
"Tidak mau Ma! Ella mau ke nenek aja! Ella tidak suka dekat-dekat dengan papa yang jelek itu!" Gadis kecil itu melorot dari gendongan ibunya. Lantas berlari kecil menuju halaman belakang menyusul sang nenek.
"Ya ampun! Kenapa hidupku jadi serumit ini, si? Kapan aku bisa hidup tenang?" Vanya menghentakkan kakinya ke lantai sekali lagi, ia berjalan menyusul Marco yang sedang ngambek karena diejek jelek oleh anaknya tadi.
"Co ...." Vanya memanggil, namun pria itu tampak sibuk berbicara dengan seseorang melalui gawainya.
"Bagaimana Her, bisa, 'kan?" Panggilan mode pengeras suara diaktifkan agar Vanya yang sedang mengatung di depan pintu bisa ikut mendengarnya.
Ada Tuan, tapi Anda harus melakukan 17 kali operasi plastik jika wajahnya ingin mirip dengan Jimin.
Sontak Vanya melotot. Jantungnya nyaris melompat dari tempatnya. "Apa-apaan kamu, Co?" teriaknya.
Tuan, apa itu nona Vanya?
Suara Hero di seberang sana memecah keheningan setelah Vanya berteriak. Setelah empat tahun berpisah, kini pria itu sudah kembali ke tangan Marco. Menjadi sekretaris sekaligus pengikut paling setia.
"Hmmm. Atur saja pertemuannya. Apa pun kulakukan demi anakku Ella!" Pria itu berbicara keras-keras. Sengaja ia lakukan agar Vanya paham bahwa ia sedang kesal sekarang.
Baik, Tuan. Semoga hari Anda di sana menyenangkan. Selamat bersenang-senang.
__ADS_1
Menyengankan kepalamu, sahut Marco yang hanya berani diucapkan dalam hati saja.
Panggilan tertutup. Vanya mendekat setelah Marco meletakan ponselnya di atas meja kecil di sebelahnya.
"Kamu mau apa, Co? Ella hanya anak kecil, untuk apa kamu terlalu serius menanggapi perkataannya?"
"Terlalu serius?" Marco memandang wanita itu setengah marah. "Pria mana yang tidak sakit hati dihina oleh anaknya sendiri?"
"Iya ... iya, aku paham perasaanmu! Tapi Ella melakukan itu karena belum terbiasa dengan kehadiranmu. Nanti jika Ella sudah mengenalmu lebih dekat, dia tidak akan berkata semaunya seperti tadi. Bersabarlah menghadapi Ella, dia hanya anak kecil yang belum terbiasa dengan kehadiran orang baru. Apalagi di rumah ini tidak pernah kedatangan sosok laki-laki sama sekali."
"Aku sudah sabar sejak tadi, tapi Ella tetap saja tidak suka dengan kehadiranku. Apa kamu tahu betapa inginnya aku memeluk dan mencium anak itu? Sudahlah, percuma juga kita berdebat! Jika kamu memperkenalkan sosok papanya pada Ella sejak dini, pasti dia tidak akan seperti itu," ketus Marco tanpa sadar hingga membuat Vanya merasa tersudutkan.
"Iya," jawab Marco kesal.
Vanya berdiri dengan posisi berkacak pinggang. Matanya menyorot tajam, penuh amarah dan juga kekecewaan.
"Empat tahun kamu menghilang tanpa kabar, bisa-bisanya kamu menyalahkanku atas semua yang terjadi pada Ella! Sadar Marco, siapa yang paling pantas disalahkan di antara kita berdua?"
Marco ikut berdiri tak mau kalah.
__ADS_1
"Kenapa kamu selalu menyudutkanku dengan membahas empat tahun itu? Aku sudah menjelaskan semua alasan dan berusaha meminta maaf. Aku mengaku salah dan berjanji akan memperbaikinya. Tapi kamu selalu mengungkit kesalahanku tanpa memberi sedikit cela untukku menebus semuanya. Sekarang siapa yang egois di sini, aku atau kamu?" Bentakkan Marco menggelegar, ia bahkan tak peduli jika Ella dan nenek mendengar perdebatan panasnya dengan Vanya.
Pria itu bukanlah orang yang terlahir dengan kesabaran seluas lapangan. Marco cenderung emosian dan mudah kalut jika sesuatu yang ia harapkan tak sesuai dengan keinginannya. Seperti saat ini, ia sudah berusaha sesabar mungkin menghadapi Vanya dan juga Ella, namun stok kesabaran yang tak banyak itu telah terkuras habis. Berganti amarah dan ketidakberdayaan yang menyembur kuat dari dalam dirinya.
Dua tangan Vanya mengepal. Hatinya seperti ditikam sembilu saat Marco membentaknya cukup keras.
Untuk apa kamu datang kembali jika hanya ingin melukai perasaanku lagi seperti ini, Marco?
Vanya tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia berlari sekencang mungkin tanpa arah tujuan pasti. Hatinya begitu sakit. Hidupnya yang semula aman mulai terusik. Demi apa pun ia belum siap jika harus dipaksa membuka hati untuk pria yang telah mengecewakannya berkali-kali.
"Sialan!" Marco menendang kaki meja, lantas berlari menyusul Vanya yang nyaris menghilang di ujung jalan.
Petir pertanda hujan menyambar-nyambar di atas langit. Memperkeruh suasa sore yang panas akibat pertengkaran mereka.
***
2 bab sudah ya.
500 komen. 4000 like, aku up lagi.
__ADS_1