Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Perahu Layar terus melaju [END]


__ADS_3

Baru tiga jam menjalani proses penyidikan di ruang khusus kepolisian, Ammar dinyatakan bebas dari gugatan. Dengan segala paksaan dari anak dan menantunya. Frady akhirnya mencabut tuntutannya.


Papa Galih tadinya emosi, karena ia baru tahu bahwa Farina dan Farhan adalah dalang dari kecelakaan yang menimpa anaknya. Namun karena kedudukan menjadi satu sama. Sama-sama bersalah dan sekarang sudah kembali insaf. Maka hawa yang sempat memanas itu akhirnya bisa bermuara dengan hawa sejuk. Saling merangkul, melupakan dendam dan meminta maaf.


Selama menunggu Ammar, Gana hanya mau berbaring di ranjang sambil menangis. Ia sulit berfikir tenang. Rasa takut menutup akal sehat, kalau suaminya akan lolos dari jeratan hukum.


Kedua Mama, Maura dan Gelfani yang baru saja tiba terus memberikan nasihat agar Gana bisa sedikit tenang. Memijat tubuhnya, memeluknya, menyuapi makan dan melakukan apapun yang Gana butuhkan. Sampai wanita itu akhirnya bisa tenang dan akhirnya tidur karena lelah menangis.


Baru dua jam Gana terlelap. Ia terlihat bergeliat dalam tidurnya, saat merasakan ada deru napas yang menghujam puncak rambutnya. Gana buru-buru mengerjap mata saat telapak tangannya ada yang menggenggam.


"Hah?" Gana berseru tidak percaya. Ia tersentak tapi dengan wajah senang. Saat dirinya tahu sedang tidur mendekap dada Ammar.


Gana setengah bangkit lalu memeluk lagi tubuh Ammar dengan erat. Ia mengucap syukur sebagai tanda terima kasih.


"Alhamdulillah, Ya Allah. Alhamdulillah. Abang pulang ... hiks." serunya tidak percaya.


Seperti sedang memenangkan lotre.


Seperti sedang mendapatkan berlian, ia temukan lagi cintanya yang tadi pergi hanya mengulas janji. Entah akan kembali atau tidak, dan sekarang dada lega. Karena idaman hati telah bersandar di sebelah nya lagi.


"Ya Allah, Abang." Gana menangis haru.


Suara isak tangis yang tak sadar begitu melengking membuat Ammar terbangun. Lelaki itu juga ikut terlelap, kira-kira sudah dari setengah jam yang lalu.


Ia letih duduk berhadapan dengan para penyidik, tiga jam hanya duduk untuk menjawab dan menjelaskan pertanyaan. Ammar bersumpah, tidak akan mau lagi melakukan hal-hal yang membuatnya tersandung akan jerat hukum.


Ia masih tertolong, karena kasusnya sebagai mafia tidak terbongkar. Jika saja terkuak, semua komplotan Ammar pasti akan dipidana seumur hidup penjara atau hukuman mati.


"Adek kok bangun. Ayo tidur lagi." Ammar tersenyum dengan mata setengah terbuka. Kelopak matanya masih terasa sepat. Ia mengelus tubuh Gana yang masih memeluk dadanya sampai ia sedikit sulit untuk bernapas.


Tidak bisa dibayangkan jika Ammar benar-benar di penjara, akan seperti apa Gana sekarang.


"Enggak mau tidur, Bang. Adek mau tau gimana hasilnya pemeriksaan Abang di kantor Polisi?" Gana mendongak, menatap Ammar yang juga sedang menatapnya. "Udah jangan nangis. Nanti kamu pusing kalau nangis terus." Ammar mengusap kebasahan di mata istrinya.


"Iya, Bang." Gana mulai menyimpan agar air matanya agar tidak tumpah lagi.


"Ayo, Bang ceritain." titahnya tidak sabar. Padahal Ammar sedang mengumpulkan kekuatan untuk bisa terlepas dari rasa lemas dan ngantuk yang tengah menerjang. Lelaki itu mengangguk. Sekilas ia memijat-mijat pelipisnya karena merasa pusing


"Abang mau minum?" tanya Gana.


Ammar mengangguk. Wanita itu pun langsung bergegas turun dari ranjang. Ia ingin mengambil gelas berisi air miliknya yang ia letakan di meja rias. Saat bertatapan dengan cermin, begitu kaget nya ia ketika mendapati wajahnya sudah belepotan dengan bedak dingin.


"Kok bisa?" gumam Gana sendiri sambil menyentuh wajahnya. Ia hafal sekali, kalau seharian ini, ia tidak mau mandi, make up atau makan.


