Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Hanya Ingin Menjaga Kamu.


__ADS_3

"Kalian urus permintaan Farhan barusan ya." ucap Ammar, ketika mobil yang mengantarnya baru saja sampai di halaman rumah.


"Apa Bapak tidak mau meneliti ulang? Atau memeriksanya dulu?" sergah Bima yang selalu setia duduk disebelahnya.


Denis menoleh ke belakang dari balik kemudinya. "Kalau memang menurut Pak Farhan, granat kita kurang satu komponen bahan material. Sehingga si pengorder membatalkannya, bukannya seharusnya bekas fisiknya ada, Pak?"


Ammar hening sesaat. Lelaki itu sedikit terhenyak dengan penuturan Bima dan Denis. Ia kaget kalau dua asistennya ini juga memperhatikan. Bukan dia tidak peka sampai kesana, tapi untuk banyak beragumen dengan Farhan, rasanya akan membuat hubungan mereka merenggang, karena Farhan merasa tidak dipercaya.


"Kita akan rugi lebih banyak, karena harus mengulangi modal awal. Ini sama saja Bapak memberikan modal pertama secara cuma-cuma." Bima menambahkan.


"Belum lagi dengan masalah baja di EG. Pak Farhan sudah banyak meminjam alat kita, tapi tidak pernah membayar sewa seperti perjanjian di awal."


Ternyata Farhan banyak menorehkan kekesalan batin di hati Bima dan Denis. Tidak dari usaha sampingan saja, tetapi juga dari usaha utama. Lelaki itu pun bermasalah.


Ammar menghela napas panjang, seraya memijat kepala yang mulai pening sekarang.


Bima dan Denis senang dengan perubahan sikap Presdirnya. Mereka merasa berhasil mendoktrin Ammar. Dan ternyata.


"Jangan berfikir macam-macam. Kalian kan tau, hanya Farhan sahabat yang paling setia dengan saya sampai detik ini. Beliau lah yang membantu, mendorong dan menemani saya sampai sesukses ini. Bisa mengembangkan EG menjadi pesat seperti sekarang. Karena seorang penghianat, tidak akan mungkin bertahan lebih dari sembilan belas tahun lamanya."


Ammar menerawang jauh, kembali mengingat persahabatan mereka yang dimulai dari kelas dua sekolah dasar. Sesaat Farhan pernah mengukir luka dihatinya kala itu, dan di saat itu pula, persahabatan mereka terjalin. Farhan selalu menjaganya dari segala kekerasan teman-teman yang lain. Farhan sangat berharga bagi Ammar, setelah Alex.


"Jika saya harus membayar untuk bisa memiliki sahabat. Pasti akan saya bayar dua kali lipat. Yang penting, dia tetap berdiri didekat saya."


Rahang Ammar mengencang. Mengingat bagaimana penuturan Farhan tentang Alex yang sangat tega mengkhianatinya. Ammar mengulas senyum lalu tertawa.


"Teman yang baik akan bertemu dengan teman yang baik juga. Seperti Alex dan Mahendra, teman yang buruk akan bertemu dengan teman yang buruk. Kalian tau kan, bagaimana Alex bisa mati ditangan Mahendra?"


Bima dan Denis mengangguk berat. Ingin menyergah, agar tidak langsung percaya dengan bualan Farhan. Karena sampai detik ini Farhan tidak memberikan bukti tentang kematian Alex. Namun mereka tidak berani karena suara Ammar sudah terdengar dingin dan datar.


"Tunggu dulu di sini. Sebentar lagi saya akan kembali dengan Gana."


"Baik, Pak." seru mereka berdua.


Denis turun lebih dulu dari pintu pengemudi lalu melangkah sedikit ke belakang untuk membukakan Ammar pintu. Sang Presdir yang masih mengenakan kaca mata hitam, bergegas turun untuk masuk kedalam rumah.


Bima turun, dan berdiri didepan pintu. Denis dan Bima bersiap menjamu Presdir dan Istrinya kembali ke mobil sebentar lagi.


***

__ADS_1


Berkali-kali Ammar melirik ke arah paha istrinya yang tidak tersingkap dengan kain dress. Dan berkali-kali itu pula, Ammar menarik tepi dress untuk bisa menutupinya.


"Besok-besok jangan pakai baju yang seperti ini."


Gana mengedikkan pangkal bahu dan menautkan alis. "Kan kamu yang belikan, tidak ingat?"


Gana hanya memakai baju yang disediakan oleh Ammar lemari.


"Tapi kan kamu harusnya tau, kalau dress ini terlalu pendek."


Gana mendengus. "Ya, udah---"


"Besok akan aku bakar dress ini." Ammar menyelak sambil menatap tidak suka dress yang sedang dipakai oleh istrinya.


Lelaki itu memilih menyandar di sofa bundar yang sejajar dengan istrinya. Kembali menatap layar gawai dan membuka aplikasi games. Hanya itu yang bisa meredam api kemarahan Ammar.


Merasa tersudut, dan merasa tidak salah dengan apa yang ia pakai. Gana menggeleng samar, jika tahu akan berujung dengan keributan, ia malas untuk pergi ke tempat makan seperti sekarang.


