Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Makasih Sudah Menyelamatkan Aku.


__ADS_3

Mendengar nama istrinya di serukan dengan nyaring membuat Ammar menarik wajahnya yang sejak tadi masih sibuk menggeliatkan bibirnya di ceruk leher Gana.


Ammar menoleh dengan mata memicing yang penuh dengan kilatan setajam halilintar.


"Si bang sat?" raut Ammar begitu menyeramkan, bagai serigala lapar yang sedang melihat Adri seperti daging merah yang segar.


"Berani sekali dia meneriaki istriku!" ucap Ammar geram. Ia menantang mata Adri yang juga menyalak tajam.


Apa sih mau lelaki itu? Punya hak apa dia menghardik istri dari seorang mafia keji?


Melihat sang suami mengerang dengan tatapan seperti iblis. Gana langsung gelagapan setengah mati. Maksud hati hanya ingin menyakiti Adri, namun sialnya lelaki itu malah berteriak memanggil namanya, membuat Ammar tahu jika Gana sedang memanfaatkan dirinya hanya sebagai pelampiasan kekesalan kepada Adri.


"Brengsekk!" Ammar semakin murka ketika Adri bertolak pinggang dan menaikan dagunya.


Otot-otot di sekitar permukaan leher Ammar begitu menonjol. Buru-buru Gana memegang tangan Ammar yang sudah mengepal. Dan beruntunglah ada sesosok di antara mereka yang baru saja hadir, bisa menyelamatkan mereka dari gemelut baku hantam.


"Hey, Mutiara ..." seru Gana. Ia melambaikan tangan dari kejauhan kepada wanita cantik berhijab sambil menggandeng dua anak perempuan yang lucu-lucu.


Mutiara tertohok ketika menilik keberadaan Gana dan Ammar dari beberapa jarak meter posisinya sekarang.


Gana berhasil mencuri detak jantung Mutiara. Walau wanita itu kaget, ia tetap membalas lambaian Gana dengan senyuman setipis benang.


Perlakuan Gana yang lembut kepada Mutiara. Pun sebaliknya dengan Mutiara kepada Gana. Sontak membuat Adri dan Ammar ikut tertegun.


Gana menggandeng tangan suaminya dengan kode mata agar lelaki itu menurut. "Ayo sayang, kita ke sana."


Ammar yang sejak tadi mengerang dalam emosi. Langsung mencair bagai es cream magnum. Ia begitu saja diam seperti bayi ketika digandeng oleh istrinya. Sebutan sayang yang Gana berikan, mampu menyihir mata batin Ammar. Memang hanya Ganaya yang mampu membuat dunia Ammar jadi jungkir balik seperti sekarang.


"Tidak masalah jika Gana hanya mempergunakan ku sebagai pelampiasannya. Yang jelas, Adri bisa tau kalau Gana mulai menerima pernikahan kami." gumam Ammar. Wajahnya berubah menjadi cute dan menggemaskan. Ia mengulas senyum saat langkah mereka tiba dan berhadapan.


Gana dan Mutiara saling memeluk dan mencium ke dua pipi. Adri terus menatap Gana, namun wanita itu tidak. Gana sebisa mungkin tidak mau memendarkan mata kepada lelaki bajingann tersebut.


Rasanya Ammar ingin mencongkel bola mata Adri yang masih saja terlihat ambisi untuk mendapatkan Gana.


"Assalammualaikum, Mut." sapa Ammar.


"Waalaikumsallam, Ammar. Bagaimana kabarmu?"


"Seperti yang kamu lihat, aku baik." jawab Ammar. Tangan kanannya merangkul Gana. Gana pun melingkarkan tangan kirinya di pinggang sang suami. Sungguh mesra mereka berdua.

__ADS_1


Adri semakin membenci pemandangan itu. Ia menahan sesak di dalam dada, dengan bola mata yang berpendar ke arah lain. Tidak pernah ia sangka, bahwa tunangan adiknya akan menjadi suami dari mantan calon istrinya. Dan yang lebih parahnya lagi ia baru tahu jika selama ini Maldava Ammar mencintai Ganaya sejak lama.


Shit! Brengsekk. Adri memaki beberapa kali dalam hatinya.


"Kalian ke sini juga? Aku enggak nyangka bisa ketemu di sini? Kabar kalian gimana, baik?" tanya Mutiara dengan nada bersahabat.


Tidak kah kamu lihat, Adri. Bagaimana baiknya hati istrimu? Istri mana yang akan bersahabat dengan wanita yang hampir saja di nikahi suaminya, menjadi madu untuknya?


"Aku dan Ammar alhamdulillah baik." Gana mewakili.


"Kalau kalian, bagaimana say---"


"Jangan sentuh, Anak-anakku!!" sentak Adri. Ia menepis tangan Ammar yang ingin menyentuh pipi Adelia. Anak Adri dan Mutiara yang pertama.


Ammar berkelakar lucu. Lalu berbisik, ketika Adri akan melewati bahunya menggandeng kedua anaknya paksa untuk meninggalkan pertemuan ini.


"Jangan lagi kamu berani-berani menggoda istriku! Jika kamu masih ingin bernapas dengan tenang!" suara bariton Ammar membuat geger. Walau terdengar pelan, tapi Mutiara dan Gana masih bisa mendengar. "Karena aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kamu, jika kamu masih berniat untuk merebut Ganaya!"


DEG.


Bola mata Mutiara dan Gana langsung terbelalak hebat. Ammar yang dikenal baik hati dalam pandangan mereka bisa juga berubah menjadi harimau yang menyeramkan.


