Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Perasaan Malam Ini.


__ADS_3

Samar-samar purnama menghilang dari nabastala. Malam semakin menggelap dengan derai hujan yang terus turun membasahi bumi dan hembusan angin kasar di sekitar jalanan yang kosong.


Terlihat badan mobil Ammar menepi di pinggiran bahu jalan, dibawah pohon gelap yang rindang. Jalanan begitu sepi hanya curah hujan yang berisik. Pangkal bahu Ammar bergetar, lelaki itu tengah menundukkan kepalanya di pertengahan stir kemudi. Ammar terisak. Patah hati, remuk jiwa dan redam raga.


"Mah ... Pah." isak nya. Air bening berduyun-duyun jatuh dari ekor matanya.


"Adek bakal kangen ..." bahunya terus membuncang. Lantas mendongakkan wajah dan menyandarkan lemah dirinya di sandaran jok mobil. Lelaki itu menangis meratap hujan yang membasahi bemper mobilnya.


Hatinya masih gegana. Meninggalkan keluarga besar setelah memulai acara untuk mempererat silahturahmi beberapa jam lalu. Semua yang berkumpul senang karena melihat Ammar sudah bisa kembali bangkit dari keterpurukan.


Kecuali hanya Gifali yang lebih banyak diam. Setiap kali ia melihat wajah Ammar, ia pasti teringat dengan Gana dan air matanya pasti menggenang. Gifali, rindu adiknya. Ingin sekali Ammar katakan, agar tidak usah khawatir, karena Gana pasti akan baik-baik saja setelah ini dengannya.


"Adek jangan sedih lagi ya, Nak. Doakan Gana. Biar tenang di sana."


Ammar semakin mengerang dalam tangis. Ia mengingat nasihat Papa untuk terakhir kalinya, sebelum besok ia akan menghilang dan lelaki tua itu pasti akan syok.


"Adek tega tinggalin Mama, Nak? Kenapa harus kesana? Sejauh itu? Siapa yang akan menjaga kalian berdua?"


Hiks ... Hiks.


Air mata Ammar semakin deras. Wajahnya memerah. Kelopak mata dan hidungnya terlihat bengkak. Mengingat, dirinya memeluk Mama yang merintih dengan tangisan, membuat jantung Ammar tidak kuat sekarang.


"Mama ..." serunya nelangsa.


Ammar menghela napas panjang-panjang sambil memejam mata. Isak masih terasa.


"Adek mau Kakak buatin apa? Biar besok kurir kirim kerumah kamu."


Lelaki itu menekan lagi dahinya di kemudi stir. Suara Maura kembali terbayang-bayang. Apalagi suara Five G yang terus bersorak kepadanya untuk meminta mainan. Kakak Iparnya, Sepupunya, Om, Tante dan para Kakeknya. Suara, wajah dan kabar tentang mereka, tidak akan lagi terdengar.


"Tolong panjangkan umur keluarga besar ku dan keluarga besar istriku, Ya Allah. Tetap lengkap kan mereka semua, sampai kami bisa kembali ke sisi mereka lagi." doa Ammar dari sela-sela rintik tangisnya.


Sesaat kemudian.


Drrt drrt drrt. Ponselnya bergetar. Ammar bergegas merogoh kantung celana sambil mengambil tissue untuk mengelap wajah dan menarik ingus agar bisa keluar tanpa mengganggu jalannya napas.


"Assalammualaikum. Iya, Ndra?" yang menelepon ternyata Mahendra. Lantas Ammar menjawabnya dengan suara bindeng.


"Waalaikumsallam. Kamu sudah dimana, Ammar? Sudah di jalan pulang 'kah?" tanya Mahendra di seberang sana.


Ammar terperanjat, karena ia baru sadar sudah lama menepi di jalan sepi seperti sekarang.


"Iya, Ndra. Masih di jalan. Ada apa? Apakah istriku sudah tidur?" tanyanya. Ammar menilik arloji yang menunjukan sudah pukul sebelas malam.


"Justru hal ini yang ingin aku adukan padamu. Gana masih menunggu kepulanganmu. Sejak dua jam lalu ia mondar-mandir di halaman depan. Dan sekarang sedang berdiri di gerbang. Menyorot setiap mobil yang lewat. Aku suruh masuk, tapi dia enggan. Ayo kamu cepat pulang. Kasian Gana, Mar."


