Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Lima Bulan Pernikahan.


__ADS_3

Hembusan angin menyusup masuk menjelajah ke dalam lubang ventilasi jendela kamar yang langsung berhadapan dengan kebun belakang. Membuat si penghuni kamar terasa terusik dengan semilirnya yang dingin.


Ammar mengerjapkan mata berulang-ulang untuk menghilangkan kabut putih yang masih menutup iris matanya, disertai dengan uapan yang keluar dari mulutnya, karena rasa kantuk masih saja kentara.


Lelaki itu beranjak duduk, menyandarkan tubuh polosnya yang berbalut selimut di sandaran ranjang. Ia menilik ke arah nakas disebelahnya. Mendapati sebuah segelas susu cokelat yang sudah tidak lagi hangat.


Dan yang lebih membuat kedua mata Ammar membola, ketika ia meneliti, ada sebuah kertas kecil bergambar Spongesbobs tersemat di bawah gelas. Ada sebuah tulisan dengan kalimat.


-Good Morning Husband-


Ammar tersenyum penuh cinta. Menatap secarik kertas kecil yang langsung ditulis oleh tangan istrinya. Ia menoleh ke kiri, menatap gusaran seprai bekas jejak tubuh Gana. Apalagi semalam, wanita itu kembali menuntaskan keinginan hasrat Ammar walau masih belum sempurna.


Sudah lima bulan mereka merajut pernikahan. Dan tetap saja Gana belum bisa melepas kehormatannya untuk sang suami. Ammar bilang tidak masalah untuk menunggu. Selagi Gana selalu mau jika di minta untuk mengelus-elus Harley sampai menumpahkan cairan larvanya.


Ammar meraih segelas susu tersebut dan menenggak nya sampai habis. Kemudian melangkah ke kamar mandi dengan keadaan tubuh yang telanjangg bulat. Lelaki itu memang kebiasaan, kadang Gana suka berteriak.


"Kenapa teriak sayang? Kan, kamu sudah melihatnya beberapa kali?" begitulah yang di ucap Ammar ketika Gana langsung membekap wajahnya.


"Beda dong, kalau malam kan gelap. Kalau sekarang pagi! TERANG, malu lah!!" Gana akan selalu berdecak seperti itu. Dan melenggang pergi.


Ammar hanya bisa tersenyum, ketika mengingat istrinya akan merajuk seharian karena hal itu. Walau makin kesini, Gana sudah mulai membuka dirinya untuk Ammar. Tidak akan mengomeli lelaki itu jika tiba-tiba memeluk dari belakang, mencium bibirnya tiba-tiba atau minta untuk di manjakan.


Walau sedihnya, Gana masih saja belum bisa mencintai Ammar. Padahal wanita itu sudah berjuang sekuat mungkin.


***


"Yun, Ibu di mana?" tanya Ammar yang baru saja keluar dari kamar. Ia mendapati Yuni sedang mengisi bunga-bunga mawar kesukaan Gana di setiap vas bunga.


"Biasa, Pak. Lagi yoga. Bapak mau sarapan?"


Sarapan apa? Ini sudah pukul 09:00, Ammar selalu telat bangun jika di hari minggu. Dibangunkan untuk olahraga sangat susah.


Dan terlebih lagi, Gana suka kesal, karena setelah mereka melakukan ritual cinta seperti tadi malam. Ammar akan sulit dibangunkan shalat subuh. Lelaki itu menolak, karena tidak mau menyentuh air dingin pagi-pagi.


"Kamu jangan alasan! Malas shalat subuh hanya karena dingin, kan air shower bisa di atur jadi hangat! Ayo cepat bangunnnnnn!!! Mandi besar dulu baru shalat! Ayo, cepat!"


Ya, begitulah Gana. Ia akan selalu berteriak seperti itu sambil menarik-narik selimut yang masih membentang ditubuh suaminya. Walau hanya disaat Ammar sudah mendapatkan pelepasan, selebihnya, sengantuk-ngantuknya ia akan tetap bangun untuk menjalankan shalat subuh berjamaah dengan Gana, ia hanya menghindari mandi di watu subuh.


Padahal Baginda Nabi Muhammad SAW, selalu mandi sebelum subuh. Bisa membuat tubuh kita sehat, awet muda dan mendapat banyak keberkahan.


Ammar dengan rambut yang masih basah karena sehabis keramas, hanya menggeleng menatap Yuni. Ia melanjutkan langkah untuk mencari Gana ke sana.

__ADS_1


"Oh, iya, Pak----" Yuni seakan baru ingat sesuatu. Kalau Denis dan Bima sudah sejak pagi menunggu majikannya bangun. Tapi Ammar sudah keburu menghilang, dan Yuni memilih kembali melakukan pekerjaannya. "Nanti juga ketemulah di belakang." gumamnya.


Langkah Ammar sampai diambang pintu yang menyekat antara bagian dalam rumah dan pelataran kolam renang.


Dirinya tersenyum ketika mendapati Gana sedang yoga di sebuah saung yang ia buat khusus, agar istrinya bisa olahraga dengan tenang. Apapun untuk Gana, akan Ammar penuhi.


Lekuk tubuh Gana memang sexy. Apalagi dengan baju Yoga yang saat ini ia pakai. Baju bertali satu, lengan dan lehernya terlihat bebas.


Body nya begitu ramping, pinggangnya seperti biola. Kulitnya putih dan mulus. Bagi Ammar, Gana adalah wanita yang hampir sempurna. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.


"Cantiknya istriku." gumamnya senang. Ia fokus menatap punggung Gana yang sedang sibuk dengan gerakan yoga nya. Wanita itu duduk menyila dengan memejam mata seperti sedang mediasi.


