
Bunda ... Engkau lah muara kasih dan sayang. Apapun pasti kau lakukan demi anakmu yang tersayang.
Bunda ... Tak pernah kau berharap budi balasan atas apa yang telah kau lakukan, untuk diriku yang kau sayang.
Saat ku jauh dari jangkauan, doamu selalu kau sertakan. Ku mohon restu dalam langkahku, bahagiaku seiring dalam doamu.
...πΊπΊπΊπΊ...
"Mama ..." Gana memeluk Mamanya yang masih belum sadarkan diri di ranjang pasien. Merebahkan kepalanya di ceruk leher wanita yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkannya ke dunia. Air bening membasahi permukaan kulit leher Mama dari kelopak matanya.
"Maafkan suamiku ya, Mah ..." Gana sudah menyerukan kata-kata itu berkali-kali. Tangan kanannya mengalung ke pundak kiri Mama Difa.
"Maaf, Mah." isak nya lagi. Baru kali ini ia memohon ampun untuk kesalahan orang lain. Orang yang selalu ia tolak mentah-mentah, dan kini berubah telah menjadi berarti.
Suasana kamar mencekam. Tak ada kilat cahaya sama sekali. Semua orang berduka. Menatap getir wajah Mama Difa yang masih saja cantik dalam hijab panjangnya.
Papa menyandar lemah di sofa. Lelaki beruban itu terus-menerus menarik oksigen dari udara untuk ia tekan masuk ke dalam dada, lantas menghembuskan nya lagi ke udara. Ingin melegakan rongga dadanya yang terasa bergelembung.
Sakit sekali batinnya. Sudah tersedak perihal jatidiri menantu yang sebenarnya, kini kembali sesak. Karena istrinya tergolek tidak berdaya, menjadi akibat dari semua ini. Jika saja Ammar ada di sini, Papa pasti akan mematahkan lehernya.
Ada Gemma yang duduk disebelah Papa sambil menatap Gana dan Mama di pembaringan. Berkali-kali Gemma mengusap wajahnya yang sudah basah dengan ujung dasi. Ia yang sedang bekerja, dikagetkan dengan perihal Mama yang hampir anfal. Melesat datang kemari sampai belum memberitahukan istrinya, Fara.
Raut nya memerah, hatinya sesak. Memikirkan apakah sang Mama akan bertahan, pasalnya Faradisa sedang mengandung anak pertama mereka, dan akan melahirkan lima bulan lagi. Apakah bisa wanita yang sekarang tergolek lemas, menggendong bayi mereka?
Gemma terisak. Ia beringsut untuk memeluk Papanya. Kedua lelaki itu saling berpeluk dalam tangis.
Gifali menyandar lemah dengan leleran air mata di daun pintu dengan tangan terlipat di dada. Menatap cinta pertamanya yang hanya diam membeku di ranjang.
Mengapa bisa begini, fikirnya. Terlebih lagi, Ammar adalah adik iparnya, suami adiknya sekaligus orang yang tidak sengaja membunuh orang tua mereka sendiri.
Anak-anak keluarga Hadnan sudah berkumpul semua kecuali Gelfani. Anak ketiga mereka, tengah menuju perjalanan kepulangan dari Batam. Gelfani tidak henti menangis, meraung-raung histeris ketika dikabari kalau Mamanya tidak sadar.
"Papa tidak akan pernah memaafkan Ammar, jika Mama tidak sembuh, Gana."
Suara datar yang terdengar kosong, begitu mencekik telinga Gana dari Papa. Gana yang masih terisak, lantas mengangkat kepala dan menoleh ke arah lelaki yang menjadi cinta pertama dalam hidupnya.
"Pah ..." Gana seraya memohon belas kasih. Buru-buru beranjak berdiri. Menghampiri lelaki itu yang masih mengunci tubuh Gemma di atas sofa. Gana bertumpu dengan kedua lutut, dan menundukkan kepalanya di pangkuan Papa.