Ammar mengusap wajahnya lagi. "Astagfirullah ... Ya allah." Desahnya kaget. Ia tidak menyangka sang istri akan tetap menunggu kepulangannya. Dan sekarang sedang hujan deras. Udara dingin, ia takut Gana sakit dan besok gagal untuk berangkat ke Makassar.


"Suruh masuk, Ndra. Hujan soalnya." jawab Ammar khawatir.


Mahendra dan Mulan masih menatap punggung Gana yang fokus menatap keluar jalan. "Istrimu pakai payung. Mulan sudah dua kali menghampiri Gana, tapi istrimu tetap bebal, tidak mau masuk."


"Ya baiklah sebentar lagi aku sampai." Ammar mematikan sambungan telepon sepihak, ia ingin secepatnya pulang untuk memeluk Gana. Menumpahkan rasa sedih yang masih menggumpal di hati.


"Bismillah ..." Ammar kembali mengemudikan mobilnya, berlalu dari tempat itu sebelum komplotan Frady datang menghabisinya.


🌺🌺🌺🌺


Penjaga membukakan pintu gerbang. Masuklah mobil Ammar ke dalam halaman dan berhenti di pelataran garasi. Gana yang sudah duduk di bibir tangga menuju pintu utama, menyandar pada tiang tembok yang tinggi. Wanita itu terlihat sedikit pulas. Terlihat tangannya masih menggenggam batang payung.


Mahendra dan Mulan ketiduran di sofa ruang tamu, karena perjalanan Ammar menuju rumah membutuhkan waktu satu jam. Waktu sudah tengah malam, dan para mata sudah meminta untuk di pejam.


Tanpa membangunkan, Ammar yang langkahnya sudah sampai dihadapan Gana. Langsung menggendong wanita itu ala bride style. Gana hanya bergumam pelan tapi matanya tetap tidak terbuka. Ammar tidak henti melabuhkan kecupan di kening istrinya sampai masuk ke dalam rumah.


"Ndra, Lan." seru Ammar.


Mahendra dan Mulan terhenyak. Mereka cepat mengerjap mata. "Malam sekali sih, Mar?" tanya Mahendra. Mereka bangkit dari sofa menghampiri Ammar yang sedang menggendong Gana.


Ammar tersenyum tipis. "Kamu nangis, Kak?" tanya Mulan.


"Kalian pasti tau bagaimana perasaanku malam ini." Ammar menghela napas. Ammar menatap wajah istrinya. "Demi dirinya aman, aku relakan keluargaku dan keluarganya." Ammar mengecup lagi kening Gana.

__ADS_1


Membuat Mulan dan Mahendra terenyuh. Tentu berpisah secara paksa dengan keluarga sungguh menyakitkan.


Mahendra mengelus bahu Ammar. "Ini langkah yang terbaik. Kalian pasti akan kembali lagi jika keadaan sudah tidak genting."


Ammar mengangguk. "Makasih banyak, Ndra, Lan. Aku berhutang budi pada kalian."


"Hutangmu sudah lunas. Anggap saja sebagai permintaan maaf dari perbuatan suamiku terdahulu kepadamu, Kak." ucap Mulan.


Ammar mengangguk dan tertawa renyah. "Sudah lupakan yang dulu. Mulailah kita ke lembaran yang baru. Aku ingin membuang semua masa lalu yang kelam, untuk menyambut rumah tangga yang baru bersama Gana." ia tatap lagi bidadari penunggu sanubari hatinya dan di kecup nya lagi seperti anak batita.


"Aamiin." Mahendra dan Mulan mengaminkan.


Karena sudah malam, mereka bertiga pun bergegas masuk kedalam kamar masing-masing. Dengkuran halus dari Gana mulai terasa. Ia rebahkan istrinya di ranjang. Ammar merangkak naik ke atas tubuh Gana. Memeluk wanita itu dengan air mata berderai.


Tubuh Gana memang candu. Bisa seperti aliran listrik yang menyengat. Ia mendapat kedamaian seperti sedang memeluk Mama dan Kakaknya. Bisa kah ia menjalani hidup baru tanpa keluarga?