"Tadi Abang yang ngolesin. Biasanya kan kalau siang-siang gini, Adek udah belepotan sama bedak dingin." ucap Ammar. Ia menyandar di punggung ranjang sambil menatap punggung Gana dengan kedua tangan bersedekap.


Gana menoleh dengan senyuman. Sungguh, suaminya ini sangat perhatian. Sepulang Ammar dari kantor polisi, ia langsung naik ke kamar dan mendapati Gana dengan sisa-sisa kebasahan di wajah saat tidur.


Gana kembali menghampiri Ammar dengan segelas air ditangannya. Lantas ia sodorkan kepada Ammar. Wanita itu duduk di tepi ranjang. Menunggu Ammar untuk menjelaskan bagaimana penyidikan hari ini.


"Abang bebas, Dek." ucap Ammar sambil meletakan gelas kosong di atas nakas.


"Yang bener, Bang? Abang enggak bercanda 'kan?" tanya Gana dengan wajah abu-abu. Ia merasa janggal kalau secepat itu Ammar akan terbebas.


Ammar mengangguk senyum "Iya sayang benar." tangan Ammar membelai-belai rambut Gana.


"Masa sih, Bang?" demi Allah Gana ingin sekali Ammar bebas tapi rasanya tidak mungkin mendadak seperti ini.


"Abang pasti mau ngerjain Adek aja 'kan? Cuman mau buat Adek senang?" cecar Gana dengan bibir maju seperti itik.


Ammar tertawa, ia gemas. Lantas mengecup bibir Gana dan menarik wanita itu untuk masuk ke dalam dada. Ammar mengunci ibu hamil itu dan mulai menceritakan yang sebenarnya. Bagaimana Frady mencabut tuntutan dan Ammar terbebas.


"Nah begitu deh ceritanya. Masih enggak percaya, Adek?"


Dengan mata yang berkaca-kaca. Gana mengangguk. Ia melepas dekapan itu dan beringsut dari ranjang untuk bersujud di atas lantai. Mengucap syukur atas kebebasan suaminya. Ammar menatap Gana dari ranjang dengan wajah terharu. Air bening mulai memupuk di kelopak matanya.


"Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih banyak. Telah engkau kembalikan suamiku dengan mudah tanpa kesusahan yang membelenggunya."


"Aamiin." Ammar mengaminkan doa Gana sesaat masih bersujud. Doa istrinya sedikit terdengar, mengusik kalbu.


Gana bangkit berdiri. Ia kembali melesat menerjang Ammar. Memeluk, mengecup dan memeluknya seperti anak kecil yang sedang ditimang-timang.


"Makasih ya, Dek. Ini semua berkat doa Adek."


"Jangan ucap makasih, Bang. Ini udah jadi tugas Adek." jawab Gana.


Semua keluarga, para sahabat bisa bernapas lega dan bersyukur tiada tara saat Ammar terbebas dari segala tuntutan apapun. Lelaki itu tidak jadi masuk ke dalam penjara.


Maka dari itu untuk mengucap syukur lebih kepada Sang Maha Pencipta. Nanti malam dua keluarga besar akan ada pengajian bersama anak yatim, untuk mendoakan kesejahteraan Ammar dan Gana, serta kelancaran kandungan Gana sampai melahirkan nanti.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Let it go, let it go


Can't hold it back anymore


Let it go, let it go


Turn away and slam the door


I don't care what they're going to say


Let the storm rage on


The cold never bothered me anyway


Terlihat Aurora tengah menyanyikan lagu tersebut dengan lancar saat dirinya sedang sibuk menguncir rambut Attaya menjadi dua bagian.


Aurora sudah rapih dengan seragam taman kanak-kanaknya. Begitupun Aidan yang juga sedang asik menyusu dengan botol susu di atas sofa, ia juga sudah rapih.


Aurora tinggal menunggu jemputan yang akan datang lima belas menit lagi untuk menjemput dirinya dan Aidan. Aurora dan Aidan yang hanya berbeda satu tahun. Mereka dimasukan ke dalam taman kanak-kanak bersamaan, walau berbeda kelas.


Ammar ingin anaknya bisa bergaul sejak kecil. Agar jika sudah besar bisa menjadi anak pemberani yang kuat banting, tidak seperti dirinya yang dulu sangat penakut.


Sudah tiga tahun, Ammar dan Gana kembali hidup dengan nyaman di Jakarta. Rumah dan warung yang ada di Makassar, ia berikan kepada tetangga yang benar-benar tidak mampu di sana. Warga pulau mendadak geger saat mengetahui siapakah Gana dan Ammar sebenarnya. Pasangan suami istri itu mendadak terkenal seperti artis viral.


