Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Suami Terbaik.


__ADS_3

Kedua tangan Gana masih memeluk dada Mulan, merebahkan kepalanya di pangkal bahu wanita yang baru saja ia kenal. Gana menumpahkan semua air bening dari bola matanya yang sudah memerah. Bahunya membuncang dalam tangis yang terseguk-seguk.


Mulan ikut menangis. Hatinya ikut patah ketika Gana menceritakan tentang perasaanya sekarang. Dikhianati oleh calon suami selama memadu kasih. Gagal menikah, dan sekarang membina pernikahan bersama orang yang belum dicintai.


Berkali-kali Mulan menanyakan tentang kepribadian suaminya. Tapi Gana bilang, ia belum siap go public. Karena hatinya masih bimbang. Perasaannya terkadang mundur maju. Ingin menceraikan atau tetap melanjutkan, tanpa rasa.


"Aku harus bagaimana, Mba?" tanya Gana terisak.


Air mata Mulan terus berduyun seiring pangkal bahu Gana yang belum berhenti bergerak. "Hatimu sudah kosong kan sekarang?"


Gana mengangguk. "Tinggal tata hatimu untuk mencintai suamimu, Mba."


"Apa aku bisa, Mba?"


Mulan melepas pelukan itu, lalu menangkup wajah Ganaya. Menyatukan mata mereka. "Harus bisa! Kamu bisa, karena aku pun bisa. Apalagi hatimu sekarang sudah kosong. Tinggal selangkah lagi, Gana."


"Hatiku suka bercabang, Mba. Kadang bisa berubah suka, kadang berubah tidak suka. Kadang ingin didekatnya, kadang tidak mau. Kadang aku senang lihat senyumnya, kadang aku benci melihat dia walau sedang diam."


"Tembus semua itu, Gana. Suamimu adalah jodoh terbaik dari Allah. Kamu sudah tau bagaimana kisah ku dengan Ayahnya Dava 'kan? Ayo kamu coba. Lepas masa lalu, jalani masa depan. Mulai membuka diri, mencoba menerima segala sentuhan darinya."


"Aku memang belum mencintai suamiku sehabis kita menikah. Tapi, aku tetap melayani kebutuhan batin dan jasmaninya. Ada perasaan tidak suka, jijik, tidak mau, tapi tetap aku tahan."


"Karena pada saat itu aku sudah menanggung dosa banyak. Dosa, karena masih mencintai Kak Dava, dan dosa karena belum bisa mencintai dan menerima suamiku dan pernikahan kami."


"Maka dari itu, aku tidak ingin memperlebar dosa. Aku belajar mencoba ikhlas, memberikan hidupku dan tubuhku kepada suamiku. Sampai Dava ada diantara kami, dan akhirnya aku bisa mencintai Ayahnya Dava."


"Kamu harus tahu, Allah tidak meridhoi istri yang tidak berbakti kepada suaminya, Mba."


DEG.


Drr.


Jantung Gana berdentam kuat, bagai kilat yang menyambar wajah. Wanita itu tersentak, isi otaknya yang selama ini abu-abu sepertinya tengah terbuka, menjadi putih benderang.


Ia hening. Bayangan Ammar yang sedang memperhatikan dirinya, memberikan belaian dan sentuhan yang selama ini selalu ia biarkan, tidak pernah ia perduli kan.


Bagaimana setianya Ammar kepada Gana dari semasa belia. Memperjuangkan cinta yang tidak pernah ia balas. Bahkan semua perlakuan Ammar melebihi sikap Adri. Ammar begitu tulus, menerima segala sikap, sifat dan keadaan dirinya.


"Aahhhh ...." Gana berteriak dalam tangis. Memukul-mukul dadanya.


"Aku bodoh! Aku bodoh!!"


Mulan mencekal pergelangan tangan Gana. Lantas menurunkannya kebawah.


"Menangis lah, tumpah kan segalanya. Aku tau hatimu sesak. Sesak karena tidak bisa membalas rasa cinta yang begitu murni dari suamimu. Lepaskan, Mba. Karena aku pun pernah ada di posisi kamu. Tapi lihat sekarang, aku bisa bebas. Aku bisa bahagia dengan suamiku."


Gana terus menangis sesegukan. "Aku sudah berdosa, Mba."


Mulan menggeleng.


"Masih ada waktu sebelum terlambat. Belajar cintai dia, seperti aku belajar mencintai Ayahnya Dava. Kamu pasti bisa." Mulan terus meyakinkan dan mendoktrin Gana.


