
Krek.
Pintu kamar terbuka pelan. Ada sorotan sinar terang dari luar lalu masuk kedalam kamar yang lampunya sudah lebih dulu di matikan oleh Gana. Tahu jika suaminya sudah pulang, Gana yang sedang berbaring miring dengan posisi memunggungi, lantas memejam matanya paksa.
Wajah Gana banjir akan derai air mata. Sakit sekali hatinya di bohongi oleh suami sendiri. Ia sudah melarang Ammar untuk bertemu atau bergaul dengan Farhan, namun lelaki itu tetap tidak mengidahkan titahan nya. Dia istrinya, tapi mengapa rela dibohongi oleh seonggok daging penghianat semacam Farhan. Gana mengutuk habis lelaki itu dan suaminya.
Terdengar Ammar meletakan jaket kulit yang ia kenakan di atas sofa. Lalu merangkak naik dengan amat pelan ke atas ranjang. Ia mendekat ke belakang tubuh istrinya. Mengecup tengkuk Gana yang jenjang dan bersih. Ingin memastikan kalau istrinya memang sudah tertidur pulas.
Busss.
Dahi Gana mengerut. Kedua lubang hidungnya bergerak-gerak seperti sedang mengendus. Karena aroma napas Ammar sangat kentara dalam penciumannya.
"Bau alkohol? Kamu mabuk, Ammar?" batin Gana.
Dirinya ingin langsung membuka mata dan menerjang suaminya dengan berbagai tuduhan ketika dirinya ada di Apartemen yang entah sedang melakukan apa. Karena ketika Gana dan Yuni ingin mendekat ke kamar Apartemen. Di depan pintu terlihat ada tiga bodyguard kekar yang sedang berjaga.
Gana dan Yuni urung untuk menerobos mereka. Itu sama saja, menyerahkan nyawa hidup-hidup. Gana tetap ingin bermain rapih. Ia meminta Yuni, untuk menemaninya lagi besok menuju Apartemen.
Mabuk?
Ya, Ammar memang minum malam ini. Farhan menyiapkan beberapa botol alkohol pada saat mereka sedang berdiskusi. Awalnya Ammar tidak mau, karena takut Gana akan mengetahuinya dengan aroma tidak sedap keluar dari dalam mulutnya. Tapi karena Farhan terus merayu, akhirnya Ammar tergoda. Ia berfikir Gana tidak akan tahu, karena ketika pulang wanita itu pasti sudah tertidur.
Ammar menghempaskan tubuhnya di sebelah Gana dengan posisi terlentang. Wajahnya lelah. Ia mulai memejam mata dengan dengkuran agak berisik, yang lain dari biasanya.
Gana beranjak duduk. Ia menoleh ke arah suaminya yang mulai terbang ke awan mimpi. Gana menurunkan wajahnya tepat di atas wajah Ammar. Mencoba mengendus sekali lagi, jika wangi tersebut memang wangi alkohol.
"Kamu benar-benar minum, Ammar?" Gana menggelengkan kepala seraya tidak percaya.
Jika lelaki sudah berkumpul lalu minum-minum, pasti sosok wanita penghibur ada di antara mereka. Begitulah terkaan Gana. Rahang wanita itu terlihat mengetat.
Gana bangkit dari ranjang lalu menyalakan saklar agar lampu kamar kembali menyala.
Trang.
Kembali benderang.
Gana merangkak lagi ke atas kasur. Ia menggoyangkan tubuh suaminya yang sudah terkulai. Wajah lelaki itu terlihat amat meneduhkan jika sedang tertidur.
Lalu.
DEG.
Jantung Gana berdegup, dengan dua mata melotot tajam ketika ia mendapati bulatan noda merah di tepi leher kiri piyamanya. Gana mencoba mengusap. Wajahnya langsung memerah ketika ia tahu bahwa noda merah itu adalah noda lipstik. Di bagian pundak pun tersemat aroma vanila. Yang notabene bukan farfum Ammar atau farfum dirinya.
"AMMAR!" sentak Gana. Jika ia masih bersabar untuk menyimpan rahasia yang baru saja ia ketahui malam ini, beda hal ketika mendapati sesuatu yang merusak mata dan hatinya tepat di pakaian Ammar.