"Tolong ampuni suamiku, Pah. Ammar khilaf." nada suara itu amat sendu untuk didengar. Gana membasahi kain celana papa dengan air mata nya yang terus luruh tidak mau berhenti.
"Ceraikan Ammar, Gana." tidak bernada emosi. Sungguh sangat diluar ekpektasi, Papa cukup tenang. Tetapi ucapannya sangat menyakitkan.
Mendengar ucapan itu, hatinya serasa di gilas sampai hancur berkeping-keping. Gana mendongak, menatap lekat wajah Papa dengan matanya yang sudah memerah.
Gana refleks menggeleng dan meremat kain celana Papa dibagian pahanya.
"Jangan, Pah. Gana enggak mau!"
Gifali pun terperangah dengan titahan Papa. Haruskah mereka sampai bercerai? Tapi lelaki itu juga sudah kecewa. Dia hanya membiarkan Gana dalam tangisan tanpa mau membantu.
Karena kepalanya sudah pusing memikirkan keadaan Mama yang kunjung belum membaik. Gifali melangkahkan kaki untuk duduk disebelah ranjang Mama, memeluk wanita itu menggantikan posisi Gana.
Demi menemani Mama di sini, ia biarkan Maura pulang sendiri dari Bandara.
Gemma mengurai pelukan Papanya dan menatap Gana.
"Suamimu adalah dalang dari kesakitan Mama, Kak! Masih kamu bela dia!" Gemma mendengus kasar. Wajahnya berapi-api. Raut emosi Gemma mirip sekali ketika Papa Galih masih muda dulu.
"Kamu jangan ikut campur, Gemma! Ini masalah rumah tanggaku!" Gana ikut naik pitam.
__ADS_1
Gemma berdecih. "Lihat 'kan bagaimana dia sekarang sudah menyetir Kakak? Bahkan matamu saja sudah tertutup! Lihat Mama, Kak. Mama seperti itu karena ulah suami kamu! Pantas saja dulu hatiku setengah hati ketika menerima dia menjadi Kakak Ipar! Ternyata benar, Ammar lelaki brengsekk!!"
Gana menatap tajam manik mata Gemma yang masih melontarkan air bening. Gana menunjuk lelaki itu dengan tangannya.
"Diam kamu! Jangan kamu hina-hina suamiku! Ammar seperti itu karena ada sebabnya!"
"Papa tetap ingin kamu berpisah dengannya, Gana ..." Papa kembali menyelak ucapan putrinya, dan nada itu masih terdengar datar tanpa emosi.
Gana kembali menatap Papa dan memeluk perutnya. Wanita itu menangis. "Jangan kayak gini, Pah. Jangan paksa Gana untuk pisah. Gana cinta banget sama Ammar. Tolong maafkan Ammar. Suamiku sudah bertubat, Pah."
Mendengar ucapan itu membuat Gemma ingin muntah.
"Taubat suamimu, belum tentu bisa menolong Mamaku untuk kembali seperti dulu! Lihat Mama, menggerakan tubuh saja ia tidak bisa. Mamaku akan cacat, dan semua itu karena ulah suamimu yang tidak beradab!" Gemma beranjak berdiri, ia memilih menghampiri Gifali dan Mama di pembaringan.
Gana tetap menangis di perut Papanya. Ucapan Gemma menusuk jiwa siapapun yang mendengarnya. Ia tahu, masalah Ammar ini memang biang kerusuhan di keluarganya.
Tapi apakah Ammar tidak bisa mendapatkan maaf? Dan Apakah Gana sanggup melepas suaminya, ketika cintanya sedang merekah?
Papa Galih mengusap punggung dan mengecup pusara rambut Gana.
"Gemma yang akan urus perceraian kalian nanti. Papa tidak mau kamu terjebak dalam permainan gelap lelaki itu. Papa tidak mau nyawamu terincar oleh musuh-musuhnya."
