Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Mencuri Detak Jantungku.


__ADS_3

Hembusan napas Ammar terlihat menderu-deru dengan sorotan mata lekat menatap atap. Dadanya bergerak naik turun. Lelaki itu masih menikmati sisa-sisa kenikmatan dari sebuah pelepasan yang baru saja ia raih.


"Sayang ..." panggilnya lembut dengan suara agak serak. Namun yang dipanggil tidak menoleh, hanya hening tertunduk.


Buru-buru Ammar menarik resleting celananya. Lelaki itu beranjak bangun dan mendekat ke arah Gana yang sedang duduk memunggunginya di tepi ranjang. Ammar beringsut, memegang kedua lengan istrinya dari belakang.


"Kamu kenapa sayang? Kok nangis?" tanya Ammar dari balik tengkuk Gana. Isak tangis Gana terdengar pelan.


"Apa tadi aku terlalu kencang?" Ammar merabaa bongkahan salju sebelah kiri milik Gana. Takut-takut kecupan bibirnya tadi terlalu kuat sehingga membuat Gana mengaduh.


Dan wanita itu hanya merespon dengan gelengan kepala.


Ammar beranjak bangun dari ranjang, lantas mensejajarkan dirinya, dengan menopang kedua lutut di atas lantai. Ia menaikan dagu Gana, untuk mau menatapnya.


"Kenapa nangis? Aku salah ya? Coba kasih tau dimana salahnya." pinta Ammar dengan suara memelas. Menyeka kebasahan di wajah Gana dengan punggung tangannya. Jantung Ammar kembali berdegup. Ia takut Gana marah, karena tindakan orall yang ia lakukan mungkin menyakiti fisiknya.


Gana kembali tertunduk dan diam. Jika saja bukan karena cinta yang sudah hadir, Gana tidak akan sesedih ini mengetahui Ammar bukanlah orang yang baik. Mungkin ia akan biasa saja dan langsung meminta cerai.


Dan ia mengutuk, mengapa Semesta memberikan ia rasa cinta bertepatan dengan masalah seperti ini. Terasa terkhianati dengan cinta yang baru saja berbuih.


Ammar berinsiatif membukai empat kancing dress Gana. Menilik gundukan sintal itu dari balik bra berenda berwarna kuning. Gana hanya diam pasrah, tangannya tidak menepis.


"Sakit ya?" Ammar menekan-nekan beberapa bulatan merah hasil maha karya dari bibirnya.


Bukan. Tapi, Gana mengangguk. Sesungguhnya bukan itu yang sakit. Tapi didalam nya, di dadanya, di hatinya dan di jiwa raganya.


Tangisan Gana semakin kencang. Uh, ingin sekali ia berteriak. Dadanya terasa penuh, ingin langsung memuntah kan semua tuduhan-tuduhannya kepada Ammar. Tapi ia hanya bisa menahannya dalam hati. Ammar akan bergerak cepat untuk menghindar, ia pasti tidak mau jujur. Maka dari itu Gana harus bisa menutup rapih kecurigaan itu agar bisa membongkar semuanya di depan Ammar.


Siapa kamu, Ammar? SIAPA?


Inginnya Gana menghardik lelaki itu.


Kamu sudah berhasil mencuri detak jantungku! Sudah bisa mengalihkan duniaku. Membuatku tiba-tiba terpikat walau dulu aku bersumpah ingin sekali menjauhimu!


Aku benci kamu, Ammar. Aku benci!!


"Hhh ..." Gana menghela napas. Memaki Ammar dalam batinnya sangat menguras emosi dan membuat dadanya sesak. Ia menyeka air matanya. Kemudian beranjak berdiri dari ranjang, melepaskan tangan Ammar dari tubuhnya.


Ammar juga ikut berdiri, menatap Gana yang sedang mengancingkan dress nya kembali.


"Aku mau pulang." ucapnya tanpa menatap sang suami. Gana melangkah lebih dulu untuk keluar dari kamar.

__ADS_1


Ammar menggusarkan wajah dengan gelengan samar. "Apalagi salahku, sayang?" lirihnya.


***


Dengan hati yang penuh luka. Dan air bening yang selalu ingin muncul dari goa matanya. Gana tetap memperhatikan Ammar seperti biasa. Seperti saat ini Ia sudah menyiapkan piyama tidur dan celanaa dalam yang ia letakan di bibir ranjang.


Sudah mau magrib dan lelaki itu baru mau mandi. Sepulang dari kantor, Ammar memang melepas lelah dan ketiduran. Sedangkan Gana memilih ke dapur untuk menyiapkan makan malam, tetap dibantu oleh para art mereka.


Drrt drrt drrt


Gawai berbentuk pipih panjang bersilikon hitam, terlihat bergerak pelan karena getaran di atas nakas. Layarnya terang karena memberitahukan bahwa ada pesan atau telepon masuk. Gana kurang tahu, karena posisinya sedang jauh.


Gana yang masih berdiri di bibir ranjang lalu melirik ke arah pintu kamar mandi. Di mana masih terdengar bunyi air dari dalam shower. Menandakan kalau suaminya masih membersihkan diri didalam sana.


Gana kembali melirik ke arah gawai Ammar. Gawai yang selama menikah, tidak pernah ia sentuh. Sekalipun selama ini ia membenci Farhan, tetapi tidak pernah terucap dalam hatinya, jika ingin menyelidik apa yang ada di dalamnya gawai tersebut.


Gana melangkah ke arah nakas, kembali ia tolehkan kepala ke pintu kamar mandi. Meyakinkan diri, kalau Ammar masih lama. Gana menghempaskan bokongnya di bibir ranjang. Ia meraih gawai itu dan mengusap layarnya yang sudah mati.


