
"Duh, gemes banget deh." seorang wanita pemilik salon, menjawil kedua pipi Adela dari belakang. Adela yang sudah duduk di kursi menatap cermin, hanya tertawa saja. Anak ini memang dikenal ramah dan bawel. Hanya saja jika kepada orang yang kepalang tidak ia suka, dirinya pasti akan mencubit atau menggigit. Di banding semua anak-anak Ammar dan Gana, Adela yang memang lebih dikenal galak jika tengah marah. Tapi akan berubah manis jika Bintang, anak Yuni dan Bima tengah main ke rumah.
"Tante mulai Creambath, ya, Nak."
"Lulucin bica ndak?" padahal pintanya kepada Gana saat di rumah, ia hanya ingin di creambath saja.
Kebetulan hari ini hanya Ammar yang mengajak anak ini untuk pergi ke salon tanpa Kakak dan Adik Adela. Karena mereka semua tengah berada di rumah Kakek dan Nenek. Sedangkan Gana dan Alda tidak ikut karena sedang ada teman-teman SMA nya yang berkunjung ke rumah. Ya macam reuni.
"Rebonding?" wanita itu mengangkat beberapa helai rambut Adela yang mirip kwetiau ke udara untuk di tilik.
"Bisa aja sih ...," balas nya.
"Ya udah, Tan. Lulucin ajah."
Sebelum mengangguk wanita itu menoleh ke arah Ammar yang masih sibuk dengan gawai di depan telinga. Berdiri menunggungi mereka.
"Tapi kata Papamu tadi hanya di creambath aja."
"Yah ...." Adela mencebik sedih. Ia hanya diam memelas memandang cermin.
"Padahal aku pengin di lulucin ajah. Keliting kayak gini tuh libet." ya ampun anak ini, tua banget. Haha. Ia merasa sulit jika tengah menyisir. Sisir yang ia gunakan suka nyangkut di tumpukan rambut. Maka ia biarkan saja rambutnya mekar dan di ledek para saudaranya.
"Keriting kayak gini malah buat kamu tambah lucu. Beneran deh," balas si pemilik salon. Tempat langganan keluarga Artanegara yang sekali potong saja harganya bisa bikin perut nangis.
"Benelan?" dari cemberut berubah manis.
__ADS_1
"Apa mau di potong? Nanti tante tipisin gitu biar enggak ngembang banget." karena salah sampo. Rambut Adel yang kritingnya bagus malah jadi mekar dan keras. Gana malah memakaikan sampo kucing yang Art salah beli di toko.
"Ya udah boleh." si gemoy mengangguk.
"Izin dulu nggak sama, Papa?"
"Ya boleh deh." anak itu pun dipersilahkan turun dari kursi potong, mendekati Papanya.
"Pah ...." Ammar yang masih ketawa-ketiwi dengan Mahendra, menurunkan mata ke bawah saat anak ke empatnya itu menarik tepi baju nya.
"Iya, Nak?"
"Aku pengin di potong aja lambut nya."
"Di potong?" memperjelas.
"Tapi Mama bilang cuman suruh creambath aja," seakan menyergah halus.
"Gelah, Pah. Kucut." Adela tunjukan rambutnya yang macam singa betina, kusut sekali.
Merasa kasihan melihat sang anak yang lekas menyendu karena tolakan halus darinya, Ammar pun jadi kasihan. Ia raba-raba rambut anaknya. "Iya, sih. Macam keset udah tua."
"Ha? Apa tadi?" Adela mengerutkan kening.
Buru-buru menggeleng dari pada anak ini merajuk lalu menangis. Mana kalau sudah menangis, kencangnya lebih nyaring dari toa yang ada di kantor desa. "Iya udah enggak apa-apa potong aja."
__ADS_1
"Yes, acik!" Adela berlari ke pemilik salon dengan semburat senang. Ammar kembali fokus dengan ponselnya.
"Potong aja, Tante. Papa ku udah bolehin."
"Modelnya mau yang mana?" wanita itu menunjuk salah satu gambar anak-anak yang dengan model rambut bermacam-macam di dinding salon.
"Yang ini ajah. Bagus." Adela tunjuk anak perempuan dengan potongan pendek seperti laki-laki. Kalau bahasa salon dengan model potongan yongen.
"Beneran yang ini? Bakal pendek banget loh."
"Ya, benel. Udah itu ajah!"
Sepertinya jika Ammar dan Adel sudah sampai di rumah akan ada aungan gledek yang keluar dari bibir Gana.
Haha.
...🌾🌾🌾🌾...
Assalammualaikum, Haii cinta-cinta. Ada yang kaget nggak, cerita ini aku up lagi? Aku hanya lagi kangen aja sama kalian, pengin nyapa. Moga sehat-sehat, ya.
Cerita ini jangan ditungguin, ya. Aku bakal up kalau emang lg pengen up.
komen yaa. kali aja aku up lagi besok wkwkw. tapi plis jangan ditunggu.
si gemoy, biarin nih abis ini di marahin sama emaknya, wkwkw.
__ADS_1