Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Tolonglah Untuk Setia.


__ADS_3

Setelah cincin daimond yang ia beli, tersemat di jari manis Ganaya. Semenjak itulah, dengan telak Ammar memutuskan bahwa wanita itu hanya miliknya. Wanita yang akan bersamanya sampai akhir hayat. Tidak ada yang boleh menyentuh atau mencintai Gana, selain dirinya.


"Ba---pak, enggak apa-apa?" tanya Denis tergagap. Ada masalah apa lagi pekiknya. Kenapa sih, Presdirnya ini selalu saja dalam masalah?


Ammar mendesah napas kesal, seiring gerakan dadanya yang naik turun. Lehernya serasa tercekik. Rasanya sesak sekali. Ucapan Bima menbuat Ammar termenung lama, sampai ia mengabaikan pertanyaan yang Denis lontarkan.


"Aku tau kamu belum mencintaiku! Tapi tolonglah untuk setia denganku!" batin Ammar begitu saja tersayat. Ia sampai menundukkan kepala menatap bayangannya yang penuh amarah namun getir di atas meja.


Kembali mendongakkan kepala dan menghela napas. Ingin menormalkan irama jantungnya yang terus berderap. Kemudian melangkah memutar meja. Sontak gerakan Presdirnya yang tanpa aba-aba, membuat Denis terkesiap berdiri.


"Bapak mau kemana?" tanya Denis dengan langkah ikut terburu-buru. Lelaki itu mengekor dengan sigap dibelakang Presdirnya.


Dengan cepat Ammar menekan handle pintu dan membuka pintu secara kasar.


Lalu.


Bug.


Tubuhnya langsung menghantam tubuh mungil yang mendadak tiba dihadapannya. Dengan kedua tangan yang kekar, Ammar dengan sigap meraih tubuh Ganaya agar tidak terhuyung ke bawah.


"Aww ..." Ganaya tersentak.


"Kamu enggak apa-apa 'kan? Enggak sakit?" padahal tadi Ammar sedang menahan kesal kepada wanita ini. Namun setelah melihat Gana ada di hadapannya. Rasa sebalnya seketika menghilang, terhempas bersama angin.


Ganaya dibantu untuk berdiri tegak. "Aku hanya kaget." jawab Gana sambil mengelus dada.


Tabrakan kecil mereka pun membuat beberapa bungkusan makanan yang dibawa Gana terjungkal begitu saja ke atas lantai.


"Sudah jangan! Makanan itu sudah hancur!" Ammar menghalau tangan Ganaya yang akan terjulur ke bawah untuk memungut bungkusan tersebut.


"Denis ..." seru Ammar kepada Denis.


Sang asisten yang sudah sangat tahu dan hapal tentang mimik wajah, tatapan mata bahkan seruan yang selalu Presdirnya lakukan tanpa memperjelas apa yang ia maksud. Lelaki itu faham, lantas memungut bungkusan makanan itu dan Gana masih bertahan untuk merebutnya.


"Ini masih layak untuk dimakan! Kenapa kamu terlalu gampang untuk membuang makanan, Ammar!" decak Ganaya.


Ia berhasil merampas bungkusan makanan tersebut dari tangan Denis. Lalu membuka plastik dan mengeluarkan dua kotak saji. Kemudian di sodorkan kepada Denis.

__ADS_1


"Buatmu dan Adikmu ..."


"Hah?" gumam Denis hanya dalam hati.


Tentu lelaki itu tidak berani menyanggah apalagi didepan Presdirnya. Ia tahu sekali Ganaya adalah wanita kesayangan bosnya. Lelaki itu hanya bisa diam.


Dan Ammar di buat tertawa karena hal itu. Ia sampai mencium pusaran rambut Gana saking gemasnya.


"Yang satu lagi asisten ku juga namanya Bima, sayang. Bukan Adiknya Denis."


"Oh, pantas tidak mirip. Kalian selalu berdua kemana-mana. Kerja boleh bersama, tapi jangan terlalu dekat. Mengerikan sekali kalau kalian bisa saling suka."


What? Homo 'kah yang dimaksud, Gana?


Gelak tawa Ammar seketika redup. Ia melongo tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari bibir ranum wanita itu. Begitupun Denis, si tersangka yang sedang disuduti sekarang. Bola matanya seakan ingin keluar dan mencaci Ganaya. Bulu kuduknya merinding ketika membayangkan dia dan Bima menjadi sepasang kekasih. Ck!


Lalu.


Ammar kembali terkekeh. Yang saat ini malah lebih terasa geli. Mengocok perut habis-habisan. Bima? Denis? Homo? Haha.


Ammar semakin gemas dengan wanita mungil yang akan ia nikahi minggu depan "Sudah ayo kita masuk kedalam." Ammar mendorong tubuh Gana untuk segera masuk, sampai tidak sempat memberi ruang untuk Denis agar bisa berucap kata terimakasih kepada Ganaya, karena kebaikan hatinya telah membelikan dirinya dan Bima makan siang.


