
Karena hanya doa yang mampu melembutkan hati yang keras layaknya karang di lautan.
Untuk pertama kalinya setelah enam tahun berlalu, Ammar kembali bersujud di atas sajadah. Melakukan gerakan shalat yang sama sekali tidak terlupa.
Dan, untuk pertama kalinya setelah tiga bulan menikah. Ammar mengajak Ganaya untuk shalat berjamaah. Awalnya ia ragu dan takut kalau bacaan shalat ada yang salah dan terlewat.
Tapi, niatnya sudah bulat. Ia menginginkan Gana untuk tetap berada di hidupnya. Maka di saat Gana mau menjadi makmum nya, Ammar harus tetap mengajaknya shalat bersama.
Allah ada ... Allah akan menolongnya, batin Ammar menyeruak.
Saat ini Gana dan Ammar sudah berada di kamar utama mereka. Gana berdiri dibelakang Ammar dan mengikuti gerakan dan bacaan yang Ammar suarakan. Jauh di sudut hati Gana, ia merasa senang. Bisa shalat berjamaah dengan suami adalah cita-citanya jika sudah menikah. Walau sejatinya Ammar belum menempati ruang di hatinya.
Lelaki itu melantunkan surah dengan suara yang merdu. Gana takjub, ia malah tidak konsen ketika menjalani shalat, tidak tahu kalau Ammar pintar mengaji.
Keluarga Bilmar Artanegara, memang pintar mengaji. Mama Alika, Papa Bilmar dan Maura. Ammar pun sama, ia juga mengikuti jejak keluarganya. Hanya saja dia sendiri yang salah arah. Selama enam tahun ini, Ammar berhasil mencoreng nama orang tuanya yang sudah bergelar Haji dan Hajah.
Tubuh Ammar bergetar ketika sedang berdiri membacakan surah Al-Fatihah. Sampai mereka berdua sedikit menyerengit dalam gerakan shalat, karena langsung turun hujan dengan halilintar yang saling beradu di pertengahan awan yang gelap.
Drr.
Petir menggelegar. Halaman rumah tersapu hujan deras.
Drr.
Petir kembali mengaung serta diiringi cahaya kilat. Ammar dan Gana tetap meneruskan shalat Isya.
Hati Ammar berdebar tidak karuan. Mengapa suasana malam ini mendadak seperti ini? Dengan kemauan dan tekad yang besar. Dan akhirnya Ammar mampu menyelesaikan shalat berjamaah dengan istri tercintanya, tanpa kesalahan sama sekali.
"Assalammualaikum ... " Ammar mengiring.
Gana mengikuti. "Assalammualaikum ..."
Ammar menoleh dengan baju koko berwarna putih, kopiah dan sarung yang menggeluti tubuhnya.
Dibalik mukena yang diberikan sebagai seserahan oleh Ammar, Gana menatap suaminya dengan padangan yang berbeda. Lagi-lagi ia takjub.
"Kemana Ammar yang dulu?" Gana seperti sedang menatap bayi yang baru lahir. Ammar kembali suci dalam taubatnya.
__ADS_1
"Sayang ..."
Gana menggeleng kepala samar ketika sang suami memanggilnya. Ammar menyodorkan tangan yang sejak tadi menggantung di udara, buru-buru Gana meraih dan menciumnya. Ketika mengendus aroma wangi dari punggung tangan Ammar, usapan lembut di kepala Gana serta kecupan hangat begitu saja hadir.
Gana mematung dalam tundukan. Jantungnya kembali bergemuruh. Bulu-bulu halus ditengkuk nya terasa berdiri. Dirasa Ammar ingin menarik tangannya yang masih dicium Gana. Gana mendongak, mereka berdua kembali bersitatap. Ammar tersenyum dan kemudian berbalik, lelaki itu kembali menatap kiblat, berdzikir dan berdoa.
Allahumma Inni As Aluka, Bi Habibati Adhamatika, Wabi Sathwati Jalaaika An Taj'ala Mahabbatkk Fii Qalbi Putri Ganaya Hadnan Binti Galih Hadnan. Wa Antuqil Mahabbata Wal Mawad Data Fii Qalbihi Wa Aththifhu, Allaya Bi Fadhliha Yaa Kariim.
Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu, berkah wibawa ke Agungan-Mu dan amukan keluhuran-Mu. Agar engkau jadikan kecintaan didalam hati istriku, Putri Ganaya Hadnan Binti Galih Hadnan. Resapkan lah kecintaan dan kasih sayangnya terhadapku di dalam hatinya. Dan cenderungkan lah, ia padaku lewat Anugerah-Mu. Wahai Dzat Yang Mulia.
