
"Uluh-uluh, jagoan Mama. Nguap terus nih." ucap Gana sambil menyentuh bibir Aidan yang terus terbuka untuk mengeluarkan hembusan uap. Bayi itu saat ini sedang ia pangku dengan keadaan bertelanjang dada menghadap matahari pagi. Terlihat Aidan yang baru ia lahirkan dua hari itu terus bergeliat, mengepalkan tangan menutupi wajahnya.
Dengan jari-jemari Gana, ia sentuh setiap lekukkan wajah Aidan. "Matanya mirip Papa. Hidungnya mirip Papa, mulutnya juga, keseluruhan juga mirip Papa." Gana mendesahkan napas sambil melirik ke arah suaminya yang sedang mengejar-ngejar Aurora yang tengah disuapi bubur.
"Kakak juga wajahnya mirip Papa. Kok aneh ya, enggak ada yang mirip ke Mama. Padahal Mama yang lahirin ..." kekeh nya.
Terdengar gelak tawa Aurora menggema di udara segar pagi ini.
"Hahaha ... cini cini, Papa kejal yoyaa." seru Aurora yang sedang mengemut bubur tapi terus berlari-lari kesana kemari. Ia bermain dengan pino dan kino di semak-semak.
Ammar yang sabar hanya bisa mengikuti kemanapun anaknya berlari. Padahal ia sudah menyuapi Aurora sejam, sebelum Gana menjemur Aidan. Sesekali mengusap peluh di dahi dan mengaduk-aduk bubur dimangkuk dengan wajah termenung. Ia masih memikirkan Mamanya yang sudah dua hari ini tidak bisa di hubungi.
Ada apakah?
Ammar sudah menghubungi Bima dan Denis. Dan mereka bilang kalau Kakek Luky sedang jatuh sakit. Ia berfikir, mungkin Mamanya sedang fokus menjaga sang Kakek. Ammar pun jadi tidak tenang, selain memikirkan Mama. Dirinya pun memikirkan lelaki tua renta tersebut.
"Bagaimana ya keadaan Kakek sekarang?" batinnya.
"Abang!" panggil Gana dengan lambaian tangan. Ammar mendongak dan meninggikan alisnya. "Kenapa sayang?" tanyanya dari kejauhan.
"Sini, Bang!" Gana tetap memaksa agar Ammar tetap datang menghampirinya.
Melihat Rora masih sibuk dengan rumput-rumput yang ia masukan kedalam mulut pino dan kino, Ammar bergegas untuk mendekati Gana yang terus memanggilnya.
Ammar duduk disebelah Gana. Di kursi rotan panjang.
"Kenapa, Dek?"
"Abang yang kenapa?"
Bola mata Ammar melebar. "Abang?" Ammar menunjuk dirinya sendiri.
Gana mengangguk. "Abang tuh lagi kenapa? Dari kemarin diam aja, enggak kayak biasanya."
Insting seorang istri tidak akan pernah salah ketika menerka sesuatu yang berbeda dari gelagat suami.
"Abang sakit? Capek? Atau kenapa?" Gana terus saja mencecar. Ia tilik wajah Ammar lalu meletakan telapak tangan di kulit leher suaminya, untuk bisa merasakan suhu akral dari tubuh lelaki itu. "Agak hangat, Bang. Abang nih pasti capek deh. Terus di tahan."
Ammar hanya tersenyum menatap cintanya. Kecerewetan Gana memang mood booster untuk hatinya yang sedang gelisah.
Ammar mencium pipi gembil Gana yang sudah belepotan bedak dingin. Ia letakan mangkuk bubur itu di sisi sebelahnya. Lantas mengalungkan kedua tangan di leher Gana. Ammar memeluk istrinya dari samping.
"Terus begini, Mah. Papa butuh kecerewetan Mama setiap hari. Papa butuh support Mama. Mama juga enggak perlu tanya terus kenapa dan kenapa. Karena Papa baik-baik aja." ucap Ammar dengan mata terpejam. Lelaki itu berdalih. Memeluk Gana seperti ini, membuat dadanya yang sejak kemarin berdegup aneh mulai sedikit lega.
Seakan tidak mau memaksa. Gana akhirnya mengiyakan saja. Ia faham, sejatinya suami dan istri juga mempunyai privasi yang harus kita hargai. Tidak pernah terbesit didalam kepalanya, mencurigai Ammar dengan hal yang macam-macam. Karena hati Gana tenang-tenang saja. Ia hanya sedikit khawatir kalau Ammar sudah murung.
Gana tertawa pelan. "Iya sayangku." Gana mengecup dahi suaminya. Entah sejak kapan datangnya, Rora juga langsung mendekap Mamanya dari sisi berlawanan Ammar. Anak cerewet yang melebihi Mamanya itu, memeluk Gana seperti Papanya.