Tolong kabari Mama kalau kalian sudah sampai di sana ya, Nak.


Ammar semakin mendekap erat tubuh Gana saat suara Mama kembali terbayang.


"Bang ..." Gana terbangun. Ia merasa basah, karena percikan air mata Ammar mengenai permukaan kulit lehernya.


"Hemm?"


"Abang yang bawa Adek ke kamar?"


Ammar tertawa. "Bukan, Dek. Adek jalan sendiri sambil tidur ke sini."


Mendadak manik mata Gana membola. "Yang bener, Bang!" Gana berdecak. Ia mencubit pelan tangan yang sedang memeluknya. Ammar sangat mirip seperti bayi yang sedang menyusu kepada Mamanya.


Ammar beranjak mengangkat tubuh agar bisa bersitatap dengan Gana. Kontak mata mereka kembali saling menilik.


"Abang nangis?" tanya Gana cemas.


Ammar terkekeh. "Kelilipan uang, Dek. Eh tapi, uangnya gak ada jadi nangis deh."


Gana mendengus. "Yang bener ah! Abang tuh kenapa? Udah mah bohong, kaena pulangnya malem banget, malah enggak ninggalin pesan kepada Bapak dan Ibu. Jika akan pulang larut malam."


Ammar menurunkan wajahnya untuk mengecup Gana. "Beneran, Dek. Abang cuman sedih aja, lepas rindu sama teman-teman. Kan kami bakal lama lagi ketemunya."


Namun ketika ingin melepaskan kecupan itu, Ammar langsung menyambar bibir Gana. Melummatt bibir istrinya yang tipis Menyisipkan lidah dan mulai menginvasi rongga mulut. Dan sudah dibayangkan, keromantisan mereka kali ini akan berujung seperti apa.


Ammar menarik selimut menutupi seluruh tubuh mereka.


"Ayo, mau ngapain!"


"Abang mau lagi ya, Dek."


"Abang!" Gana berteriak, saat Ammar berhasil melorotkan kain berenda segitiga dari pusat intinya.


🌺🌺🌺🌺


Sayup-sayup isakkan tangis menyeruak ke dalam gendang telinga Gana. Wanita itu bangun dari tidurnya. Mengucek mata, sambil sedikit meringis. Rasa perih di intinya masih terasa saat ia menggerakan kakinya. Gana menoleh ke sebelah, menemukan Ammar yang tengah memunggunginya sambil menangis. Lelaki itu berendam dalam selimut. Sudah mirip seperti lontong.


Gana beringsut mendekat sambil meremat kain selimut yang sesekali melorot dari pangkal dadanya.


"Abang ..." Gana menggoyangkan bahu Ammar yang beralaskan kain selimut.


Isak tangis mendadak henti. Tetapi, Gana sudah kepo. Ia ingin tahu apakah suaminya benar menangis atau tidak.


"Sayang." seru Gana. Ia menarik paksa selimut itu dan Gana seketika berteriak.


"Ahhhh!"


Wanita itu kaget saat Ammar juga sedang bersiap mengagetkannya dari balik selimut.


Ammar tertawa. Ia berhasil mengerjai istrinya. Walau sedang patah hati, ia mencoba tetap bersikap manis didepan Gana. Tapi Gana tetaplah wanita pintar, ia bisa menangkap kesedihan dari raut suaminya. Kebasahan di wajah Ammar masih terlihat jelas.


Ammar beranjak duduk. Bersisihan dengannya di punggung ranjang, sama-sama dengan tubuh polos yang tertutup selimut.


"Abang nangis lagi ya?"

__ADS_1


"Abang cuman lagi lapar aja."


"Bohong, ah! Masa lapar sampai nangis."


"Ya mau bangunin Adek kasian soalnya. Mau keluar males, udah malam. Takut ada pak ocong di meja makan."


Gana mencubit tangan Ammar yang sedang melintang di perutnya.


"Nakut-nakutin ih!!" decak Gana sebal. Bibirnya maju seperti itik.


"Ada masalah apa sih, Bang? Cerita sama Adek." paksa Gana.


Ammar menggeleng cepat. "Abang enggak punya masalah apa-apa, Dek. Percaya ya."


