
"Ciapa yang cinca pada Nabi nah, patih bahagia dayam hidupnya ... Muhammadku, Muhammadku, dengal lah celuanku, akuh linduh, akuh linduh pada-Mu, Muhammadku."
Senandung lagu penuh cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW tengah dinyanyikan oleh anak manis berkerudung di sepanjang perjalanan. Adela terus bernyanyi dengan riang di pangkuan Papanya yang sedang mengemudi.
"Kau ajarkan hidup ini untuk saling mengasihi
Ku tanamkan dalam hati, ku amalkan sejak dini." Ammar melanjutkan bait lagu.
"Muhammadku, Muhammadku, dengal lah celuanku. Aku linduh, akuh linduh pada-Mu, Muhammadku." kembali Adela masuk setelahnya.
"Nyanya nya nya ...." Alda tidak mau kalah. Batita itu pun juga ikut bernyanyi. Gana menggoyang-goyangkan kepala mendengarkan suami dan anak-anaknya tengah bernyanyi mengiringi musik Hadad Alwi yang tengah di putar.
Sedangkan triple A di bangku belakang tengah nyenyak. Padahal perjalanan baru memakan waktu sekitar tiga puluh menit dari pelataran rumah, mungkin karena puasa hawa nya jadi cepat mengantuk. Gana dan Ammar membiarkan saja.
Hari ini, Ammar memboyong istri dan ke lima anaknya untuk pergi ke Eco Group. Sesuai agenda perusahaan, akan ada acara buka bersama, sekaligus pencairan dana THR yang akan ditransferkan ke seluruh lapisan karyawan di sana.
Awalnya Papa Bilmar dan Mama Alika ingin ikut, tapi mereka urung. Lupa kalau ada buka bersama dengan para teman-teman lama.
Gana memakai kaftan asli buatan perancang Turki dengan bertabur mutiara di lingkar perut dan lengan tangan, yang mana kaftan tersebut juga dipakai seragam oleh ke tiga anak perempuannya kecuali Alda. Sedangkan Ammar dan Aidan memakai baju kokoh kembaran yang warnanya senada dengan kaftan Gana, yakni warna ungu magenta.
"Alda udah kenyang nyusu belum? Kalau belum susui sekarang, takutnya nanti di depan orang banyak malah rewel minta susu," ucap Ammar kepada Gana.
Gana mengangguk dan mengajak anak kelimanya bicara. "Mimi, ya, Nak."
Ammar bersiap menarik tali dari tirai tempel yang ada di kaca depan mobil, agar saat Gana menyusui tidak ada yang melihat dari pengemudi lain.
Alda yang sejak tadi terus melepas kerudung dari kepalanya menggeleng. "Enyang."
"Beneran kenyang?" Ammar yang bertanya. Anak itu yang tengah mengacak-ngacak isi dalaman dashboard, mengangguk mengiyakan.
"Soalnya tadi sebelum pergi, Alda udah mimi dulu, Bang."
"Ya udah kalau begitu." Ammar mengusap rambut Alda yang belum lebat dan sayangnya anak itu belum bisa berjalan. Baru bisa berdiri, itu pun tidak lama. Dokter mengatakan ada masalah pada urat saraf kakinya, maka setiap seminggu sekali Alda akan dibawa ke poli fisioterapi di Rumah Sakit milik Neneknya.
__ADS_1
Ammar terus melajukan mobil dengan tenang dan baik, tidak lupa juga ia memberikan catatan penting yang ditempel di badan belakang mobil mewahnya.
Tolong hati-hati. Perhatikan laju kendaraan anda. Maaf jika laju mobil ini lambat, sedang membawa Ibu hamil, Bayi dan Batita.
Manis sekali si mantan mafia ini, lelaki yang dulunya tidak pernah takut kepada siapapun, sekalipun kepada Malaikat pencabut nyawa.
