End To Be Continued

End To Be Continued
Chapter 91. Pengukuran Ae-Cha


__ADS_3

Seoul, Korea Selatan.


dua hari setelah kabar menggemparkan mengenai kematian salah satu hunter terkuat di dunia.


Fyodor Andery dengan julukan Ballistic, tewas mengenaskan dalam kasus pembunuhan yang mana jejak pembunuhnya belum ditemukan hingga kini.


para ahli mengungkapkan pendapatnya mengenai kasus tersebut, sebagian besar menganggap bahwa itu adalah perbuatan seekor monster yang sangat kuat.


adapun beberapa yang berpikir bahwa ada hunter yang memiliki dendam kepada Fyodor dan merencanakan pembunuhan.


namun pendapat tersebut ditolak mentah-mentah, meskipun ratusan elit hunter dikerahkan sekaligus, mereka belum tentu dapat mengalahkan satu dari empat Unbeatable Hunter.


kecil kemungkinan bahwa sesama Unbeatable Hunter memiliki dendam, namun berdasarkan informasi yang didapat, pada saat malam terbunuhnya Fyodor, tiga Unbeatable Hunter lainnya berada di negaranya masing-masing.


kasus tersebut kini masih diperdebatkan mengingat bahwa itu menjadi peringatan untuk dunia mengenai bencana yang lebih besar yang entah kapan hal tersebut akan terjadi.


Surya membaca artikel tersebut melalui ponselnya, kini ia sedang bersandar di sofa ruang tamunya sambil memakan sebuah apel hijau yang telah dikupas kulitnya dan dipotong dengan sangat rapih.


~Crunch


Surya merasakan kelembutan tekstur dari apel tersebut ketika menggigitnya.


"Oppa, hari ini aku akan pergi ke rumah teman sekolahku untuk menyelesaikan tugas kelompok, mungkin aku akan pulang agak malam…ah iya ngomong-ngomong bibi Serena, apa sarapannya sudah siap?" ucap Mora yang turun dari lantai dua.


"sepertinya kau tak perlu kuantar ya? pulanglah secepatnya…dan lagi pula aku heran kau tak terkejut sama sekali dengan kemunculan bawahanku, bahkan kau sudah memanggilnya dengan sebutan bibi?" ucap Surya yang merasa adiknya mengalami gangguan mental.


"aku tak peduli mau itu bawahanmu atau apa…yang jelas bibi Serena ini tidak terlihat seperti orang jahat!"


ucap Mora sambil mencubit pipi Serena dan menunjukan keimutannya kepada kakaknya, lalu ia pergi ke meja makan.


"huhhh" Surya menghela nafas.


"tidak kusangka setelah beberapa hari memulihkan diri, kau malah menjadi pembantu di rumah ini…bahkan kau telah menaklukan hati adikku" Surya menatap heran kepada salah satu prajuritnya.


Serena merasa itu seperti sebuah sanjungan untuknya, ia tersipu malu yang tengah mengenakan seragam pelayan.


"ku…kupikir ini bisa membuatku terus melayani tuanku dengan memperhatikan kesehatan tuan" ucap Serena yang tersipu.


'kau ini prajurit perang atau tukang masak sih?' membatin Surya.


"ya setidaknya adikku tidak merasa takut…namun, mengapa Drogoda juga harus ikut-ikutan sih?!" Surya merasa jengkel melihat Drogoda yang sedang menyapu di ruang tamu.


Drogoda juga merasa ucapan Surya seperti sebuah pujian untuknya, ia juga tersipu malu dalam keadaan mengenakan bajunya yang terbuat dari kulit binatang.


'enggak banget ughh!!' Surya merasa Drogoda lebih cocok bersimbah darah monster ketimbang tersipu malu dengan tubuhnya yang kekar.


"bibi besar, bisakah bibi memotong rumput yang ada di halaman depan rumah?" tanya Mora dari meja makan.


'bi…bi besar???' Surya terkejut mendengar panggilan Drogoda.


Surya mengabaikan dua prajuritnya yang bersikap aneh dan menjadi pelayan dirumahnya setelah Gluttony.


"ah iya…"


tiba-tiba Surya teringat sesuatu yang akan ia lakukan, ia mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan suara kepada Ae-Cha.


setelah beberapa saat, Ae-Cha mengangkat panggilan suara dari Surya.

__ADS_1


(Hyung-nim, kurasa ini cukup pagi untuk menelpon seseorang, apa ada yang bisa kubantu?) tanya Mora.


(bukan hal yang terlalu penting, tapi aku akan segera menjemputmu, apa kau sibuk hari ini?) tanya Surya.


(a…itu, aku…tidak, aku sedang senggang kok…aku akan segera siap-siap) jawab Ae-Cha yang terdengar gugup.


(baiklah, aku segera kesana) ucap Surya dan mengakhiri panggilannya.


