
"Abang masih belum mau tidur?" tanya Gana. Ia mengusap pundak suaminya yang sedang terduduk di bibir ranjang tengah memijat kaki Aidan.
Ammar tatap anak itu sendu, sambil menekan rasa sesal. Semudah itu ia sampai memukul. Tentu karena rasa cemas dan gelisah yang begitu mendominasi batinnya, ia takut sang anak mengalami kelainan, membuat akal sehatnya menjadi tersendat, tidak bisa berpikir jernih. Maka kekerasan fisik ia lakukan walau tidak fatal. Ammar hanya ingin anaknya mengaku dan menjelaskan bahwa yang ia takuti tidak benar-benar terjadi. Dan saat ini ia sudah lega.
"Adek duluan aja, Abang masih mau di sini sama, Eyden," balasnya.
Gana memeluk tengkuk suaminya dari belakang, lantas mencium pipi lelaki itu. "Sudah malam, Sayang. Dua jam lagi sahur, besok 'kan Abang harus ke kantor. Eyden juga udah nyenyak."
Ammar menghela napas panjang. Ia sampai beristighfar berulang kali, memohon ampun kepada Allah karena sudah menyakiti seorang anak titipan darinya. Apalagi anak ini soleh, baik dan penuh empati serta simpati kepada sesama.
"Nurul?"
"Iya, Pah. Nurul adiknya Kak Sofwan. Temannya Kak Rora yang waktu itu memang lomba hapalan. Kerudung Nurul kotor, ada bekas tinta pulpen yang susah dihilangkan. Sudah seminggu tidak ganti-ganti. Mungkin orang tuanya belum ada uang, maka Eyden berikan kerudung Adek padanya. Kasian, Pah."
Gana dan Ammar tercengang saat mendengar kejujuran Aidan. Ada kebaikan di dalam tindakan yang tidak baik tengah ia lakukan.
"Tolong jangan diambil kerudung itu dari Nurul, Pah, Mah. Potong aja uang jajan aku, untuk beli kerudung baru buat Adek."
Hati Ammar semakin teriris. Sebegitu baiknya Allah memberikan buah hati yang tulusnya seperti Aidan.
"Abang mau di sini dulu. Abang menyesal, Dek. Dari Eyden lahir Abang enggak pernah pukulin dia," ujar Ammar. Ia usap-usap Kaki Aidan yang terlihat sedikit memerah dengan beberapa bait garis di permukaan kulit. Memukul Aidan seperti itu, rasanya sakit sekali sampai ke tulang-tulang.
Gana duduk dibelakang punggung Ammar, lalu menyatukan tangan di depan dada suaminya. "Ya sudah, Bang. Di jadikan pelajaran aja. Untuk ke depannya kita harus lebih bersabar untuk menghadapi sifat anak-anak."
Ammar mengangguk. Ia cium punggung tangan Gana yang tengah bersatu di depannya sekarang. "Makasih, Dek. Sudah mau mengerti sifat Abang yang seperti ini," balas Ammar.
"Ya udah yuk, tidur," ajak Gana.
Lagi-lagi Ammar menggeleng. "Adek duluan aja, berdua sama Alda di kamar enggak apa-apa 'kan? Abang mau tidur di sini sama Eyden." Ammar tetap kukuh pendirian.
Gana tahu suaminya ini sedang gegana. Rasa menyesalnya belum bisa pupus. Ia mengiyakan saja keinginan lelaki itu. "Ya sudah kalau begitu. Nanti, Adek bangunin sahur, ya," ucap Gana. Ia pun berlalu setelah Ammar mengecup bibir dan keningnya.
Ammar merangkak naik ke atas ranjang. Ia berbaring miring memeluk Aidan, meletakan tangan di perut anak itu. Ia kecup Aidan sembari ia doakan untuk keselamatan anaknya di dunia maupun di Akhirat.
"Maafkan Papa, Nak. Eyden pasti tau, gimana sayangnya Papa ke kamu," ujarnya. Anak baik itu tidak marah saat Ammar meminta maaf padanya karena sudah marah-marah.
__ADS_1
Katanya ...
"Enggak apa-apa, Pah. Eyden juga salah, karena sudah berbohong dan mencuri." sejatinya Aidan sangat tahu, bagaimana rasa cinta Ammar kepadanya. Betapa bangganya Ammar memiliki Aidan. Sejatinya Allah tahu kebaikan mantan pendosa itu. Maka, ia berikan Aidan, si anak soleh berhati berlian yang begitu memukau, sebagai buah hatinya.
Buah jatuh tidak akan pernah jauh dari pohonnya.
...๐พ๐พ๐พ...
"Assalammualaikum, Kak Rora ...." Rora yang sedang asik membaca buku di bangku taman sekolah saat istirahat lantas menolehkan kepala ke belakang. Ia temukan Nurul sedang berdiri dengan senyuman manis yang tengah memakai kerudung baru milik Taya.