Semua orang di Indonesia sudah tahu kalau mereka kembali lagi dalam keadaan selamat. Ammar melakukan konferensi pers hanya untuk menyatakan kalau dirinya sudah kembali untuk memegang Eco Group dan memberitahukan kepada khalayak ramai kalau Gana juga masih hidup, mereka hidup berumah tangga dengan rukun dengan para anak-anak mereka.


Adri dan Asyifa terkejut setengah mati melihat kebahagiaan Gana dan Ammar yang tersiar di televisi. Begitupun para mafia kelas ikan cuek. Mereka tidak habis fikir, kalau Ammar dan Gana lolos dari maut.


"Aduuh duh, Kak. Cakit nih." cicit Taya. Batita berusia dua tahun itu seraya memegang kunciran yang sudah berhasil sang Kakak poles di rambutnya.


"Emang sakit? Yang mana?" tanya si sulung yang dua bulan lalu baru saja menggelar acara selamatan karena pertambahan umur yang ke lima. Sedangkan Aidan, tiga bulan lagi akan menginjak usia empat tahun.


"Yan inih cakit, Kak." Attaya menyentuh kunciran rambut dibagian kiri. Aurora mengangguk, lantas membuka kunciran yang sudah ia buat beberapa detik lalu. Mungkin mengikatnya terlalu kencang.


"Pa ... Pa ... Pa! Paaaaaaaaaaa!" seru Adela di boncer nya. Anak ke empat mereka yang sudah berumur delapan bulan tengah bergumam nyaring saat Ammar tiba di hadapannya. Ammar baru selesai sarapan, meraih tubuh montok Adel, lantas di gendong-gendong.


Gana kembali mengandung Adela di saat Attaya berumur sembilan bulan. Gana tidak marah kepada Ammar karena dirinya kembali mengandung dan menjalani persalinan normal. Menurutnya, anak banyak adalah fitrah yang Allah berikan, di mana orang-orang lain belum tentu diberikan kebahagiaan seperti dirinya.


Bagi sebagian orang mengurus anak yang masih kecil-kecil memang sangat merepotkan. Tapi di sini lah seninya. Selagi masih muda, masih produktif dan suami juga mau turun tangan untuk membantu. Tentu akan menjadi kepuasan dan kebanggaan tersendiri.


Di rumah hanya ada bik Ratih yang membantunya untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Kalau memasak dan mengurus anak-anak. Gana sendiri yang akan turun tangan. Baginya tidak repot, karena anak-anaknya tidak rewel, bisa di atur dan Ammar selalu bergantian menjaga Adela kalau malam. Jadi, Gana tidak merasa kurang dalam waktu istirahatnya.


Sedangkan Yuni sudah menikah dengan Bima dan mempunyai dua orang anak. Begitupun Denis dan istrinya. Seminggu yang lalu, Mulan baru saja melahirkan anak kedua mereka.


Walau sudah kembali ke Jakarta, dan Ammar membelikannya lagi baju-baju gamis serta hijab senada yang mahal dan bagus. Gana tetap memilih sarung dan kaos besar untuk dipakai jika sedang dirumah saja. Lebih adem katanya. Tapi, jika ada tamu dan pergi-peegi keluar rumah. Gana akan memakai gamis dan hijabnya. Ammar tetap mendukung apapun yang istrinya sukai.


Meletakan dua potong sandwich isi telur dan potongan daging asap ke dalam kotak bekal Aurora dan Aidan.


"Kalau Mama buatin bekal, harus di habiskan, ya! Kalau memang sudah kenyang bisa di kasih ke teman. Jangan dibuang, ngerti 'kan maksud Mama?" ucap Gana. Ia menoleh ke arah Aidan dan Aurora yang berbalik menatapnya dari sofa ruang tivi.


"Iya, Mah. " jawab mereka bersamaan.


Attaya beranjak bangkit dari sofa saat rambut hitam dan tebalnya sudah di kuncir sang Kakak. Ia mendekati Gana. Menarik-narik sarung Mamanya dari bawah.


Gana menurunkan tatapannya.


"Kenapa, Nak?"


"Endong, Mah." Gana membungkuk untuk meraih Taya. "Atek auh, Mah." Taya menunjuk potongan sandwich sisa di atas piring. Padahal anak itu juga sudah ikut sarapan beberapa menit lalu.


Gana mengangguk dan menyodorkan sandwich itu kedalam mulut Taya. "Enak enggak, Nak?"


Si batita lucu yang wajahnya mirip Gana mengangguk.


"Ennan." Taya tertawa gembira.