***


empat puluh menit kemudian…


Surya tiba di rumah Ae-Cha setelah berkendara menggunakan mobilnya.


setelah beberapa menit menunggu, Surya melihat Ae-Cha yang keluar dari pintu rumahnya.


ia menggunakan manset lengan panjang berwarna hitam yang dirangkap dengan trench coat berwarna jingga dengan rambut coklatnya yang dikuncir.


Ae-Cha merias wajahnya setelah mendengar bahwa Surya akan membawanya pergi ke beberapa tempat dan makan bersama.


Surya juga mengenakan manset hitam lengan panjang yang dirangkap menggunakan coat hitam.


"kak Surya, ba…bagaimana penampilanku?" tanya Ae-Cha yang suaranya seperti sedang berbisik.


"sangat cocok" jawab Surya.


'ugh…dia hanya memuji pakaianku…hmpp' membatin Ae-Cha.


***


diperjalanan…


'pe…penting? ini penting dalam hal apa…jangan-jangan…' pipi Ae-Cha memerah.


namun fokusnya kembali tertuju setelah Surya berbicara.


"kita sampai" ucap Surya dan berhenti didepan sebuag gedung yang cukup familiar.


Gedung asosiasi hunter Korea Selatan.


"apa yang akan kita lakukan?" tanya Ae-Cha yang keluar dari mobil setelah Surya.


"pengukuran" jawab Surya.


mereka berdua memasuki gedung asosiasi.


Surya dan Ae-Cha memasuki ruang pelatihan milik asosiasi hunter, ketika mereka masuk…tepat di depan mereka sudah ada ketua asosiasi yang menunggu kedatangan mereka berdua.


"hunter Surya…dan juga nona Ae-Cha, kita bertemu di rumah sakit beberapa hari yang lalu…kuucapkan selamat atas kesembuhanmu" ucap Ghie.


"ah iya, terima kasih, ketua" ucap Ae-Cha.


Surya berdiri dan menghadap ke Ae-Cha yang berdiri di samping kanannya.


"mungkin kau tidak mau memikirkannya, jadi kutanyakan ini terlebih dahulu…maukah kau melakukan pengukuran?" tanya Surya.


Ae-Cha mengetahui maksud dari pengukuran adalah mengukur intensitas dan kapasitas mana seseorang yang bangkit dan menentukan kelas dari orang yang akan mendapat status sebagai hunter.

__ADS_1


Ae-Cha terdiam dan memikirkannya, ia mengingat dimana ia telah menyusahkan ayahnya…ia juga mengingat dimana ia membuat Mora terluka mengenai kebangkitannya, dan perjuangan Surya untuk menyelamatkan hidupnya.


setelah terdiam beberapa saat, Ae-Cha menegak kan kepalanya.


"akan kulakukan!" jawab Ae-Cha dengan tegas.


Surya dan Ghie mengapresiasikan keberanian Ae-Cha dan melawan rasa takutnya.


kemudian persiapan pengukuran Ae-Cha dilakukan dan berlangsung selama beberapa menit.


"jangan terlalu dipikirkan, kau hanya perlu melepaskan apa yang mengganggu pikiranmu saat ini" Surya meyakinkan Ae-Cha.


"baik!" jawab Ae-Cha.


Surya, Ghie dan staff yang bertugas mengukur kekuatan Ae-Cha, mundur beberapa langkah.


Ae-Cha memejamkan matanya dan berkonsentrasi, ia membayangkan hal-hal yang menjadi beban pikirannya.




beberapa menit telah berlalu, namun tak ada reaksi mana sedikitpun dari tubuh Ae-Cha.


'apa ia kesulitan? tidak mungkin!' membatin Surya dan menatap Ae-Cha yang mulai berkeringat.


Surya dan Ghie bertukar pandangan dan merasa terheran.


kemudian mereka memperhatikan Ae-Cha yang berkonsentrasi lebih lanjut.


"mhhh!!" Ae-Cha mengerutkan keningnya.


tiba-tiba sesuatu mulai keluar dari tubuh Ae-Cha, aura putih terang perlahan muncul dari dalam tubuhnya.


'sepertinya mulai bekerja' membatin Surya.


'aura ini…' Ghie merasa terkejut.


tiba-tiba…


~WUOONG


aura besar keluar tak terkendali dari tubuh Ae-Cha.


'auranya!!' Surya mencoba menghampiri Ae-Cha yang kesulitan, namun kemudian…


~Boom


~Wushhh


"haah…haah…haah!" Ae-Cha terengah engah.


ledakan mana yang cukup besar membuat kaca-kaca ruang pelatihan hancur, setelah itu Ae-Cha terduduk lemas setelah memaksakan dirinya.


Surya segera menghampirinya, dari dekat terlihat bahwa Ae-Cha sangat memaksakan diri hingga tubuhnya berkeringat.


"apa kau baik-baik saja?" tanya Surya.

__ADS_1


"sepertinya begitu…huuhf" Ae-Cha menghembuskan nafasnya.


hasil pengukurannya tidak dapat dipastikan karena gelombang kejut ledakan mana dari dalam tubuh Ae-Cha, membuat alat ukur tersebut berhenti berfungsi.


__ADS_2