
"Mah ...."
"Iya, Nak." jawab Gana ketika Adela dalam pejaman mata terus mengulang-ngulang, memanggil namanya.
Sekarang, anak itu sudah setengah terlelap dalam dekapan Gana di ranjang. Menemaninya tidur, mengelus-elus dan sesekali melantunkan lagu kesukaan Adela.
Saat Ammar dan ketiga Kakaknya ingin mendekat, Adela menggeleng tidak mau. Melihat hal itu, membuat Gana menitah suami dan ke empat anaknya yang lain, untuk makan duluan. Mereka tidak diizinkan untuk menganggu kebersamaan dirinya dengan Mahika sekarang. Membuat Ammar, Taya, Rora dan Aidan akhirnya berlalu dengan tatapan sedih.
Sebagai Mama. Wanita yang mengandung, melahirkan dan membesarkan. Gana seolah tahu apa yang tengah anaknya rasakan, walau si keriting tidak bercerita apapun kepadanya, tentang suasana hatinya sekarang.
"Mah ...." Mahika terus memanggil Gana. Ia takut di tinggal.
"Mama di sini, Nak. Sama kamu."
"Mah, tanan pelgi, ya ... di tinih ajah cama akuh!" pinta Mahika dengan suara parau. Ia meremat kain daster di perut Gana. Kuat sekali.
Gana mengecup pipi anaknya, makin merekatkan pelukannya. "Iya, Sayang. Mama di sini sama Adel."
"Mah, nanih main, ya, Mah." Adel mengulangi.
"Iya, Nak."
Setelah di rasa hati nya mulai lega. Adela benar-benar mulai terbang ke alam mimpi. Hembusan napas dari mulutnya kentara. Sesekali Gana mencoba merapatkan bibirnya yang terlihat menganga.
Gana termenung. Ia serasa baru sadar, kalau dirinya sebagai Mama masih belum bisa sepenuhnya memberikan kasih sayang secara utuh kepada ke lima anaknya dan satu bayi besar yang tidak mau kalah, Ammar.
"Akan ada yang kecewa. Merasa kurang di sayang dan merasa tidak di perhatikan. Resiko punya anak banyak dan umur yang tidak terlalu jauh. Ya Allah ...." desah Gana dalam keheningan. Melihat Adela seperti ini, ia tahu anaknya itu merasa kurang di perhatikan.
Bukan ia menolak atas garis hidup yang Allah berikan, ia pun senang mendapatkan anak banyak. Anak adalah anugerah, di mana tidak semua pasangan suami istri dapat berbahagia seperti dirinya dan Ammar. Hanya saja, Gana merasa belum maksimal.
Padahal demi keluarga, ia rela mengabdikan diri hanya di rumah. Mengurus anak dan suami. Meninggalkan jabatannya sebagai direktur di perusahaan. Jangan kan kumpul bersama teman, kadang ia sampai lupa mandi karena terlalu sibuk mengurus anak. Padahal di rumah ini sudah ada art. Namun, tetap saja terasa kurang.
Baru ingin memejam mata, karena sudah satu jam menunggui Adela. Gana kembali membuka cepat, manakala ada telapak tangan muncul memeluk perutnya dari belakang.
"Abang ...."
"Hem."
Ammar berbaring mendekapnya dan Adela.
"Abang sudah selesai makan? Anak-anak lagi apa?"
"Sudah, Dek. Anak-anak lagi nonton tivi sambil jagain Alda."
"Adel tadi cerita nggak? Kenapa bisa sembunyi di kolong ranjang?" Ammar yakin, satu jam Gana sudah menemani Adel di sini, anak itu pasti sudah banyak bercerita.
Gana menggeleng dan Ammar melongo. Nyatanya, terkaan dirinya salah. Gana menghela napas panjang, sambil memunggungi suaminya, ia bertutur lagi.
"Aku merasa, sebagai Mama sepertinya kurang maksimal memberikan perhatianku kepada anak-anak. Terutama kepada Adel. Karena Alda masih kecil, fokus ku selalu ke dia." Gana mulai jujur. "Melihat pertumbuhan Alda yang agak berbeda dengan yang lain, membuat aku selalu berpikir buruk dan ekstra memperhatikannya."
__ADS_1
Ammar hening. Ia tetap menghormati apa yang ingin istrinya luapkan sekarang. Karena istri memang butuh di dengarkan.