"Percaya, gimana? Lihat tuh mata Abang bengkak!" Gana mengusap kelopak mata Ammar.


Ammar tertawa lagi. Hatinya masih tidak karuan. Bayangan makan malam bersama dengan keluarga besar masih belum hilang dari ingatannya. Ammar masih rapuh.


Jika saja Gana tahu, apa yang sedang suaminya gelisah kan. Wanita itu pasti tidak akan banyak bertanya.


"Abang lapar, Dek." Ammar mengalihkan pembicaraan mereka.


Gana melongo ke arahnya. Ia menilik jam di dinding. "Sudah jam dua malam, Abang yakin mau makan? Nanti gendut loh, Bang." Gana mengingatkan.


"Enggak apa-apa lah, dari pada enggak bisa tidur."


"Abang mau makan apa?"


"Tadi kamu sama Ibu Mulan masak apa?"


"Sapo tahu seafood, tempe bakar, sambal terasi dan ikan mas goreng----"


"Masakin mie goreng aja, Dek. Abang kepengin." seraya menelan saliva, karena saking laparnya.


Gana menautkan alis akhirnya tertawa merasakan kejahilan sang suami. "Kalau gitu ngapain sih, Abang nanya? Kan tujuannya cuman mau makan Indomie goreng."


Ammar ikut tertawa. Walau sebenarnya batinnya sedang tercacah. "Ya udah, Abang tunggu dulu bentar ya. Adek bikinin dulu."


Ammar mengangguk. Ia tetap menyandarkan dada atletisnya di punggung ranjang. Gana beringsut untuk meraih piyamanya yang beberapa jam lalu Ammar lempar ke bawah lantai.


"Euhh." Gana meringis. Pada saat ia sudah berhasil memakai celana. Rasa pedih, perih dan sakit akan serangan bertubi-tubi Ammar di hari ini, membuat intinya masih memanas.


"Sayang ... sakit?" Gana yang mau beranjak ke dapur setelah berpakaian. Tangannya begitu saja di cekal oleh Ammar. Gana menoleh. "Kenapa, Bang?"


"Masih sakit si Honey?"


"Honey? Siapa itu?"


"Itu ... si dedek kecil." Ammar menunjuk inti Gana.


Gana mengangguk polos. "Iya, Bang. Kok bisa begini ya? Kata Abang kalau udah berkali-kali enggak sakit."


"Tapi ada perbedaannya 'kan dibanding yang pertama."


Gana mengangguk. "Udah enak tapi ya gitu, Bang. Masih perih." ia tertawa pelan.


Ammar jadi ikut tertawa karenanya. "Ya udah besok pagi lagi. Pasti udah enggak sakit."


Gana melebarkan iris matanya sempurna. Ia mendengus kesal namun pura-pura. "Abang aja sendiri sama bantal!"


Gana melepas cekalan tangan itu dan berlalu menuju dapur. Walau ada perasaan takut karena sendirian ke dapur dan tentunya ini rumah orang, sedikit membuat dia tidak leluasa untuk melalukan apapun. Tapi demi suaminya makan, ia pun mau tidak mau turut turun ke dapur.


Ammar terus menatap sosok Gana sampai ia menghilang dari balik pintu kamar. Ammar memejam mata yang rasanya sangat sulit untuk dipejam. Rasa sakit kelopak mata yang sudah bengkak, tidak ada apa-apanya dengan luka yang akan ia torehkan lagi di dua keluarga besar ini.


Niatnya besok pagi Ammar akan mengirimkan bunga untuk Mama Difa dan berbagai makanan yang akan di kirim kerumah Mama dan Papa mertuanya. Biarlah tubuhnya tidak datang, yang penting Ammar tetap mendoakan mereka tanpa putus.


Karena jika ia datang, dan semua keluarga menatapnya. Luka yang masih ada pasti akan terus menganga. Ammar tahu, dirinya belum bisa di maafkan.


Ammar mendongak menatap langit, air matanya tumpah lagi. "Lindungi keberangkatan kami besok. Temani kami dalam masa-masa berhijrah kami ... Ya Allah." pintanya penuh harap.


Aamiin.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺


Like dan Komennya ya guyss.


__ADS_2