
Keresahan karena memikirkan suami yang ingin bertandang ke rumah Ammar besok, membuat Farina, Mulan dan Anna menjadi gelisah di rumah. Tiga wanita ini juga sama seperti Ganaya, pencemburu. Apalagi usia mereka sudah menuju kepala empat. Pasti akan kalah dengan daur muda yang legit seperti Yanti. Dan lagi-lagi, karena Yanti. Mungkin saja malam ini, Yanti tersedak bantal di dalam mimpi karena sekarang terus dibicarakan.
"Ngapain 'sih, Mami, mondar-mandir mulu? Kayak setrikaan aja." tanya Farhan di punggung ranjang. Farhan sudah terlihat manis di dalam selimut dengan tangan masih sibuk memegangi gawai, bermain game online melawan Alex di seberang sana.
Farina sedari tadi menunggu jawaban Gana yang sudah tidak muncul lagi di grup WhatsApp. Tidak tahu saja dirinya, kalau Gana sedang membelah lautan bersama Ammar.
Farina menekan raut cemas. Ia merangkak naik ke kasur, masuk ke dalam selimut dan memeluk dada Farhan. "Pih, besok anterin Mami ke salon, yuk."
Farhan yang masih fokus bermain game, lantas menjawab, "Sore, ya, tapi. Kan pagi nya Papi mau ke rumah Ammar."
"Kalau sore penuh, Pih. Pagi aja, gimana?"
Farhan mengangguk lagi. "Iya, nanti Papi anterin."
"Di tungguin juga 'kan, Pih?"
Satu alis Farhan terangkat naik. "Maksudnya?" ia beralih menatap Farina. "Iya, Papi tungguin Mami di salon. Kayak biasa."
Dan istrinya mulai cari perkara malam-malam. Farina hanya ingin, Farhan tidak datang ke rumah Ammar. Ia takut, Farhan tergoda.
Farhan memang selalu menunggui Farina di salon. Tapi, jika Farina meminta. Dan kali ini, Farhan akan menolak. "Kan Mami tau, Papi mau kumpul sama teman-teman. Jarang banget kita main, karena pada sibuk. Mumpung ada waktu besok. Sore aja, ya. Papi temenin sampai salon nya tutup juga enggak apa-apa." Farhan merayu.
Farina melepas dekapan. Ia berbalik memunggungi suaminya. Wanita itu merajuk pura-pura, agar bisa menarik perhatian. Farhan mendengus letih. Ia mengirim note di game online nya kepada Alex.
[Aku udahan dulu ya, istriku minta di jenguk. Haha] dalih Farhan. Sejatinya, ia menangis dalam kepalsuan.
[Halah, sempakk! Alasan aja] Alex membalas.
Farhan tertawa membaca balasan pesan dari Alex. Ia matikan ponselnya dan meletakan di atas nakas. Lantas bergegas memeluk Farina dari belakang.
"Sore, ya, Mih. Papi janji. Jangan pagi, nanti yang lain marah karena Papi ingkar janji." Farhan merayu-rayu istrinya. Mengecup pipi Farina berulang kali.
"Tau 'ah!" Farina mencebik. Sepertinya sulit menahan suaminya untuk enggan pergi. Ia pun akan merasa tidak enak hati kepada Ammar, Mahendra dan Alex, karena menghalangi suaminya untuk kumpul bersama mereka melepas rindu.
Farhan tahu, Farina hanya sedang manja. Istrinya ini tidak akan marah lama dan tidak tega untuk menghalangi kesenangannya.
"Mami udah selesai haid belum?"
"Enggak usah pake nanya! Serbu aja, udah!" decak Farina.
"Asiapppppppp!" seru Farhan senang. Lelaki itu langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua yang akan siap berolahraga.
...๐พ๐พ๐พ...
"Ayah!"
"Hem." Mahendra bergumam dengan kelopak mata sudah tertutup. Mulan sedari tadi menggoyangkan lengan suaminya untuk bangun. Sepertinya Mahendra kelelahan bekerja, ia tertidur lebih cepat malam ini. Karena besok pagi dirinya akan berkumpul ria bersama teman-teman di rumah Ammar.
"Bangun, Yah!" Mulan memaksa lelaki itu untuk bangun.
Mahendra tetap saja membalas dengan gumaman. Entah kah ia memang sadar jika sang istri membangunkannya, atau hanya tengah menikmati alam mimpi.
"Ayahhhhhh!" Mulan gemas. Ia mengigit hidung suaminya. Mau tidak mau, Mahendra pun membuka mata. Iris matanya memerah, karena sedang nyenyak dibangunkan paksa.