"Sudah seminggu ini. Adel meminta aku menemaninya main jika siang. Tapi 'kan Abang tau kalau seminggu ini juga Alda selalu rewel tiap malam. Membuat kita berdua begadang.
Maka siang, aku pergunakan untuk tidur, karena Alda juga akan tidur. Dan sorenya aku harus bergegas masak. Serta malamnya, harus menemani Kakak-kakaknya belajar. Sekarang aku baru sadar, kalau Adel kesepian. Dia cemburu." Gana menitikan air mata. Ia usap kepala Adel yang masih memeluknya.
Bola mata Ammar pun memerah. Dadanya bergetar. Ia pun merasa bersalah.
"Pah, main, yuk."
"Sebentar, ya, Nak. Papa lagi repot 'nih."
Ammar terbayang saat Adela membawa mainan ke ruang kerjanya. Di mana saat itu Ammar masih fokus menatap laptop. Bersamaan pula Gana sedang menemani triple A belajar. Adela pun keluar dari kamar dengan raut sedih.
"Anak ini tidak sekuat Kakak-kakaknya." ucap Gana terisak sambil mengelus kepala Adel. Ammar mengangguk, mengiyakan keluhan istrinya.
"Belum lagi minggu depan, Kakak, Aidan, Taya akan ujian sekolah. Aku pasti harus fokus mengawasi mereka belajar, Bang."
Ammar menghela napas panjang. Memijat pangkal dahinya karena pening memikirkan masalah ini. Di kantor sedang banyak-banyaknya pekerjaan. Banyak tender yang sudah ia menangkan dengan susah payah. Pulang nya saja selalu malam. Ia tidak akan mungkin bisa menemani anaknya bermain atau belajar. Dan di saat hari libur, ia malah memilih dengan hewan peliharaan dan game.
Melihat Adel yang seperti ini, ia merasa tertampar. Tidak becus menjadi orang tua. Maka dirinya berjanji akan memangkas pekerjaannya menjadi lebih cepat. Agar bisa membawa anak-anaknya liburan setelah ujian sekolah.
"Memberikan pengertian kepada Adel yang belum mengerti, seperti halnya memaku di kayu yang sudah rapuh. Adel tetap tidak akan bisa menerima. Yang ia tahu, aku dan kamu sudah tidak mencintainya lagi, hanya mementingkan Kakak-kakaknya saja. Karena kita berdua masih sama-sama sibuk untuk sekarang-sekarang."
"Lalu bagaimana, Bang? Kasian anak kita. Mentalnya jadi terganggu."
"Jangan, Bang!" selak Gana.
"Kenapa?"
"Kasian Kak Maura. Habis sakit 'kan. Adel kan gesit. Mau nya main terus. Nanti ganggu."
Maura memang habis di rawat pasca demam berdarah. Wanita itu masih butuh bedrest yang cukup. Kelima anaknya pun sudah besar-besar tidak akan mungkin mau di ajak main boneka-bonekaan berdama Adel.
...🌾🌾🌾...
"Anakku lagi apa, Dek? Adel sudah makan belum?" tanya Gana di sambungan telepon.
Saat ini Gana tengah duduk melantai bersama keempat anaknya di karpet ruang televisi. Menemani Taya, Rora dan Aidan tengah belajar untuk menghadapi ujian yang sudah berlangsung selama empat hari.
"Lagi main, Kak. Sama Ratu. Sudah makan 'kok." jawab Gelfani di seberang sana.
Dengan berat hati, Adela di ungsikan dulu sampai seminggu di sana. Kebetulan Gelfa masih mempunyai anak kecil walau umurnya lebih tua setahun dari Adela. Dan sangat bisa di ajak untuk bermain. Malah bagi Adela, Ratu amat menyenangkan di banding Kakak-Kakaknya di rumah.
"Aku mau ngomong sama Adel, Dek."
Terdengar Gelfa memanggil Adel. Namun yang di panggil tidak kunjung mendekat. Masih tertawa-tawa dengan Ratu di lantai dua.
"Bentar, ya, Kak. Aku hampiri dulu."
__ADS_1
"Iya."