Pergi, Denis ... pergi!


Melihat perlakuan Ammar kepada Ganaya dan merasakan perubahan drastis dari Ammar. Membuat Denis ingin berteriak dan salto.


"Presdir memang sudah terkena virus cinta." ia sangat hafal sekali, dengan perubahan apa yang baru saja terjadi dengan Ammar.


Padahal beberapa menit lalu, Lelaki itu marah sekali. Sampai-sampai berteriak di dalam ruangan setelah mendapat telepon dari Bima. Walau ia tidak tau apa masalahnya yang terjadi, tetapi mendengar Ammar menyebut nama wanita itu di ujung kalimat. Ia yakin pasti ada suatu masalah.


***


Berkali-kali Ganaya merampas ponsel miliknya dari genggaman tangan Ammar. Dan berkali-kali juga Ammar menariknya kembali dan mengecek apa saja yang ada di gawai milik Ganaya. Memeriksa kontak, pesan mutlimedia, sms, email dan sosmed.


"Ayo ..." titah Gana.


Ammar mengangguk dan membuka mulutnya lagi untuk menerima sodoran sendok berisi nasi yang sedang ia genggam. Ammar memang merengek ingin disuapi oleh Gana. Dan lagi-lagi wanita itu menurutinya, Gana hanya ingin cepat melupakan Adri dan mencintai Ammar. Walau secara kasarnya, Ammar hanya dijadikan sebagai pelampiasan semata.

__ADS_1


Ammar melahapnya dengan mulut yang lebar. Ia mirip seperti Ginka yang sedang disuapi oleh Maura di rumah. Rasa kesal masih saja bercokol di hatinya. Ingin sekali mendesak Ganaya untuk mengaku, ada hal apa yang membuat wanitanya ini pergi menemui lelaki itu.


Walau Ammar bisa bernapas lega, karena Ganaya tetap mendatanginya sesuai dengan janjinya di whatsaap beberapa jam lalu. Ammar tidak menemukan jawaban tentang pertemuan Gana dan Adri sesuai ucapan Bima di ponsel tersebut.


"Apa mungkin Bima salah lihat? Mungkin saja hanya mirip? Enggak mungkin lah dalam keadaan yang masih seperti ini, Gana pergi menemui Adri." lagi-lagi Dewi Fortuna menenangkan hatinya. "Awas aja kalau Bima sampai salah lihat, aku penggal kepalanya nanti!"


"Habiskan dulu makananmu, Ammar. Kalau sudah habis. Baru boleh main hape. Ayo sini, berikan padaku!" Gana mulai geram. Ia mencoba meraih ponselnya yang masih Ammar tatap dan di usap-usap oleh buku-buku jarinya.


Ammar menjauhkan tangannya, meninggi ke udara. Dan Ganaya semakin dibuat kesal karenanya.


"Balikin!!"


"Enggak ..." Ammar menggeleng dengan senyum jenaka.


"Kamu tuh ya, aku cubit nih!" Ganaya berdecak kesal. Ia meletakkan kotak saji makanan yang sejak tadi berada dipangkuan nya di atas meja. Lalu bersiap untuk menarik ponsel itu dari tangan Ammar.


"Balikin, Ammar!"


Ammar menggeleng. "Cium dulu." Ammar memajukan wajah dan mengerucutkan bibirnya.


Ganaya mendelik. Buru-buru menarik tubuh dan menjauh sampai ke sudut sofa. Ammar terus mendekat dengan gerakan merangkak, lurus menuju Ganaya.


Hampir saja bibir mereka bertemu, namun dengan cepat Ganaya memalingkan wajahnya. Dan bibir lelaki itu hanya bisa bertemu dengan pipi Ganaya.


Harum farfum yang bersarang ditubuh Ganaya membuat Ammar semakin tergoda dan penuh damba. Jari-jemarinya mulai menyingkap helaian rambut Gana yang menutupi pipi dan mengelusnya lembut. Jantung Gana berdebar. Pun sama dengan Ammar. Tubuh mereka serasa dibalut hawa yang mulai memanas. Gana sangat hafal apa yang sebentar lagi akan dilakukan Ammar.


Wanita itu memilih memejamkan kedua matanya erat. Tangannya mengepal. Hembusan napas Ammar yang segar, begitu menerpa wajahnya. Ammar semakin mendekatkan wajah seiring jari telunjuknya meraih dagu Ganaya. Agar pandangan mereka kembali bertemu.


Lalu.


Krek.


Pintu ruangan membentang lebar. Memunculkan sesosok yang sedang berdiri di bingkai pintu dengan delikan tajam penuh amarah.


"AMMAR!!"


***

__ADS_1



__ADS_2