Ketika asik menatap istrinya dari bingkai pintu. Kening Ammar tiba-tiba mengkerut. Samar-samar ia mendengar suara lelaki yang tengah berbisik-bisik.


Bahkan ada sedikit candaan yang pelan namun masih bisa di dengar. Lantas Ammar menoleh, lalu matanya melotot tajam ketika mendapati Bima dan Denis sedang asik menikmati cemilan yang di di suguhkan Yuni.


Dua lelaki itu sedang duduk di meja bundar dekat kolam renang. Bola mata Denis dan Bima melirik ke arah Gana yang sedang fokus dalam yoga nya.


"Kurang ajar! Istri bosnya masih aja di santap!" Ammar dengan rahang mengencang, lalu melangkah menuju mereka. Berjalan pelan dari belakang.


Lalu.


Dengan kedua tangannya, Ammar menggeplak wajah Denis dan Bima bersamaan. Sontak dua lelaki itu terkesiap. Ia beranjak bangkit dan sedikit menjauh.


Ada meteor jatuh 'kah? Yang langsung menyambar mereka dengan sengatan listrik tanpa aba-aba.


"Mau saya colok mata kalian? Lalu saya lempar ke anjingg-anjingg lapar???" seru Ammar dengan mata yang menyalak tajam. Ia paling tidak suka tubuh istrinya di nikmati selain dirinya.


Dengan wajah yang masih panas, dan hanya bisa memaki dalam hati. Bima dan Denis memilih menunduk. "Maafkan kami, Pak." jawab mereka bersamaan.


"Tunggu saya di ruangan kerja! CEPAT!"


"Bbaa---ik, Pak." Bima dan Denis bergegas secepat angin tornado meninggalkan Presdirnya.


Ammar menghela napas panjang. Ia masih saja kesal dengan dua anak buahnya yang untungnya selalu setia. Sebenarnya ini bukan hanya kesalahan Bima dan Denis, ia hanya sedang menunggu Ammar bangun tidur, yang kebetulan bangunnya sangat lama.


Serta, Gana yang menyuruh mereka untuk bersantai di pinggir kolam renang, sambil menikmati kue dan teh hangat. Gana tidak tahu, kalau Bima dan Denis sedang bercanda membicarakan keelokan tubuhnya. Namanya juga lelaki normal. Bima dan Denis, pure bercanda saja.


Gana yang masih memejamkan mata dan fokus menenangkan diri dalam Yoga-nya. Tiba-tiba tersentak. Membuka kelopak matanya cepat dan mengerjap bingung, karena sang suami langsung menyergapnya dalam gendongan. Dirinya di bawa paksa masuk kedalam rumah.


Ammar menggendong Gana dengan teknik kangguru. "Kamu tuh kenapa? Lepasin enggak!" decak Gana.

__ADS_1


Ammar menggeleng. "Enggak! Sebelum kamu ganti baju!"


"Lho aku kan sedang Yoga!"


"Ganti baju, ini terlalu sexy dan ketat!"


"Baju Yoga memang seperti ini. Dan biasanya kamu enggak marah!" Gana tetap membantah.


"Sekarang aku marah! Ganti dulu bajunya baru boleh Yoga lagi."


"Enggak mau ah, ribet. Lepasin enggak." seru Gana.


Dan Ammar tidak perduli, ia tetap menggendong tubuh istrinya. Gana tidak bisa berbuat apa-apa, selain hanya melingkarkan lengan di leher suaminya dan kedua kaki jenjangnya melingkar di pinggang Ammar. Lelaki itu terpogoh-pogoh membawa Gana dengan meletakan kedua tangannya di dibawah bokong wanita itu dan terus melangkah masuk kedalam.


Ketiga Art mengerutkan kening, ketika melihat Gana hanya bisa pasrah dalam gendongan Ammar.


Brug.


Gana di dudukan dibibir ranjang. "Kalau masih mau Yoga, ganti bajunya." titah Ammar dengan napas yang berantakan. Bukan karena tubuh Gana yang berat, tapi langkah kakinya yang terasa cepat menuju kamar membuat napasnya terseok-seok.


"Cemburu lagi ... Aduhhh." Gana mengeluh dengan memutar bola matanya jengah. Sejatinya ia tahu kalau Ammar sedang marah kepada Denis dan Bima. Karena saat ia yoga, dirinya tidak sengaja mendengar makian yang Ammar berikan kepada dua asistennya tersebut. Tapi wanita itu tidak akan menyangka, Ammar akan menggendongnya dan membawa ke kamar.


"Aku udahan aja Yoga nya, mau mandi."


"Ya sudah aku tinggal dulu. Kalau ada apa-apa, aku diruang kerja." Ammar berbalik untuk keluar dari kamar.


"Hemm ..." Gana memiringkan sudut bibirnya.


"Tapi kita jadikan pergi ke taman bunga?"


Langkah Ammar terhenti. Ia setengah menoleh dan mengangguk. "Aku dengan mereka hanya sebentar, kamu mandi saja dulu. Siap-siap, nanti sehabis itu kita jalan."


"Oke." Gana kembali melangkah menuju kamar mandi. Dirinya mandi lagi untuk kedua kalinya di pagi ini. Peluh terasa banjir di sekujur tubuhnya.


Suaminya itu memang lembut. Tapi kalau sudah marah, Gana hanya bisa diam. Semakin kesini ia semakin mengenal Ammar luar dalam. Walau sejatinya ia belum mengenal lebih jauh siapakah Ammar sebenarnya.


***


Punya istri cantik begini, suami mana yang enggak akan cemburu? Apalagi dedek Ammar yang udah kepalang cinta mati sama Gana.


__ADS_1


__ADS_2