Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Aku Cinta Kamu, Sayang


__ADS_3

Bagi yang masih bayi, batita, lansia, 18 tahun kebawah, tolong skip yaw!! JANGAN DIBACA!!


🌺🌺🌺🌺


Gana mendongakan wajahnya ke belakang dengan mulut setengah terbuka saat Ammar menggoyangkan jari tengahnya di pusat inti milik Gana. Ammar tersenyum menatap ekspresi wajah istrinya yang sedang menikmati kenikmatan.


Tubuh mereka saat ini sudah ada dalam gulungan selimut. Saling menempelkan kulit. Tanpa sehelai pakaian. Jejak-jejak merah sudah Ammar tebar di setiap lekukan tubuh istrinya.


"Abang." desah Gana, ia menarik kepalanya ke depan dan mencium bibir Ammar. Mereka kembali berpagutan, dan gerakan jari Ammar semakin menuntut, membuat Gana tidak tahan.


"Euuuhh." Gana melolong nikmat. Ia melingkarkan lengannya di leher Ammar.


"Ayo lepasin, Dek." bisik Ammar.


Kedua paha Gana melebar dan jari-jemari kaki terlihat merekah. Pinggangnya terasa mengetat, dadanya membusung.


Tahu jika istrinya sebentar lagi akan klimaks, Ammar kembali menyatukan bibir mereka. Dalam pagutan tersebut, Gana mendesah namun tertahan, Ammar takut wanita itu akan mengerang panjang dan terdengar ke keluar kamar.


Dan.


Byrrr.


Jari milik Ammar begitu saja terasa hangat.


"Abang, adek pipis."


Ammar tertawa dan mencium kening istrinya. "Mau lagi?"


Gana menahan malu. Memalingkan wajahnya ke samping. Ammar meniupi pipi Gana yang basah karena peluh.


"Apa kita selalu seperti ini, Bang?"


"Iya sayang. Selalu." Ammar sudah berhasil membuat Gana mendapatkan pelepasan pertamanya. Rasa puas dan bangga tercetak jelas di wajah Ganaya. Ammar Ingin membuat wanita itu nyaman dengan rangsangan nya. Agar saat menyatukan Harley dan Honey untuk pertama kali, Gana tidak akan merasakan sakit. Batin Ammar.


Ammar menurunkan tubuhnya. Wajahnya bermain-main di sekitar bagian puncak dada. Libido Gana pun kembali naik, padahal dibawah sana sudah sangat lembab. Ammar yang sudah di ujung hasrat. Tidak bisa menahan lagi. Ia kembali menatap Gana dengan tatapan penuh damba.


"Giliran Abang ya, Dek."


"Iya, Bang." Gana mengangguk sambil memejam mata. Jauh dari dalam hatinya, ia merasa takut. Tapi buru-buru ia buang fikiran itu, mengapa harus takut? Lelaki ini 'kan suaminya, dan mereka pasti sudah sering melakukannya. Tapi tetap saja jantung Gana bergemuruh, seperti ada perasaan kalau mereka sedang melakukan untuk yang pertama kali.


Ammar Melumatt bibir Gana sebentar dan memposisikan dirinya sebaik mungkin agar bisa melesatkan Harley kedalam lubang kenikmatan Honey.


Dan.


Blass.


Rasa nya.


Hangat.


Sempit.


Menjepit


Surga dunia, uh!


"Aaa--aku ... cin---cintaa kamu, say---sayang. Euhh ..." Ammar sampai tergagap, ia melenguh berat.


Wajahnya sampai mendongak ke langit-langit kamar, karena rasa nikmat itu tidak bisa terbendung. Harley berhasil menembus selaput dara Honey yang sejak dulu sudah ditunggu-tunggu.

__ADS_1


Berbeda hal dengan Gana yang langsung memekik. Wanita itu langsung meremas seprai kuat-kuat.


"Ahh ... Sakit, Bang! Sakitttt!!!" jerit Gana.


Mendengar rontaan istrinya. Ammar diam sejenak, tidak lagi mendorong Harley. Menghentikan sesaat pergerakan sambil menatap ekspresi Gana yang kesakitan. Padahal geloranya makin membuncah, tak kuasa untuk lama-lama menahan dan berdiam diri.


