Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Kamu Harus Tau Siapa Aku!


__ADS_3

Mobil Gana terhenti beberapa meter dari gerbang pintu hutan yang baru saja mobil Ammar masuki.


"Ada apa di dalam? Tidak tampak ada bangunan." ucap Gana melongokkan kepala dari jendela mobil yang ia turunkan.


Memang, yang ia tatap saat ini hanyalah sekumpulan ilalang yang tumbuh rimbun meninggi tidak menggambarkan ada sesuatu bangunan atau kehidupan dari dalamnya.


Tapi ia yakin pasti ada sesuatu di dalam sana. Buru-buru menyembunyikan mobil disekitar semak-semak belukar agar tidak ada yang mencurigai.


Gana memutuskan untuk turun dan mengendap-endapkan langkah. Setelah berjalan beberapa meter, matanya kembali terpana dan ber oh panjang lagi ketika melihat sebuah bangunan pendek persegi empat yang membentang lebar.


Terlihat didepan pintu ada bodyguard Farhan yang sudah berjaga. Di halaman ada dua mobil sekarang. Mobil Ammar dan Farhan. Ia baru teringat dengan ucapan Yuni tentang sebuah, Markas.


"Jadi benar 'kan, kamu membohongiku! Meminta izin untuk pergi ke luar kota, nyatanya memilih pergi untuk menemui keparatt itu! Akan aku beritahu, siapa aku sebenarnya, Ammar! Aku wanita pintar yang tidak bisa kamu bohongi!" kecam Ganaya.


Dengan kelihaiannya, Gana berhasil mengelabuhi pandangan para bodyguard. Saat ini wanita cantik itu sudah berdiri didekat jendela paling ujung markas.


Matanya membola hebat ketika menatap ke dalam, sebuah meja berbahan keramik yang dibuat menjadi beberapa sekat seperti masih tertempel dengan darah yang belum dibersihkan. Mirip seperti los-losan daging di pasar.


Di bawah atap juga terjulur kail ke bawah yang di gunakan untuk tempat menggantungkan kulit-kulit atau daging manusia.


Aroma anyir dan amis menyeruak. Perut Gana seketika mual. Beberapa kali ingin muntah mendadak. Tapi sekuat tenaga, ia bertahan. Menggelengkan kepala samar untuk menghilangkan pening. Ia tidak boleh KO sekarang. Bisa bahaya nyawanya.


Srek.


Srek.


Gana menyeret langkah dengan amat pelan. Bola matanya membelalak lagi ketika melihat sosok lelaki yang ia cari ada di ruang selanjutnya, setelah tempat mutilasi daging manusia.


Gana dapat melihat bebas punggung Farhan dan Ammar, dimana mereka sedang berbicara dengan posisi berdiri menatap beberapa kardus-kardus yang berisikan kilogram bungkusan narkotikaa yang sedang dikemas oleh para pekerja.


Ketika Gana sedang asik menilik dengan cara gerilya, lagi-lagi Denis menangkap bayangannya. Ia menyentuh bahu Bima dan berbisik.


"Ibu datang. Awasi Ibu dari samping, jangan sampai anak buah Pak Farhan menangkap dan menyembunyikannya." titah Denis.


Bima mengangguk faham tanpa menoleh kebelakang. Ia mundur perlahan agar menghilang dari pandangan mata Ammar tanpa alasan.


Berjalan keluar untuk memutar langkah, seketika itu pula matanya bergoyang hebat karena melihat sebentar lagi bodyguard Farhan yang baru keluar dari kamar mandi akan berbelok ke arah posisi Gana.

__ADS_1


Bisa mati Gana, bodyguard itu pasti akan langsung menembaknya karena dianggap musuh yang sedang memata-matai.


"Pak, ayo kita ngopi. Saya sudah buatkan kopi." ajak Bima kepada bodyguard itu.


Bodyguard yang bodoh hanya mengiyakan saja dengan wajah gembira. Tentu saja Bima berkilah, kopi dari mana fikirnya. Biar saja si botak ini ia amankan dulu. Sampai Gana puas untuk memperhatikan suaminya didalam.


"Malam ini pukul tujuh malam. Mr Jang sudah menunggu pesanannya di dermaga. Setelah barang-barang ini selesai di kemas kita akan menitipkannya dulu di sana seperti biasa. Dan selama menunggu, kamu ingin dimana, Ammar? Mau pulang dulu 'kah untuk memeluk istrimu?" goda Farhan dengan kekekahan geli.


"Dasar menjijikan kamu, Farhan!" maki Gana dalam tatapannya dari balik jendela. Ia cukup jelas mendengar ucapan Farhan, karena suara menembus celah ventilasi jendela, dimana saat ini Gana tengah berada dibawahnya.


Ammar berdecih singkat. "Aku akan kembali ke Apartemen, ingin istirahat dulu di sana, aku sudah kepalang tanggung mengatakan akan ke luar kota hari ini dan pulang besok pagi kepada istriku." jawab Ammar yang diakhiri dengan helaan napas sedih.


"Jangan harap kamu bisa pulang dengan nyaman, Ammar!" Gana semakin dilanda amarah. Rasanya ingin secepatnya mendobrak jendela dan masuk kedalam lalu menarik Ammar untuk membawa pulang dan menampar habis Farhan. Tetapi ia tidak mau gegabah. Tangkapan matanya saat ini belum cukup mengumpulkan bukti atas apa yang sedang Ammar lakukan.