Gana menunggu sampai mendengar suara anaknya yang ia rindukan. Bersamaan dengan itu, Ammar baru sampai di rumah sehabis bekerja. Ia menghampiri istri dan anak-anaknya yang tengah belajar. Triple A bangkit untuk mencium punggung tangan Ammar. Dengan masih berpakaian kerja, Ammar menghempaskan bokong di sebelah Gana.
"Gimana tadi ujiannya? Susah enggak?" tanya Ammar bergantian kepada triple A. Dan mereka bergantian menjawab gampang-gampang susah.
"Abang mau makan?" tanya Gana dengan ponsel masih mengatung di udara.
"Nanti aja. Kamu lagi telepon siapa?" tanyanya sambil meraih Alda dari pangkuan Gana. Ia mendekap Alda dan menciuminya untuk melepas penat.
"Lagi telepon Gelfa, mau ngomong sama Adel. Dari siang anak itu susah sekali di ajak teleponan. Enggak mau katanya." Ammar tatap manik mata istri nya yang tengah berkaca-kaca.
Ammar hening. Ia juga sama, tadi siang saat menelepon Gelfa karena ingin berbicara dengan Adela. Si keriting juga menolak, katanya ia sedang bermain.
Ammar mengelus bahu istrinya seraya menguatkan. Pun sama dengan triple A. Mereka memandang sendu Gana. Pasalnya, mereka juga rindu adiknya. Adel memang berisik. Banyak bicara, cerewet dan banyak bertanya kadang membuat mereka malas untuk menjawab.
Tapi, sekarang? Rumah seakan sepi tanpanya. Taya, Rora dan Aidan merindukan Adela. Begitu juga dengan Alda, sesekali ia berteriak manggil nama Adela walau dengan sebutan belum jelas. Seakan tahu, anak keriting yang selalu mengganggunya saat tidur, sedang tidak ada. Sedih sekali ternyata.
"Adek 'nih Mama mau ngomong." semua bisa mendengar ketika langkah Gelfa sudah sampai di hadapan Adela dan Ratu. Ponsel di loud speaker, agar Ammar dan triple A bisa juga berbicara dengan Mahika Nadela.
"Nanih aja 'ah. Akuh lagihh main ...."
Di sini semua menghela napas sedih saat Adela menolak. Berbeda dengan Adela saat ini, anak keriting itu sedang tertawa-tawa, terdengar juga ada suara Fadil dan Raja yang ikut nimbrung bermain bersama Adel dan Ratu.
"Bilangin, Dek. Mama sama Papa nya mau ngomong." Gana memaksa Adiknya.
"Kita juga, Mah. Mau ngomong sama Adek." sambung triple A.
Gelfa pun mengiyakan. Ia mencoba lagi memaksa Adela untuk mau dulu menerima telepon dari Mamanya.
"Dek, ini Mama, Papa dan Kakak mau ngmong sama kamu. Mainnya nanti dulu." titah Gelfa. Ia menempelkan lagi ponsel itu di telinga Adela. Dan anak itu menolak lagi.
"Nanih ajah 'an ante! Akuh ndak mau." Adela masih sibuk menata rumah-rumahan barbie bersama Ratu.
DEG.
Lagi-lagi Gana dan Ammar tersentak. Anaknya sendiri tidak mau sama sekali berbicara dengan mereka. Adela sudah kepalang asik di sana. Seperti sudah mendapatkan apa yang tidak ia temukan di rumah ini.
Hiks ... Hiks.
Isak tangis Gana pecah. Saat sambungan telepon itu berakhir. Adela tetap tidak mau bicara walau Gelfa sudah memaksa.
"Mah ...." Alda ikut menangis dalam dekapan Ammar saat melihat Mamanya menangis. Yang ia tahu Mamanya hanya sedang sedih.
"Besok kita kesana, kita jemput Adel." Ammar memutuskan. Ia mendekap Gana dan Alda yang sama-sama masih menangis. Taya, Rora dan Aidan pun sama. Memikirkan Adela di sana, mereka jadi tidak konsen belajar. Menutup buku dan beringsut mendekati Gana.
"Sabar, ya, Mah. Kita juga kangen, Adek." ucap Rora mewakili. Sampai di sini triple A paham, kalau Adela merasa tersisihkan selama ini dari keluarga. Dan seakan melupakan keluarga, ketika mendapatkan kebahagiaan yang ia inginkan.
...🌾🌾🌾...
__ADS_1