End To Be Continued

End To Be Continued
Chapter 131. Kepulangan


__ADS_3

"Perang?!"


para hunter terkejut ketika kata-kata yang sangat tidak ingin didengar oleh para hunter keluar.


"jadi kita harus memerangi sosok yang memiliki kekuatan yang tidak kita ketahui sekuat apa mereka?!" tanya Guo Jing.


Surya menatap tajam ke arah Guo Jing.


"ini satu-satunya cara meskipun memiliki resiko yang sangat besar terhadap keutuhan bumi…para lord jutaan kali lebih kuat dari sosok monster berzirah yang kalian lawan di Beijing!" jawab Surya.


~deg…deg


jantung para hunter berdegup lebih cepat…


'pada saat itu meskipun terbilang mudah, kami memang merasa monster tersebut cukup menyebalkan…tapi barusan dia bilang sosok yang akan kita lawan jutaan kali lebih kuat?! apa itu tidak berlebihan?!' pikir Almeric Johan.


"jika kita harus memerangi mereka, kurasa cara terbaik adalah dengan menyerang mereka secara bersamaan?" ucap Daneil yang wajahnya terlihat sedikit bengkak dibagian pipi sebelah kirinya.


Surya tersenyum.


"aku menghargai pendapatmu, salah satu hunter terkuat, Daneil Osvaldo" ucap Surya.


Daneil merasa sebutan tersebut membuatnya merasa malu.


"tapi…kuyakin kalian telah melihat keberadaan kolam lava dengan diameter lebih dari seratus lima putuh meter yang muncul di tengah markas besar hunter yang ada di Nepal!" ucap Surya.


'markas besar? jadi benar ya kabar bahwa seluruh hunter yang ada disana tewas mengenaskan' pikir Jin-Ho.


kemudian salah satu hunter bertanya kepada Surya.


"apa ada kaitannya dengan yang sedang kau bahasa, hunter Surya?" tanya hunter tersebut.


Surya menganggukkan kepalanya.


"kemungkinan besar itu adalah ulah salah satu komandan pasukan para lord, atau kemungkinan terburuknya adalah lord itu sendiri!" ucap Surya.


para hunter terpaksa menelan air liurnya setelah mendengar ucapan Surya.


"mereka memiliki kekuatan untuk mengalahkan musuh dalam jumlah yang banyak, jika dilihat dari bentuk elemen yang ada pada kejadian tersebut, mungkin kalian sadar, makhluk apa yang dapat memberikan kerusakan sebesar itu!" ucap Surya.


pikiran semua hunter terfokus kepada sosok yang mereka ketahui memiliki kekuatan destruktif yang besar.


Naga.


kemudian Surya melanjutkan ucapannya.


"lawan kita bukan hanya para lord, tapi lebih dari seratus tiga puluh juta pasukannya akan datang ke bumi, mereka hanya monster yang mendengarkan perintah tuannya untuk menghancurkan tanpa pandang bulu!" ucap Surya.


Para hunter semakin sulit menerima kenyataan yang ada.


"hu…hunter Surya, aku mempercayai apa yang kau katakan hingga saat ini…tapi, apa benar kita dapat melawan pasukan sebanyak itu dan juga pemimpin terkuatnya?" tanya salah satu hunter.


Surya terdiam sebentar, ia menundukkan kepalanya dan tersenyum.


"tidak…ini adalah sesuatu yang sia-sia!" jawab Surya.


'sia-sia?!' pikir para hunter.


mereka cukup putus asa mendengar ucapan dari sosok yang membuat hunter hunter terkuat di dunia kalah dengan mudah.

__ADS_1


"tapi…"


ucapan Surya membuat para hunter terfokus kembali.


"tidak ada salahnya kita mencoba meski kemungkinannya hanya satu persen!" jawab Surya.



suasana menjadi hening sejenak.


'satu persen ya?! itu lebih baik tidak ada kemungkinan sama sekali!' membatin Irene.


'tidak ada salahnya kita mempertaruhkan nyawa untuk kemungkinan sekecil itu!' membatin Ha-Neul.


"kalau begitu…apa kau memiliki rencana, hunter Surya?" tanya Daneil.


pertanyaan telah Surya tunggu sejak ia menjelaskan mengenai para lord.


"ada!" jawab Surya.


***


Konferensi Pers telah berakhir…para hunter meninggalkan gedung konferensi.