Melihat Taya digendong, Adela yang masih dalam timangan Ammar. Lalu berseru nyaring, terlihat ia ingin menyentuh Mamanya juga.


Ammar masih menimangnya di atas sofa bersama Aidan dan Aurora. Lelaki itu bersiap akan berangkat kerja, tapi lebih dulu menunggu kedua anaknya dijemput oleh jemputan sekolah.


"Maaaaaaaaaaaaaa!" pekik Adel sampai pipi tembam nya memerah. Lantas menangis, terus mengulurkan tangan agar sang Mama meraihnya.


"Loh 'kok nangis? Kenapa, Nak?" Ammar bangkit berdiri, seraya menenangkan bayinya yang tiba-tiba menangis. Adel tidak mau diam, ia semakin menangis.


"Duh Adek berisik banget!" ucap Aidan. Anak lelaki itu masih fokus menatap tivi. Susu dalam dot nya sudah habis. Beberapa kali Gana meminta Aidan untuk minun susu dari gelas, sayangnya anak lelaki itu tidak mau. Ia merasa masih batita. Ia selalu di manja oleh Kakeknya. Karena menjadi cucu lelaki terkecil di antara Bisma dan Pradipta.


"Mau sama Kakak, Dek?" Aurora menghampiri Adel yang masih di timang kesana kemari oleh Papanya. Adel menghentikan tangis, tangannya mengulur kebawah untuk menarik rambut Aurora.


"Papa!" seru Rora, meminta bantuan agar melepaskan tangan Adel dari rambutnya.


"Jangan dong, Nak. Kan kasian Kakak."

__ADS_1


Si bungsu alias si pencemburu, begitulah Mama dan Papanya menangkap sifat Adela, bayi itu kembali menangis lagi, malah semakin kencang. Ia bergeliat, meronta-ronta sampai wajahnya basah. Keringat, air mata dan ingus bersatu padu.


"Siniin, Bang." titah Gana. Setelah Taya selesai menghabiskan dua sandwich, Gana menyodorkannya botol susu.


"Gantian sama Adek ya, Nak. Taya minum susu dulu sama Kakak ya." si anak manis yang penurut seperti Aurora diturunkan dari tubuhnya. Taya melangkah kembali ke sofa, duduk di sebelah Aidan dam Rora.


"Duhh, bayi semok Mama." Gana sedikit meringis saat meraih bayi itu dari gendongan Ammar.


Adela memang lebih gendut dibandingkan Kakak-kakaknya saat bayi. Ammar sampai meminta Gana untuk konsultasi ke dokter spesialis anak, agar tubuh Adela proporsional.


Ammar tidak mau anak itu tumbuh gendut sampai dewasa dan bisa menjadi bahan ledekan. Ammar tidak mau apa yang ia rasakan dulu, terjadi kepada anak-anaknya.


"Ini semua udah siap, Dek?" tanya Ammar saat Ammar menyentuh tas bekal milik Rora, Aidan dan bekal dirinya di kantor.


"Oh iya, Bang. Susu kotak buat Kakak sama Adek, masih ada di dalam kulkas." biar praktis jika anaknya masih ingin minum susu di kelas, maka Gana menyiapkan masing-masing anak susu kotak UHT.


"Ya sudah biar Abang yang ambil." Ammar yang sudah rapih dengan jas kantor berdasi, melangkah ke dapur. Mengambil dua kotak susu untuk melengkapi bekal para anaknya.


Walau Ammar sudah kembali menjadi Presdir. Ia tetap lah Ammar yang mau melakukan apa saja tanpa rasa malas dan malu.


Ia hanya ingin membuat Gana hidup bahagia dengannya, tidak merasa capek dan bosan. Ammar sangat bersyukur, wanita yang ia cintai dan harus menunggu agar cintanya bertaut dalam belasan tahun akhirnya bisa ia miliki. Buah sabarnya memberikan hasil.


Allah tidak serta merta memberikan ujian kepada Ammar jika tidak ada hikmahnya. Terbukti Gana mampu merubah Ammar, membawa ke jalan yang benar, menerima segala cacat yang Ammar goreskan serta sudah memberikan anak-anak yang banyak.


Gana kembali duduk di sofa. Ia menyusui Adela dengan asi-nya. Mengusap peluh yang bergerumun di dahi anak tersebut. Mengecupnya berulang kali sampai Adela tertawa-tawa. Taya berpindah duduk, ingin dekat dengan Mamanya lagi. Tapi Adel seraya mengusir agar Taya pergi menjauh.


"Dasal, otak!" maksudnya anak ini, botak. Kadang Taya kesal dengan adiknya. Tapi ia juga sayang dan harus tetap mengalah.