Sebegitu besarnya cinta yang Ammar berikan kepada Gana dan para buah hati nya. Ia tidak pernah mau menggunakan jasa sopir, pada saat membawa istri dan anak-anaknya. Mengemudikan mobil langsung untuk mereka rasanya amat berbeda. Keseruan di dalamnya begitu menggetarkan sukma. Bisa bercanda, bernyanyi seperti sekarang sambil menikmati ruas jalan, tidak bisa tergantikan apaun.
...🌾🌾🌾...
Acara semakin syahdu lantaran Ammar selalu mengundang ustad kondang tanah air untuk memberikan tausiyah pada acara buka puasa bersama di EG. Dan selama ini juga sesuai dengan permintaan Gana kepada Ammar, teruntuk bagi karyawan yang berstatus janda tengah menghidupi anak lebih dari satu, maka akan diberi bonus pertiga bulan untuk kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.
Harta memang tidak akan pernah dibawa mati. Perdagangkan harta kita dijalan Allah. Keuntungannya akan selalu mengalir walau kita sudah mati sekalipun.
"Wah banyak banet olangnyah, Pah," ucap Adel. Ia digendong Ammar melangkah masuk ke dalam gedung serba guna EG. Di belakang Ammar ada Gana yang menggendong Alda dan triple A. Semua para karyawan yang sejak tadi sudah duduk di kursi yang sudah di sediakan, beranjak berdiri untuk memberikan salam hormat. Begitupun para jajaran direksi yang sudah duduk di panggung mimbar beserta ustad yang sudah hadir.
Keluarga Ammar pun duduk ditengah-tengah mereka, yang kursinya sudah dipersiapkan.
Gana langsung memeluk Yuni karena mereka lama juga tidak bertemu. Yuni ikut duduk di mimbar bersama dua anak mereka dan Bima. Begitupun Denis dan Anya.
"Papaaaaaaaaaaa ....," seru Alda. Suara nyaring dan cempreng itu membuat para hadirin tertawa. Gana sampai membekap mulut Alda agar tidak membuat keributan. Ammar hanya terkekeh melihatnya. Ia tahu Alda antusias melihatnya tengah berdiri sambil memegang mik di tengah-tengah mereka.
"Nanti kalau sudah besar, Eyden harus berani tampil seperti Papa. Kelak Eyden yang akan menggantikan Papa di sini ...." Gana mengulang ucapan yang pernah Ammar serukan kepada Aidan. Anak lelaki itu mengangguk senyum. "Insya Allah, Mah. Doain aku," balasnya.
Gana mengecup kening Eyden, dan Alda pun ikut-ikutan mencium Kakaknya. "Muachh ...." air liur Alda, Aidan usap. Ia jawil pipi Adiknya yang amat menggemaskan.
"Kakak, dali tadi dia colek-colek akuh telus," bisik Adela di telinga Aidan. Adela serasa risih. Aidan menoleh ke arah laki-laki yang diadukan Adela. Aidan tatap Bintang, anak pertama Yuni dan Bima yang sepantar dengan Aidan. Anak itu tersenyum kepada mereka.
Aidan memang tidak asing kepada Bintang, karena dulu mereka pernah menjadi teman kecil, namun karena kesibukan sekolah dan jarang bertemu membuat intensitas mereka berkurang.
"Itu Bintang, baik kok orangnya,"
Adela menggeleng. "Ndak mauh 'ah! Ndak cuka dicolek-colek,"
__ADS_1
Dan Bintang kembali mencolek anak gendut itu. "Tanan colek-colek dong, geyi tauh!" sungutnya kesal. Gana dan Yuni hanya tersenyum saja ketika melihat Bintang menjahili Adel.
"Itu rambut kamu keliatan, Dek. Mau Kakak bantu kuncirin enggak?" tawar Bintang. Ia melihat ujung rambut Adela yang keriting keluar dari dari dalam kerudung di punggungnya.
