
"Ayo mamam ...." Adela tersenyum saat Bintang menyodorkan suwiran daging ke bibirnya yang penuh dengan makanan.
"Nanih duyu, nih penuh, Kak ...," balas Adel.
Bintang mengangguk. Ia mengelap butiran nasi yang menempel di sekitar bibir Adela. "Makannya jangan berantakan dong," ucap Bintang.
Adela tertawa, mulutnya menganga memperlihatkan makanan yang tengah ia kunyah. "Kan akuh macih kecil, Kak," kilahnya sambil menghentak dada pelan.
Bintang menjawil pipi Adel. "Bisa aja ngelesnya. Maka dari kecil, dibiasain jangan berantakan kalau makan," jelasnya. Bintang memang anak yang disiplin dan selalu mengutamakan kebersihan. Ia tidak akan bisa berdekatan dengan debu.
"Ya, okeh ... okeh," jawab Adel dengan kepala mengangguk-angguk santai. Si keriting sudah tidak mengenakan hijab nya lagi sekarang karena merasa susah saat makan. Dan rambut keriting itu jadi pusat perhatian. Membuat Sebastian, anaknya Denis. Terus meledek Adela karena gemas, untung lah ada Bintang yang melototkan matanya, sehingga Sebastian tidak terlalu menjadi-jadi.
Saat ini, keluarga Ammar, Bima dan Denis tengah berada di ruangan khusus EG dengan meja panjang membentang berisikan menu makanan untuk berbuka puasa. Ruangan yang sebenarnya lega, terasa begitu sempit.
Sebagai tanda kasih akan bakti kedua asistennya yang selalu setia, Ammar menitah Gana untuk memberikan stelan baju untuk setiap anak-anak Bima dan Denis. Dan ternyata keduanya pun berbalik melakukan hal yang sama.
"Wah kerudung sama baju ... makasih, ya, Tante Yuni, Tante Anya," ucap Rora menatap mereka bergantian.
Pun dengan Aidan dan Taya yang ikut mengucapkan kata terima kasih kepada mereka.
"Ah, cepatu!" seru Adel senang. Saat Yuni memberikan paper bag kepadanya. Anak itu melongo menatap kedalam, ia temukan sepatu tali berwarna pink dengan gambar cinderela.
"Alhamdulillah dong." Bintang mengingatkan.
"Aamduyiyah." Adel mengikuti, dirinya tersenyum, lantas setelah itu mencubit pipi Bintang karena gemas. "Kakak celewet."
Bintang terkekeh geli, ia menggelitik Adel dan anak itu bergeliat manja. Kebetulan mereka berdua duduk di ujung meja.
Aidan sejak tadi menatap kerudung pemberian Anya kepada Taya. "Kenapa, Kak?" tanya Taya tiba-tiba. Mendengar hal itu Aidan pun mengerjapkan mata lantas menggeleng.
Taya kembali menyantap makanannya, dengan paper bag yang masih berdiri di pangkuannya.
Aidan lirik lagi. Rasa ingin memiliki sepertinya amat kuat. Ingin ia bilang kepada Adiknya untuk meminta. Tapi, rasanya tidak mungkin.
"Kenapa, Eyden?" tanya Bima, kebetulan ia duduk di sebelah anak itu. "Kurang suka sama bajunya?" Bima melihat Aidan menatap lama kaus yang ia lihat di dalam paper bag.
Aidan menggeleng cepat dan tersenyum. "Bagus banget, Om. Suka kok. Makasih, ya," balasnya.
__ADS_1
Bima berbalas senyum dengan anggukan kepala. Ia mengusap kepala Aidan. "Sama-sama, Nak. Dipakai, ya."
"Pasti, Om," jawab Aidan.
...๐พ๐พ๐พ...
"Ini buat aku?" tanya Nurul.
"Hem." Aidan mengangguk. Saat jam istirahat, ia memutuskan untuk mendekati Nurul yang sedang duduk sendiri di bangku paling belakang, tengah mewarnai.
Nurul tatap kerudung yang sudah ia keluarkan dari dalam paper bag. "Kamu beli ini di mana, Eyden?"
Aidan menghela napas. Ia tilik kerudung itu lekat-lekat. Tidak mungkin kan ia bilang kalau kerudung itu ia curi dari Attaya.
"Waktu aku pergi sama Mamaku, aku minta untuk membelikan kamu," balas Aidan.
Bola mata Nurul membola. "Enggak enak dong sama Mamamu ... ini pasti mahal."
"Enggak mahal 'kok," dalih Aidan. Nurul adalah anak sederhana. Ia bisa masuk ke sekolah ini karena kedua orang tuanya sangat banting tulang, ingin membuat anak-anaknya bisa sekolah di tempat yang elit. Pulang saja hanya bisa dijemput dengan ojek langganan.
"Tapi buat apa kamu belikan aku kerudung? Aku masih punya banyak kok, Eyden."