Ammar berdoa dalam hati dengan linangan air mata.
Dan yang di doakan. Hanya mematung dibelakang Ammar. Gana meremat kain mukena yang menutup dibagian dada. Dadanya seperti berdebar. Jantungnya bertalu-talu. Kedua matanya mengerjap beberapa kali.
"Aku ini kenapa, sih?" Gana mendesahkan napasnya yang mulai berat dan kacau. Doa Ammar sedang bekerja. Doa tulus suami kepada istri yang di ridhoi nya akan langsung di Aamiin 'kan oleh para Malaikat. Apalagi di saat hujan, waktu yang sangat mujarab untuk bermunajat.
Drr.
Kilat dan guntur kembali beradu. Hujan yang turun semakin deras. Seperti tengah meng amin kan doa lelaki yang sedang duduk menyila diatas sajadah, dengan mata terpejam yang tak lepas mengucap doa itu berulang kali dalam batinnya. Ia terus menyebut-nyebut nama istrinya dalam doa.
"Berikan hati istriku hanya untukku, Ya Allah."
Drr.
DEG.
Hati Gana seketika plong, sisa kadar cinta yang kemarin masih tersemat sedikit untuk Adri seakan langsung pupus dan sirna sekarang.
****
Shalat Isya sudah selesai. Mereka berdua kemudian bangkit berdiri. Ammar menoleh ke arah Gana yang sedang melepas kain mukena di tubuhnya.
"Tidur bersamaku ya, di sini." pinta Ammar. Suara lelaki itu begitu halus dan tatapan Ammar sangat meneduhkan. Gana kembali melamun dengan ritme dada yang belum berhenti bergetar.
Gana menggeleng. Ammar hanya tersenyum. Ia tahu, ini baru langkah awal. Mungkin doanya sedang bekerja, Ammar terus berfikir positif.
"Aku tidur duluan ya." ucap Gana tanpa menunggu jawaban dari suaminya.
__ADS_1
"Iya sayang ..." Ammar menjawab untuk mengantar kepergian Gana.
Gana terus melenggang jalan keluar kamar untuk kembali ke kamar tamu.
Ammar memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Ia merangkak ke atas kasur setelah melepas baju koko, sarung dan kopiah yang sudah ia letakan kembali di tempatnya.
Lelaki itu menyandarkan tubuh di punggung ranjang. Melamun menatap sudut kamar. Mengusap dada pelan dan tersenyum.
"Mengapa rasanya sangat menyejukkan?" gumamnya.
Sedang asyik dalam euforia yang membahagiakan, Ammar menoleh ke arah pintu. Ia tersenyum bahagia tak kala Gana kembali datang sambil membawa guling kesayangannya. Guling kecil berwarna kuning bergambar Spongesbobs.
Gana melangkah dengan wajah tertunduk, sepertinya ia malu menjilat ludahnya sendiri. Belum ada lima menit menolak tidur bersama, kini kakinya telah berkhianat dengan bibirnya.
"Aku tidur di sini." ucap Gana pelan. Ia merangkak naik ke atas kasur.
"Ayo sayang sini ..." Ammar menepuk bagian kosong di sebelahnya. Mengatur tata letak bantal untuk Gana.
Gana berbaring tapi memunggungi Ammar. Ia masih malu. "Lampunya jangan lupa matikan."
Ammar mengangguk dengan genangan air yang kembali bergerumun di pelupuk matanya.
"Ini 'kah secuil jawaban dari-Mu, Ya Allah? Begitu cepatnya sudah bekerja." perubahan Gana membuat Ammar semakin yakin dalam doanya.
Ia semakin ingin bertaubat. Kilat di wajah Ammar terus saja bersinar, apalagi jika ia tahu, hati istrinya tengah berdebar-debar tidak karuan sekarang, dan bayangan Adri sudah menghilang. Ammar pasti akan semakin bersujud syukur.
Teruslah melangkah untuk menapaki jalan yang terjal, tajam dan berliku agar bisa menembus hati istrimu. Sematkan selalu Allah dalam perjuanganmu. Bersemangatlah, Ini adalah awal bagimu, Ammar.
Ammar mengangguk semangat, ketika bisikan entah dari mana terus menguatkan hati dan fikirannya.
"Besok aku akan menemui Farhan."
Semoga saja pertemuan dengan Farhan, tidak akan membuat dirinya dan Gana tercebur dalam malapetaka yang berkepanjangan.
***
Like dan Komennya buat Adek🌺
__ADS_1