Adri menyerengit tidak suka. Rahangnya terlihat kembali mengencang. Ia menatap tajam bola mata Ammar. Adri sedikit mendongak, karena ia masih kalah tinggi dengan Ammar.


DEG.


Semua jantung bergemuruh, kecuali Ammar. Lelaki itu malah tertawa, karena sebelum ia mengetahui hati Gana sudah tidak mencintai lelaki itu, iya tau istrinya tetap memilih setia, untuk tidak membalas atau merespon Adri.


Gana kelabakan. Ia bingung mengapa Ammar tahu tapi hanya diam saja. Tapi ia juga merasa selamat, karena Ammar tahu. Dirinya sudah mencoba untuk selalu setia.


Mutiara memandang suaminya dengan tatapan nanar dan sedikit tertunduk. Hatinya sedih lagi. Ia tidak menyangka suaminya masih belum bisa move on. Padahal sebagai seorang istri, ia sudah berusaha untuk mengikuti apa yang suaminya inginkan. Walau ia tahu, yang hanya diinginkan Adri adalah Gana.


Adri mendengus kesal. Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Lelaki itu memilih pergi meninggalkan mereka bersama anak-anak. "Ayo pergi!" seru Adri kepada Mutiara.


"Kalian selamat liburan ya. Aku duluan." ucap Mutiara. Terlihat ada genangan air mata yang mulai muncul di pelupuk matanya.


"Kamu hati-hati ya." ucap Ammar dan Gana bersamaan.


Mutiara pun berlalu dengan lambaian tangan lemah dan senyuman tipis yang dipaksakan sebagai respon pamit. Memaksa menerima, walau hati sedang tersulut akan rasa kecewa. Ammar dan Gana menatap sedih punggung wanita berhijab itu yang sedang melangkah di belakang suami dan kedua anak-anaknya.

__ADS_1


"Kamu lihat? Bagaimana sosok lelaki yang selama ini kamu puja-puja? Kamu cintai? Kamu sayangi? Hanya seorang lelaki pengecut yang tidak mempunyai hati. Tega-teganya ia menyakiti wanita yang sudah mau hidup bersama, menemani dalam suka duka, sudah memberikan dua anak dan terlebih lagi menerima ingin di madu." ucap Ammar dengan gelengan kepala samar. Ia ingin melebarkan bola mata Gana agar lebih terbuka.


"Adri tidak pantas untuk disebut menjadi laki-laki! Bahkan Umar, sahabat Nabi Muhammad saja yang sangat di takuti oleh para umat. Masih tunduk dan takut kepada istri. Hanya istri yang ia takuti." ucap Ammar masih menoleh ke arah Mutiara.


Dada Gana berdenyut nyeri. Bulu-bulu halus disekitar tengkuknya begitu saja meremang. Tubuhnya berdesir, ia tersihir akan ucapan Ammar.


Gana meraih dagu Ammar untuk menoleh dan menatap manik matanya. "Kamu tau sekali dengan kisah Umar dan istrinya?"


Ammar mengangguk. "Papaku sering menasehati aku dan Kak Gifa, agar bisa menghormati istri dan mencintainya. Dengan meng-kiblat ke arah Nabi Muhammad dan Umar Bin Khattab. Walau menang kita hanyalah manusia biasa yang tidak akan bisa menyamai Nabi. Tapi setidaknya kita bisa belajar untuk mencontohnya."


Gana tersenyum lalu berhambur memeluk suaminya. "Terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan aku dari api neraka dalam kasus ini, Ammar. Apa jadinya kalau aku tetap menikah dengan Adri. Menyakiti sesama kaum wanita."


Ammar mengelus lembut rambut istrinya naik turun. Dan melabuhkan kecupan hangat di pusaran rambut Gana.


"Sama-sama sayang. Terima kasih juga karena sudah mau setia, walau perasaanmu belum terbuka untuk aku."


Gana melepas pelukan dan tersenyum senang. Ammar mengacak pusaran rambut Gana karena gemas, lantas membawa wanita itu kembali melanjutkan langkah.


Langkah mereka kembali bersisihan dan saling merangkul. "Kamu tau dari mana kalau Adri bisa menghubungiku lagi? Tapi demi Allah, bukan aku yang memulai."


"Ya, aku tau sayang. Apa saja aku tau. Jangan lupakan, aku ini lebih jenius dari detektif conan sekalipun."


Haha. Mereka bergelak tawa bersama. Menggemakan suara dibawah terik matahari.


"Percaya diri banget sih?" Gana menjawil hidung bangir suaminya.


"Iya lah. Percaya diri itu harus, kalau aku enggak maksa untuk percaya diri. Aku yakin sekarang kamu enggak akan jadi istri aku." Ammar menghentakkan dadanya dengan wajah bangga.


Gana kembali tertawa.


"Kita ke atas aja yuk, aku haus." ajak Ammar sambil menunjuk ke atas perbukitan.


"Baiklah, ayo."


Ammar yang selalu merasa jenius, nyatanya tidak sepintar apa yang ia kira. Jika ia bilang sudah mengetahui segala sesuatu, nyatanya saat ini ia salah besar. Ia masih kurang cerdas, karena dirinya masih bisa dipermainkan oleh Farhan.


Lihat saja nanti, apakah dengan beberapa kejadian yang akan menunggunya, Ammar masih akan mengklaim dirinya sebagai lelaki yang jenius?


***

__ADS_1


Sayangku🌾



__ADS_2