan yang ada di depannya.
***
__ADS_1
Sabar ya, jangan dulu menghakimi Marco sebelum masalahnya selesai. Kasih komen banyak yang mau lanjutnya lebih cepet. 1000 komen kek. wkkwkw.