"AMMAR! BANGUN!!" Gana kembali berteriak kencang. Tanpa mengerjap, Ammar langsung membuka mata, memicing sebentar kepada sosok yang sekarang ia tatap karena habis menyerukan namanya dengan lantang.
__ADS_1
Bola mata Ammar memerah, sambil memijat pangkal hidung karena sangat pusing dibangunkan secara mendadak. Ammar beranjak duduk untuk berhadapan dengan istrinya.
"Kenapa sayang? Kok bangun?" tanya Ammar dengan raut wajah sedang kecanduan alkohol. Lelaki itu terlihat agresif, bahkan sampai memegang lengan istrinya, seraya menarik wajah Gana untuk ia kecup.
Blas.
Ammar terhuyung ke belakang. Dadanya di dorong, agar menjauh. Gana benci lelaki itu. Ia tidak mau di cium.
Ammar menyeringai tawa. Ia kembali beranjak dan bersiap menarik Gana. "Kamu kenapa?"
Gana memalingkan wajah karena hembusan napas Ammar sangat tidak sedap. Entah berapa gelas alkohol yang ia minum malam ini.
"Kamu mabuk, Ammar?" tanya Gana dengan nada mulai tinggi.
Ammar menggeleng dengan mata kembali memejam.
"Lalu ini apa?" Gana memegang tepi leher piyama suaminya. Ammar yang derajat keseimbangan tubuh karena alkoholnya belum terlalu parah. Lelaki itu terlonjak sadar. Seraya menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk mengusir pening.
"Kamu mengencani wanita?" Gana kembali berteriak dengan bola mata bergoyang menyalang api.
"Enggak sayang. Aku enggak mabuk atau main sama perempuan." jawab Ammar mulai gugup. Bulir peluh mulai bergerumun di pertengahan dahi lelaki itu. Ia masih memilih berbohong
"Kamu dari mana sebenarnya?" Gana mencoba untuk mengutik kejujuran Ammar.
Ammar diam seribu bahasa. Seperti tengah berfikir alasan apa yang harus ia beri. Tapi tidak mungkin 'kan untuk mengaku kalau ia memang pergi menemui Farhan, melalukan diskusi tentang usaha, dan sedikit minum alkohol. Farhan memang mengundang wanita bayaran, untuk bisa menggoda Ammar.
Namun lelaki itu menolak walau sedang dalam pengaruh alkohol. Ammar menepis bibir wanita itu ketika hendak mencium pipinya, dan akhirnya bibir wanita itu terperosok turun ke arah leher.
Ammar semakin terhimpit. Ia takut dengan ancaman istrinya. Apalagi Gana bilang ingin menelpon Papa Bilmar.
"MENGAKU!" teriak Gana. Kini mereka saling berhadapan dalam jarak satu meter. Berkali-kali Ammar ingin mendekat untuk menggenggam tangan istrinya, tapi Gana akan mundur sampai ke bibir ranjang. Ammar hanya takut wanita itu akan jatuh terjengkang.
"Jangan mundur-mundur sayang, nanti kamu jatuh." mau selembut apapun Ammar, kini mental bagi Gana.
"Enggak usah mengkhawatirkan aku! Sekarang jawab, kamu dari mana? Bertemu siapa?" Gana semakin mencecar.
Rasanya Ammar ingin melepas rohnya untuk terbang sesaat agar menghilangkan rasa seperti tercekik di malam ini.
"Kamu tidak ke rumah Papa 'kan?" Gana memaksa agar suaminya mengaku.
Sudah sangat terpojok. Tidak bisa berdalih lagi. Ini semua karena Farhan yang membuat ia menjadi mabuk.
Akhirnya dengan perdebatan yang cukup memakan waktu, Ammar mengangguk.
"Bertemu dengan siapa? Farhan?" sambung Gana lagi. Ammar sedikit menunduk, ketika mendapati raut wajah Gana yang sudah memerah menahan api kemarahan.
Dengan raut takut, seperti anak yang sedang di hukum oleh Ibu. Ammar mengangguk pasrah.
__ADS_1
Sudahlah, kali ini, pasti habis dirinya.
"Keterlaluan kamu, Ammar!" Gana meraih guling dan menghentakkan secara brutal ke tubuh Ammar yang hanya diam menerima kekesalan hati istrinya.