"Kenapa, Bu? Kayak jombi kamu, gigit-gigit hidung!"
__ADS_1
Mulan bingung. Ia ingin menyergah Mahendra untuk tidak datang ke rumah Ammar. Tapi dengan alasan apa?
"Hemm ... itu loh, Yah."
"Apa? Pengin? Besok pagi aja, ya. Habis subuhan. Sekarang Ayah lagi capek."
Bola mata Mulan membulat, begitu malu dirinya ketika suami menganggap dirinya sedang ingin di sentuh.
"Iihh, bukan itu!!" Mulan mencubit perut suaminya. Mahendra terkekeh. Ia mengusap pipi istri nya dengan mata setengah mengantuk. "Terus mau apa, Sayang?"
"Besok enggak usah ke rumah Kak Dafa, ya, Ayah. Kita pergi aja ke Snowbay ajak anak kita jalan-jalan."
Mendadak rasa kantuk menghilang karena keinginan istrinya yang tiba-tiba sangat membagongkan. Haha.
Mahendra beranjak duduk. Ia menatap lamat-lamat wajah istrinya yang tengah duduk menyila di pertengahan kasur.
"Kan Ibu tau besok Ayah mau ke rumah calon mantu kita." calon mantu yang di maksud Mahendra di sini adalah Aurora. Lelaki itu ingin sekali menjodohkan Rora dengan Dava sejak kecil.
Mahendra selalu woro-woro bahwa mereka sudah di jodohkan. Mahendra sudah kepalang jatuh hati kepada Rora untuk Dava, anak sulungnya.
Sama seperti halnya Farina. Mulan pun cemas, ia tidak mau Yanti terpincut ketampanan suaminya. "Ya udah, lain kali aja, Yah. Kasian lho, anak-anak kita mau ke sana."
Mahendra mengerutkan dahi. "Masa? Dava sama Danisha aja udah enggak sabar mau main ke sana. Sebelum Ayah tidur aja mereka nanya lagi, besok pergi jam berapa. Mau siap-siap bangun pagi katanya."
Mulan hening. Ia mengutuk dirinya karena kekurangan ide. Wanita itu tidak bisa menyanggah lagi.
"Lagian 'kan masih ada hari-hari berikutnya. Mumpung kita berempat bisa kumpul, Bu. Ibu sih enak, kapan aja mau kumpul, bisa. Enggak repot sama kerjaan. Kalau kita kan waktunya susah, Bu. Ayah nya bisa, Farhan enggak bisa. Ammar ke luar kota. Giliran kita bertiga bisa, eh, si Alex yang enggak bisa. Mumpung besok kita semua bisa kumpul bareng. Bentar lagi juga mau masuk bulan Ramadhan. Ya hitung-hitung kita munggahan 'lah."
Mulan dengan berat hati, mengangguk. Apa yang di katakan suaminya memang benar. Mantan mafia-mafia tersebut memang jarang sekali bertemu. Mereka fokus mencari uang untuk kehidupan keluarga, mengelola perusahaan dan berbagai bisnis yang sudah halal. Jadi, boleh kan sesekali mereka semua bersenang-senang dengan para sahabat?
"Iya, Yah."
...๐พ๐พ๐พ...
"Ayang, minum ...." pinta Alex. Lelaki itu masih setia bermain game online, walau saat ini lawannya bukan lagi Farhan.
Yang di serukan diam. Sang istri tengah melamun. Menyandar di punggung ranjang dengan tangan bersedekap sambil menatap langit-langit kamar.
"Yang ...." suaminya kembali memanggil tanpa menoleh. Bola matanya masih fokus menatap gawai, di iringi dengan jari-jemari yang sedang berisik menekan layar.
Anna yang sejak tadi di serukan. Tidak mendengarkan. Ia sedang memikirkan isi grup Bidadari Hati Mafia yang sudah senyap sejak satu jam lalu.
"Ada pembantu cantik katanya di rumah Mbak Gana? Terus genit? Duh, gimana, ya, kalau Mas Alex ke sana. Takut nya di genitin juga."
Anna, salah satu istri yang polos dan lugu dari para istri mafia tersebut. Ia adalah istri yang tidak neko-neko, penurut, gaya bahasa lembut dengan perawakan tenang. Tapi, ia juga mempunyai sisi cemburu. Dan Alex suka kewalahan menenangkan jika wanita itu sudah merajuk soal wanita lain.