"Kok sakit banget ya, Bang. Bukannya kita udah sering? Kata Abang kita udah nikah setahun." Gana meringis. Napasnya mendadak berantakan, peluh banjir seakan di kamar ini tidak memiliki AC.


Tidak mungkin kan Ammar harus jujur kalau istrinya ini masih perawan ting ting.


Ammar tersenyum. "Adeknya gugup, jadi kerasa nya sakit."


"Masa sih, Bang?" jawab Gana mengigit bibirnya, merasakan sakit di bawah sana, sungguh menyiksa dirinya.


"Coba tarik napas, terus hembuskan." Ammar membimbing. Gana mencoba mengikuti, namun seiring itu Ammar kembali mendorong Harley masuk dengan amat lembut. Agar fokus Gana tidak hanya kepada rasa sakit.


"Euh." Ammar memejam mata. Kembali mendapatkan rasa nikmat yang baru ia rasakan untuk pertama kali nya.


"Ahhh!! Sakit, Bang!" Gana kembali merintih. Sekilas wanita itu mendorong tubuh suaminya untuk melepaskan penyatuan. Tapi Ammar tidak menurutinya. Ia sudah kepalang tanggung, rasa hangat yang Harley rasakan tidak mampu untuk dihentikan ditengah jalan.


"Coba rileks, Dek. Pasti enggak sakit. Enak kok."


Gana menggeleng.


"Sakit, Bang! Sakitt!!" Gana meremat kulit punggung Ammar dengan cakaran dari buku-buku jarinya.


"Ah, sayangku ..." Ammar terus menghentak-hentak miliknya. Dari yang lambat, sekarang berubah menjadi sedikit cepat dan berlanjut kasar. Ammar fokus kepada satu titik yang ingin ia gapai.


Ranjang terasa berdecit menjadi saksi pelepasan mereka berdua menuju puncak kebahagiaan. Walaupun kali ini hanya Ammar yang mendapatkannya. Gana masih sulit untuk mewajari rasa sakit yang sekarang sedang ia rasakan. Dirinya sudah kepalang takut, cemas dan gelisah.


Peluh membanjiri tubuh Ammar lalu turun dan menempel di kulit Gana. Ammar seraya sedang berlari maraton, terlihat ada pengibar bendera yang sedang menantinya di ujung garis finis.


Lelaki itu terus memacu, melesat, memaju-mundurkan gerakan tubuhnya. Menekan pinggang Gana agar tidak bergerak. Menurunkan tatapannya untuk membekap mulut Gana yang terus berisik.


Blas.


"Euh."


"Ah!"


Keduanya mendesis, mendesaah, mengerang dan melenguh. Ammar terus melaju. Jalanan yang di tuju begitu hangat, sempit. Ia memejam mata dengan mulut menganga. Rasanya lelaki itu sebentar lagi akan sampai di dermaga, beda hal dengan Gana yang masih saja terus meringis.


Yang ia rasakan hanyalah rasa sakit, perih dan terasa robek. Terkutuk lah bagi banyak orang yang bilang, kalau malam pertama itu sangat mengenakan. Ya, itu hanya terjadi pada lelaki. Nyatanya pada perempuan, 90% yang masih perawan pasti akan merasakan sakit luar binasa.


"Abang, tolong berhenti!" air mata Gana bergerumun. Yang dimintai tolong tetap saja fokus memeluknya, mengecup-ngecup permukaan lehernya, dan tetap tidak memutus pergerakan itu. Sudah bibirnya panas, dan di pusat intinya terasa kebas.


"Sayang ... eum." bibir itu tidak berhenti melenguh. Ammar tidak kuasa menahan keindahan body gitar istrinya.


"Aku cinta kamu sayang ... Aku cinta kamu!" serunya tidak habis-habis.


Air mata Ammar pun luruh. Rasa haru menerjang batinnya. Entah bagaimana ia harus mengucap syukur berlebih kepada Illahi, yang sudah memberikan kenikmatan tiada tara seperti ini.


Dua minggu menahan luka. Menahan kesedian, berperang dengan batin, karena kepergian Gana yang begitu mendadak. Ia menyangka dirinya akan menjadi duda perjaka. Nyatanya hari ini, Semesta memberinya ijin untuk menikmati surga dunia.