"Atu tapek ah, Mah. Pino tama Kino nya nakall ih. Layi-layi teyus." Rora menunjuk dua kucing peliharaan Mamanya yang sedang tidur-tiduran di pekarangan rumah.
Ammar membuka mata lalu menggoda. "Iya, nakalnya kayak Kakak." Papanya menjulurkan lidah.
Aurora tertawa-tawa. Tangannya mengulur kedepan seraya ingin mencabut lidah Ammar yang terus terjulur menggodanya. Ammar terus menggoda dibalik tubuh istrinya.
__ADS_1
"Tuh kan enggak bisa diem!" decak Gana kepada Rora dan suaminya. Sesaat Aidan malah menangis. Mau tidak mau wanita bersarung itu beranjak berdiri dan menggendong-gendong Aidan.
"Cup-cup, Nak. Sayangnya Mama. Gantengnya Mama."
🌺🌺🌺🌺
Pasca dua hari melahirkan secara normal. Gana sudah bisa melakukan pekerjaan rumah walau belum menjangkau pekerjaan yang berat-berat. Mencuci pakaian, masih Ammar yang kerjakan.
Wanita itu kembali bergulat di dapur untuk memasak. Rora dan Ammar tetap butuh makan. Kalau mau beli makanan matang yang sesuai selera harus menempuh perjalanan lama ke bibir laut. Karena disekitar kampung, orang-orang di pulau ini hanya menjual makanan khas mereka. Ammar dan Gana tidak masuk dengan selera orang di sini.
Tuk.
Sebuah piring berisi telur dadar tebal yang berisikan kornet, irisan kentang tipis dan daun bawang, Gana letakan di pertengahan meja makan. Di susul dengan tumisan capcay seafood sebagai pendampingnya. Sufor di dalam botol dot Rora juga sudah siap.
"Selesai juga. Lumayan cuman sejam." ia bangga pada dirinya. Karena sudah kembali lincah dan bisa memasak makanan kesukaan suami dan anaknya.
Lantas dirinya bergegas masuk ke dalam kamar. Duduk di tepi ranjang. Ia tatap wajah Ammar yang sedang memeluk Aurora dalam dadanya. Dan disebelahnya ada Aidan yang masih nyenyak di kasurnya bertutupkan kelambu.
Hembusan angin dari mulut Ammar menyapu poni Aurora. "Romantis banget sih bobonya. Saling peluk gini." Gana mendekati wajah mereka. Dan mengecupnya bergantian. "Kembar kesayangan." tuturnya lagi.
Muach.
Muach.
Keduanya bergeliat saat Gana berhasil melabuhkan beberapa kecupan di pipi mereka.
"Bangun yuk sayang-sayangnya Mama."
Ammar lebih dulu mengerjap mata dan menemukan bola mata istrinya yang sedang lekat menatapnya. "Jam berapa, Dek?"
"Kenapa Adek masak? Kan Abang bisa beli keluar. Kamu enggak boleh capek dulu."
"Malah harus dibawa gerak, Bang. Lagian juga udah enakan. Adek udah segar."
Ammar mengangguk percaya dan melepas pelukannya dari Aurora setelah mencium kening anak gendut itu.
Ammar memijat kepalanya sebentar. "Pusing, Bang?" tanya Gana. Ia meraih pelipis Ammar untuk di pijat pelan-pelan.
Ammar menikmati, kembali memejam mata.
"Sedikit. Karena habis bangun tidur aja." buru-buru menepis kegelisahan yang mulai muncul di wajah istrinya.
"Abang enggak apa-apa. Pening biasa aja." kembali menekankan hal itu. Ia tahu Gana pasti kembali mencecar, dan Ammar paling tidak suka berdebat saat bangun tidur.
Gana menghentikan pijatannya. "Beneran? Kalau pusing, Adek ambilin obat di warung."
Ammar menggeleng. "Enggak usah, Dek." kemudian Ammar bangkit dari ranjang. Ia menuju ke belakang untuk mandi.
Gana menghela napas. Bola matanya berpendar kesana kemari seraya berfikir. Lalu mengusap dada, seraya terasa ada sesuatu ganjalan yang tengah muncul. Jantungnya bertalu-talu. "Kenapa ya? Kok jadi deg-degan kayak begini?" desahnya.
Tapi buru-buru ia tepis. Ia baru saja melahirkan, dan kata Bidan Nia. Gana harus selalu rileks, tidak boleh banyak fikiran. Harus santai, enjoy dan bahagia. Agar tanda-tanda terjangkitnya baby blues, tidak hinggap di dalam tubuhnya.
🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Gana menyeka hordeng yang ada di ambang pintu kamarnya. Ia melihat keluar. Terlihat Ammar sudah duduk di meja makan selepas menunaikan shalat Magrib dan Isya di Masjid.