"Seorang mafia akan tetap menjadi mafia. Darah harus dibayar darah. Nyawa harus dibayar nyawa. Papa tidak mau, Ammar kembali menorehkan luka di keluarga kita. Papa baru tau sekarang, kalau kelumpuhan mu dulu pasti di sebabkan karena profesinya yang lahnat itu!"
Air bening kembali bergerumun. Ia menoleh, menatap istrinya di pembaringan. Ada cintanya yang selalu ia jaga mati-matian dan kini terlepas dari jangkauannya.
"Selama ini Papa selalu menjaganya. Tidak membiarkan satu lalat pun menyentuh kulit Mamamu." Papa Galih terisak. Lelaki itu menjeda ucapannya. Wajahnya yang sudah mengendur, kembali basah karena air di mukanya sudah banyak.
"Tapi karena perbuatan suamimu, Kak. Papa harus kehilangan senyuman Mama. Papa harus ikhlas kalau setelah ini, setengah tubuhnya tidak akan lagi berfungsi. Mama hanya bisa berbaring tanpa bisa kesana-kemari. Haruskah ia menikmati hari tuanya dengan cara seperti ini?"
"Dan sebelum terlambat, sebelum kamu menikah lebih lama dan mempunyai seorang anak dengan nya. Akhiri pernikahan kalian, Gana! CERAIKAN AMMAR!"
Papa beringsut untuk memeluk anak perempuannya yang sedang rapuh, ringkih dan terkoyak.
Gana menggeleng kepala samar sambil menahan degupan jantungnya yang terus berdenyut penuh dengan luka.
Tangisan Gana pecah dalam pelukan papa. Hancur sudah hidupnya. Hal terberat ketika harus di paksa bercerai saat cintanya sedang berbinar.
Melepaskan Ammar yang baru saja merangkak dalam taubatnya. Mampukah dirinya? Apa yang harus ia katakan pada lelaki itu? Kalau beberapa jam lalu, dirinya berucap akan kembali datang untuk menemuinya kembali.
****
Ammar menyelinap masuk ke dalam ruang ICU setelah menunggu berjam-jam dengan cara sembunyi-sembunyi. Dengan pakaian khusus, setengah wajah bertutupkan masker, ia melangkah cepat ke pembaringan Mama yang tidak di jaga oleh siapa-siapa sekarang.
Kelopak mata Mama terbuka perlahan. Tangannya mengulur ke atas dan Ammar meraih, menggenggam dan menciumnya berkali-kali.
"Maafin Adek, Mah. Adek udah buat Mama kayak begini."
Dari balik sungkup oksigen, Mama mengangguk lemah tanpa mampu bicara. Ia hanya menatap Ammar dengan linangan air mata.
Serasa ingin menjerit, menumpahkan rasa kecewa tapi juga rasa rindu. Ia rindu menjewer anak lelaki ini jika nakal. Tapi ini lah anak kandungnya. Anak yang ia lahirkan dari rahimnya sendiri.
Jika bisa, ia mau menggantikan dosa-dosa Anaknya yang saat ini sedang Ammar tanggung.
"Mama harus kuat ya, Mama 'kan belum lihat anak dari Adek dan Gana. Anak kami pasti ganteng dan cantik." Ammar terkekeh pelan dalam tangis. Membuat Mama ikut tersenyum.
Ammar mengecup dahi Mama lama. Sentuhan itu, membuat Mama memejam mata. Air mata Mama seraya terseret kembali masuk ke dalam kelopak.
Tapi, tiba-tiba. Keanehan terjadi. Seketika Ammar menautkan alis, saat bibirnya berubah rasa menjadi dingin ketika mengecup dahi Mama.
__ADS_1
Ammar melepas kecupan tersebut, lantas mensejajarkan wajah mereka kembali.
