Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Kamu Cari Apa?


__ADS_3

Sudut bibir Ammar terangkat meninggi. Senyumnya mengembang laksana bunga yang sedang merekah. Tatapan matanya tak jemu-jemu menyorot raut cantik sang istri pagi ini.


Ammar sedikit menunduk ke bawah, memperhatikan Gana yang sedang merapihkan dasi di kerah kemejanya. Saat ini, mereka berdua sedang berada di ambang pintu rumah. Menunggu kedatangan Bima, Denis dan para Bodyguard untuk menjemput Ammar menuju kantor.


"Kamu cantik hari ini ... Dan aku suka." Ammar mendendangkan bait lagu dari Lobow.


Menggoda istrinya yang sejak tadi sudah memerah karena menahan malu. Lega kembali hati Ammar, karena sikap Gana sudah membaik seperti biasa sejak perdebatan tadi malam. Sepanjang malam Ammar mendekap erat tubuh istrinya, takut-takut Gana kabur meninggalkannya.


"Duh yang malu-malu meong ..." ledek Ammar. Ia menjawil pipi Gana.


"Isssh!" Gana mencebikkan bibir ranumnya.


"Kamu benar tidak mau ikut aku sayang?" tanya Ammar. Tangannya menyampirkan helaian rambut Gana ke belakang telinga.


"Aku dirumah aja ya, mau ngurusin tanaman, kan kamu tau Pak Aji udah lama gak masuk."


"Mau aku carikan tukang kebun yang lain?" Ammar menawari.


Gana menggeleng. "Yuni bisa kok bantuin aku."


"Kalau kamu butuh, tinggal bilang ya."


"Iya."


Tak lama kemudian dua mobil masuk ke dalam gerbang. Jemputan Ammar sudah tiba.


"Aku berangkat dulu ya, sayang. Nanti aku mau makan siang di rumah. Masak yang enak ya." bisik Ammar lalu mencium pipi istrinya.


"Kamu mau makan apa?"


"Apa aja aku suka."


"Batu goreng mau?" ledek Gana.


"Beton rebus aja, bisa nggak?"


Gana tertawa.


"Kalau lihat kamu lagi imut gini, jadi pengin polosin kamu di tempat tidur." ucap Ammar dengan kekehan.


Tawa Gana menghilang, berganti dengan sungutan. Ia menjewer telinga suaminya. "Bener-bener ya otak kamu nih gak jauh-jauh!"


"Cepet jatuh cinta sama aku ya. Kasian nih si Harley keburu bisa-nya jadi agar-agar nutrijel."


"Sebentar lagi, sabar ya." bisik Gana. Dan Ammar hanya menganggap semua itu sebagai bercandaan semata. Padahal Gana memang sudah bersiap untuk melepas kehormatannya.


Tetapi selalu maju mundur karena moodnya yang selalu berubah-ubah. Ammar berhasil mempora-porandakan hatinya dengan kasus masalah yang ingin sekali Gana ketahui.

__ADS_1


Karena bertahun-tahun tahu Gana selalu menutup diri untuk menyukainya, sampai Ammar tidak peka ketika wanita itu sudah mulai mencintainya.


"Ya udah sana. Itu anak-anak kamu udah nungguin." ledek Gana kepada Ammar sambil melirik ke arah Bima dan Denis.


Ammar tertawa, mengusak pucuk rambut Gana dan kembali mencium kening wanita itu. "Hati-hati di rumah ya."


Ammar berlalu setelah mendapat anggukan kepala dari Gana. Lelaki itu kembali menoleh sebelum masuk ke dalam mobil. Tetapi, tiba-tiba netra gelap Ammar membola fokus ke arah kepalan tangan Gana. Ia tidak sengaja melihat sesuatu yang menyembul dari genggaman tangan istrinya.


"Seperti?" gumamnya. Lelaki itu menyerengitkan dahi, seraya sedang menerawang sesuatu.


Tahu, jika sedang di perhatikan. Buru-buru Gana menyembunyikan kepalan tangannya ke belakang bokong. Gana tetap tersenyum untuk menahan rasa gugupnya. Ia tidak ingin barang bukti yang baru ia temukan dari jaket Ammar terhempas begitu saja.


"Hati-hati ya." seru Gana lagi sambil melambaikan tangan ke arah suaminya sebagai kode agar Ammar cepat berangkat. Dengan raut curiga dan senyuman yang tidak lagi riang, Ammar mengangguk dan masuk ke dalam pintu penumpang. Hatinya serasa gamang.


"Hhh ... hampir aja ketahuan." Gana mengelus dada. Melihat mobil Ammar sudah keluar dari gerbang. Gana langsung mengambil langkah seribu untuk masuk kedalam, dan menyembunyikan kartu passcode apartemen yang tertinggal dijaket suaminya tadi malam. Tidak sengaja terjatuh pada saat Bik Ratih membawa jaket kotor itu dari kamar ke ruang laundry.


Ketika hendak masuk ke kamar, Gana melambaikan tangan ke arah Yuni yang sedang sendiri, tengah berdiri meja makan. "Masuk." titahnya pelan.


Yuni mengangguk dan melangkah masuk kedalam kamar majikannya.