Lagi pula, mereka sedang duduk di meja VIP. Sangat jauh dari dari jangkauan orang-orang. Tidak akan ada yang melihat paha Gana yang terbuka.


"Di bakar?? Ngaco kamu tuh! Dress bagus kayak begini main dibakar aja. Diluar sana banyak orang yang enggak punya baju. Harusnya kita itu bersyukur." decak Gana.


"Kamu terlalu perasa, Ammar! Mereka semua biasa aja. Apa kamu enggak lihat, banyak juga kok wanita di sini yang berpakaian seperti aku, malah mereka lebih berani---"


"Kamu bukan mereka!" lagi-lagi Ammar menyelak.


Gana berdecih. "Kamu baper banget sih!"


"Aku hanya mau menjaga kamu ..." suara Ammar begitu tegas, sampai jantung Gana tiba-tiba berdetak cepat. Ia tidak pernah melihat sikap Ammar sedingin ini kepadanya. Tapi Gana adalah wanita berbeda. Dia juga keras kepala, tidak begitu saja mudah untuk bisa dibuat tunduk.


"Dengan kamu bawa-bawa Bima dan Denis kemanapun kita pergi, apa itu enggak cukup untuk ngejaga aku? Kamu itu laki-laki dewasa, atau anak bayi? Apa sih yang kamu takutkan? Sampai harus terus di kawal? Aku terganggu dengan mereka dan para bodyguard kamu!"


Gana mulai memancing seekor harimau jantan untuk mengeluarkan taringnya.


Ammar mendongak dan menatap lurus manik mata Ganaya. Hatinya terusik, karena Istrinya ini terus saja membantah, malah mencari-cari perkara. Ammar tersinggung. Tidak tahu saja Gana, sejatinya Ammar bukanlah anak bayi yang sepeti ia ucapkan. Malah lelaki itu lebih berani dari Iblis sekalipun.


"Kenapa jadi bawa mereka berdua? Apa masalahnya? Toh sekarang, hanya kita berdua di sini. Mereka tetap menunggu kita di mobil!" jawab Ammar dengan tatapan tidak suka. Intonasi suaranya mulai meninggi. "Aku tidak suka kamu terlalu mengusik hal itu." Ammar kembali berujar, membekukan suara Gana yang sebentar lagi akan keluar.


"Aku suamimu. Tidak ada satu kalimat pun yang bisa kamu bantah. Walau nyatanya masih ada keinginanku yang masih kamu bantah dan belum bisa kamu penuhi."

__ADS_1


DEG.


Jantung Ganaya semakin memburu. Sakit sekali rasanya. Wanita itu sampai meremat kain berlapis di dada. Ucapan Ammar begitu menusuk. Walau Gana tahu, dirinya salah. Ia belum mampu memberikan kehormatannya, dan Ammar sudah mau menerima. Tetapi mengapa lelaki itu mengungkitnya lagi. Apakah iyaan jawaban Ammar kemarin hanyalah kamuflase saja? Batin Gana, berguncang hebat.


Menyeka kasar air mata yang ingin turun, meraih tas yang ia letakan di meja, lalu beranjak bangkit dari sofa.


"Permisi ... Ini daftar pesanan----" ucapan pelayan terhenti ketika Gana menabrak bahunya tampa sengaja. Wanita itu melangkah panjang dan terburu-buru meninggalkan restoran. Tidak napsu lagi dirinya untuk makan berdua di sini.


Ammar mengusap wajahnya gusar. Ia bergegas mengejar Gana yang meninggalkan dirinya beberapa langkah dari belakang.


"Gana ... tunggu!" seru Ammar. "Maafkan aku sayang." walau hatinya kesal, tapi ia tidak mau Gana pergi seperti ini. Ia tahu dirinya salah sudah memancing sesuatu yang seharusnya tidak perlu dibahas.


"Sayang, tunggu. Maaf aku tidak sengaja berkata seperti itu." Ammar harus mengalah demi istri tercintanya. Gana menepis tangan Ammar ketika berhasil mencengkram lengannya.


"Sayang ..."


Gana tetap saja melangkah, ia tidak memperdulikan seruan suaminya.


"Gana!"


Dan.


Tap.


Langkah Gana akhirnya terhenti. Ammar bisa bernapas lega, karena Gana masih mau mendengarkan panggilannya, nyatanya bukan hal itu yang membuat Gana langsung mematung ditempat.


Ada Adri, Mutiara serta kedua anaknya yang sedang berjalan beriringan menuju ke arahnya. Sepertinya keluarga itu juga ingin makan di sini.


Adri dan Gana saling bersitatap dalam mode hening dari kejauhan. Walau sebenarnya mereka berdua tersentak karena bisa dipertemukan di tempat ini.


Restoran yang selalu menjadi tempat andalan bagi Adri dan Gana. Saling menyuapi, makan dengan sendok yang sama dan mencoba banyak makanan sampai tidak bisa tertampung ke dalam perut.


Kini mereka datang, dengan membawa keluarga masing-masing. Entah kebetulan, atau memang ingin bernostalgia dengan kenangan.


Air mata Gana menetes lagi.


***


Like dan Komennya yaa🌺

__ADS_1


__ADS_2