Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Di Belakang Ku, Selama itu?


__ADS_3

"Mbak sakit apa?" tanya Mulan. Ia melangkah ke arah pembaringan Gana.


Gana tersenyum malu. "Asma ku kambuh, Mbak ... Kalau Dava, lagi sakit apa?"


"Dava ada jantung, Mbak. Kayaknya tadi kecapean main, jadi agak sesak."


Jantung?


Gana tertohok. Bola matanya menajam, ia tidak menyangka ketika mengetahui penyakit anak sekecil itu sangat berbahaya. Gana menatap Dava yang masih di ranjang. Ia melirik ke ujung jari-jari kaki dan tangan Dava yang membiru.


"Ante ..." Dava melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Dava tersenyum dengan selang oksigen di hidungnya. Seakan anak itu ingin didekati dan dipeluk.


Entah mengapa rasa keibuan Gana timbul. Ada rasa sayang dan ketertarikan sendiri kepada anak itu. Dan tentunya rasa kasihan.


Gana melepas selang oksigen dari lubang hidungnya lalu bergegas bangkit dan mendapat sergahan dari Mulan.


"Loh Mba, mau kemana?" Mulan yang kaget, tapi langsung sigap membantu Gana yang ingin turun dari ranjang sambil membawa tiang infusan.


"Saya mau ke Dava, Mbak."


"Tapi, Mbak nya masih lemas?"


Gana menggeleng. Memperlihatkan dirinya yang sudah sembuh, padahal belum. Bunyi Swing saja masih terdengar pelan dari balik dadanya.


Mulan memegang lengan Gana untuk membantunya berjalan ke ranjang anaknya. Sesampainya di bibir ranjang. Gana duduk di tepinya, dan langsung memeluk Dava.


Jantung mereka saling beradu. Napas dari keduanya masih terlihat berantakan. Dua-duanya sedang sesak napas dalan kadar yang berbeda.


Air mata Gana terjerembab turun. Ia tidak tega ketika menggenggam tangan Dava yang sangat pucat dan biru. Gana memang berhati lembut, ia akan selalu menangis ketika mengetahui orang-orang disekelilingnya sedang sakit.


Apalagi sakit parah seperti Dava. Anak sekecil ini? Sudah menderita? Batinnya terasa terbakar. Gana terus mengeratkan tubuhnya dalam pelukan itu.


Mulan mengulas senyum menatap mereka berdua. Mulan harus tetap kuat, ia tidak boleh terlihat lemah didepan Dava. Mulan duduk di kursi yang ada didepan nakas. Memperhatikan orang yang tidak dikenal sedang menangisi keadaan anaknya. Namun entah mengapa, melihat Gana, Mulan merasa wanita itu bukanlah orang asing.


"Ante ..."


"Iya, Nak. Ini Tante."


Dava pun sama. Ia merasa Gana itu seperti mamanya. Berada dalam pelukan Gana, membuat Dava tenang dan tentram.


"Permisi, Bu. Kamar untuk Dava sudah siap." ucap Perawat. Mendengar ucapan Perawat membuat Gana mengurai pelukannya kepada Dava.


"Loh, kok, Ibu di sini. Ibu harusnya berbaring di ranjang." Perawat sedikit mengomeli Gana. Ia kaget menemukan pasien yang sedang di infus malah jalan-jalan ke pembaringan pasien yang lain.


"Maafkan saya, Sus."


"Mbak tiduran lagi aja ya, itu wajahnya masih pucat. Udah kabarin suami, Mbak? Biar bisa nungguin Mbak, di sini." ucap Mulan.


Gana kembali teringat dengan Ammar. Ia melirik ke arah sebrang di mana ada tasnya di meja nakas. "Oh, iya, Mbak. Sedang on the way." kilah Gana.

__ADS_1


Mulan mengangguk. Gana mencium kening Dava lalu beranjak bangkit. "Ante temenin aku." Dava memelas. Gana yang melihatnya, menjadi tidak tega.


"Dava ..." seru Mulan. Ia tidak mau anaknya merepotkan Gana. Dava menundukkan tatapannya. Gana ingin mengiyakan, tapi tubuhnya juga masih terasa lemas.


"Besok Tante akan jenguk Dava ya."


Dava mengangguk senang.


Perawat bersiap untuk mendorong ranjang Dava agar dibawa ke kamar perawatan.


"Mau dibawa ke kamar apa, Sus?"


"VVIP Cempaka, Bu." jawab Perawat kepada Gana.


"Tolong bawa anak saya ya, Sus. Nanti saya menyusul." ucap Mulan. Dava anak yang baik, hanya menurut saja. Ia menoleh ke belakang dengan susah payah untuk melambaikan tangan ke arah Gana.


"Ayo, Mbak. Berbaring lagi ya." Mulan menggandeng tangan Gana ke arah ranjang.


Mulan Menarik selimut sampai ke perbatasan perut Gana. "Suaminya sudah sampai mana Mbak?"


Gana ingin bangkit sedikit mengambil tas yang ada di atas nakas. Namun Mulan lebih dulu mengambil dan memberikannya kepada Gana. Gana merogoh tas dan meraih gawai dari dalam sana.


Dan dirinya kembali mendesahkan napas berat. Karena sampai selama ini, Ammar belum menghubunginya balik. Tidak ingin Mulan tahu dirinya sedang kesal. Wanita itu hanya bisa berdalih.


"Sebentar lagi katanya, Mbak." jawab Gana. Pura-pura membuka aplikasi whatsapp.