"Kita jadi pergi lagi, Bu?" tanya Yuni.


"Iya, kamu siap-siap. Dan simpan ini, jangan sampai hilang. Saya takut Bapak ngobrak-ngabrik kamar, karena curiga kehilangan benda ini." Gana menyodorkan kartu passcode apartemen kepada Yuni.


Yuni mengangguk. "Sebenarnya ada apa sih, Bu, dengan Bapak?"


"Siap 45, Bu."


"Tenang, nanti gaji kamu saya tambahin."


Yuni tertawa. "Selama ini Ibu udah baik banget. Abah saya dikampung titip salam buat Ibu dan Bapak karena udah mau ngebenerin jambann di kampung. Jadi Ibu enggak perlu nambahin gaji, saya ikhlas tolongin Ibu."


Gana memeluk Yuni. Dan yang peluk merasa tidak percaya diri karena masih bau daki. Haha.


"Makasih banyak, Yun."


Yuni mengangguk dan membalas usapan lembut dipunggung Gana.


"Oh, iya, Bu. Tadi malam Ibu bertengkar sama Bapak?" tanya Yuni setelah menarik pelukannya.


Kening Gana mengkerut. "Kok kamu bisa tau, Yun?"


"Bik Ningsih bilang waktu mau ke dapur enggak sengaja dengar suara Ibu sama Bapak kayak lagi ribut gitu." jawab Yuni polos tanpa rasa curiga. Dan Gana pun sama, tidak menaruh rasa aneh sama sekali. Dirinya mewajari kalau semua art mungkin dengar, karena suaranya tadi malam memang kencang sekali.


Gana mengangguk. "Sepulang dari apartemen, Bapak tuh lagi--"


Krek.

__ADS_1


Pintu kamar membentang lebar. Seketika Gana dan Yuni terlonjak. Mereka sampai berdiri kaget.


"Kok kamu balik lagi?" tanya Gana gugup. Ketika melihat suaminya kembali lagi kerumah dan masuk kedalam kamar.


"Ya udah Yun, kamu balik lagi beberes ya." Gana memulai aktingnya bersama Yuni. Untung saja kartu passcode yang diberikan oleh Gana kepada Yuni, sudah di masukan ke dalam saku celananya.


"Baik, Bu, Pak. Yuni permisi."


Ammar mengangguk tanpa menjawab. Ia bergegas menelisik seluruh sudut kamar, melongokkan kepala ke bawah ranjang dan sofa. Menatap sudut kamar. Mengangkat bantal, membentangkan selimut.


"Kamu pasti cari kartu itu, maaf sayang. Kartumu sudah aku amankan." gumam Ganaya. Wanita itu tersenyum dalam hati.


Gana menghampiri Ammar dengan wajah yang pura-pura tidak mengerti.


"Kamu cari apa, Ammar? Ada yang tertinggal? Biar aku bantu cari." ucap Gana lembut.


Bola mata Ammar berpendar kesana kemari. Napasnya mulai berantakan dan menatap Gana dengan tatapan mencurigakan.


"Kamu lihat---"


"Lihat apa?" selak Gana.


Ammar menghentikan ucapannya. Tidak mungkin 'kan jika ia bertanya tentang kartu apartemen, sedangkan dirinya selalu bilang tidak mempunyai apartemen kepada Gana. Dan jika berkata jujur, otomati urusan akan semakin panjang.


Ammar menggeleng. Tetapi bola matanya kembali menilik tangan Gana.


"Kenapa? Apa yang ingin kamu cari?" tanya Gana. Walau dalam hatinya meledek.


Dirinya senang karena sudah berhasil mengelabuhi sang suami. Kartu sudah ditangan tinggal berusaha mendapatkan pin dari kartu tersebut. Hal yang tidak akan rumit bagi Gana. Ia adalah wanita yang kuat dan cerdas.


Ammar menggeleng. Lidahnya kelu untuk berbicara. Ia merasa Gana tampak biasa saja, seperti orang yang sedang tidak menyembunyikan sesuatu. Ia hanya takut Gana menemukan kartu passcode apartemen itu, dan sudah dipastikan, mereka akan kembali ribut. Karena Ammar ketahuan kembali menipunya. Serta, Gana bisa sana merengek untuk mendatangi apartemen. Terbongkarlah semuanya.


"Ammar, kenapa?" Gana mengulanginya lagi. Agar aktingnya mantap, ia terus saja bertanya seolah-olah seperti orang yang betul-betul tidak faham dan mencurigakan.


Ammar menggeleng dengan senyuman tipis.


"Enggak apa-apa. Ya udah aku berangkat lagi ke kantor."


"Ayo, aku temani ke luar." Gana menggandeng tangan suaminya dengan penuh semangat.


Yess ... Saatnya kita beraksi, Yun. Batin Gana. Semangatnya meletup-letup. Baru kali ini, seorang istri senang ingin menjadi detektif untuk suaminya sendiri. Ia hanya ingin menyadarkan Ammar jika lelaki itu terbukti bersalah.


Semoga saja niat Gana tidak pupus dan memutuskan untuk pergi, jika Ammar melakukan kesalahan diluar batas nalarnya.


****


Like dan Komennya yaw🌺

__ADS_1



__ADS_2