"Demi dia! Demi lelaki itu? Kamu tinggalin aku malam-malam? Hanya untuk minum? Dan berkencan dengan wanita lain? Kamu menjijikan, Ammar!" seru Gana dengan lantang. Kepergiannya saja yang tidak jujur, sudah menyakiti Gana. Ditambah lagi dengan mabuk dan mengencani wanita.
Ammar membelalakkan mata dengan wajah serius.
"Aku memang salah karena sudah berbohong. Aku memang bertemu Farhan dan sedikit minum. Tapi demi Tuhan aku tidak mengencani wanita ..." Ammar beringsut, mencoba menenangkan Gana yang sudah mulai menangis.
"Lepasin! Aku benci sama kamu!" seru Gana.
"Demi Tuhan, sayang. Aku enggak kayak gitu."
Gana mendesis. "Lalu ini apa?" ia menarik tepi piyama Ammar dipermukaan leher. Bola mata Ammar bergoyang tajam, ketika mendapati noda merah bekas lipstik di sana.
"Seharusnya aku ngak bodoh, Ammar! Untuk percaya, kalau kamu benar-benar bisa bersabar untuk menunggu aku!! Sebagaimana aku ke kamu, walau di saat cintaku belum tumbuh. Aku tetap menjaga kehormatanku!" ucap Gana dengan napas yang sudah berantakan. Dadanya terlihat naik turun. Begitu sesak, karena banyak menyimpan luka dalam batin.
Gana beranjak turun dari ranjang. Membuka lemari dan mengeluarkan koper. Buru-buru Ammar mencegah dan menarik tangan Gana.
"Mau kemana sayang? Ini sudah malam." tanya Ammar. Gana hanya menangis, dan menghalau tangan Ammar yang ingin terus menyentuhnya.
"Jangan sentuh aku!" teriaknya. Hancur lebur jiwanya.
"Kamu salah faham, Gana. Demi Tuhan, demi cinta aku ke kamu. Aku enggak pernah menyentuh seorang wanita pun selain kamu."
Gana tidak mau mendengar. Ia fokus memasukan baju-bajunya secara asal ke dalam koper.
Ammar menggusar wajahnya kasar. Susah sekali berbicara tenang dengan Gana yang seperti ini. Wanita itu sudah kepalang kecewa, mulai dari kebohongan Ammar sampai tanda-tanda kalau Ammar seolah berselingkuh.
"Nikahi saja Farhan! Dia yang lebih kamu dengar ucapannya dibanding aku!" Gana membentak.
Ammar mendesah napas berat. Kepalanya pening tidak mau hilang, belum lagi matanya sudah mengantuk tapi istrinya malah semakin menjadi-jadi. Ia tahu dirinya salah karena sudah berbohong dan minum. Tapi ia punya alasan yang masih bisa Gana dengar, walau lagi-lagi disertai dengan kebohongan.
"Aku bisa jelasin semuanya. Ayo kita kembali ke tempat tidur." Ammar masih mengucap pelan. Seolah masih mengalah. Dan mau tidak mau, dirinya memang harus mengalah.
Gana tetap tidak mau mendengar. Malah semakin menjadi. Ia memasukan semua baju-baju sampai kopernya sulit untuk di tutup.
Karena Gana tidak mau menurut. Seketika emosi Ammar naik. Darahnya seraya mendidih naik sampai ke ubun-ubun.
Ammar menendang koper itu dengan kakinya.
"APA-APAAN SIH KAMU! TOLONG DENGARKAN DULU PENJELASANKU!" bentak Ammar dengan tatapan dingin. Tubuhnya masih di rasuk alkohol.
Suara bariton nya menggelegar di udara. Gana terkesiap. Refleks tubuhnya bergetar. ia sampai meremat kain berlapis didada. Wanita itu langsung diam seribu bahasa. Bulir-bulir air bening, kembali bergerumun di pelupuk mata. Lalu menetes membasahi pipinya.
****
__ADS_1
Like dan Komennya ya, maacih❤️
Bagi yang belum follow IG ku yuk @megadischa, bisa follow ya. biar kita temenan. Dan yang punya akun di KBM app. Bisa follow juga akunku yang disana ya. Boleh baca ceritanya juga🌺🌺