"Duh kok di password!" gerutunya kesal.


Gana mencoba-coba dengan tanggal lahir Ammar yang baru ia ketahui beberapa bulan terakhir ini.


"Yah, salah!" layar tetap tidak bisa dibuka.


"Duuuh masih salah!" layar gawai tetap tidak mau terbuka. "Aku fikir kamu terlalu cinta dengan pernikahan kita, ternyata tidak terlalu. Padahal kode password ponselku sudah memakai tanggal lahir kam----"


Ucapannya mengatung. Gana merenung. Kedua matanya membola dengan senyum yang tiba-tiba mengembang. Apa kah benar yang ia fikirkan sekarang? Lantas wanita itu mencoba dengan tanggal yang ia yakini pasti bisa membuka ponsel tersebut.


"Alhamdulillah bisa." serunya senang, ketika memasukan tanggal lahirnya. Ammar memang begitu mencintai Gana lebih dari apapun.


Hati wanita itu berbunga-bunga, senang sekali dirinya. Ternyata telepati batin mereka sudah berjalan. Sama-sama memakai tanggal lahir pasangan untuk password gawai masing-masing. Senyum Gana semakin merekah sampai dimana semua itu terhancurkan, ketika ada satu pesan masuk dari Bima.


[Pak Farhan mengajak pertemuan malam ini di Apartemen, Pak]


"Malam ini? Apartemen?" ulangnya. Pasalnya Ammar tidak bilang apa-apa jika ia ingin pergi malam ini.


"Farhan lagi ? Bajingann memang!" seru Gana kesal. Rahangnya terlihat mengencang.


Sebenarnya Ammar sudah malas menjalani usaha ini. Tapi karena sudah terikat kontrak kerja dengan mafia lain, mau tidak mau Ammar harus bertanggung jawab. Apalagi Farhan selalu merengek tidak bisa jika sendirian. Tentu saja itu adalah alibinya.


Gana tidak mau menekan pesan dari Bima. Ia ingin Amar tahu bahwa pesan tersebut belum tersentuh dan terbaca. Tapi Gana tetap bisa membacanya walau pesan belum di buka.

__ADS_1


"Mengapa bajingann itu tidak mengirim pesan sendiri? Malah harus melewati Bima?" tanyanya bingung.


Karena sebelumnya Ammar melarang Farhan untuk menghubungi jika sudah di rumah. Jadi lelaki itu menurut, walau kebenciannya kepada Gana jadi berkali-kali lipat, karena wanita itu lah yang membuat Ammar berubah kepadanya.


Gana menekan kontak wa Farhan. Dan percakapan pun terbuka


Farhan : Pesanan sudah 60%. Awal bulan depan sudah siap untuk di kirim. Mr. Jang ingin bertemu langsung di dermaga.


Ammar : Baik. Atur saja sama kamu.


Pesan terkahir di pukul 11:00 siang. Di saat dirinya sudah pergi ke salon.


"Pesanan apa? Mr. Jang? Siapa dia?" tanya Gana dengan wajah mulai panik. Jantungnya kembali memburu.


Merasa, aktivitas Ammar didalam sudah selesai. Karena tidak terdengar lagi suara rintikan air shower, malah sekarang hanya terdengar bait lagu yang tengah Ammar senandung kan. Lelaki itu sedang handukan didalam sana. Buru-buru Gana meletakan kembali gawai tersebut di atas nakas dan mengusap lagi layar itu untuk kembali menggelap.


Baru saja tangannya kembali ia tarik setelah meletakan gawai, bersamaan dengan itu pintu kamar mandi terbuka.


JAG.


Gana terperanjat. Seperti sedang terciduk, bagai pencuri yang ditangkap polisi. Dari dalam pintu kamar mandi terlihat lelaki bertubuh kekar dengan sedikit bulu-bulu halus didada, keluar dengan ujung rambut yang masih meneteskan sisa-sisa basahan keramas. Air tersebut turun membasahi pangkal bahu. Aroma sabun lavender milik Gana, kini sudah melekat di tubuh Ammar. Lelaki itu melangkah ke bibir ranjang untuk dipakaikan piyama.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Ammar ketika melihat Gana hanya mematung diam.


Oh, lega hatinya. Ammar tidak sampai melihat, ketika di detik terakhir ia meletakan gawai tersebut.


Gana tersenyum palsu. "Enggak apa-apa 'kok."


Ammar mengangguk. Membuka lilitan handuk dan berpolos ria didepan Gana. Hal ini sudah biasa ia lakukan, dan Gana tidak lagi berteriak. Ammar akan duduk dibibir ranjang, dan menunggu untuk di pakaikan piyama. Kenyataannya, manjanya Ammar melebihi Ganaya.


Jika kemarin-kemarin Ammar yang menyisiri Gana ketika sedang sakit. Sekarang-sekarang selama Gana sudah sembuh. Kini ia yang memberikan perhatian itu kepada suaminya.


Gana menggosok-gosok rambut Ammar agar benar-benar kering dengan handuk. Lalu mengoleskan minyak telon diperut lelaki itu agar tidak masuk angin.


Memakaikan atasan piyama dan mengancingkannya. Lantas membungkuk untuk memakaikan lelaki itu dalaman untuk menutup Harley dan setelahnya ditutup lagi dengan celana piyama panjang.


Seperti biasa Ammar akan memeluk perut istrinya, ketika rambutnya sedang di sisir oleh Gana. menikmati semua suguhan perhatian yang Gana berikan, layaknya anak kecil yang baru saja dimandikan oleh sang Ibu.


Dengan sikap Gana yang seperti ini, belum mampukah ia menilai kalau sang istri sudah mencintainya?


***

__ADS_1


Like dan Komennya yah🌺🌺


__ADS_2