Aidan lihat ada bercak tinta pulpen di belakang kerudung Nurul yang tidak sedap di pandang dan tidak bisa hilang. Kerudung itu terus di pakai Nurul selama seminggu ini. Aidan tahu, Nurul tidak memiliki ganti. Bukan, tapi orang tua Nurul bilang akan dibelikan saat gajian. Keperluan banyak sedang banyak-banyaknya, dan Nurul mengiyakan, ia menurut dan sabar. Ia sempat memakai kerudung lain, tapi warnanya sudah menguning.
"Enggak apa-apa untuk ganti," ucapnya.
Kerudung yang diberikan Anya kepada Taya memang kerudung yang senada dengan warna seragam mereka. Bergo langsungan dengan lilitan tali di belakangnya.
"Ini miku namanya ... buat kamu aja," Taya melepas gantungan kunci dengan gambar kepala kucing anggora yang menggantung di tasnya. Sebagai ucapan terimakasih darinya.
Aidan menatap gantungan kunci itu dengan senyuman. "Makasih, ya,"
"Aku yang makasih. Salam ya buat Mamamu."
Walau di satu sisi ia sedih karena sudah jadi pencuri. Dan akan membuat luka di hati adiknya, tapi ia belai untuk Nurul.
...๐พ๐พ๐พ...
__ADS_1
Taya menangis. Semua orang berkumpul di kamarnya. "Udah di cari yang benar belum?" tanya Ammar.
"Udah, Pah. Tapi enggak ada." balas Taya.
Sehabis shalat tarawih, Ammar yang hendak ingin tidur diributkan dengan suara tangisan Taya yang baru sadar kalau kerudung pemberian Anya menghilang.
Gana dan Rora ikut mencari ke setiap lekuk kamar. "Aneh banget aku tuh taro nya di situ kok, Mah, Pah. Mana mungkin sampai kemana-mana dan hilang," ucap Taya sambil terisak. Anak itu duduk di bibi ranjang bersisihan dengan Adela.
"Utah, utah, Kak! Tanan nanis, nanih tuga ketemuhh," ucap si keriting yang mukenanya belum dilepas. Ia ikut shalat tarawih tadi, walau hanya mengikuti gerakannya saja.
"Kalau taro di sini ya berarti ada dong," balas Gana. "Coba kamu ingat-ingat lagi, Dek." imbuhnya.
"Masih di situ dari kemarin, Mah. Beneran. Pas aku mau coba lagi, eh kok enggak ada. Adek juga baru ngeh kalau paper bag itu udah hilang." balas Taya. Anak itu memang tidak sadar kalau sejak sahur paper bag itu sudah tidak ada di atas nakas. Ingin Taya memakai kerudung itu hari ini untuk dipakai ke sekolah. Entah apa jadinya jika ia tahu, kalau kerudung itu sudah dicuri oleh Kakaknya dan diberikan kepada orang lain.
"Kok kamu diam aja? Bantuin cari, Dek," ujar Rora kepada Eyden yang wajahnya sejak tadi panik, gelisah dan kasian kepada Adiknya.
Eyden yang gugup mengangguk. Ia berusaha ikut bersandiwara mencari-cari barang tersebut. Ia lihat Taya yang terus menangis. Hatinya tidak tega. Anak lelaki itu mempunyai rasa yang lembut seperti Papanya. Tidak suka jika saudara sedang menangis sedih, apalagi karena kesalahannya. Tapi, ia juga menginginkan kerudung itu untuk Nurul. Ia merasa tidak mungkin meminta kepada Gana. Walau ia punya uang jajan yang cukup besar. Untuk membelinya saja, ia tidak tau di mana dan harus sama siapa untuk membelinya.
"Maaf, ya, Dek. Kakak yang ambil kerudung kamu," akhirnya Aidan jujur kepada Taya. Setelah ia membuka suara, semua orang menoleh dengan delikan tidak percaya.
Taya membeliakan mata, Adela saja sampai membekap mulut karena kaget.
"Kamu ambil kerudung Adikmu?" sentak Ammar tidak percaya. Bola matanya melotot, lelaki itu menggeleng tidak percaya. Ia takut anak lelakinya ini punya kelainan.
Gana mendekati Aidan untuk menjadi penengah. Ia pegang anak itu, takut-takut Ammar menariknya karena murka. "Maksud kamu gimana? Kamu yang benar ambil? Buat apa??"
"Iya, Mah. Eyden yang curi punya Adek."
Ammar mengusap wajahnya gusar. Anak baik ini mengapa bisa menjadi pencuri. "Siapa yang ngajarin kamu kayak begitu? Kerudung itu buat apa?" tanya Ammar dengan nada emosi. Kekecewaan tampak dari wajah nya.
Aidan membisu lama. Dan ia putuskan untuk tidak menjawab. Ia tidak mau diketahui.
"Besar mau jadi apa kamu? Mau jadi pencuri? Kecil-kecil sudah pintar berbohong! Kamu itu laki-laki, masa iya pakai kerudung!" kesal karena Aidan tidak mau menurut untuk menjawab, Ammar menarik anak itu dan berlalu dari kamar.
"PAPA HUKUM KAMU!"
...๐พ๐พ๐พ bersambung๐พ๐พ๐พ...
__ADS_1