"Karena berendam dalam cinta masa lalu, tidak akan pernah membuat kita bahagia, Mba. Belajar untuk menerima dan menyukainya. Suamimu adalah jodoh terbaikmu dari Allah."


Gana memejam kedua mata. Sudah sakit matanya karena terus menangis. Membuka kelopaknya saja rasanya tidak sanggup.


Semakin ia menyesal, semakin kentara bayangan Ammar yang tidak pernah luput tersenyum ketika sedang di omelinya.


"Aku menyesal! Aku sudah membiarkannya selama ini!!" Gana kembali berteriak, membuka mata cepat dan menatap lurus manik mata Mulan.


"Apa aku bisa sepertimu nanti?"


Mulan mengangguk sambil menyeka kebasahan di wajah Gana dengan buku-buku jarinya yang lentik.


"Kalau kamu sungguh-sungguh, dan terus berdoa. Aku yakin, Mba. Karena Allah tidak akan membiarkan doa umatnya terkatung begitu saja."

__ADS_1


Gana mengangguk dalam kesedihannya. Ia kembali memeluk Mulan.


Sepasang wanita yang pernah mengalami hal yang sama tengah sama-sama menangis, mengutuk nasib yang pernah mempermainkan mereka dengan kenangan dan cinta di masa lalu.


"Dia memilih berkorban perasaan, untuk menunggumu agar bisa mencintainya. Dia adalah suami terbaik Gana, TERBAIK!"


Gana semakin memeluk Mulan dengan erat. Menumpahkan segala asa dari sukmanya yang terus bergetar.


"Cintailah dia. Suamimu pantas mendapatkannya. Jangan sampai cintamu terlambat, Gana. Jangan sampai, ada wanita lain menjadi pengobat hatinya."


DEG.


Jantung Gana semakin berdegup cepat. Ia menggeleng kuat dalam tangisan yang semakin pecah.


"Enggak, Mba! Enggak boleh!"


Mulan tersenyum bahagia. Ucapannya untuk menyadarkan Gana mampu mendoktrin wanita itu. Entah mengapa Mulan rasanya senang sekali, bisa menyatukan Gana dengan suaminya.


Sepertinya Semesta sedang membiarkan Mulan untuk meminta maaf kepada Ammar dengan cara membantu menyadarkan Ganaya saat ini.


Karna hidup memang suka bercanda.


***


"Jangan ditarik-tarik! Nanti sarung Kakek lepas!" ucap Papa kepada Bisma dan Pradipta. Kedua anak lelaki itu tengah bercanda di balik tubuh Kakeknya. Bisma di belakang tubuh Papa dan saudara kembarnya didepan.


"Ayo sini tangkap aku." seru Dipta dengan gelak tawa renyah. Bisma masih berusaha melolongkan tangannya di bawah lengan Kakeknya untuk menarik baju Adiknya. Pradipta bergerak kesana kesini, menghindari tangan Kakaknya.


"Awas kamu ya." ucap Bisma.


"Udah-udah jangan mainin sarung Kakek. Nanti lepas nih!" Papa menggerutu. Tangannya tetap mencoba melepaskan tangan kedua cucunya yang tanpa sadar memegang kain sarungnya.


"Masa abis shalat, bercanda kayak begini." decak Kakeknya.


Dan yang diserukan tetap saja bercanda.


"Aku enggak mau pakai saus."


"Aku mau pakai saus."


"Kenapa mie goreng, Nek. Kan Geisha mintanya yang rebus."


Ghea, Ginka dan Geisha mengucap bersamaan. Mereka masih melihat beberapa mangkuk mie yang tengah diaduk-aduk oleh Neneknya.


"Duh maaf, Nak. Nenek lupa. Tadi kamu mintanya yang goreng ya."


"Iya kenapa jadi rebus." bibir Geisha mencebik.


"Ya udah Nenek buatin lagi ya. Cium dulu dong Neneknya." Geisha tersenyum, kemudian mencium pipi Mama Alika.


"Terus yang ini jadinya buat siapa?" tanyanya.


"Buat Om aja, Nek." selak Ghea.


Mama Alika menoleh ke arah Ammar yang sedang video call dengan Maura di sofa. "Ya udah panggil Om nya suruh makan dulu."


Karena tahu malam ini, Gana akan menginap di rumah temannya. Ammar memilih untuk menginap dirumah orang tuanya. Ternyata ia kaget karena kelima keponakannya sedang ada di sini.


