
Setelah berusaha menenangkan sang Kakak yang terus menangis di sambungan telepon untuk tidak dulu memberitahukan tentang apa yang Maura tahu kepada Papanya, Ammar mengiyakan kemauan Maura agar pulang ke Jakarta malam ini juga.
Maura sudah memesankan tiket pesawat terbaik untuk empat orang dari aplikasi online untuk sang Adik. Entahlah, ia tidak perduli bagaimana nanti perangai dari Gifali yang juga tidak ia beritahu, kalau Ammar dan Gana masih hidup.
Yang jelas, Maura ingin memeluk Adiknya sekarang. Ia pun terperlongo hebat saat tahu Mama Alika ikut menyembunyikan Ammar dari dirinya dan Papa. Dan kembali Maura yang akan membuat kejutan untuk kedua orang tuanya atas kepulangan Ammar.
Setelah urusan dengan Maura selesai. Ammar bergegas menghubungi Mahendra, Alex, Bima dan Denis.Bahwa malam ini Ammar akan pulang menuju Jakarta
Mahendra yang masih menonton bola di rumahnya, begitu saja kaget saat Ammar memberitahukan rencana kepulangannya malam ini. Padahal Gana dan kedua anak-anak masih dalam balutan selimut dikamar, belum tahu mereka akan pergi sekarang juga.
"Baik, Mar. Aku akan siapkan penjagaan di Bandara." ujar Mahendra.
"Makasih banyak, Ndra."
Mematikan layar gawai. Mengusap kebasahan di wajah dan bergegas masuk kedalam rumah.
"Dek ... adek!" seru Ammar. Menggoyangkan bahu istrinya agar terbangun.
Dengan suara serak sambil mengerjap-ngerjap lalu melamun sebentar menatap jam. Ia menoleh ke wajah suaminya yang sudah duduk dibibir ranjang. "Kenapa, Bang?"
"Ayo siap-siap. Kita berangkat sekarang ke Jakarta."
"Ha?"
CUP.
Mulut Gana yang menganga dan bau jigong karena habis bangun tidur, di kecup Ammar.
"Mau ke Jakarta, kan?" Ammar mengulangi.
Gana mengganguk-angguk cepat. "Tapi kok malam banget. Harus sekarang juga? Malam ini? Bukannya Abang bilang minggu depan? Kerjaan Abang, gimana?" dan wanita ini kembali cerewet.
"Kalau sekarang masih dapat tiket promo. Harganya miring. Masalah kerjaan, gampang. Abang udah izin sama Pak Mahendra." kilah Ammar. Gana yang polos hanya mengiyakan tanpa rasa curiga. Ammar bersyukur ternyata Gana mudah di perdaya. Demi Papa Bilmar yang membuat Ammar gelisah, ia harus tetap melaju sekarang.
"Ayo, Dek. Dua jam lagi kita harus sampai di Bandara. Ngejar pesawat." beruntunglah saat Maura memesan tiket pesawat, ada pesawat yang delay di Bandar udara Internasional Sultan Hassanudin. Maura bisa saja melesatkan jet pribadi milik mereka, namun persiapannya akan lebih lama.
Ammar beringsut cepat ke lemari untuk memasukan beberapa baju mereka namun tidak banyak ke dalam tas besar. Gana yang masih setengah sadar karena rasa kantuk yang bergelayut membuat ia kembali menyandarkan kepala di bantal.
"Adek!" seru Ammar, sembari memasukan beberapa potong baju Rora.
__ADS_1
"Ehhh--iya, Bang." jawab Gana. Lantas wanita itu bangkit dari ranjang sambil menguap. "Adek pipis dulu ya, Bang."
"Iya." jawab Ammar. Kini ia memasukan baju-bajunya Aidan setelah meletakan dress-dress milik Gana. Semua berkisaran lima baju per orang yang ia bawa. Gampang lah fikirnya, jika butuh lebih lagi. Ia akan membelinya di Jakarta.
"Papa napain?"
Ammar menoleh, saat anak cantiknya terbangun di kasurnya. Sepertinya bunyi Ammar yang grasak-grusuk, membangunkan Rora dari tidurnya yang lelap. Ammar mendekati dan menggendong Aurora. Anak itu memeluk leher Papanya dan terus menguap. "Kita pergi ya, Nak. Kakak jangan bobo lagi."
"Ha? Pegi temana, Pah?" tanyanya polos. Ia diam saja saat Ammar sudah memasangkan jaket tebal berwarna pink menimpa piyamanya. Kemudian memasang kaos kaki di kaki Rora.
"Ke Jakarta, Nak ... ketemu Kak----" suara Ammar terhenti saat ia tahu kalau langkah Gana sudah mendekat. Pasalnya ia hanya ingin membawa Aurora bertemu Papa, Mama dan Kakak. Tanpa Gana dan Aidan, setibanya mereka di Jakarta. Ammar hanya ingin melihat keadaan Papa. Sudah saatnya ia jujur kepada lelaki itu. Tetapi kepada Gana? Iya masih belum siap, membuka semuanya kepada sang istri.