Lelaki itu melepas peci dan sarung yang ia letakan di kursi kosong sebelahnya. Biasanya Ammar akan memanggil Gana untuk menghampirinya ke meja makan. Tapi aneh, lelaki ini diam saja. Termenung cukup lama.
"Tuh kan melamun lagi. Abang tuh kenapa ya?" tanyanya sendiri sambil menatap punggung Ammar. Kemudian ia melangkah keluar menghampiri suaminya yang masih membisu.
"Mau makan sekarang, Sayang?" pangkal bahu Ammar menyerengit saat mendapati usapan lembut dari istrinya di bagian itu. Ammar menimpa tangan Gana dan mengelusnya.
"Iya, Dek." jawabnya dengan senyum yang di kuat-kuatkan untuk timbul.
"Rora belum bangun?"
Gana yang mulai bergegas menuangkan nasi dipiring suaminya menjawab. "Tadi habis mandi, minta susu. Terus tidur lagi."
Ammar mengangguk. "Kalau Eyden?"
"Tadi pas Abang pergi ke masjid. Dedek nangis, pas dilihat pup. Tapi sekarang udah tidur lagi."
Ammar mengangguk lagi dengan wajah datar. Walau rasa didalam tubuhnya terasa berat seolah tengah memanggul beban berat, ia tetap menanyakan perihal anak-anaknya.
Gana pun sebagai istri merasakan perbedaan pada sang suami. Tapi ia bingung untuk mencecar Ammar agar bercerita terus terang padanya. Lelaki itu selalu berkata tidak sedang kenapa-napa. Dan Gana tidak mau hal tersebut memancing keributan.
Karena listrik sudah menyalah. Ammar bangkit sebentar dari kursi untuk menyalahkan televisi. Kebiasaan dirinya kalau sedang makan malam sambil menonton acara berita.
Walau ia jauh dan bersembunyi. Ia tetap saja tahu bagaimana perkembangan dunia bisnis yang pernah ia geluti beberapa tahun lalu. Ia juga sering melihat Mahendra, Alex, Farhan, Gemma atau Gifali wara-wiri di televisi, saat wartawan mewancarai mereka dalam berbagai kesempatan yang diliput media.
Ammar kembali duduk dengan tenang di sebelah kursi Gana. Dan sesaat ia ingin memasukan sendok berisi nasi kedalam mulutnya.
Bola mata lelaki itu membeliak sempurna, sejurus menatap pembawa berita sedang berbicara.
Innalilahi Wainnailahi Raji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah seorang pengusaha hebat di tanah air. Pendiri Artanegara corp, Luky Artanegara. Satu jam lalu karena sakit yang dideritanya. Saat ini semua sanak keluarga sudah berkumpul di kediamannya.
"Bang? Abang kenapa, Bang? ABANG!!" seru Gana saat melihat suaminya dengan mata melotot ke arah televisi, memegangi dada dengan napas termegap-megap. Seperti sedang melihat Malaikat pencabut nyawa yang tengah berdiri dihadapannya, sampai membuat dirinya histeris.
"ABANGGGG!!" Gana berteriak. Saat kursi yang di duduki Ammar terjatuh bersama empunya. Kabut gelap menutupi pandangan Ammar. Lelaki yang malang itu pun jatuh pingsan. Ammar tidak sadarkan diri.
"ABANGGGGGGGGGGG!!" Gana terus menghentak-hentak tubuh Ammar sampai lelaki itu kembali mengerjap. Beberapa menit kemudian Ammar membuka kelopak matanya lemah. Memandang atap rumah, seraya mendapati bayangan masa kecilnya dulu.
"Adek itu anak lelaki harus berani. Masa ke kamar mandi saja takut, minta di antar Kakak terus tiap malam. Tidak boleh seperti itu terus!"
"Kamu harus menjadi lelaki yang berani. Bisa mengalahkan lawan atau musuh. Mama dan Papamu saja berani dan jago beladiri."
"Gimana bisa pegang pistol kalau sudah dewasa, kalau kecilnya saja penakut seperti ini."
Kedua mata Ammar membelalak. "Apa itu pistol, Kek?"
Kakek Luky tersenyum. "Nanti kalau sudah kuliah akan Kakek kasih tau, seperti dulu Kakek mengajari Papamu."
Si anak lelaki tampan berumur delapan tahun, berambut hitam tebal berponi seperti tokoh Sadam di film petualangan Sherina, hanya menggangguk-angguk saja. Tangannya terus digandeng oleh Kakeknya sampai ke dalam kamar dan kembali naik ke ranjang, dan melanjutkan tidur.
"Kalau mau pipis lagi, bangunin Kakek aja ya." titah Kakek Luky sambil menaikan selimut ke pertengahan perut cucunya.
🌺🌺🌺🌺bersambung🌺🌺🌺
__ADS_1
Sabar Ammar💔💔