"Mah, tidur?" yang ditanya tetap memejam tidak memberi reaksi atau respon seperti di awal mereka bertemu.
"Mah ..." wajah Ammar mulai tegang.
Melotot tajam sampai iris matanya mau terhempas keluar. Tidak terasa lagi hembusan napas Mama walau lemah. Mama menutup mata dengan garis bibir tertarik ke atas. Wanita itu mengembang senyuman tipis dari pusara wajahnya yang sangat putih.
"Mah! Jangan tinggalin Adek, Mah! Jangan sekarang, Mah! Jangan!!!" Ammar menggoyang-goyangkan bahu Mama.
"Kita pulang aja yuk, Mah. Nanti Adek sendiri yang akan jagain Mama."
Bersamaan dengan itu, bunyi ritme jantung Mama dari alat ventilator sudah berbunyi datar dan garis di monitor sudah menggambarkan garis lurus horizontal.
That's Over.
Ammar terus berusaha membangunkan Mama Alika yang napasnya sudah tidak ada. Entah sejak kapan roh nya dicabut oleh Malaikat yang sudah menunggu perintah dari Sang Maha Kuasa.
"Ahhhhh!!!! MAMA!!" teriak Ammar.
"BANGUN, MAH! BANGUN!!"
Ammar melepas sungkup oksigen yang masih terpasang di hidung Mamanya, lantas membuangnya kasar. Kemudian melepas molekul-molekul kecil berwarna yang hinggap di dada Mama Alika. Ammar mencabut selang infus yang tertancap di punggung tangan wanita itu.
"Mama ikut sama Adek ya, Mah. Adek pasti sembuhin Mama." ucapnya kepada Mama yang wajahnya berangsur membiru, kaku dan dingin. Dan sebelum ada orang yang datang, atau Perawat dan Dokter yang akan mencekal aksinya. Buru-buru Ammar menggendong Mamanya untuk dibawa keluar dari ruangan ini.
Ammar menolak argumen aslinya, kalau sang Mama saat ini sudah tiada. Sudah kembali kepangkuan Allah.
Angin berhembus kencang, labirin langsung menggelap. Mendadak dirinya seperti masuk ke dalam masa-masa di saat dirinya sedang batita.
Dalam bayangan itu Ammar dapat melihat jelas, ketika Mama, Papa dan Maura mendekap dirinya penuh kasih. Ammar bisa menilik dirinya yang tengah tertawa-tawa dalam kerenyahan tawa gembira yang tersembur lepas dari wajah keluarganya.
"Mah ... Pah ... Kak." serunya ke dalam bayangan itu, sambil menggendong Mama yang sudah tidak bernyawa.
"Adek ayo sini, Nak." Papa dan Mama seraya memanggil-manggil dirinya dalam bayangan tersebut.
Ammar batita yang sangat lucu sedang melangkah tertatah-tatah untuk menghampiri kedua orang tuanya yang sedang bersiap menangkap dan memeluk tubuh kecil itu.
Ammar menangis. Rasanya karbon dioksida mulai masuk ke dalam rongga paru-parunya tanpa penghalang.
Sesak dadanya, di iringi tatapan mata yang mulai menggelap. Tubuhnya berangsur lemas tidak mempunyai daya. Ammar terhuyung jatuh dengan tubuh Mama yang masih ia gendong dalam dekapan.
Dan.
Brug.
"Om... Om!!!"
"Om ... Bangun, Om!"
"Jangan tidur di mushola! Ayo kita ke Nenek lagi." seru Bisma dan Dipta.
Dua keponakan lelakinya itu tetap mengekor kemana Omnya melangkah. Walau Sang Bunda baru saja menampar Om nya berkali-kali tanpa ampun.
Ammar membuka kelopak matanya paksa. Menatap lurus langit-langit mushola dengan napas terengah-engah.
"Astaghfirullah ... alhamdulillah hanya mimpi."
***
__ADS_1
π’π’