Biarlah, suatu saat pasti akan waktunya untuk terungkap. Fikir Ammar. Ya, berdoa saja. Semoga Semesta mengiyakan keinginannya.
Melihat Ammar bergerak cepat dan Rora yang sudah bangun tapi kedua matanya masih sepat, buru-buru Gana mendekat ke meja rias. Membuka laci dan mengambil kotak simpanan uangnya. Tabungan hasil warung selama tiga tahun, sekitaran lima belas juta. Ia masukan ke dalam tas untuk ia bawa.
"Dek, bangunin Aidan. Abang mau ngeluarin motor. Kamu juga cepat ganti bajunya, enggak perlu dandan. Biar cepat!"
"Iya, Bang."
Ammar mengeluarkan motor matik nya dari salam ruang tamu menuju pekarangan.
Srrt
Srtt
Ammar dengan sigap menoleh, saat melihat siluet hitam seraya masuk ke dalam semak-semak. "Hey, siapa itu?" teriaknya. Malam-malam begini, ada lagi sekelibatan siluet yang membuat dirinya curiga.
Ah, tapi ia tidak perduli. Mungkin setan, fikirnya. Karena beberapa bulan lalu pernah ia temukan bayangan siluet hitam di belakang kebun. Semisal jika siluet hitam itu mau melakukan kejahatan. Ammar dan keluarga pasti sudah mati sekarang. Kalau juga pencuri, pasti uang yang di rumah sudah di bobol.
Ammar malah berdoa dengan surah-surah pendek agar siluet hitam yang ia sangka jin bisa pergi. Ia tahu sekali, di rumah ini begitu wangi. Ada Rora yang masih batita, Aidan yang masih bayi dan Gana yang sedang mengandung.
Dari dalam kamar terdengar Aidan menangis karena dibangunkan. Ia dipaksa untuk bergantin pakaian. Dan Gana hanya manut-manut saja dengan kepergian mendadak dan janggal ini.
Tak berapa lama. Mereka sudah siap untuk berangkat ke tepi laut untuk menggunakan jasa transportasi kapal dulu agar tiba di Bandara.
"Semua pintu sudah di kunci, Dek?" tanya Ammar yang sudah duduk di motor. Tas besar diletakkan didepannya. Ia maju sedikit kedepan biar bagian di belakang terasa lega.
"Pintu belakang, samping, kamar tidur. Udah semua, Bang." jawab Gana yang masih mengunci pintu utama sambil menggendong Aidan.
__ADS_1
Ammar mengangguk.
"Kak, bangun!" Ammar memanggil Aurora yang menyandarkan diri dan lagi-lagi anak gendut itu tertidur di bangku rotan depan rumah.
"Iya, Pah." jawabnya malas-malasan. Anak itu masih mengantuk. Berbeda dengan Aidan yang awalnya merajuk. Kini bola matanya terlihat segar. Baru kali ini ia memandang langit yang masih gelap dengan gelak tawa. Gana pun ikut menggoda bayi itu.
Ammar mendudukkan Aurora dibelakangnya. Si Kakak memeluk perut Ammar erat. Rora merebahkan kepala di punggung Papanya dan kembali memejam mata.
"Tita benelan mauh talan-talan? Kok mayem-mayem gini cih, Pah?" duh pintar sekali Aurora.
Ammar tersenyum sambil mengelus tangan sang anak yang melingkar di perutnya. "Biar Kakak bisa naik kapal dan pesawat terbang."
Seketika Aurora membuka kelopak matanya. Ia fikir kapal laut dan pesawat terbang yang selalu Ammar ceritakan hanyalah hayalan belaka. "Benelan, Pah?"
"Iya, Nak. Bener."
Setelah sudah memastikan warung dan rumah terkunci aman. Lantas Gana duduk di belakang Rora dengan perut buncitnya sambil menggendong Aidan.
Lihat lah mereka sekarang. Sudah seperti molen di atas motor. Berkumpul menjadi satu.
"Pegangan Abang ya, Dek." titah Ammar.
"Iya Abang."
Pasukan berjaket itu akhirnya pergi meninggalkan pekarangan rumah, setelah membaca doa keselamatan. Deru mesin motor Ammar membelah malam yang dingin. Ia membawa anak dan istri untuk kembali ke Jakarta. Entah apa yang akan terjadi di sana nantinya, ia hanya bisa memasrahkan diri pada Sang Maha Pencipta.
Bintang-bintang yang bertebaran di nabastala, seakan tersenyum mengiringi kepergian mereka.
Siluet hitam yang Ammar fikir hanya bayangan halusinasi atau setan penuh misteri. Akhirnya keluar dari persembunyiannya, dari balik semak-semak.
"Mereka pergi, Tuan. Membawa tas besar." ucapnya di sambungan telepon kepada seseorang di seberang sana.
"Selidiki kepergiannya!" nada bariton tapi terasa lemah begitu melengking di telinga.
"Baik, Tuan."
🌺🌺🌺🌺bersambung🌺🌺🌺
Bonus ya guyss.
__ADS_1