"Sini aja, Dek." Aidan melambaikan tangan. Taya pun datang memeluk Abangnya di atas sofa.


Dari ambang pintu datang satpam rumah, ia memberitahukan bahwa jemputan Aidan dan Aurora sudah datang.


Kedua anak itu bersiap untuk berangkat sekolah. Dengan tas karikatur barbie yang tengah dipakai Rora di punggung dan karikatur mobil tayo tengah dipakai Aidan. Keduanya juga menjinjing tas bekal yang sudah di isi makanan dan susu.


"Jagain Adek nya ya, Nak." ucap Gana saat Aurora sudah mencium tangannya dan pipinya. "Iya, Mah."


Pun sama dengan Aidan, ia mengikuti jejak Kakaknya. Setelah pamit dengan Mama, mereka beralih kepada Ammar. "Nanti pulang sekolah Papa jemput ya. Kita ke toko buku."


"Yes, asik!" kedua anak itu kegirangan.


"Taya tuga ndak, Pah?" tanya Taya menerobos pembicaraan itu.


Ammar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Ia menatap istrinya bingung. Pasalnya Ammar ingin menuntaskan janji kepada Aurora dan Aidan untuk membeli buku cerita sejarah nabi-nabi. Kalau mengajak Taya, dirinya harus pulang dulu ke rumah untuk menjemput Taya dan pergi lagi ke sekolah.


Seakan Taya mengerti dan peka kalau Papanya tidak akan mengajak. Bibir si manis mencebik, lalu gurat-gurat air mata mulai luruh.


"Huwaaaaaaaaa ... Mama!" seru Taya. Ia merangkak naik ke atas sofa dan memeluk lengan Gana di bagian kanan. Adela melepas puncak dada Gana dan melongo melihati Kakaknya yang menangis. Si bayi tidak mengusir, malah mengusap tubuh Taya yang masih mengerang.


Gana mendengus kesal kepada suaminya. "Kan bisa kalau ngomong jangan depan, Taya!" sentak Gana.


"Iya, Dek. Maaf." Ammar mengusap wajahnya gusar.


"Nanti Taya sama Mama ya." ucap Gana.


Taya menggeleng-geleng. "Ndak mauh, mauh nya cama Papa, cama Kakak." anak itu mengabsen sambil terseguk-seguk.


Ammar mendekat lalu menggendong buah hatinya. Mencium Taya yang masih menangis.


"Ikut Papa kerja, mau?"


Taya menghentikan tangis. Ia menatap Papanya dalam-dalam. "Itut Papa elja?" cicitnya polos.


"Iya, Nak." Ammar mengusap sisa air mata di bawah kelopak Taya.


Attaya mengangguk senang, melingkarkan kedua tangan di leher Papanya dan menenggelamkan kepala di ceruk leher Ammar.


Dan melihat keromantisan itu, si bungsu kembali bersuara. "Paaaaaaaaaaa!"


"Ya Allah mulai lagi." desah Ammar berat. Semua tertawa karena melihat tingkah Papanya yang pusing tapi lucu. Lelaki itu memang idaman hati para wanita di rumah ini.


Ganaya menatap suaminya bahagia. Tersenyum senang sesaat lelaki itu tetap berada disampingnya. Dari waktu ke waktu, hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun. Bisa terus bersama untuk membina rumah tangga, walau percekcokan kecil sering kali terjadi. Namun sebisa mungkin mereka terus berusaha untuk dewasa menyikapi. Karena rumah tangga adalah Ibadah selamanya. Ibadah yang mempunyai sejuta kebaikan pahala.


Gana berkata kepada suaminya. Dirinya tidak masalah jika ingatannya masa lalu tidak kembali lagi. Ia tahu memori dulu pasti lebih banyak sakitnya dibanding bahagianya.


Ia lebih menyukai memory yang sekarang. Mendapatkan banyak kebahagiaan bersama orang tua, suami dan anak-anaknya. Walau ia tidak akan menampik, jika suatu saat nanti ingatannya akan pulih. Gana akan tetap menerimanya dengan lapang dada.


Berbahagialah selalu Ammar dan Gana. Kibarkan terus perahu layar kalian untuk bisa berjuang mengantar kan ke empat atau mungkin ada beberapa anak lagi di suatu hari nanti, agar bisa menjadi pribadi yang sukses, berguna bagi Agama, keluarga, Nusa dan Bangsa. Tidak mengikuti jejak-jejak yang tidak baik, yang pernah dilakukan oleh Papanya dulu.


TAMAT.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Makasih udah nemenin kisah kami ya, ante-ante dan om- om online. Salam sayang dari A6



__ADS_2