Ia baru faham, membobol keperawanan rasanya begitu menggiurkan.


Ssst, mantap!


"Bang ... Saa--kit. Perrihh!" tidak ada kenikmatan yang merancau seperti diawal ketika Gana mendapatkan pelepasan pertamanya.

__ADS_1


Perjalanan rasanya mau sampai. Deburan jantung Ammar terus berpacu sesuai hentakan yang ia berikan di pusat inti istrinya.


"Ahh ... uuhh." Ammar terus merancau.


Ia menatap Gana yang sudah memejam mata. Menurunkan kepala dan melumatt bibir Gana kembali, seiring hentakan yang semakin menuntut, dan kini lebih kasar dan cepat.


Tanpa sadar dirinya, kalau Gana sudah lemas tidak berdaya. Ammar merapatkan kaki Gana untuk melingkar di pinggangnya. Dengan napas yang memburu, dan konsentrasi penuh untuk mencapai puncak nirwana, lenguhann nikmat yang tidak pernah berhenti dari mulutnya.


Byrrr.


Harley akhirnya menembakan larva nyaa ke dalam sarang Honey. Berkedut-kedut, dan rasanya sangat nikmat.


"Eughhhh." lelaki itu mengerang panjang.


Ammar menciumi Gana dengan brutal. Gana sudah tidak bisa merancau lagi, ia terlihat lemah dan tidak bergerak. Hentakan tubuh kekar Ammar membuat tubuh mungilnya menjadi linu.


"Saa--yang." Ammar panik. Ia menepuk-nepuk pelan pipi Gana. Wanita itu akhirnya memejam mata. Tangan Gana yang sedari tadi mengalung di leher Ammar begitu saja terayun jatuh ke atas seprai.


Kelopak mata Gana terbuka setengah dengan tatapan lemas. Kedua pahanya masih terasa bergetar hebat.


"Adek capek?" tanya Ammar. Dan penyatuan mereka belum terlepas.


Gana mengangguk. "Sakit, Bang. Perih banget. 'Kok rasanya kayak begini sih, Bang?" tanyanya polos. Dan Ammar selalu menahan iba dan sesal, jika melihat wajah istri dan tutur bicaranya yang aduhai dan lembut.


"Nanti malam kita coba lagi ya. Pasti udah enggak sakit."


Wah, ketagihan. Haha.


Gana membolakan matanya. Ia menggeleng tidak mau. "Perih ah, Bang. Adek enggak mau." wajahnya mencebik.


"Dosa loh nolak suami." ucap Ammar dengan kekehan kecil.


"Tapi sakit banget, Bang. Coba deh lihat, kayak nya intiku robek."


Ammar tertawa. "Kamu fikir junior aku, tombak?"


Dalam tatapan yang lelah, Gana ikut tertawa.


Ammar mengusap peluh yang bergerumun di pertengahan dahi Gana. Lalu mengecupnya lama. "Makasih ya, Dek. Udah mau layanin, Abang."


"Iya, Bang." jawab Gana mengelus-elus pipi suaminya. Berbalik mengecup dahi suaminya.


"Akhirnya aku berhasil menggagahimu, sayang." batin Ammar menggelegar senang. Ia menurunkan kepalanya untuk bersandar di ceruk leher istrinya. Memeluk dada polos itu dengan erat.


"Dek ..." seru Ammar dengan tatapan kembali mendamba.


"Eum?"


"Lagi ya, sekali lagi. Nanti malem jadinya enggak usah." goda Ammar tak tahan. Ammar minta nambah, ternyata.


"Hah?"


Ammar menumpahkan semua kerinduan, keinginan, kepuasan yang selama setahun ini terpendam, terkekang dan tertahan. Lelaki itu seperti orang yang baru berbuka puasa selama sewindu.


Ammar terus tenggelam dalam kenikmatan samudera cinta. Sampai ia mengabaikan suara Mahendra yang sudah lantang memanggil-manggilnya dari luar. Rasanya Alex dan Mahendra tahu, apa yang dua sejoli ini lakukan sampai Gana berteriak-teriak dari dalam.


Ups, ketahuan. Haha.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Ciehh Abang udah gede❤️❤️🤭



__ADS_2