"Kamu aja sana. Aku udah lapar." titah Ghea dan Geisha kepada Adik bungsunya.


Ginka menurut dan turun dari kursi meja makan. Ia menghampiri Om nya. Ammar menoleh dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Ginka. Mengecup pusaran rambut anak itu dan memeluknya dengan tangan kiri, karena tangan kanannya masih fokus memegangi gawai.


"Pulang Kak! Kasian nih Mama dan Papa dititipin anak terus." ujarnya bercanda.


Di seberang sana Maura tertawa. "Bulan ini baru sekarang doang kok, karena bulan kemarin aku udah ngerepotin Mama mertua aku. Gak enak kan kalau harus dititipin lagi."

__ADS_1


"BUNDA!" seru Ginka. Ia tertawa melihat wajah Maura.


"Selama dirumah Nenek dan Kakek, Jangan rewel ya, Nak." titah Maura.


Ginka si anak pintar mengangguk tanda mengerti.


Ammar mendengus. "Bulan madu mulu perasaan. Anak udah lima, masih enggak cukup?"


"Haha, ya enggaklah. Mau buat kesebelasan." selak Gifali yang wajahnya ikut muncul di layar video.


"AYAH!!"


Gifali memberi tanda kiss kepada Ginka. Anak itu jumpalitan senang.


Ammar menggeleng frustasi. "Bikin anak terossssss ... gue aja belom." nadanya mulai pelan dibagian akhir.


Mendengar Ginka memanggil nama Ayah dan Bundanya. Sontak seluruh children G langsung menoleh, kemudian bergegas menuju Ammar.


"Ayah ... Bunda .. Ayah."


Lima keponakannya itu beriung melingkari Ammar karena ingin berbicara dengan Ayah dan Bundanya di seberang sana.


"Mah, betulin nih sarung Papa. Untung aja burung jagonya gak keluar."


Mama Alika menghampiri suaminya yang masih berdiri di pertengahan ruang tamu.


"Anaknya si Maura, pengin Papa masukin ke kandang burung. Biar diam." decak Papa.


Mama Alika tersenyum sambil menjawil pipi suaminya karena gemas. Yang setiap hari ada saja tingkah lucunya seperti bayi.


"Mama sama Papa lagi apa?" suara Maura terdengar sampai ke telinga orang tuanya.


"Lagi benerin sarung, anak kamu tuh mainin sarung Papa." selak Ammar.


Maura dan Gifali tertawa diseberang sana. Ia merasa lucu. "Jangan dong, Nak. Kasian Kakek."


"Makanya jangan bulan madu terus." Ammar kembali berdecak.


"Biarin aja, Dek. Itu memang Mama yang suruh. Menikah sudah lama pasti akan ada rasa bosan. Kedua kakakmu butuh waktu berdua, agar cintanya terus terjaga." ucap Mama Alika menembus percakapan Ammar dan Maura. Wanita itu masih mengatur tata letak sarung di pinggang suaminya.


"Kamu juga tuh bulan madu sama Gana. Biar cepat kasih cucu buat Papa dan Mama." sambung Papa.


"Iya, Nak. Mumpung Papa dan Mama masih hidup." timpal Mama.


"Dan saya juga masih hidup bersama Kak Luky." Kakek Bayu terlihat keluar kamar dengan kursi rodanya yang sedang di dorong oleh pengurusnya. "Cepat kasih Kakek cicit Amar." sambung lelaki dengan rambut yang sudah berubah putih.


DEG.


Ammar mendadak hening. Permukaan kulitnya meremang. Ia hanya mengangguk pelan sambil termenung. "Punya anak? Kasih cucu?" lirihnya dalam hati. Hal yang sangat mustahil untuk terlaksana saat ini. Ia kembali mengingat Gana dengan segala perlakuan wanita itu kepadanya. Sampai dimana ia terlonjak ketika Geisha berteriak.


"Tante Gana datang!"


Secepat kilat Ammar menoleh. Ia langsung berdiri karena kaget. Kemudian tersenyum senang menatap kedatangan istrinya yang baru sampai di ambang pintu. Ia tidak akan menyangka Gana akan datang menyusulnya di sini.


Ammar meletakan gawai yang masih tersambung di meja. Lantas berjalan menghampiri Gana bersamaan para keponakannya.


"Katanya kamu akan menginap dirumah temanmu."


Gana menggeleng. "Kita akan menginap bersama di sini. Aku sudah bawakan baju salin untukmu."


***


Duh dedek seneng banget istrinya datang.


__ADS_1


__ADS_2