"Maca?" Adela tidak percaya. Tangannya mengulur ke belakang, hendak meraba dan akhirnya ia mengangguk. Karena ucapan Bintang ternyata benar.
Si keriting merogoh tas kepala mickeymouse yang ia selempangkan di dada, meraih ikat rambut miliknya di dalam sana. "Inih ...," ia menyodorkan kunciran rambut itu kepada Bintang. Adel melepas hijabnya dan bola mata Bintang mengerjap tidak percaya.
"Keriting banget," gumamnya pelan.
"Apah tatih? Kakak ngomong apah?" tanya Adel.
Bintang menggeleng, tetap membantu menguncir rambut Adela. "Rambut kamu lucu,"
"Ah, maca? Yang benel?" gigi-geligi Adela yang putih terpampang nyata dengan senyumannya yang merekah. Kedua anak itu jadi makin akrab, karena setelahnya Bintang memperlihatkan tontonan upin-ipin di yutub yang ada di layar gawainya.
Waktu terus bergulir menuju buka, Pak Ustadz sudah selesai memberikan tausiyah mengenai bagaimana hamba Allah bisa berkesempatan mendapatkan Lailatul Qadar dalam bulan suci ramadhan. Sebelum Pak Kadir, sang muadzin yang sering mengumandangkan adzan di masjid EG berdiri dari duduknya untuk melangkah naik ke atas mimbar, untuk mengumandangkan adzan magrib, Aidan lebih dulu menyela dan berdiri. Ia mendekat ke arah mik yang masih . Tergantung di stand nya.
Ammar dan Gana menatap anak lelakinya dengan seribu pertanyaan. Mau apa anak lelaki mereka yang selalu takut jika berdiri di hadapan banyak orang.
Aidan melepas mik dari stand nya, lantas menoleh menatap Mama dan Papanya.
"Biar Eyden yang adzan, ya, Pah, Mah," ucap nya.
Dari duduknya, Gana dan Ammar mengangguk sambil menggenangkan air mata. Mereka mengulas senyum haru. Betapa bangganya Gana dan Ammar mempunyai Aidan yang bisa mengharumkan nama mereka. Air mata Gana semakin luruh saat Aidan tengah mengumandangkan Adzan dengan suara bagus, merdu, jelas dan nyaring.
"Ya Allah anak kita, Bang. Adek enggak nyangka," ucap Gana kepada Ammar yang mana bola mata lelaki itu tidak mau berpaling dari Aidan. Ammar tergugah, dirinya saja kalah, tidak semerdu itu jika sedang mengumandangkan Adzan, walau suara Ammar juga dinilai bagus.
"Anakku ... generasi penerusku, calon presdirku di dunia maupun di akhirat. Aamiin ...." Ammar doa dalam hati. Ia sampai tidak sadar jika sedari tadi air matanya di seka oleh Adela. Sedangkan Taya dan Rora sibuk merekam Aidan dengan ponsel Gana. Semua memuji akan kelebihan yang Aidan miliki.
Anak lelaki yang selalu diam, ramah, sopan, tidak pernah menuntut ini dan itu kepada orang tua. Selalu mempunyai rasa empati dan simpati kepada orang-orang yang terkena kesusahan, malah tidak segan-segan suka memberikan uang jajannya kepada pengemis yang selalu ia lihat di pinggir gerbang sekolah. Dirinya ingin selalu melindungi Mama, Papa, Kakak dan Adik-adiknya dari apapun yang membahayakan, walau ia selalu di kenal sebagai anak penakut. Entah mengapa hari ini keberaniannya muncul.
Tetaplah tumbuh bersahaja seperti mimpi kedua orang tuanya, agar Aidan bisa menjadi pemimpin yang cerdas mempunyai semangat tinggi seperti api yang tengah membara, yang sesuai dengan nama yang diberikan Gana dan Ammar, MAGALA AIDAN ARTANEGARA.
__ADS_1
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...