"Waalaikumsallam, Dek," balasnya.
"Boleh aku duduk di sebelah, Kakak?" tanya sopan. Rora mengangguk, ia menepuk sisi kosong di sampingnya. "Ayo, sini."
Perkara kerudung Taya yang hilang, semua nya sudah tahu. Termasuk dirinya dan Taya. Tapi, Taya pun tidak mempermasalahkan. Anak baik itu bilang, berikan saja kepada Nurul. Ia tidak akan marah atau memintanya lagi. Anak itu hanya menyayangkan mengapa Kakaknya tidak jujur sejak awal.
"Eyden masih sakit, Kak?"
Rora mengangguk. "Tadi pagi badannya masih hangat. Mama bilang jangan masuk sekolah dulu."
"Boleh enggak kalau aku datang menjenguk?" tanyanya takut-takut.
Rora tersenyum. "Boleh dong. Eyden pasti senang. Pulang sekolah biar bareng sama Kakak dan Taya. Tapi kamu sudah minta izin dulu belum sama Mama dan Papamu?"
Nurul mengangguk. "Sudah, Kak. Mamaku juga belikan Eyden buah-buahan," balasnya. Sebagai tanda terima kasih karena anak lelaki itu sudah baik kepada anaknya. Nurul mengatakan kepada Mama kalau Aidan sedang sakit. Mama pikir Aidan adalah anak biasa seperti Nurul dan Sofwan. Maka, Mama hanya belikan buah jeruk kiloan sesuai kemampuannya.
"Enggak usah repot-repot padahal, Dek."
Nurul menggeleng. "Enggak apa-apa, Kak. Kami ikhlas. Seperti Eyden yang sudah baik memberikan kerudung ini padaku," Nurul membawa arah mata Rora untuk menatap kerudung yang tengah ia pakai.
Rora tersenyum. "Alhamdulillah kalau begitu." tidak tahu saja Nurul bagaimana pengorbanan Aidan sampai harus di pukul Papanya terlebih dulu.
...๐พ๐พ๐พ...
"Dek, lepas sepatunya! Sepatu kita kotor!" bisik Sofwan. Saat langkah mereka sudah sampai di ambang pintu rumah mewah Aidan. Di depannya Rora dan Taya sudah lebih dulu masuk dan tetap memakai sepatu sekolah mereka.
__ADS_1
Sofwan ikut menjenguk Aidan, ia menemani sang Adik datang kemari.
Nurul tatap lantai marmer yang amat kinclong di rumah ini. "Iya, Kak."
Bergegaslah kedua anak itu melepas sepatu dan kaos kakinya. Ia pinggirkan sepatu itu di pojokan pintu bagian luar.
Sofwan dan Nurul melangkah pelan masuk ke dalam. Mereka terkejut bukan main, sebegini mewah nya kah rumah Aidan?
"Wah ini sih istana ...," seru Sofwan sambil mendongakkan kepala ke atas. Ia telusuri gypsum atap yang berlapis emas dengan campuran ornamen Turki. Nurul yang mulutnya menganga karena takjub, mengangguk mengiyakan.
"Kok sepatunya di lepas?" tanya Rora, ia pikir Sofwan dan Nurul tetap mengekor langkahnya saat tiba, ternyata anak itu malah terdiam di pertengahan rumah.
Kakak beradik itu menjawab bersamaan. "Takut kotor."
"Enggak apa-apa 'kok, harusnya pakai aja," sambung Taya.
Mereka sudah kepalang melepas sepatu. Tidak mungkin melangkah keluar untuk memakainya kembali. Lagi pula, Sofwan tetap bersikukuh untuk tidak mengenakannya lagi. Hanya akan membuat kotor rumah dengan sepatu murahan mereka, pikirnya.
"Ya sudah, duduk dulu, ya. Kita mau ganti baju dulu sekalian panggilin Mama dan Eyden," ucap Rora mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Makasih Rora ...."
"Makasih, Kak ...." Nurul dan Sofwan saling memberikan ucapan terima kasih.
Si manis mengangguk.
"Apa tidak malu Kak, kalau bawa nya hanya ini aja?" ia teringat dengan bungkusan jeruk yang ada dalam kantung plastik hitam tidak lebih dari sepuluh buah, tengah ia jinjing.
Sofwan menatap bungkusan itu dan saat ia ingin menjawab, ada seruan nyaring dari anak tangga menyela ucapannya.
"Nurul!" seru Aidan senang. Anak lelaki yang sedang memakai hoodie terlihat menuruni anak tangga bersama Gana dan Adel. Riang sekali wajahnya karena teman kesayangannya datang menjenguknya sekarang.
...๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ...
Yang punya akun K B M search nama aku ya, ada novelnya Rora di sana. Kita temenin Rora sampai sembuh. kalau kurang paham bisa DM IG ku @megadischa
__ADS_1