Anna pernah tidak jadi membeli barang, karena penjualnya memberikan senyuman manis kepada Alex. Apalagi saat ini, kondisi wajah Alex sudah mulus seperti semula. Ammar, Farhan dan Mahendra membawa Alex untuk mengoperasi wajahnya di luar negeri. Terutama Farhan, ia ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada Alex, karena ulahnya dulu. Terlepas dari Mahendra. Alex mempunyai perusahaan sendiri sekarang, dan berkembang pesat.
"ANNA!"
"Eh, iya, Mas. Kenapa tadi?" Anna bangkit dari lamunan. Ia kaget sekali saat suaminya berseru nyaring.
Alex sudah menatapnya sekarang. "Dipanggil suami, diam aja. Malah ngelamun, kamu 'nih lagi kenapa?"
Anna mengulas senyum tipis walau dalam hatinya sedang gegana, ia menggelengkan kepala. "Nggak ada apa-apa, Mas. Oh, iya, tadi Mas mau minta apa?"
__ADS_1
Alex melirik ke arah dada Anna. "Mau minum."
Anna menjauhkan sedikit tubuhnya yang saat ini sedang bersisihan dengan Alex di kepala ranjang. "Jangan sekarang 'ah! Masih haid!"
Alex terkekeh. Ia kembali menatap gawai. "Aku haus. Mau minum, jus alpukat kayaknya enak 'nih," pinta Alex manja. Ia mengedipkan salah satu matanya kepada Anna. Si jaguar sedang merayu.
Si penurut mengangguk. "Tunggu, ya, Mas. Aku buatkan dulu." tidak perduli sudah jam sembilan lewat, ia tetap menuruti permintaan suaminya. Berlalu lah dirinya menuju dapur. Jam segini, Art nya sudah berada di kamar. Maka ia yang turun tangan sendiri.
Padahal suaminya meminta jus alpukat. Tetapi wanita ini malah memasukan bahan yang lain, dan Anna tidak sadar. Denial nya sedang melalang buana. Memikirkan Baby sitter bohay yang ada di rumah Gana.
Lima menit cukup untuk membuat jus. Wanita itu masih tidak sadar, jika jahe dan kunyit yang sedari tadi ia pakai untuk bahan utama jus. Di bawanya cangkir kaca berkaki. Jus terlihat bergoyang-goyang di dalam nya saat Anna membawanya masuk ke dalam kamar.
"Ini, Mas." Anna menyodorkan langsung ke bibir Alex. Lelaki itu mengangguk, ia memajukan bibir untuk menyantap dengan mata masih awet di layar gawai.
Dan.
Byrrr.
Kain piyama di bagian dada Anna basah karena cairan jus lahnat yang Alex semburkan dari mulutnya.
"Aaaahh, Mas! Tuh 'kan kotor bajuku!" Anna mengoceh.
Alex mengelap sudut bibirnya. Lelaki itu tersentak.
"Jus apa itu?! Pahit banget!" seru Alex.
"Ya, jus alpukat 'lahhhh----" suara Anna mengatung, saat ia baru tersadar kalau warna jus di cangkir berwarna kuning.
"Lho 'kok?" gumamnya sendiri. Ia tatap Alex yang manik matanya sudah membola.
"Jus apa itu?"
"Alpukat, Mas."
"Bohong!"
Anna meringis. Ia mengigit bibir bawahnya. Kenapa ia jadi salah? Dan tidak mengingat apa-apa? Apa yang sudah ia masukan ke dalam blender?
"Beneran, Mas. Ini Alpukat 'kok."
Bola mata mantan mafia itu mendelik. Dan Anna menyerengit takut.
"Aku telanjanginn kamu, kalau masih ngeyel! Itu apa, ANNA?" Alex memaksa. Ia bukan orang bodoh yang tidak pernah menikmati jus alpukat selama hidup.
"Alpukat, Mas. Beneran." Anna memundurkan kakinya, menjauh dari bibir ranjang.
"Kamu!" Alex mulai mengeratkan giginya, ia ingin menerjang Anna sekarang juga.
"Alpukat, Mas! Alpukat basi ... Huaaaaa ... Anggi, tolong Bunda!!" Anna berlari saat Alex bergegas cepat turun dari ranjang dan mengejar istrinya yang berteriak lucu menuju kamar putra semata wayangnya.
Semua ini gara-gara Yanto. Hebat sekali dia bisa menjadi buah pikir para istri mantan mafia. Haha.
...๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ...
Kali-kali ya mereka bertiga yang aku munculin. Hihihi. Like dan Komennya ya jangan lupa.
__ADS_1
Kasih foto ketua Mafia nya 'ah