"Mbak nya enggak apa-apa saya tinggal sendirian?" tanya Mulan.


Mulan tertawa. "Makasih untuk apa? Harusnya saya yang makasih sama Mbak. Karena waktu itu udah menemukan Dava. Saya malah enggak kasih apa-apa." Mulan mencebik malu. Gana tertawa sambil mengelus lengan Mulan. "Saya senang bisa ketemu dengan Dava, Mbak. Kalau kata orang, mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama kali ya."


Dan mereka tertawa bersamaan. "Bisa aja, Mbak."


"Boleh minta nomor wa nya, Mbak?" tanya Gana. Kebetulan ia sedang memegang gawai.


Mulan mengangguk dan menyebutkan nomornya kepada Gana. "Kalau gitu saya tinggal dulu ya, Mbak. Kasian Dava sendirian, takut Ayahnya juga sudah sampai."


Mulan mengelus tangan Gana sebelum akhirnya berlalu. Namun di saat langkah kakinya sudah sampai di kamar perawatan. Mulan ber oh kecewa, karena lagi-lagi lupa menanyakan nama Gana.


"Lupa terus mau nanya namanya. Tapi enggak apa-apa deh, nanti kan si Mbak nya bakalan nge WhatsApp."


Mulan membuka pintu kamar perawatan dan sudah menemukan Mahendra yang baru saja datang tengah berbaring disamping Dava.


***


[Ammar, sekarang aku sedang berada di IGD Rumah Sakit Harapan Sakti. Asma ku kambuh. Kamu bisa jemput aku?]


Pesan singkat yang sudah Gana kirim sebanyak lima kali. Namun si empu pemilik nomor yang dituju, tidak membalas. Telepon juga tidak diangkat.


Gana menjadi khawatir, takut ada apa-apa dengan suaminya. Lantaran sudah terhitung dua jam, Ammar tidak mengangkat teleponnya dari semenjak dirinya belum pingsan di kantor.

__ADS_1


Sesibuk itu kah?


Selang infusan dan oksigen sudah terlepas dari tangan dan hidung Gana. Sekarang wanita itu sedang duduk di bangku tunggu, didepan ruang IGD. Ia masih berharap Ammar menjemputnya.


Gana mencoba kembali menghubungi Ammar.


Lalu.


Gawai yang sedari tadi mengatung di telinganya tiba-tiba terayun kebawah. Ia beranjak berdiri, dengan senyum yang merekah.


Melihat suaminya turun dari dalam mobil sedan yang tepat berhenti didepan pintu IGD. Lelaki itu langsung membuka pintu penumpang belakang dengan langkah tergesah-gesah. Membungkuk seperti akan menggendong seseorang.


"Ammar ..." wajahnya berbinar, karena suaminya akhirnya datang. Sekilas ia lihat kalau chat nya belum dibuka. Ah tapi sudahlah, mungkin Ammar bisa membaca tanpa harus membuka pesannya dulu. Aplikasi ponsel kan rata-rata berbeda.


Tetapi tiba-tiba senyum Gana meredup, ketika suaminya tidak sadar dengan seruan darinya.


"Ammar ..." gumamnya pelan. Ia menatap punggung suaminya dengan wajah terheran-heran.


"Siapa itu?" tanyanya.


Karena Ammar sedang gugup dan cemas. Ia tidak mendengar secara jelas ketika namanya dipanggil.


Dan ketika Ammar berhasil menggendong seseorang dan mengeluarkannya dari dalam mobil, kemudian berbalik badan.


Dan.


DEG.


Jantung, paru dan hati Ammar seakan berhenti bergerak. Lelaki itu langsung mematung ketika ingin melanjutkan langkah masuk kedalam pintu IGD. Bola matanya membelalak tajam, ia tersentak mendapati istrinya di sini.


"Gana ..." seru Ammar, sampai suaranya tidak terdengar. Lelaki itu gelagapan setengah mati.


Gana hening sesaat. Ia sedang mengumpulkan nyawanya yang tiba-tiba ingin menghilang detik ini juga. Pandangannya saat ini, sangat menohok hati.


"Ammar ..." panggil seorang wanita yang tengah Ammar gendong, dengan suara lemah. Wanita itu seraya ingin mengelus pipi Ammar ke atas, namun sepertinya urung. Wanita yang di gendong langsung memejam kedua matanya.


"Aku bisa jelasin, Gana. Kamu jangan salah faham. Tunggu aku dulu di sini, Oke!" ucap Ammar dengan wajah panik. Napasnya kacau, dan kemeja kerjanya kusut. Ia saja sampai lupa untuk menanyakan, kenapa Gana bisa ada di sini?


Ammar berlalu dengan langkah blingsatan ketika masuk kedalam ruang IGD melewati istrinya yang masih mematung kaget menatapnya.


"Mengapa Ammar bisa bersama Asyifa?" gumam Gana dengan wajah setengah melamun. Matanya menatap lantai dengan darah yang sudah bercecer dari dalam mobil sampai masuk ke dalam ruang IGD dari urat nadi tangan Asyifa.


"Jadi ini alasannya, dua jam tidak membalas pesan dan mengangkat teleponku? Apa yang sudah kalian lakukan dibelakang ku selama itu? Dan kenapa Asyifa ..."


Gumaman nya mengatung, Gana kembali meremat kain berlapis di dadanya. Rasa sesak kembali datang melanda.


***


Like dan Komennya ya guyss.

__ADS_1



__ADS_2