Raut Farhan sangat bahagia ketika Ammar memilih berbohong kepada Gana. Malah ia ingin secepatnya Gana mati atau menceraikan Ammar.


Drrt drrt drrt.


[Lapor, Pak. Saya mau info kalau Ibu Gana pergi, Pak. Tapi saya enggak tahu Ibu pergi kemana?]


Farhan membaca pesan masuk ke dalam ponselnya dari tikus yang ada dirumah Ammar. Dan seketika, lelaki itu memasang wajah panik. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba curiga kalau Gana mengikuti Ammar, sejak sahabatnya itu datang ke sini.


Walau begitu Farhan sudah kepalang melihat sekilas ada bayangan orang yang tengah mengintip. Ia berjalan ke arah Denis yang wajahnya mulai gugup, meninggalkan Ammar yang kembali serius memperhatikan sabu-sabuu sedang dikemas ke dalam box.


Jantung Denis berdegup kencang. Ingin ia berteriak, agar Gana secepatnya lari dari sini. Ia takut Gana tidak tahu jika Farhan sudah mulai mengendus keberadaannya. Dan disaat Farhan terus melangkah menuju jendela yang sebentar lagi akan melewati bahu Denis.


Bersamaan itu pula, Gana berteriak dalam bekapan. Tubuhnya seketika ditarik dari belakang. Meloloskan diri dari pandangan mata Farhan yang berhasil melewati Denis. Sekilas Denis mendengar suara Gana yang memekik dari luar namun sumbang karena gesekan angin yang berhembus di udara. Dan hanya ia yang mendengar.


Blass.


Denis menghela napas lega. Ketika matanya ikut menoleh ke belakang nyatanya Gana sudah tidak ada di sana. Ia mengucap syukur pasti Bima yang mengamankan wanita itu. Farhan masih menatap lekat-lekat jendela yang mendadak kosong. Di balik keningnya yang mengerut, dirinya yakin ada makhluk yang sedari tadi mengintip mereka.


"Apa ada orang lagi selain kita?" tanya Farhan pelan kepada Denis, ia membawa arah mata Denis ke jendela. Farhan berkata seolah ada penyusup. Kali saja Denis peka, batinnya.


Denis menggelengkan kepala. "Sepertinya tidak ada, Pak. Di luar 'kan bodyguard Bapak sudah berjaga-jaga. Kita pasti aman dari penyusup." Denis kembali menatap ke arah barang-barang yang juga sedang Ammar tatap.


Farhan mulai terpengaruh dengan ucapan Denis, walau sudut hatinya masih belum tenang.

__ADS_1


Tapi ... entahlah, mungkin setan. Fikir Farhan, lelaki itu terkekeh dengan kecurigaan yang tidak terjawab.


Farhan menghentak bahu Denis dengan senyuman. Ia melangkah lagi menghampiri Ammar. Lelaki itu juga bodohh karena tidak peka dengan perubahan mimik wajah Denis yang sedikit berbeda, karena menahan ketakutan jika Gana akan ketahuan tadi.


Farhan kembali berdiri disebelah Ammar dan membuka perbincangan kembali. Denis menoleh ke belakang, mencari-cari keberadaan Gana yang tidak kunjung muncul lagi.


"Ibu kemana ya? Atau sedang di amankan Bima?"


Namun sangkaan Denis terbayar ketika melihat Bima masuk lagi kedalam ruangan dan menghampirinya.


"Kamu amankan Ibu dimana?" bisik Denis tepat di lubang telinga Bima.


Kedua alis Bima menaut. "Maksudnya?"


"Pak Farhan hampir melihat Ibu dari balik jendela, dan bersamaan itu Ibu menghilang. Aku fikir kamu yang mengamankannya."


Bima menggelengkan kepala dan Denis melototkan matanya.


"Lalu dimana Ibu sekarang?" bisik Denis dengan suara gemas yang nyaringnya tertahan. Ia sampai mengguncang tubuh Bima karena khawatir.


"Aku enggak tau, Den. Aku hanya mengalihkan pandangan Bodyguard agar tidak menjamah daerah belakang."


Denis menghela napas kasar sambil memejam mata. "Ayo kita cari, Bim! Ibu pasti dalam bahaya!"


Di arah lain, menuju gerbang. Gana yang sudah pingsan karena obat bius. Dibawa lari oleh dua orang lelaki dengan langkah terburu-buru. Gana digendong dengan ala bride style.


Brug.


Tubuh Gana yang lemah di baringkan di dalam kursi penumpang belakang.


"Kamu yang bawa, Ndra!" titah Alex memberikan kunci mobilnya.


Mahendra mengangguk dan bergegas memutar langkah menuju pintu kemudi. Mahendra dan Alex akhirnya membawa Gana untuk pergi ke suatu tempat. Gana harus bersyukur dengan dua lelaki itu yang datang tepat waktu untuk menolongnya dari kebrutalan Farhan.


****


Ada yang bisa nebak kisah setelah ini? Kalau ada, akan aku keluarkan lagi eps selanjutnya. Tapi kalau enggak, puncaknya tetap akan aku UP besok ya.

__ADS_1


Bentar lagi dedek nangis nih.



__ADS_2