Surya berjalan sendirian di lorong.


"hunter Surya" Hak-Kun memanggilnya dari belakang.


Surya menengok ke belakang dan melihat Hak-Kun dan hunter Korea Selatan lainnya.


"apa kau baik-baik saja?" tanya Hak-Kun.


Surya cukup terkejut ketika rekannya menanyakan kabarnya.


"aku baik-baik saja!" jawab Surya yang perlahan menjauh.


meski begitu, rekan-rekannya menyadari kondisi emosi Surya yang terlihat tidak baik.


"mungkin ia juga merasakan perasaan yang sama seperti kita ketika ia menjelaskan mengenai musuh dunia!" ucap Jin-Ho.


"benar, kurasa yang paling merasakan rasa sakitnya adalah hunter Surya sendiri" ucap Hak-Kun.


"tapi aku tidak habis pikir…siapa yang tahu kalau ternyata salah satu musuh terkuat justru berpihak ke sisi manusia" Irene tersenyum.


"kau benar! kurasa kita memiliki sedikit kesempatan" ucap Ha-Neul.


ia mengingat apa yang terjadi dalam beberapa menit yang lalu.


'membuka gate yang besar dan konsentrasi mana yang mengerikan hanya dengan jentikan jari?! aku merasa bencana besar dapat keluar dari gate itu jika kita tidak mendengarkan ucapannya!' mata Ha-Neul menyipit.


***


Surya keluar dari pintu masuk gedung konferensi, ia melihat sosok pria dengan tinggi lebih dari dua meter yang menengok ke arahnya.


"hunter Surya" Daneil menyapanya.


Surya berjalan dan berhenti di sebelahnya.


Daneil menghadap ke arah langit yang cerah sambil melepas kacamata hitamnya.

__ADS_1


"kurasa London memiliki pemandangan yang cukup indah di hari yang cerah ini…bagaimana dengan Korea Selatan?" tanya Daneil.


Surya menatap awan yang cerah.


"disana lebih dingin dari London, tapi pemandangan indahnya tidak jauh berbeda dengan London" jawab Surya.


"benarkah? kurasa aku harus mengunjungi negaramu dan menikmati pemandangan disana nanti…hahaha!" Daneil tertawa.


"tentu…aku akan menyambutmu" jawab Surya.


perlahan tawa Daneil menghilang.


"entah sampai kapan hari indah seperti ini akan bertahan, ini seperti hari yang tenang sebelum badai besar datang" ucap Daneil.


"kita tidak akan bisa lari! ini kenyataan yang mengerikan jika semua orang mendengarnya" ucap Surya.


"kau benar! ngomong-ngomong…aku merasa sangat bersalah pada kejadian semalam dan yang kulakukan hanya meluapkan emosiku, aku berharap kau dapat memaafkan perbuatanku, hunter Surya" Daneil menundukan kepalanya.


"tentu" jawab Surya.


"hunter George berhak mendapatkan ganjarannya, aku tidak habis pikir dia menyerang orang lain tanpa berpikir panjang!" ucap Daneil.


Surya berjalan menuruni tangga dan menuju ke mobilnya.


"yang sudah terjadi biarlah terjadi, kurasa aku juga sedikit berlebihan" ucap Surya dan berjalan menjauh.


"apa kau tidak pergi ke pesta jamuan nanti malam?" tanya Daneil.


Surya hanya melambaikan tangannya tanpa berpaling.


***


salah satu rumah sakit di London.


Surya mengunjungi kamar inap yang dihuni oleh Lilia.


"ketua!" Lilia terbangun dari tidurnya ketika melihat Surya masuk.


"bagaimana keadaanmu?" tanya Surya.


"oh…ini sangat baik! aku merasa lebih sehat dari hari sebelumnya" Lilia tersenyum.


Surya menundukan badannya sembilan puluh derajat.


"maafkan aku! aku ketua yang buruk!" ucap Surya.


Lilia terkejut…ia melihat tangan Surya yang mengepal dan gemetaran.


Lilia memahami apa yang Surya rasakan.


"terima kasih karena telah menyelamatkanku, ketua!" Lilia tersenyum.


***


malam hari…


bandara Incheon…


Seoul, Korea Selatan.

__ADS_1


suhu yang cukup dingin dan angin berhembus kencang.


Mora menunggu kepulangan kakaknya dari London bersama ketua asosiasi hunter Korea Selatan.


__ADS_2