
"Ayo dong, Pah. Kita pulang. Udah lama nih di cinih," cicit Adela tanpa rasa bersalah dengan pilihan potongan rambut ala lelaki. Yang nana baru sampai tahap akhir, lekas Ammar berteriak frustasi. Mau apa dia? Mau marah pun percuma. Anak nya sudah kepalang mirip dengan anggota militer. Keduanya masih berada di dalam mobil yang tersandar di halaman salon.
"Pulang-pulang! Kamu mau, Papa di gorok sama, Mamamu?" Ammar berdecak bete dan Adela yang masih sibuk mengunyah donat sampai bibirnya belepotan cokelat hanya tertawa saja tanpa rasa berdosa. Anak ini sudah bosan, mulai mengantuk ingin tidur, lebih tepatnya ingin menunjukan hasil potongan rambutnya kepada orang rumah.
"Mama palti cuka. Lambut aku kan cekalang udah bagus."
"Bagus-bagus! Tau begitu potongan akhirnya, lebih baik di botakin aja sekalian! Bibit lurus nya pasti bisa tumbuh. Kalau begini, Mamamu yang bisa botakin rambut Papa, Nak!" Ammar gemas sekali, ingin mengigit lengan Adela yang montoknya seperti mangga Indaramyu.
"Duh, capek nih." Adela memilih merebah di jok mobil tanpa sama sekali memberikan raut nanar untuk ikut memikirkan jalan keluar karena sang Papa tengah takut untuk pulang. Sang singa betina pasti akan berteriak sampai rambut di kepalanya lepas.
"Gimana, ya? Beliin wig aja, apa?" seakan ia bertanya kepada makhluk astral. Lekas menggeleng. "Pakai wig pasti bakal ketahuan, kan nggak asli."
"Ayo ah pulang, Pah. Udah bocen nih. Pengin mimi." jam-jam segini, memang jadwalnya ia minum susu.
Anak ini tidak ada malu-malunya dengan model rambut baru. Padahal banyak pelanggan yang melongo bahkan mentertawakan dirinya karena begitu percaya diri sekali. Macam anak tomboy padahal asli nya Adela adalah anak kemayu yang manis. Adela senang karena kepala nya merasa hampang tidak berat dengan rambut kritingnya yang panjang dan juga lebat.
__ADS_1
"Iya, nanti dulu. Papa nih lagi pusing mikirin kamu. Coba aja kalau nggak asal tunjuk model, kan nggak bakal kayak gini kejadiannya, Nak."
Sambil menguap lebar anak ini menggeleng. "Papa ndak ucah kawatil. Kan aku yang pengin. Nanih aku bilanin ke, Mama," balasnya santai, mengulurkan kedua tangan ke atas seraya memeluk leher jok. Ya ampun anak ini, ceriwis banget jadi pengin disambelin mulutnya, eh?
"Mamamu mana percaya? Pasti Papa yang bakal kena damprat." Ammar jadi teringat saat ia mengantar Aidan untuk membeli sepatu dan mengiyakan anak nya untuk memilih sepatu sendiri yang mana tidak sesuai dengan kemauan Gana. Maka Gana lekas menyemburkan bara api bagai naga. Merajuk empat puluh hari, empat puluh malam. Haha
๐พ๐พ๐พ๐พ
"Assalammualaikum ...."
Jantung Ammar seakan ingin terserak jatuh, masuk ke dalam kolam ikan kesayangan ketika sang istri bohay nya yang saat ini sudah masuk usia tujuh bulan kandungan anak ke enam, menautkan kedua alis. Merasa ada yang aneh dengan Mahika.
"Kok Adek pakai topi, Bang?" ingin menjawab kalau Mahika tiba-tiba bisulan di kepala sampai harus dibabat habis rambutnya, pasti tidak akan masuk akal. Ammar yang masih menggandeng Adela di pertengahan ruang tamu, masih bingung ingin menjawab apa. Lelaki itu tergugu, lebih tepatnya menunggu sampai langkah kaki Gana benar-benar selesai turun meniti anak tangga.
"Gimana, Mah? Bagus ndak?" lekas membuka topi dengan senyum sumringah. Ammar gegas menatap bola mata Gana yang sekarang tengah melotot tajam tidak percaya dengan model laki-laki yang Adela pilih.
__ADS_1
"Tuh lihat, Mah. Kiwil nya udah ndak ada." senang sekali anak ini, bagai dapat tiket main kora-kora sepuasnya selama sewindu. Gerakan tangan yang mengulur ke atas, merentangkan helai rambut nya membuat hati Gana semakin memanas. Memilih beralih menatap Ammar untuk meminta pertanggung jawaban.
"ABANGGGGG!!!"
"Saaaaa---sabbarr, sayang." Ammar gelagapan, menggoyangkan telapak tangan untuk menyela agar Gana tidak lekas menebar api kemarahan padanya.
"SABAR? ABANG BILANG, SABAR?"
"Itu maunya, Adek, Sayang. Bukan Abang yang---" tersela dengan Adela yang begitu saja pergi dengan riang sembari mendendangkan lagu anak-anak, lekas masuk ke kamar ingin bermain dengan Alda. Mana tuh janjinya pengin pasang badan kalau Mamanya bakalan marah.
"Kamu apain rambut anak aku sih, Bang? Kenapa jadi begituuuuuu!!!" Gana menghentak kaki kesal, mencubit-cubit perut Ammar sampai lelaki itu meronta meringis-ringis. Cubit teruss sampai pusarnya putus. Hihi.
๐พ๐พbalas rindu kalian dengan komen, ya๐พ๐พ
Ada yang kangen sama Abang?
__ADS_1